Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 10


__ADS_3

🌺Darren Pov🌺


'Yes!'


Moodku langsung berubah jadi lebih baik sekarang. Akhirnya aku bisa main ke rumah Via. Tapi... tadi kelihatan banget kalau dia sangat perhatian ama Ferdy. Kenapa rasanya aku gak senang ya ngeliat mereka terlalu dekat walaupun aku tau kalau mereka kakak beradik? Ah.. Lupain aja! Aku gak mau bikin moodku jadi jelek.


Sambil menyiapkan ponsel, aku langsung siap menuju ke parkiran untuk segera berangkat ke rumah Via. Karena moodku lagi baik, aku menyetel lagu kesukaanku sambil mengemudi.


Saat tiba di depan apartemen Via, aku langsung menuju ke lantai tempat kediaman mereka berada. Dengan jantung yang masih tidak karuan, aku menekan tombol bel kamar apartemen mereka.


'Ting...tong...' suara bel.


Kemudian pintu mereka terbuka dan Ferdy yang menyambutku dengan senyumnya.


"Bro, ayo silahkan masuk!" ajaknya dengan gayanya yang welcome.


"Gaya apartemen kalian keren ya. Sederhana dan minimalis," pujiku saat menilai suasana dalam apartemen mereka.


"Bisa aja lo. Duduk, bro!" ucapnya sambil mempersilahkan aku duduk di sofa putihnya.


Jujur, aku mencari keberadaan Via yang tidak kelihatan batang hidungnya dari tadi.


"Via lagi di belakang sana, lagi urus tanamannya," ucap Ferdy tiba-tiba seolah-olah menjawab apa yang kumaksud.


"Ooooo... Oh ya Fer, kita mau bahas projek apa?" tanyaku penasaran.


"Hahaha... sorry bro, gue bercanda. Sebenernya gak ada tugas apapun kok. Gue cuma pengen lu datang main aja. Abisnya, gue liat lu suntuk gitu. Kebetulan gue juga lagi gak ada temen ngobrol. Jadi gapapa kan kalo gue undang lu main?"


"Hahaha.... Gapapa, Fer. Gue malah seneng, lu mau undang gue ke sini."


Kami membicarakan hobi kami masing-masing terutama hobi otomotif yakni salah satunya motor balap. Aku juga baru tau kalau Ferdy dua tahun lebih muda dariku. Sifatnya yang welcome membuatku nyaman untuk mencoba berteman dengannya. Mungkin karena dia jurusan kedokteran jadi bisa memahami kondisi psikolog seseorang.


Setengah jam berlalu, Via tiba-tiba datang menghampiri kami. Gadis manis ini berhasil menarik perhatianku dan aku hampir melupakan keberadaan Ferdy.


"Hai, Darren! Kita ketemu lagi," sapanya sambil tersenyum dan membawa makanan menuju tempat aku dan Ferdy sedang duduk.


"Ya," jawabku singkat karena ada rasa gugup.

__ADS_1


"Oh ya bro, cobain de dessert buatan Via! Enak lo," kata Ferdy sambil menunjuk ke makanan yang barusan di bawa oleh Via dan sudah berada di depan meja kami.



*Dessert by Via


"Wah..." Ekspresiku saat pertama kali melihat karya Via.


Tidak hanya cantik, ternyata dia jago masak juga.


"Jangan bengong aja! Gak suka ya?" tanya Via yang menunggu responku.


Aku mulai mencicipi dessert yang berwarna coklat dengan sendok kecil yang sudah disiapkan olehnya. Saat sesuap dessert coklat tersebut masuk ke dalam mulutku, aku merasakan aroma coklat yang pekat, lumer di mulut, dan tidak terlampau manis. Karena aku suka dessert buatannya, aku mengambilnya lagi dan lagi hingga tanpa kusadari mereka berdua tertawa melihatku.


"Enak kan, bro?" tanya Ferdy.


"Mmmm..." ucapku sambil mengangguk. "Sebenernya aku gak gitu suka makanan apapun yang terlihat manis, tapi pas uda nyobain ini, wah.... gak bisa berkata-kata lagi. Beneran enak," pujiku dari hati terdalam.


"Mujinya biasa aja, bro. Tar ekornya makin panjang. Hahahaha...." ledek Ferdy yang akhirnya kena pukul dari Via di bagian punggungnya.


