
Suara burung saling bersahutan dari kejauhan, sinar matahari terasa hangat menyentuh dinginnya hati. Pertengkaran semalam menyisakan diam dan dingin antara Radit dan Nissa. Radit memutuskan tidur bersama Zain, sedangkan Nissa tidur sendiri di kamar besarnya. Kedua hati yang terpisah, tapi tetap satu jiwa. Radit dan Nissa tak mampu terpejam. Radit merasa bersalah dengan kata kasarnya. Sedangkan Nissa bersalah dengan keputusan besarnya. Rasa bersalah yang terselimuti ego, sehingga tak ada kata maaf yang terucap.
Tepat pukul 06.00 WIB, Nissa bersiap bersiap berangkat ke sekolah. Sejak semalam, Nissa tidak bertemu dengan Radit. Sejenak Nissa merasa sepi, tanpa Radit semua terasa sunyi. Nissa bersiap lebih cepat, berharap bisa bicara dengan Radit. Setidaknya Nissa bisa meminta maaf atas keputusan besarnya. Nissa masih mengingat benar amarah Radit? Bayangan pertengkaran semalam, terlintas begitu saja di benak Nissa. Suara tinggi Radit, keraguan Radit akan dirinya. Semua kata yang terucap, melekat dalam benak dan hatinya.
FLASH BACK
"Tunggu!" ujar Radit dingin, Nissa menghentikan langkahnya. Nissa menoleh ke arah Radit, terlihat Radit mengeluarkan sesuatu.
"Kamu mencari ini!" ujar Radit, Nissa memutar tubuhnya. Dua bola matanya terbuka lebar, Nissa terkejut melihat obat yang dia cari ada dalam genggaman tangan Radit.
"Kamu mencari ini!" ujar Radit dengan nada tinggi, Nissa mengangguk pelan.
"Terima kasih!" sahut Nissa, lalu mengambil obat dari tangan Radit. Nissa berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Radit dengan rasa takut yang sengaja ditutupinya.
"Kenapa Nissa? Kenapa?"
"Maksudmu!" sahut Nissa, Radit menoleh pelan.
"kenapa kamu melakukan ini padaku?" ujar Radit, lalu merampas botol obat dari tangan Nissa. Radit melempar botol sekuat tenaganya.
Paaaayyyrrr
"Kenapa kamu membuangnya?" ujar Nissa terkejut, melihat obat yang berceceran dari dalam botol.
Nissa mundur beberapa langkah, dia takut melihat kemarahan Radit. Nissa melihat sosok yang berbeda penuh amarah. Nissa tak menyangka, Radit akan semarah ini. Meski Nissa menyadari, Radit akan marah mendengar kebenaranya. Namun amarah Radit takkan sebesar ini, mengingat perhatian Radit pada Nissa. Semua tak sama, amarah Radit terlihat jelas. Dua bola mata Radit memerah, amarah membara di dadanya. Radit merasa dikhianati oleh Nissa.
"Kenapa Nissa? Kenapa kamu tega melakukan ini padaku? Apa yang ada dalam pikiranmu? Sampai kamu berpikir serendah ini. Kamu seorang guru, hatimu seperti seorang ibu. Lalu, kenapa kamu menolak menjadi ibu?" ujar Radit lantang, Nissa diam membeku. Amarah Radit benar-benar pecah, tak dapat Nissa membendung amarah Radit.
"Zain putraku!"
"Dia putraku, bukan putramu. Apa yang kamu takutkan? Sampai kamu menolak memiliki putra dariku. Seburuk itukah aku dihadapanmu, sampai kamu tak mengharapkan keturunan dariku. Kamu kejam Nissa, kamu dingin dengan keputusan besarmu!" ujar Radit lantang dengan amarahnya, Nissa memilih menjauh. Nissa tidak ingin memperpanjang semuanya. Nissa takkan membela diri, tak ada penjelasan untuk keputusan besarnya. Entah apa dasar keputusan besar Nissa? Satu hal yang pasti, keputusan Nissa telah melukai harga diri Radit.
