
Hari berganti begitu cepat, malam panjang telah berlalu beberapa minggu yang lalu. Kehangatan diantara Radit dan Nissa kini mulai terlihat. Nissa mulai membuka hatinya, untuk Radit imam pilihannya. Jarak yang dulu begitu jauh, sedikit demi sedikit terkikis oleh cinta tulus Radit. Meski masih ada ganjalan jauh di dalam hati Nissa. Rasa sakit yang selama ini ada, tak lantas menghilang begitu saja.
Setahun berlalu begitu cepat, pernikahan Nissa sudah memasuki tahun pertama. Zain putra kecilnya tumbuh dengan baik. Kasih sayang Nissa membuat Zain merasa nyaman dan bahagia. Nissa menjadi ibu sambung yang sempurna bagi Zain. Waktu berlalu begitu cepat, tatkala hanya kebahagian yang mengisi hari dalam hidup keluarga kecil Nissa. Radit memperlakukan Nissa dengan sangat istimewa. Seluruh hidup Radit berputar hanya di dekat Nissa.
Namun semua kebahagian mulai terusik, saat harapan tak kunjung terwujud. Ketulusan yang tak menemukan arah. Kesempurnaan yang terusik oleh satu keraguan. Keinginan Radit yang tak lagi bisa ditahan. Sebuah harapan akan kesempurnaan sebuah keluarga. Radit yang mulai mengharapkan buah hati bersama Nissa. Namun harapan itu tak kunjung terwujud, sampai penantian terasa melelahkan.
"Sayang, kamu dimana?" teriak Radit lantang, tapi tak kunjung terdengar sahutan dari Nissa.
Radit menoleh ke arah jam dinding, tepat pukul 22.00 WIB. Namun Nissa tak terlihat di dalam kamarnya. Jangankan suara Nissa, bayangannya saja tak terdengar. Radit mulai merasakan sepi tanpa Nissa. Jika dulu Radit nyaman tanpa siapapun saat bekerja? Kini Radit merasa gelisah, bila tak ada Nissa di sampingnya. Cukup melihat Nissa, Radit akan tenang dan fokus kembali dalam pekerjaannya. Setelah mencari Nissa di seluruh sudut lantai dua. Radit turun ke bawah, berpikir Nissa berada di dapur atau kamar Zain.
"Sayang!" ujar Radit lirih, sembari membuka pintu kamar Zain.
Dua bola matanya membulat sempurna, menatap haru melihat hubungan Nissa dan Zain. Radit melihat tubuh Nissa meringkuk di atas tempat tidur Zain yang kecil. Sebuah tempat tidur berukuran 100×200 meter dengan pembatas di sisi kanan dan kirinya. Nissa tidur memeluk Zain, mendekap erat Zain yang tidur berbantalkan lengannya. Radit melihat kasih sayang yang begitu tulus. Rasa nyaman dan aman yang ditawarkan Nissa pada Zain. Ibu sambung yang menganggap Zain layaknya ibu kandung.
Cup
"Sayang, ayo pindah ke kamar kita!" bisik Radit, sesaat setelah mencium kening Nissa.
Radit mengusap lembut pipi Nissa, lalu turun ke bibir Nissa. Radit membungkuk hendak mencium bibir Nissa, tapi dengan cepat Nissa menghentikannya. Nissa menutup bibir Radit, lalu meminta Radit pergi dari kamar Zain. Nissa membetulkan selimut Zain, lalu keluar mengikuti langkah Radit. Namun Nissa tidak langsung kembali ke kamar. Nissa pergi ke dapur, mengambil satu teko air putih dan membuatkan kopi serta camilan untuk Radit. Nissa membawa semuanya menuju kamarnya.
"Sayang, kenapa lama sekali?" ujar Radit, sesaat setelah Nissa masuk ke dalam kamarnya. Nissa mengangkat nampan yang dibawanya dari dapur. Nissa ingin Radit melihat sesuatu yang dibawanya.
__ADS_1
Radit mengangguk, lalu berjalan menghampiri Nissa. Dengan lembut dan penuh cinta, Radit menyibak hijab yang menutupi rambut dan tengkuk Nissa. Radit melepas perlahan hijab Nissa, mencium penuh cinta tengkuk cinta. Sejenak Nissa bergairah, sentuhan liar Radit membuat Nissa tak berdaya. Satu per satu ciuman hangat Radit mendarat sempurna di tengkuk Nissa.
"Maaf, aku lelah!" ujar Nissa menolak Radit, Nissa melepaskan pelukan Radit. Meninggalkan Radit dalam keheranan tak bertepi. Nissa berjalan menuju meja riasnya. Nissa mengambil sebutir obat yang diletakkan di laci meja rias.
"Sayang, kamu sakit!"
