Senja Pengganti

Senja Pengganti
Fakta yang Tersimpan


__ADS_3

"Silahkan dimakan, maaf kalau hanya ini makanan yang bisa mbok suguhkan!" ujar mbok Parmi ramah, Radit dan Rayhan mengangguk hampir bersamaan. Keduanya merasa asing dengan makanan yang disuguhkan oleh mbok Parmi. Amira terkekeh, melihat wajah keduanya yang aneh dan canggung.


"Kenapa melamun? Kalian merasa aneh dengan makanan ini. Tenang saja, semua masakan ini bisa dimakan. Namun seandainya lidah kalian tidak terbiasa. Aku akan meminta seseorang membuatkan makanan baru!" ujar Amira, Radit dan Rayhan secara bersamaan menggeleng. Keduanya merasa tidak nyaman, jika meminta makanan sesuai selera mereka.


"Baiklah, aku akan memasukkannya ke dalam. Aku akan memakannya bersama Mbok Parmi dan Nissa nanti. Mbok Parmi sedang membuatkan Nissa rujak manis. Setelah selesai, aku akan membangunkan Nissa dan kita bisa pulang!" tutur Amira, tak ada anggukan atau gelengan kepala. Baik Radit dan Rayhan terdiam, menyadari pribadi sederhana Nissa dan Amira. Dua sahabat yang sangat berbeda dalam kesehariannya.


Rayhan menatap penuh rasa tak percaya. Amira wanita menyebalkan dalam pemikirannya. Menyimpan sederhana yang membuat hatinya kagum. Rayhan merasa aneh, dalam kehidupan mewah yang dimiliki Amira. Wanita di depannya memilih hidup sederhana. Sosok yang tak biasa, menjadi sangat biasa. Menutupi lebih yang melekat dalam pribadinya. Amira mengusik ketenangan hati Rayhan. Bukan dengan status, bukan dengan wajah cantiknya, bukan dengan hijabnya, melainkan pribadi sederhana yang tak lagi dimiliki oleh wanita lain.


"Nak Radit, Mbok ingin bicara!" ujar Mbok Parmi, Radit langsung berdiri. Radit berjalan mengikuti langkah lemah Mbok Parmi. Menjauh dari gubuk tempat Nissa tertidur. Meninggalkan Rayhan dan Amira berdua di teras rumah Mbok Parmi.


Mbok Parmi mengajak Radit duduk di bawah pohon mangga tak jauh dari rumahnya. Raihan menunduk, tatkala Mbok Parmi menatap lekat wajahnya. Ada rasa canggung, saat mata senja Mbok Parmi seolah menilainya. Seutas senyum di wajah Mbok Parmi, sedikit membuat hati Radit tenang. Seakan batu besar telah terangkat dari dadanya. Beban besar yang membuatnya sesak napas.


"Nak Radit, kamu laki-laki yang hampir sempurna. Nissa begitu mencintaimu, tapi kepahitan yang pernah dialaminya. Meninggalkan trauma yang begitu dalam. Sampai dia takut melangkah di jalan yang sama. Alasan yang membuat Nissa tak ingin mengatakan cintanya padamu. Ada cinta dan benci di hatinya untukmu. Jiwanya trauma akan tangis di masa kecilnya. Pernikahan kalian tidak akan mudah, dinding beton yang dibangun Nissa. Takkan mudah runtuh, menyimpan dingin dan kebencian yang mungkin membuatmu pergi darinya!" tutur Mbok Parmi tegas, Radit menunduk semakin dalam.


"Nak Radit, aku tidak akan memintamu setia pada Nissa. Cukup pahami Nissa, setidaknya sampai Nissa menerima janin yang ada di rahimnya!"


Duaaaarrrr


Bak petir menyambar tubuhnya, berita yang dikabarkan Mbok Parmi. Nyata membuat Radit terkejut. Detak jantungnya berdetak begitu hebat. Kabar gembira yang terdengar telinganya, membuat Radit lemah tanpa tulang. Mbok Parmi menepuk pelan punggung tangan Radit. Terasa hangat menyusup ke dalam nadi Radit. Kasih sayang yang begitu tulus tanpa pamrih.

__ADS_1


"Nak Radit, usia kandungan Nissa memasuki minggu ke empat. Sejak awal dia mengetahui kehamilannya. Nissa rapuh dan lemah, semangat hidupnya menghilang. Tangisnya pecah, menelan tawa di wajahnya. Hati Nissa sakit, mengingat trauma yang pernah dialaminya. Alasan Nissa menutup rapat kabar bahagia ini. Setidaknya, sampai dia siap kehilangan dirimu!"


Deg


"Kehilangan diriku, kenapa?" sahut Radit, sesaat setelah jantungnya berhenti berdetak. Entah kenapa hatinya terasa ngilu? Perkataan Mbok Parmi membuat Radit tak percaya. Pemikiran dangkal tanpa dasar. Alasan yang membuat hubungannya dengan Nissa berjarak.