"Maaf, hanya itu yang bisa aku katakan. Aku memutuskan semua ini, bukan tanpa alasan. Sekali lagi maaf, seandainya keputusan bodohku melukaimu. Maaf, jika aku menganggap Zain putra kandungku. Meski aku sadar, dia putramu dengannya. Maaf, aku terlalu sombong berpikir kamu menerima diriku apa adanya? Sekali lagi maaf!" tutur Nissa dengan bibir yang bergetar, suaranya terdengar parau. Nissa merasa lelah, tak ada lagi yang bisa diperdebatkan. Radit sudah menganggapnya salah, sedangkan dia sudah meminta maaf dan mengakui segalanya.
"Mama!" ujar Zain di balik pintu, Radit menoleh ke arah Nissa.
"Peluklah Zain, dia putramu bukan putraku!" ujar Nissa, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Nissa mengunci rapat pintu kamar mandi. Nissa mencari ketenangan, gejolak hatinya membuatnya sesak napas. Nissa seakan tak mampu berdiri dengan kedua kakinya.
FLASH BACK OFF
__ADS_1
"Mbak, tuan ada dimana?" sapa Nissa ramah, Ifa menoleh ke arah Nissa. Ifa merasa keheranan, setelah semalam Radit tidur bersama Zain. Pagi ini Nissa mencari Radit di kamar Zain. Ifa merasa ada yang aneh, jelas ada perselisihan antara Radit dan Nissa.
"Ibu, tuan sudah berangkat kerja!"
"Ternyata dia masih marah, sampai dia pergi tanpa bicara denganku. Aku memang salah, dia pantas marah denganku. Mungkin dia butuh waktu, aku tidak akan mengganggunya. Mungkin kepergianku, sebuah jalan mencari ketenangan. Suamiku, maafkan aku. Keputusanku mungkin salah bagimu, tapi demi Zain aku sanggup disalahkan!" batin Nissa.
Nissa meletakkan tas jinjingnya di luar kamar Zain. Nissa berjalan masuk ke dalam kamar Zain, mencari putra istimewanya. Tak berapa lama, Zain keluar dari kamar mandi. Nissa mengambil handuk, lalu menyeka tubuh Zain yang basah. Nissa mencurahkan kasih sayangnya pada Zain. Nissa tak ingin melihat Zain terluka dan kesepian. Seperti dirinya yang tak pernah merasakan dekapan hangat seorang ibu.
"Mbak Ifa, saya titip Zain. Kalau ada apa-apa? Mbak bisa menghubungi saya!" ujar Nissa, sesaat setelah memakaikan seragam sekolah Zain. Ifa termenung menatap tas yang dibawa Nissa. Ifa merasakan sesuatu yang aneh dan tak biasa.
"Ibu pergi kemana? Kenapa membawa tas? Kasihan Zain, pasti menangis ditinggalkan ibu!" ujar Ifa, Nissa tersenyum manis. Nissa menepuk pelan punggung tangan Ifa. Sang pengasuh yang sangat menyayangi putra kecilnya. Nissa tak pernah menganggap Ifa seperti pembantu. Nissa sudah menganggap Ifa seperti saudaranya sendiri.
"Mbak Ifa, saya pergi beberapa hari. Tuan sudah mengetahui kepergian saya. Jadi jangan takut, saya bukan pergi selamanya. Saya ada pelatihan dasar sebagai guru wali kelas!" tutur Nissa, sontak Ifa menghela napas lega. Nampak jelas raut wajah bahagia Ifa. Mendengar Nissa tidak pergi selamanya.
"Mbak, saya berangkat dulu. Lima belas menit lagi, bus jemputan saya datang. Saya titip Zain!" pamit Nissa, lalu pergi keluar dari kamar Zain.
Nissa berjalan keluar dari rumah Radit, tangan kanannya menjinjing tas sedang berisi beberapa pakaiannya. Nissa melangkah dengan tubuh tegak, mencari arti dirinya dalam hidup Radit. Beberapa jam Nissa tidak melihat Radit, hatinya galau dan gelisah. Nissa mulai menyadari rasanya pada Radit. Mungkin dengan kepergiannya, amarah Radit akan mereda. Nissa dan Radit bisa kembali bicara satu dengan yang lainnya.
"Tunggu Nissa, kemana kamu akan pergi?" sapa Sanjaya dengan rasa heran, Nissa menghentikan langkahnya. Nissa menoleh ke arah Sanjaya, terlihat Saskia duduk di samping Sanjaya.
