
Nissa terbangun tepat pukul 04.00 WIB, sesaat sebelum suara azan terdengar. Semalaman tubuh Nissa menggigil kedinginan. Namun sekuat tenaga, Nissa menahannya agar tak terlihat oleh Radit. Nissa tidak ingin Radit melihat sakitnya. Nissa berusaha tegar, semua demi menebus kebodohannya semalam. Sebab itu pagi ini Nissa bangun lebih awal. Nissa ingin menyelesaikan semua tugasnya, sebelum Radit terbangun dan menyadari sakitnya. Nissa turun ke dapur, setelah sholat subuh. Dia melihat Radit masih tertidur nyenyak di balik selimut tebalnya. Sesampainya di dapur, Nissa melihat Ifa tengah membersihkan beberapa sayuran bersama beberapa ART.
"Mbak Ifa!"
"Ibu, kenapa turun sepagi ini? Lebih baik ibu istirahat, saya bisa mengerjakannya sendiri. Masih ada beberapa orang, mereka bisa membantuku!" ujar Ifa, Nissa menggeleng lemah. Lalu menggunakan apron dan langsung mulai memotong sayur.
Nissa mulai memasak, meski kepalanya mulai terasa pusing. Ifa melihat betapa cekatannya Nissa dalam memasak. Nissa terbiasa membuat beberapa masakan, sisanya akan dilanjutkan Ifa dan ART yang lain. Setidaknya di atas meja makan, ada satu atau dua masakannya. Meski tak pernah sekalipun Nisss duduk bersama dengan Radit dan Zain. Bukan Radit tak mengajak Nissa makan bersama. Lagi dan lagi pemikiran bodoh Nissa, yang menganggap dirinya tak pantas berada di satu meja dengan Radit dan keluarga besarnya.
"Mbak Ifa, ada mie instan!" ujar Nissa lirih, Ifa langsung menoleh dengan tatapan heran.
Ifa meminta salah satu ART mengambilkan mie instan yang diminta Nissa. Sebenarnya tak pernah Radit mengizinkan mie instan ada di rumahnya. Namun Ifa membeli beberapa untuk para penjaga, takut mereka lapar di tengah malam. Nissa mengambil mie instan dari Ifa, lalu mulai memasaknya. Niss mengambil beberapa sayur sawi dan cabai sebagai penambah mie. Ifa bergidik ngeri, melihat banyaknya cabai. Bukan satu atau dua, tapi lima cabai merah menyala. Ifa bergidik ngeri melihat kuah mie yang penuh dengan irisan tipis cabai. Nissa benar-benar kalap, dia ingin memakan mie dengan irisan cabai merah menyala.
"Ibu!" ujar Ifa lirih dengan rasa tak percaya.
"Kenapa? Kamu takut tuan marah!" sahut Nissa sembari menoleh ke arah Ifa. Nampak anggukan kepala Ifa, mengiyakan perkataan Nissa. Seutas senyum Nissa membuat hati Ifa semakin tak karuan.
"Jauh sebelum menikah dengan tuan kalian. Inilah aku, mie instan menjadi makanan favorit sekaligus makanan paling enak dan murah. Jadi tidak perlu takut, tuan mungkin marah melihatku makan mie. Namun percayalah, tuan tidak bisa melarangku memakan mie ini!" ujar Nissa, Ifa tertunduk lesu. Nissa seolah tak peduli dengan ketakutan Ifa. Dia tetap memakan mie instan yang penuh dengan cabai.
Ifa dan ART lain hanya mengangguk, tatkala Nisss menawari mereka. Tak ada yang berani mengiyakan, kemarahan Radit menjadi bayangan menakutkan. Mereka mengenal pribadi Radit yang pemarah. Hal kecil mampu menyulut amarah Radit. Sebaliknya, Nissa begitu hangat dan sederhana. Alasan para ART begitu menyayanginya. Mereka merasa nyaman di dekat Nissa.
"Tuan!" ujar Ifa lirih, Radit langsung menutup mulut dengan telunjuknya. Nissa menoleh, Radit langsung bersembunyi di balik dinding.
"Tenanglah, tuan kalian masih tidur. Dia tidak terbiasa bangun sepagi ini!" ujar Nissa santai, Ifa menggelengkan kepalanya lemah.
"Mbak Ifa!"
"Iya ibu!" sahut Ifa, Nissa menoleh ke arah Ifa. Mulut Nissa penuh dengan mie, bahkan kuah mie memenuhi pipinya. Ifa tersenyum melihat kesederhanaan Nissa.
__ADS_1
"Nyonya Alvira orangnya baik, dia juga cantik dan hangat!" ujar Nissa lirih, sembari terus memakan mie instan yang ada di depannya. Nissa seolah tak peduli keterkejutan Ifa. Rasa takut menyergap Ifa, saat menyadari Radit ada di balik dinding.
