
"Kak, boleh aku masuk!" ujar Saskia tepat di depan kamar Radit.
"Ada apa? Aku sedang sibuk!" sahut Radit, Saskia mendengus kesal. Beberapa kali Saskia menginjakkan kakinya di lantai. Saskia menunjukkan jelas kekesalannya. Radit menoleh, lalu meletakkan berkas yang sedang dipegannya.
"Masuklah!" ujar Radit, Saskia tersenyum dan langsung masuk ke dalam kamar Radit. Saskia duduk tepat di depan Radit.
"Dimana dia?" ujar Saskia, sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Kamar Zain!" ujar Radit, Saskia tersenyum sumringah.
"Ada apa? Katakan sekarang juga!" ujar Radit tegas, Saskia tersenyum nyengir. Dia baru sadar, kalau Radit tengah menunggu dirinya bicara.
Saskia menyodorkan selebaran kepada Radit. Permasalahan yang ingin dikatakan Saskia pada Radit. Dengan santai Radit mengambil selebaran yang diberikan Saskia. Perlahan Radit membaca tulisan yang ada di dalam selebaran. Sekilas nampak raut wajah Radit berubah. Seiring ketakutan Saskia akan tanggapan Radit. Saskia diam menunduk, sembari meremas kedua tangannya dengan sangat kuat.
"Lalu, apa yang kamu inginkan?"
"Aku ingin ikut acara itu!" ujar Saskia, Radit meletakkan selebaran yang dibawa Saskia.
"Jika kakak tidak mengizinkan!"
"Aku mohon, pertama kalinya aku meminta izin. Hanya tiga hari, aku akan menjaga diriku!" ujar Saskia penuh kesungguhan. Radit diam menatap selebaran yang ada di depannya.
Selebaran yang berisi acara MAPALA ( mahasiswa pencinta alam ), pendakian di salah satu gunung tertinggi selama tiga hari. Kegiatan alam pertama kali yang dilakukan Saskia. Radit tidak pernah mengizinkan Saskia mengikuti kegiatan berbahaya seperti itu. Namun malam ini, dengan segala keberanian. Saskia ingin pergi mengikuti acara kampus. Setidaknya untuk pertama dan terakhir kalinya.
"Ini berbahaya!"
"Akan banyak pendaki ahli yang mendampingi. Aku akan menjaga diriku, percayalahan padaku kak!"
"Tapi kakak tidak percaya padamu!" ujar Radit dingin, Saskia menghela napas. Saskia merasa sedih, ketika permintaannya ditolak. Radit tidak akan membiarkan Saskia berada dalam bahaya. Radit akan lebih mudah mengizinkan Saskia belanja dan menghabiskan banyak uang. Daripada Saskia pergi menjelajah gunung tanpa pengawasannya.
__ADS_1
"Maaf, aku akan keluar!" ujar Nissa, saat melihat Saskia berada di dalam kamarnya bersama Radit.
"Masuklah, ini kamarmu. Saskia dan aku sudah selesai bicara. Dia akan keluar, malam semakin larut!" ujar Radit dingin, Nissa masuk ke dalam kamar. Saskia terdiam, hatinya sedih mengetahui keputusan final Radit.
"Dasar benalu, ada hanya untuk mengganggu!" ujar Saskia pada Nissa, Radit menatap kesal ke arah Saskia. Radit marah, ketika Saskia menghina Nissa. Sebaliknya Nissa terlihat biasa saja, tak ada amarah atau rasa kesal. Bahkan Nissa tak peduli dengan sikap Saskia yang selalu ketus padanya.
"Saskia, pergilah!"
"Kakak mengusirku demi wanita murahan ini!" ujar Saskia kesal, Nissa berjalan menuju kamar mandi. Saskia menatap sinis Nissa, tapi Nissa mengacuhkan rasa tidak suka Saskia. Sebab hampir semua orang di rumah ini menatap dengan sinis ke arahnya. Nissa mulai terbiasa dengan suasana rumah Radit. Selama mereka tidak keterlaluan, Nissa akan memilih diam.
"Kemana lagi kamu? Kenapa tidak tidur?" ujar Radit, sesaat setelah melihat Nissa keluar dari kamar mandi. Nissa berjalan melewati Radit dan bukan ke arah tempat tidur.
"Aku belum sholat isya!"
"Baiklah, setelah itu istirahatlah!" ujar Radit tegas, suara yang menunjukkan rasa kecewa akan sikap acuh Nissa.
"Siapa yang menunggumu?" teriak Radit, Nissa berlalu menuju ruangan kosong yang ada di kamar Radit. Sebuah ruangan yang disiapkan oleh Radit.
Nissa meninggalkan Radit dalam dunianya. Sedangkan Nissa melakukan kewajiban sebagai seorang muslim. Tak lagi peduli dengan kesibukan atau perhatian Radit. Nissa hanya akan merasa tenang, ketika dia berada sendiri dalam sujud dan doa. Rumah besar Radit tak membuat Nissa merasa nyaman. Namun rumah Radit kini tempatnya tinggal, dengan cara apapun Nissa harus bertahan. Surga yang dijanjikan, kini ada dalam baktinya pada Radit. Seorang suami yang telah dipilihnya menjadi imam dunia akhiratnya.
