Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 23


__ADS_3

"Kenapa kamu pilih film ini?" tanyaku penasaran ingin mendengar alasannya.


"Karena aktornya yang bernama Mario Maurer itu sangat tampan," jawabnya sambil senyum-senyum ganjen.


"Mario Maurer yang mana?"


Setampan apa sih dia? Perasaan semua cowok pemain filmnya biasa aja. Sama-sama memakai pakaian berwarna coklat dan rambutnya di pomade.


"Kamu liat gak cowok yang paling putih kulitnya di antara mereka? Tuh yang lagi mau pulang ke rumahnya untuk mencari anak dan istrinya," tunjuknya pada salah satu tokoh ceritanya.


"Oooo... yang itu?" Aku sudah menemukan Mario Maurer yang Via maksud. Emang ganteng sih, pantesan saja si Via mau pilih film ini.


"Ganteng, kan?" tanyanya lagi padaku yang sedang bad mood dan melahap popcornnya dengan rakus.


Karena ambil popcornnya agak kasar, beberapa popcornnya tampak bertebaran kemana-mana.


"Darren, kok popcornnya malah di jatuhin?" tanyanya tak terima beberapa popcornnya berserakan.


"Lagian popcornnya lebih cenderung ke kamu, aku agak susah ambilnya. Jadi bukan salah aku juga kalo pada jatuh-jatuh."


"Aduhhhh.... Tar kita kena tegur lo. Nih, pegang dulu!" serahnya kantong berisikan popcorn itu padaku, sedangkan dia sedang sibuk memungut beberapa popcorn yang jatuh dan ia taruh di tangannya sebagai penampung sementara.


"Kamu ngapain sih pungut-pungut? Tar juga bakalan ada yang beresin kok," kataku risih dengan tindakannya.


"Kamu gak boleh gitu. Ini kan kesalahan kita, kalo masih bisa di pungut, kenapa gak? Toh biar kita juga nyaman liatnya," katanya yang sudah selesai memungut sisa popcorn.


"Trus, itu mau taro di mana?"

__ADS_1


"Taro di lubang sini dulu sementara, tar kalo salah satu minuman kita udah abis, baru masukkin tuh popcorn yang jatuh ke gelas plastik kosongnya."


Popcorn yang di pungut oleh Via di taruh sementara kelubang tempat taro minuman yang ada di pinggiran kursinya. Sedangkan aku memasukkan setengah genggam popcorn ke dalam mulutku.


"Kamu gak salah? Hahahahaha...." tawanya ketika melihatku.


Mulutku kepenuhan popcorn hingga susah bicara dengannya. Jadi aku hanya ikut tersenyum saja saat ia menertawaiku.


"Bukannya kamu gak suka popcorn? Kok malah kamu yang antusias makan tuh popcorn? Hahaha... Darren.. Darren..." lanjutnya sambil ketawa lagi dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Aku segera mengunyah popcorn yang ada di mulutku dengan cepat dan sambil menyeruput minumanku agar memudahkanku untuk menelan.


"Ahhhhh...." kataku lega setelah semuanya sudah masuk ke perutku.


Via masih melanjutkan tatapan seriusnya ke depan layar bioskop. Sekarang filmnya bercerita tentang kehidupan normal setelah kepulangan sang suami. Sang istri yang masih cantik sedang mengayun anak mereka di sebuah ayunan kain yang berjuntai pada tali yang di ikat kuat pada papan kayu. Sang suami belum mengetahui kalau anak dan istrinya sudah meninggal.


"Aaaaa...." teriakku spontan saat melihat hantu yang tiba-tiba nongol. Aku juga gak nyangka kalau aku memegang lengan Via sambil bersembunyi di belakang pundaknya.


"Der, kamu takut?" tanyanya dengan tatapan nyengir.


Aku langsung keluar dari persembunyianku dan menelan salivaku. Wajahku tampak tegang tapi aku mencoba menepis itu.


"Nnnggg... Itu soundnya yang bikin spot jantung. Aku mah gak takut," alasanku yang malah membuatnya senyum-senyum gak karuan.


"Ooo..." responnya lagi yang hanya membulatkan bibirnya.