"Mbak Ifa, kenapa diam?" ujar Nissa kedua kalinya, Ifa menelan ludahnya kasar. Nissa mulai menyadari ketakutan Ifa. Alvira Putri Oktaviani Kusuma, nama indah dengan wajah cantik. Sebuah nama yang pernah ada dalam rumah ini. Nyonya besar yang mengisi hari-hari Radit selama hampir delapan tahun. Kebersamaan yang terjalin sejak dibangku kuliah dan terus berlanjut sampai pernikahan.
"Tidak perlu takut, tuan tidak akan mendengarnya. Namun seandainya mbak Ifa takut, tidak perlu dijawab!"
"Tapi bu!"
"Sudahlah mbak, tidak perlu dijawab!" sahut Nissa, sembari berdiri meletakkan mangkok tempat mienya. Nissa langsung mencucinya, Ifa sudah melarang. Namun Nissa tetap mengerjakannya.
"Maaf ibu, saya takut salah bicara!"
"Mbak, sebenarnya aku yang salah. Tidak seharusnya aku melibatkan mbak. Namun mengingat lamanya mbak bekerja di rumah ini. Mbak pasti sangat mengenal nyonya Alvira. Sekali saja bertemu dengannya, aku bisa menduga dia pribadi yang baik!"
"Ibu bertemu dengan nyonya Alvira!" sahut Ifa tak percaya, Nissa mengangguk pelan.
"Kapan?" ujar Ifa heran penuh rasa tak percaya.
"Nyonya Alvira orangnya baik dan hangat. Beliau memang cantik dan...!" ujar Ifa terhenti, Nissa tersenyum sembari menepuk pelan pundak Ifa.
"Dan tuan sangat menyayanginya!" sahut Nissa melanjutkan perkataan Ifa yang terhenti. Sontak Ifa menundukkan kepalanya. Ada rasa bersalah, ketika perkataannya menyinggung Nissa.
Nissa tersenyum ke arah Ifa, seolah mengatakan semua baik-baik saja. Ifa menunduk penuh rasa bersalah, tanpa sengaja dia membuka luka di masa lalu. Sedangkan Radit bersandar pada dinding dengan hati remuk. Dia merasa bersalah, tak pernah mengatakan siapa sebenarnya Alvira.
"Mbak Ifa, tidak perlu merasa bersalah. Alvira wanita yang baik, tak sepantasnya dia dibenci. Aku tidak marah, jika nyatanya dia memang wanita yang pernah dicintai suamiku dan ibu dari putra sambungku!" ujar Nissa hangat, Ifa semakin tertunduk.
"Maafkan Ifa!"
__ADS_1
"Sudahlah, aku harus kembali ke kamar. Sudah pukul 05.45 WIB, aku harus segera bersiap. Nanti tolong persiapkan meja makan!" pinta Nissa ramah, Ifa mengangguk pelan.
"Ibu!" panggil Ifa, Nissa langsung menoleh.
"Bekal ibu!" ujar Ifa, Nissa menggeleng lemah.
"Aku sudah kenyang!" sahut Nissa ramah, lalu keluar dari kamarnya. Nissa terlihat lebih ceria, setelah menyantap semangkok mie.
Nissa berjalan pelan menuju kamarnya. Tangga demi tangga dilewatinya. Tepat di depan kamarnya, Nissa menghela napas. Nissa seakan butuh keberanian yang besar. Radit biasa sudah bangun dan sedang bersiap ke kantor. Nissa membuka pintu perlahan, dia melihat ke kanan dan ke kiri. Ada rasa lega, ketika melihat Radit tidak ada di kamar.
"Aaaaaaaaa!" teriak Nissa dengan nada terkejut. Nissa terhuyung, kala menyadari tangannya ditarik oleh Radit. Nissa jatuh tepat di atas tubuh Radit. Masuk ke dalam dekapan hangat Radit.
"Kenapa kamu bertanya pada Ifa? Tanyakan langsung padaku, siapa sebenarnya Alvira? Kenapa kamu memilih diam dan mengacuhkanku?" bisik Radit mesra, lalu mencium hangat daun telinga Nissa. Radit melepas hijab Nissa. Menyusup hangat di balik tengkuk Nissa.
"Aku harus bekerja!" ujar Nissa, ketika Radit mulai bermain dengan area sensitifnya.
"Aku merindukanmu, aku mencintaimu!" ujar Radit lirih, sesaat sebelum Radit memulai kehangatan dipagi hari.
Tok Tok Tok
"Mama!" teriak Zain di balik pintu, Nissa langsung melepaskan diri dari tubuh Radit. Nissa berlari ke arah kamar mandi.
"Ada apa?" ujar Radit, sembari membuka pintu.
"Mama!"
"Ada di kamar mandi!" sahut Radit, Zain menunduk lesu. Radit membawanya masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Sebentar lagi mama selesai!" ujar Radit, Zain mengangguk pelan dengan senyum bahagia.
"Kamu putraku atau rivalku, kenapa setiap kali kita bersaing demi kasih sayang Nissa? Haruskah aku kesal atau bahagia melihat kedekatan kalian?" batin Radit galau dan kesal.