"Kalo suka, lanjutkan makannya! Aku mau ke kamar bentar," kata Via yang sudah mau meninggalkanku dan Ferdy berduaan kembali.


"Kamu temenin dia dulu, aku ada janji mau kerja kelompok online bentar kisaran dua puluh menitan ama team workku," ucap Ferdy tiba-tiba dan sudah beranjak meninggalkan kami.


"Kok tiba-tiba sih? Kan gak enak ama Darrennya," kata Via.


"Justru karena gak enak, makanya aku suruh kamu nemenin dia bentar. Tar aku balik lagi. Sorry ya bro, gue tinggal bentar," pamitnya sambil mengedipkan mata kirinya ke arah kami.


Setelah kepergian Ferdy, suasana menjadi sedikit canggung. Via tampak diam seketika.


"Dessertmu enak," kataku yang memulai awal percakapan.


"Thank you. Aku belajar otodidak dan masih banyak kekurangan," jawabnya sungkan dengan senyum khasnya yang ramah.


"Kalian tinggal berdua saja? Orang tua kalian?" tanyaku penasaran tentang keluarga mereka.


"Orang tua kami stay di Singapore. Mereka punya kerjaan masing-masing. Sedangkan aku lebih milih kerja di sini sesuai hobiku sambil menjaga Ferdy. Kalau kamu? Ortumu di sini juga?"

__ADS_1


"Ortuku sedang di Amrik untuk dua pekan ini, tapi sebenernya mereka emang suka bolak-balik gitu karena di Amrik juga ada perusahaan yang mesti daddy sendiri yang nanganin."


"Jadi.... kamu masih aktif kuliah?"


"Ya, aku masih aktif kuliah. Aku kuliah online saja di kantor tempat yang ku naungi saat ini. Aku sangat jarang untuk keluar nongkrong sama teman-teman kampus, karena gak ada waktu."


"Wah... hebat dong kamu bisa kuliah sambil kerja. Apakah sudah mau selesai kuliahnya?"


"Beberapa bulan lagi aku di wisuda, aku cuma ambil S1. Sisanya aku fokus di kantor."


"Jadi kamu juga sibuk bikin skripsi?"


"Ya. Aku dengar Ferdy uda semester 7, cepet juga ya."


"Dia kuliah sejak usia 17 tahun. Dia juga termasuk anak yang pintar, jadi dia berusaha sebaik mungkin agar cepat lulus dan dapat kerjaan."


"Jadi kalian cuma dua bersaudara?"


"Gak. Aku masih punya seorang adik perempuan, tepatnya kakak nomor dua bagi Ferdy. Dia tinggal di Semarang."


"Enak ya punya kakak adik, sedangkan aku hanya anak tunggal," keluhku sedikit iri dengan mereka.


"Kalau gitu, anggap saja aku kakak perempuanmu," ucapnya sambil tersenyum manis lagi padaku. "Mau panggil aku dengan sebutan kakak juga boleh."


Via, aku bukan mau menganggapmu sebagai seorang kakak, tapi aku punya perasaan lebih dari itu. Tapi gak salah juga sih kalau aku mencoba mendekatinya dengan menjadi adiknya, walaupun hanya adik-adikkan.


"Emang mau angkat aku sebagai adikmu?"


"Tentu saja! Kamu itu adik yang hebat, Darren. Kamu boleh datang ke sini kapanpun kamu mau."


"Benarkah? Kapanpun aku mau? Kalau tinggal di sini?"


"Kalau tinggal, belum boleh. Tapi kalau inap sesekali, kamu boleh tidur bareng Ferdy."


Kau ingin menggodaku ya? Baru berkenalan denganku sudah menawariku untuk bisa berkunjung sesuka hatiku kapanpun aku mau dan bahkan di izinkan untuk menginap. Kamu ini termasuk seorang wanita dewasa yang polos dan kurang waspada.


"Kamu kakak yang baik. Aku juga mau diperhatikan sama seperti Ferdy."

__ADS_1


Karena aku sangat menginginkan kamu selalu ada kasih sayang buatku dan mencurahkan semua waktumu hanya untukku.


"Tentu saja. Aku akan berusaha menjadi kakak perempuan yang baik dan selalu ada untukmu."


__ADS_2