Jujur aku gak suka film horor, karena aku tripikal yang tidak suka takut gelap dan hantu. Tapi demi Via, aku harus merendahkan diriku seperti ini. Memperlihatkan sisi kelemahanku hari ini di depannya, sungguh memalukan. Untung saja saat aku teriak tadi, yang lain juga ada yang teriak. Jadi gak cuma suaraku saja yang terdengar.

__ADS_1


Karena takut, aku memilih menutup kedua mataku saja. Aku tidak mau melihatnya lagi. Udara dingin di dalam gedung malah membuatku ketiduran. Suara menggelegar sekalipun sudah tidak terdengar lagi ketika aku terlelap. Aku bermimpi sedang berduaan dengan Via di sebuah taman yang indah. Di sana, aku mulai mengutarakan perasaanku padanya. Dia hanya tersenyum dan dia terdiam saat aku beranjak mencium bibirnya. Tapi... tiba-tiba ada suara....


"Der, bangun! Darren!" panggil Via yang entah sejak dari kapan, tapi baru terdengar olehku.


Posisiku saat ini sedang bersandar di pundaknya, padahal sebelumnya aku sudah pastikan kalau posisi tubuh dan kepalaku lurus bersandar ke kursiku. Saat aku tersadar dan membuka kedua mataku, aku kaget dengan posisiku yang masih nyaman di pundakknya. Dia berusaha membangunkan aku dengan mendekatkan wajahnya dan memanggil namaku agar terdengar jelas olehku. Aku mengangkat wajahku untuk menoleh ke arah wajahnya yang cukup dekat itu dan menatap kedua bola matanya, tapi tanpa kuduga.... aku tidak sengaja mengecup bibirnya karena jarak kami yang memang terlalu dekat sekali. Kami terdiam lima detik dalam posisi shock kiss. Setelah itu, dia kembali ke posisinya dengan wajah canggungnya. Tidak hanya ia, aku pun demikian. Tapi entah kenapa aku sangat senang setelah kejadian shock kiss itu. Untungnya saja suasana gedung masih gelap dan wajah kami berdua yang tersipu malu tidak kelihatan.


"Mmm.... Filmnya belum abis?"


"Sepertinya sih bentar lagi. Maaf tadi aku gak tau kalo kamu lagi tidur."


"Ooo... Nnggg... Gakpapa."


Kenapa suasana jadi canggung gini? Via, aku mau kamu tau kalau aku tidak sia-sia mengajakmu keluar hari ini. Sebenarnya ini adalah proses aku ingin lebih dekat denganmu.


"Der, kalau kamu gak suka film horor, harusnya kita gak usah nonton lagi."


"Gak masalah kok. Kita nonton aja ampe abis."


Entah itu berapa lama lagi durasinya, tapi aku tidak mau film ini cepat selesai. Rasanya pengen terus berduaan dengannya. Aku mengintipnya saat ia serius nonton. Melihat wajahnya yang makin dilihat, aku malah makin suka sampe ntah itu apa rasanya yang gak bisa di gambarin seperti kita pengen terbang karena saking sukanya.


"Gak usa di liat terus," katanya tiba-tiba. "Aku bukan hantu," lanjutnya sambil makan popcornya.


"Hahaha... Maaf! Kalopun hantunya kek kamu, aku gak akan takut sama sekali. Malahan aku bawa pulang ke rumah buat nemenin aku tidur."


"Konyol kamu!" makinya.


Aku tersenyum saja dengan makiannya. Menatap layar bioskop lagi sambil membantunya menghabiskan popcorn. Saat tanganku ingin mengambil popcorn dari kantong popcornnya, tanpa sengaja tanganku malah menangkap tangannya yang berada di dalam kantong popcorn. Ia kaget lalu manatapku. Kami bertatapan intens. Dia terdiam seperti terpaku saat menatapku. Kami terbawa suasana dengan sound yang sedih dari film tersebut. Karena dia terdiam cukup lama tanpa berkedip, aku memberanikan diri untuk lebih mendekatkan wajahku. Kedua bola mataku hanya fokus pada bibirnya. Keinginanku untuk mencium bibirnya sungguh tidak bisa dikendalikan. Aku tidak peduli dengan orang-orang di sekitar kami. Aku hanya fokus padanya. Wajahku saat ini sudah kisaran tiga sentimeter. Kedua batang hidung kami saling berdekatan dan nafas kami saling berhembus.

__ADS_1


__ADS_2