
Hari semakin siang, matahari bersinar terik. Tak ada awan yang menutupi langit. Begitu cerah dan biru tanpa awan. Panas matahari terasa menyengat, meninggalkan bulir-bulir kecil. Keringat yang membasahi hampir seluruh tubuh. Angin berhembus, sekadar menghilangkan sekejap gerah. Siang hari yang panas, ditambah keramaian jalan. Bising yang mengisi hari-hari di kota besar.
Nissa menengadah, menatap sejenak langit siang ini. Langit cerah yang pernah mengisi hari-hari mudanya. Kini langit yang sama, kembali mengisi hari-hari Nissa. Bukan sebagai seorang wanita, tapi ibu yang memiliki dua bidadari cantik. Ibu yang tengah berjuang, menyatukan bidadari kecilnya dengan ayah kandungnya. Wali sah kedua buah hatinya, ikatan yang takkan bisa diubah sampai kapapun? Hubungan darah yang akan selalu ada, meski ikatan itu terputus selama bertahun-tahun.
"Sepuluh menit lagi, aku akan bertemu dengannya. Bukan sebagai istri, tapi seorang ibu yang ingin melihat kebahagian putrinya. Pertemuan setelah dua puluh tahun berlalu. Pertemuan tanpa cinta dan hanya menyisakan amanah akan kebahagiaan dua bidadari cantikku!" Batin Nissa, sesaat setelah melirik ke arah jam tangannya.
Nissa melangkah perlahan masuk ke dalam sebuah restoran mewah. Hari semakin siang, alasan restoran ramai dengan para pengunjung. Nissa melakang masuk, ke arah meja yang sudah dipesannya. Nissa berjalan menunduk, menenangkan hatinya yang galau. Pertemuannya dengan Radit, terasa berbeda tidak seperti dulu. Ada rasa aneh, ketika Nissa harus bertemu dengan Radit tanpa siapapun?
"Assalammualaikum!" Sapa Nissa ramah, Radit mendongak.
Menatap penuh cinta ke arah Nissa. Wanita yang sangat dicintainya. Sekejap kebersamaan mereka, terasa seperti mereka telah bersama seumur hidup. Dua puluh tahun kepergian Nissa, tak lantas membuat Radit melupakan cintanya. Meski kini, dia tak lagi sendiri. Namun selamanya, Nissa ada dalam hati terdalamnya. Sejenak cinta di hati Radit berubah menjadi benci dan amarah. Kala kedua bidadarinya menolak mengenal dirinya. Radit marah dan menyalahkan Nissa. Alasan yang membuat mereka bertemu siang ini. Mengatakan seluruh isi hati, menjelaskan apa yang telah terjadi? Bukan mencari pembenaran, tapi demi kebenaran yang tersimpan selama dua puluh tahun terakhir.
"Waalaikummusalam!" Sahut Radit, sembari mengedipkan kedua matanya. Meminta Nissa duduk, anggukan kepala Nissa mengiyakan permintaan Radit.
Sejenak semua terasa senyap dan sepi. Tatapan Nissa dan Radit, seolah menghentikan waktu. Pertemuan yang membuat Radit dan Nissa terkenang akan beberapa tahun silam. Radit dan Nissa larut dalam hangat isyarat mata. Keduanya mencoba mencari jawaban, tapi detak jantung mereka yang berdetak dengan keras. Jawaban yang paling pasti, cinta itu ada dan masih ada dalam lubuk terdalam Radit dan Nissa. Cinta yang ditepis, tapi terkuak tanpa bisa ditahan. Namun keadaan telah berbeda. Pertemuan mereka bukan untuk cinta, tapi status kedua bidadari cantik mereka. Pengakuan yang dibutuhkan Aira dan Hana.
"Apa kabar Radit?" Sapa Nissa, kata pertama yang keluar dari bibir Nissa. Setelah kepergiannya selama dua puluh tahun lamanya. Seakan Nissa menyadari, kepergiannya meninggalkan luka yang tak biasa di hati Radit.
__ADS_1
"Menurutmu!" Sahut Radit dingin, Nissa tersenyum simpul. Nissa berpura-pura tidak mengerti perkataan Radit. Berharap Radit tetap bahagia tanpa dirinya. Meski nyata Radit terluka dengan kepergiannya.
"Radit, selamat atas pernikahanmu. Alvira sangat menyayangimu. Buktinya dia mengurusmu dengan sangat baik. Bahkan Alvira memilih berhenti bekerja. Demi menjadi istri dan ibu yang baik untukmu dan Zain. Alvira wanita hebat, dia meninggalkan segalanya demi cintanya padamu. Tidak sepertiku yang memilih menyerah dan pergi membawa pedih dihatiku!"