"Kenapa dia lama sekali? Biasanya setengah jam, dia sudah keluar. Sekarang hampir satu jam lebih, hampir jam 23.00 WIB. Apa yang dia lakukan? Jika hanya sholat dan berdoa, kenapa lama sekali?" batin Radit galau dan penasaran. Penantian Radit begitu menyiksa, Nissa tak kunjung keluar. Ada rasa cemas yang tiba-tiba terselip di hati Radit.
Kreeekkk
"Akhirnya!" ujar Radit lirih, bersamaan dengan helaan napas. Rasa lega melihat Nissa keluar, raut wajah Nissa terlihat begitu segar. Radit sempat heran, semalam ini Nissa masih terlihat segar.
"Kenapa lama sekali? Apa yang kamu lakukan di dalam?" ujar Radit, saat Nissa duduk tepat di depannya. Nissa memilih duduk menemani Radit. Dia tidak bisa tidur, ketika Radit masih terjaga.
"Jika penasaran, kenapa tidak masuk? Barangkali anda ingin sholat bersamaku!" sahut Nissa santai, Radit langsung menoleh. Nampak amarah Radit tersulut mendengar perkataan Nissa. Radit merasa Nissa tengah menyindirnya sebagai seorang suami.
__ADS_1
"Kamu menyindirku, karena aku tidak sholat!" ujar Radit, Nissa menggeleng lemah. Radit kesal mendengar perkataan Nissa. Meski jauh dalam nalurinya, Radit malu pada Nissa. Dia tak mampu menjadi imam terbaik bagi Nissa. Namun harga diri Radit, membuatnya kesal dan tak sanggup mengakui kelemahannya.
"Maaf, seandainya anda tersindir. Percayalah, aku tak pernah berniat menyindir anda. Jujur, saya tidak peduli anda sholat atau tidak. Itu hak anda secara pribadi dengan-NYA. Anda sudah cukup dewasa menimbang yang baik dan benar?"
"Aku bukan suami idamanmu. Sebab itu kamu tidak peduli!" ujar Radit sinis, Nissa mendongak menatap tak percaya. Nissa meletakkan selebaran yang ditinggalkan Saskia. Sejak tadi Nissa penasaran dengan selebaran yang ditinggalkan Saskia. Mendaki sesuatu yang membuat Nissa merasa hidup. Nissa menjadi pribadi yang berbeda di alam.
"Kenapa kamu diam?" ujar Radit lantang, saat melihat Nissa berjalan menjauh darinya.
"Memang anda bukan suami idamanku, tapi anda telah menjadi suamiku. Aku tidak peduli, karena ada batasan antara suami dan istri. Akan sangat tidak pantas, mengingatkan suami dengan perkataan atau ajakan. Sebab seorang laki-laki akan merasa rendah diri. Ketika seorang wanita mengajarinya. Hanya dengan tindakkan aku mengingatkan anda. Selebihnya terserah anda!" ujar Nissa, Radit diam membisu. Rasa malu membuat Radit terdiam.
"Tuan Raditya, sudah saatnya anda belajar dewasa. Seperti halnya saat Saskia meminta izin mendaki. Sebagai seorang kakak yang menyayangi adiknya, anda berhak melarangnya. Namun kasih sayang anda yang kelak menghancurkan Saskia. Selama ini kesombongan dan keangkuhan Saskia ada karena status dan kesuksesanmu. Seandainya Saskia pergi mendaki bersama teman-temannya. Saskia akan menyadari arti mandiri. Anda tidak akan ada untuknya. Dia akan menyadari, betapa kecil dan rendah dirinya di alam yang luas. Saskia akan belajar menghargai orang lain. Dia akan belajar dua kata, tolong dan terima kasih. Kemewahan yang anda berikan pada Saskia. Tak lebih dari kelemahan dan kebodohan yang anda ajarkan. Lagipula, sampai kapan anda ada untuknya?"
"Selamanya!" sahut Radit sombong, Nissa tersenyum sinis.
"Selamanya tak pernah ada, sebab semua akan berakhir pada waktunya. Jika memang anda ingin bersama Saskia selamanya. Maka belajarlah untuk tidak mencintai siapapun selain Saskia!"
"Maksudmu?" sahut Radit tak mengerti.
"Percayalah tuan, Saskia dan istrimu tidak akan pernah ada dalam satu kata!" ujar Nissa tenang, lalu pergi ke tempat tidur.
"Bukankah kamu istriku, artinya kamu tidak bisa satu kata dengannya. Setidaknya kamu belajar menyayanginya!" ujar Radit lantang, Nissa mengangkat wajahnya. Tubuhnya terbaring hampir sempurna, tapi suara Radit membuatnya terbangun kembali.
"Seorang istri tidak akan diperlakukan sehina itu di depan suaminya. Satu hal lagi, bukan aku tidak satu kata dengan Saskia. Namun diammu membuatku sadar, aku hanya benalu dalam rumah ini. Aku sarankan, carilah istri yang satu kata dengan Saskia. Agar tak ada yang merasakan pedihnya terhina di rumah suaminya!" ujar Nissa final, Radit membisu tanpa kata.
"Nissa, kamu salah paham!"
"Aku lelah, biarkan aku tidur!" ujar Nissa, lalu menarik tubuhnya menutupi semua tubuhnya.
"Kenapa aku sakit mendengar perkataannya?" batin Radit gusar.
__ADS_1