"Karena Nissa terlalu takut, seandainya kelak kamu pergi darinya. Sebelum semua itu terjadi, Nissa berpikir lebih baik pergi!"


"Kenapa? Apa yang membuat Nissa begitu membenciku? Bayi di rahimnya itu putraku, kenapa dia begitu tega menjauhkan kami? Kenapa dia menutupi kebahagian ini? Kabar yang sudah lama aku nantikan. Kenapa Nissa sedingin ini?" ujar Radit, Mbok Parmi diam membisu.


"Karena aku pengecut, aku tidak sekuat Alvira. Dia wanita hebat yang sanggup menatapmu. Aku terlalu lemah, saat aku mengingat ada wanita lain dalam hatimu. Aku terlalu pengecut, ketika aku menyadari putraku hanya pengganti dalam hidupmu. Zain buah cintamu dengan Alvira, sedangkan dia buah kebencianmu pada keluargaku!" sahut Nissa dingin, Radit langsung berdiri. Radit menangkup kedua lengan Nissa, menatap penuh cinta wajah yang membuat Radit kehilangan akal.


"Sayang percayalah!"


"Seandainya semua ini mimpi, aku ingin terbangun dan berlari dari mimpi ini. Sayangnya semua ini nyata, kamu ada di depanku. Kamu mengatakan cinta padaku. Kamu berjanji setia padaku, tapi di sisi lain jiwamu masih terpaut dengan Alvira. Dalam benakmu tersimpan kenangan bersamanya. Bahkan di dalam buku ini, tersimpan kebahagian kalian!" ujar Nissa, memberikan sebuah buku diary.


Radit tertegun, menerima buka diarya bertuliskan nama Alvira dan namanya di sampulnya. Rayhan langsung terdiam, dia mengalihkan pandangannya. Sebuah rahasia yang terkuak tanpa bisa ditutupi lagi. Sisa kenangan yang tersimpan rapi dan tak seharusnya ditemukan oleh Nissa. Radit membisu, menyadari kebodohannya. Kini dia mengerti, alasan ketakutan Nissa yang selama ini ingin Radit ketahui.


"Sayang, dia hanya masa lalu. Ini hanya buku yang lupa aku buang. Percayalah, Alvira tidak ada lagi dalam hidupku!"

__ADS_1


"Diamlah, jika perkataanmu hanya membuatku sakit!"


"Nissa, Rayhan bisa membuktikannya. Aku tak pernah menemui Alvira. Sejak dia meninggalkanku, tak pernah aku berpikir menemuinya!" ujar Radit, Nissa menggeleng lemah. Cintanya terlalu besar pada Radit, sampai Nissa begitu takut kehilangan Radit.


"Amira, kepalaku pusing. Bawa aku pulang!" pinta Nissa, Amira langsung menuntun tubuh Nissa. Keduanya berpamitan pada mbok Parmi, mencium hangat tangan nenek renta yang sudah seperti nenek mereka sendiri.


"Nissa, Radit laki-laki yang baik. Dia sangat mencintaimu, mungkin masa lalunya menyakitimu. Sebagai seorang istri, sudah sepantasnya kamu belajar percaya padanya. Ingat Nissa, setiap langkahmu ada dengan ridho Radit. Jangan sampai, sikap egois dan traumamu. Menjadikanmu istri durhaka, sekali saja belajar mempercayainya. Jika memang dia bersalah padamu, percayakan pada ketentuan-NYA. Yakinlah akan imanmu, setiap yang bersalah akan mendapat ganjarannya. Jangan gadaikan imanmu pada-NYA, demi cinta pada Radit. Kembalilah Nissa, tengadahkan tanganmu dalam doa dan sujud. Aku hanya mengingatkanmu sekali. Pernikahanmu mungkin dengan niat yang salah. Namun penyatuan kaliam berdua ada dengan campur tangan-NYA!" tutur Mbok Parmi, Nissa terdiam membisu.


"Radit, terima kasih telah mencintai Nissa cucuku!" ujar Mbok Parmi, Radit mengangguk pelan.


"Aku yang seharusnya berterima kasih. Nissa hadir dalam hidupku yang gamang!" batin Radit, sesaat setelah berpamitan pada Mbok Parmi.


"Izinkan malam ini aku menginap di rumah Amira!"


"Sayang, kamu sedang sakit!" sahut Radit, Nissa menunduk.


"Baiklah, tapi aku pulang setelah melihatmu tertidur!" ujar Radit, Nissa tersenyum senang.


"Akhirnya aku mengetahui, dimana rumah wanita menyebalkan ini?" batin Rayhan, sembari melirik ke arah Amira.

__ADS_1


__ADS_2