"Tidak perlu mengucapkan selamat, jika nyatanya kamu mengetahui kebenarannya. Pernikahan kami tak sebahagia pemikiranmu. Kamu alasan hatiku tak lagi memiliki cinta. Hatiku mati dan gelap, sejak kamu pergi!"
"Radit, semua telah berlalu. Alvira sangat mencintaimu, jangan pernah kecewakan cintanya. Dia bukan hanya istrimu, tapi ibu dari putramu!"
"Jika dia ibu putraku, kamu ibu kedua putriku!" Sahut Radit lantang, Nissa menggelengkan kepalanya lemah. Isyarat perkataan Radit benar, tapi tak memiliki arti yang sama.
"Radit, semua tak sama. Kita bukan lagi remaja yang sedang dimabuk cinta. Aku meminta bertemu denganmu. Bukan demi cinta masa lalu, tapi demi kedua putriku!" Ujar Nissa tegas, Radit menggelengkan kepalanya.
"Radit, minumlah dulu. Tenangkan dirimu, amarahmu hanya akan membuatmu malu. Lihatlah, banyak mata memandang ke arah kita. Seolah kita suami istri yang sedang bertengkar!" Ujar Nissa, Radit menunduk. Tak percaya dengan ketenangan Nissa yang seolah tak pernah terjadi sesuatu diantara mereka. Radit benar-benar tak menyangka, Nissa bisa setenang ini. Melupakan semua rasa yang pernah ada diantara mereka.
"Kamu dingin Nissa, sangat dingin!" Ujar Radit lirih, Nissa menggeleng lemah.
"Seperti perkataanmu Radit, hatiku mati dan tak lagi memiliki rasa. Tak ada cinta untukmu atau laki-laki manapun? Aku bertahan hanya demi dua bidadariku. Aku keras, agar tak ada yang menyakitiku dan merendahkanku. Agar putriku tak merasakan kepedihanku. Sakit melihat ibu kandungku terhina, karena cinta tulusnya pada laki-laki yang tak sepantasnya!"
__ADS_1
"Apa maksud perkataanmu?" Sahut Radit tak mengerti.
"Mama tak pernah melanggar janjinya. Mama tak pernah mengkhianati cintanya. Mama tak pernah kejam pada anda. Mama tak pernah dingin akan kerinduan anda. Mama hanya mencoba hidup tenang. Menghapus nama anda dari hidupnya. Semua demi diriku dan kak Aira, agar tak ada yang menghina kami. Selayaknya mama yang terus terhina, meski nenek telah tiada. Mama tidak ingin mendengar, orang lain memanggil kami sebagai anak hina. Sebab mama menikah dengan anda, laki-laki yang terus terikat dengan masa lalunya!" Sahut Hana, Nissa dan Radit langsung menoleh. Mereka terkejut melihat Hana sudah berdiri di belakang mereka.
"Hana, jaga sopan santunmu. Dia ayahmu, mama tidak pernah mendidikmu bicara kasar. Mama memberikan kebebasan penuh padamu, tapi bukan untuk melawan orang tuamu. Hubungan mama dan papa tidak baik, tapi bukan hakmu bicara. Ingat Hana, tidak ada yang benar dan salah. Semua memiliki cara pandang yang berbeda. Minta maaf sekarang atau mama akan membuatmu menyesal. Selama dua puluh tahun, kamu tumbuh di bawah pengawasan mama. Jangan biarkan mereka merendahkan mama, karena tidak bisa mendidikmu!" Tutur Nissa keras, Hana menunduk. Radit tertegun, melihat keras Nissa mendidik Hana.
"Maaf!" Ujar Hana lirih, Radit mengangguk pelan.
"Sekarang katakan, apa maksud perkataanmu?"
"Mama tidak pernah melanggar janjinya. Dia kembali bersamaku, lima belas tahun yang lalu. Tepatnya saat pernikahan anda dengannya. Mama membawaku, agar aku bisa dirawat olehmu. Sebab kak Aira sedang sakit dan butuh perawatan insentif. Mama akhirnya memutuskan aku yang akan tinggal bersammu. Namun hari itu, mama pergi membawa luka yang terus mengusik ketenangannya. Bertahun-tahun mama terpuruk, semua karena pengkhianatan anda. Sekarang dengan mudahnya, anda menyalahkan mama!"
"Radit, jangan diambil hati perkataan Hana!" Sahut Nissa .
"Bukan mama kejam, tapi anda!" Ujar Hana, lalu memeluk Nissa dengan hangat.
"Nissa!" Ujar Radit penuh rasa bersalah.
__ADS_1
"Semua sudah berlalu, tak ada yang perlu dibahas!" Sahut Nissa lirih.