"Aku lelah, itu saja!" sahut Nissa, lalu tidur. Radit menghampiri Nissa, berbaring tepat di samping Nissa. Memeluk tubuh Nissa yang membelakanginya. Tangan Radit melingkar sempurna di perut ramping Nissa. Perlahan Radit mengusap perut Nissa. Dengan banyak harapan dan doa yang sampai sekarang belum terwujud.
Nissa terpaku, tubuhnya kaku menyadari arti pelukan Radit. Nissa mengerti sentuhan Radit bukan tanpa alasan. Sebuah harapan yang tak kunjung terpenuhi. Impian seorang laki-laki yang berharap akan penggilan ayah. Impian yang mungkin tidak akan pernah bisa Nissa wujudkan.
"Sayang, kapan kita memiliki momongan? Zain butuh saudara, sedangkan aku ingin menggendong buah hatiku bersamamu!" bisik Radit lirih, Nissa membisu terdiam. Tak ada suara, bibir Nissa kelu. Hati Nisss bergejolak, ketakutan yang selama ini ada dalam benaknya. Terucap dari bibir Radit dengan mudahnya.
"Sayang!" sapa Radit lembut, ketika menyadari Nissa membisu. Radit merasakan ada yang aneh dengan diam Nissa. Entah ini sekadar firasat atau kecurigaan? Namun Radit merasakan sesuatu yang aneh, benar-benar aneh.
Lagi dan lagi, Nissa hanya diam. Sekilas terdengar ******* dari bibir Nissa. Tepat saat Radit mencium lembut tengkuk Nissa. Namun Nissa kembali terdiam dan dingin, setelah hangat itu menghilang. Radit menghela napas, merasa harapnya takkan menemukan asa. Radit memeluk erat tubuh Nissa, menyusup di belakang tengkuk Nissa. Tak lagi suara terdengar, hanya sepi dan sunyi. Sesepi malam ini, tanpa ada suara hewan malam yang menyapa.
Tik Tok Tik Tok Tik Tok
Jam terus berputar, tak terasa tepat tengah malam. Namun Radit dan Nissa tetap terjaga, seolah rass kantuk tak ingin menyergap. Nissa memilih duduk bersandar pada tempat tidur. Jari jemari lentiknya, bermain indah di atas laptop. Nissa memilih fokus pada pembelajaran murid-muridnya. Sedangkan Radit kembali fokus dengan tumpukan berkasnya. Baik Radit dan Nissa, tak saling menatap atau bicara. Keduanya larut dalam dunia yang berbeda.
"Asthagfirulllah, sudah tiga hari aku lupa meminumnya!" batin Nissa, lalu beranjak dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Nissa meletakkan laptop di atas tempat tidur, lalu berjalan menuju laci di meja nakas. Nissa mencari botol kecil, berisi beberapa butir obat. Lama Nissa mencari, tapi pencariannya sia-sia. Nissa mulai ketakutan, dia takut Radit yang menemukannya. Tubuhnya mulai bergetar, Nissa mengusap keringat di keningnya. Nissa mencari di tempat lain, tapi botol kecil itu tak bisa ditemukannya. Nissa menghela napas, dia bingung dan takut. Nissa duduk di meja nakas, dia melirik ke arah Radit yang masih fokus dengan pekerjaannya. Nissa merasa lega, menyadari bukan Radit yang menemukannya.
"Aku akan membelinya besok, mungkin obat itu terjatuh dari tasku!" batin Nissa, hatinya mulai sedikit tenang. Nissa berjalan perlahan menuju kamar mandi. Nissa memilih mengambil wudhu, lalu tidur. Agar dia lebih tenang dan tak lagi terbebani dengan pertanyaan Radit.
"Tunggu!" ujar Radit dingin, Nissa menghentikan langkahnya. Nissa menoleh ke arah Radit, terlihat Radit mengeluarkan sesuatu.
"Kamu mencari ini!" ujar Radit, Nissa memutar tubuhnya. Dua bola matanya terbuka lebar, Nissa terkejut melihat obat yang dia cari ada dalam genggaman tangan Radit.
"Kamu mencari ini!" ujar Radit dengan nada tinggi, Nissa mengangguk pelan.
"Terima kasih!" sahut Nissa, lalu mengambil obat dari tangan Radit. Nissa berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Radit dengan rasa takut yang sengaja ditutupinya.
"Kenapa Nissa? Kenapa?"
"Maksudmu!" sahut Nissa, Radit menoleh pelan.
"kenapa kamu melakukan ini padaku?" ujar Radit, lalu merampas botol obat dari tangan Nissa. Radit melempar botol sekuat tenaganya.
Paaaayyyrrr
"Kenapa kamu membuangnya?" ujar Nissa terkejut, melihat obat yang berceceran dari dalam botol.
__ADS_1
......................