"Saya ada pelatihan di luar kota selama beberapa hari!"
"Kenapa Radit tidak mengantarmu? Memangnya dia tidak mengetahui kepergianmu!"
"Kak Radit bukan sibuk, tapi dia mulai bosan denganmu. Kak Radit tidak pergi ke kantor, dia pergi bersama Raihan dan Tasya!" ujar Saskia tepat di samping Nissa.
"Saskia, jangan sembarangan bicara!" ujar Sanjaya lantang, Saskia tersenyum. Lalu, tiba-tiba Saskia menarik tas Nissa.
"Aku ingin memeriksa tasmu, takutnya kamu membawa kabur perhiasan atau uang kak Radit. Bukankah kamu lahir dari keluarga yang haus akan harta!" ujar Saskia, sembari memegang tas Nissa. Namun sekuat tenaga Nissa memegang tasnya.
"Semiskin-miskinnya aku, sampai detik ini aku bukan pencuri yang haus harta kakakmu!"
"Munafik, buktinya kamu menikah dengan kak Radit demi melunasi hutang ayahmu. Dasar anak dan orang tua sama, kalian berdua seperti lintah yang menghisap darah kakakku!" ujar Saskia lantang, tepat di depan Nissa.
Plaakkk
"Kamu mungkin tuan putri bagi kakakmu, tapi hargai aku sebagai istri kakakmu. Hari ini aku hanya menamparmu sekali. Lain kali, jangan berharap aku tetap diam dengan sikapmu!"
"Kamu menamparku, akan aku pastikan kakak mengusirmu!" ujar Saskia kesal, sembari memegang pipinya.
__ADS_1
"Katakan padanya, aku tidak takut!" sahut Nissa lantang dan dingin.
"Takut apa?"
"Kakak, dia menamparku!" ujar Saskia mengadu, Nissa menatap tajam ke arah Radit. Entah kenapa tiba-tiba Radit sudah berdiri di belakangnya?
"Kenapa kamu menampar Saskia? Sejak kecil, aku tidak pernah menamparnya!"
"Maaf tuan Radit, saya membuat anda tersinggung!" ujar Nissa dingin, lalu berjalan melewati Radit.
"Cukup Nissa, kamu sudah keterlaluan!"
"Tanyakan pada adikmu alasan aku menamparnya. Jika memang kamu ingin mengusirku, aku akan pergi sekarang. Atau kamu ingin memeriksa isi tasku. Barangkali kamu takut ada perhiasan atau uang yang aku ambil!"
"Nissa, kamu melewati batas!" ujar Radit kesal.
Tiiiiinnnnn
"Permisi, bus jemputan saya sudah datang. Jika tidak ingin memeriksa tas. Saya permisi sekarang!"
"Tunggu Nissa, aku melarangmu pergi!" ujar Radit, Nissa menghentikan langkahnya.
"Kenapa?"
"Aku melarangmu pergi!"
"Katakan alasannya!" sahut Nissa dingin, Radit menarik tas Nissa melempar jauh di sudut rumahnya.
"Aku melarangmu bekerja, aku akan membayarmu sesuai gajimu!"
Plok Plok Plok
"Hebat, tadi adiknya menganggap aku lintah penghisap darah kakaknya. Sekarang kakaknya menganggap aku layaknya pembantu yang perlu digaji. Keluarga kalian memang hebat, memandang semua orang rendah!" ujar Nissa, sesaat setelah bertepuk tangan di depan Radit.
"Nissa, kamu salah paham!" ujar Radit, seraya menggenggam tangan Nissa. Perlahan Nissa menepis tangan Radit.
"Sayangnya harta dan kedudukanmu tak pernah membuatku silau!" ujar Nissa, lalu mencium mengambil tasnya.
"Assalammualaikum!" pamit Nissa, Radit terpaku menatap punggung Nissa yang semakin menjauh.
__ADS_1
"Nissa!"
"Tenangkan diri anda, jika memang aku harus keluar dari rumah ini. Aku akan keluar sekarang juga!" ujar Nissa, lalu melangkah pergi meninggalkan Radit yang terdiam.