
Entah kenapa hati ini tampak gusar saat melihat pria itu mencuri pandang ke Via. Rasanya pengen ku tinju muka si pria itu.
'Ting!!' suara pintu lift terbuka saat bertuliskan LD di bagian Lednya.
Kedua pria tersebut turun terlebih dahulu dan kemudian di susul oleh kami dari belakang. Via langsung menyalakan kunci otomatis pembuka pintu mobilnya.
"Aku pergi dulu ya! Ingat, jangan mabuk-mabukkan lagi dan kuliah yang bener!" pesan Via sambil berjalan mundur sambil menasehatiku bagaikan seorang kakak yang berpesan pada adiknya.
"Iya. Kamu juga ati-ati di jalan."
Kami berdua masih melangkah perlahan ke arah parkiran mobilnya yang sudah dekat, tapi tanpa sengaja Via menabrak tubuh seseorang yang tak lain adalah pria yang menatapnya di lift tadi.
"Ah, maaf saya gak sengaja!" ucap Via sopan.
"Tidak apa-apa, nona. Kamu baik-baik saja?" tanya pria tersebut sambil tersenyum ramah.
Via membalas dengan senyum manisnya. "Aku tidak apa-apa. Maaf, aku tidak melihat keberadaan bapak."
"Hahahaha.... Apakah aku setua itu?" tanya pria tersebut sambil tertawa.
"Via, cepat pulang! Jangan membuat Ferdy mengkhawatirkanmu!" pesanku sambil berjalan terlebih dahulu ke mobilnya.
Aku sengaja mengucapkan itu agar Via tidak berlama-lama bicara dengan pria itu. Walaupun pria tersebut sadar kalau aku emang tidak menyukainya.
"Ya!" jawab Via padaku saat aku sudah membukakan pintu mobil untuknya masuk dan membantunya menutup pintu tersebut kembali.
Pria tadi hanya melihat sambil tersenyum saja. Entah apa yang di senyumkannya. Sama sekali menjengkelkan buatku.
"Nona, hati-hati mengemudinya!" seru pria itu sambil berjalan ke arah mobilnya.
Via melambaikan tangannya padaku dari dalam mobilnya dan langsung berlalu dengan mobilnya. Aku membalas lambaian tangannya juga. Setelah itu, aku bergegas kembali.
*****
🌺Author Pov🌺
Di kediaman Via...
Setelah pintu rumah apartemen kebuka, Via tidak melihat Ferdy. Lalu, dia bergegas ke kamar Ferdy untuk mengecek keberadaan adiknya.
"Ya ampun, nih anak! Masih molor aja," kata Via saat menemukan adiknya sedang tidur di balik selimutnya.
Via tidak masuk ke dalam untuk membangunkan Ferdy. Dia kembali ke kamarnya dan segera mandi serta melakukan aktifitasnya sehari-hari di hari libur seperti sekarang ini.
Setelah berkutat dengan aktifitasnya hingga jam 14.00, dia langsung membangunkan Ferdy untuk makan siang. Dengan segala upaya, dia berusaha membangunkan adiknya tersebut.
"Ayolah, Fer! Udah siang nih. Buruan mandi yang bersih!" suruh Via sambil menarik kedua tangan Ferdy agar segera bangun.
"Via, aku masih pengen tidur. Makannya tar aja," pekiknya malas.
"Gak bisa!" ucap Via kesal dan cemberut.
__ADS_1
"Oke! Oke! Aku mandi sekarang."
Ferdy langsung pergi mandi, sedangkan Via membantunya membereskan tempat tidur Ferdy.
"Buruan ya!"
"Ya!!" jawab Ferdy kencang dari balik kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Ferdy menuju ke ruang dapur dan duduk di hadapan Via yang sedang menyantap makan siangnya. Dengan wajah memelas, Ferdy hanya makan sedikit.
"Kamu kenapa?" tanya Via penasaran.
"Lagi gak nafsu makan," jawab Ferdy sambil memainkan sendoknya ke nasi yang ada di piringnya.
"Kamu harus makan walaupun dikit, kalau gak malah sakit tar. Kenapa rambutmu basah gitu sih? Masih ada air yang netes-netes lagi," ucap Via yang spontan mengambil sebuah handuk dari arah kamar mandi dan menarik Ferdy agar duduk di sofa sebentar.
"Aduh.... Mau ngapain sih?" pekik Ferdy sedikit kesal di tarik gitu aja ke sofa.
"Mau bantu kamu keringin rambut kamu. Aku gak tahan liatnya netes-netes gitu. Tar malah kena makanan."
*Ferdy dan Via
Ferdy terima pasrah apa yang kakaknya lakukan. Dia hanya menurut saja.
Tiba-tiba ponselnya Ferdy berbunyi sebuah panggilan video masuk dari Darren. Sebuah nama yang cukup membuat Ferdy keheranan karena tiba-tiba muncul untuk pertama kalinya di layar ponselnya. Dengan segera, Ferdy mengangkat panggilan video tersebut.
"Ya, bro. Gimana kabar lu?"
"Gue... baik! Nnnggg.... lu lagi...?" Darren agak bingung mau bertanya, tapi tampaknya Ferdy tengah sibuk di layani oleh seseorang yang tidak nampak wajahnya di ponsel.
Ferdy tau apa yang Darren maksud. "Oooo... Gue lagi di rumah ama Via."
"Oke, selesai! Uda kering rambutnya dan ganteng," puji Via yang cukup kedengeran oleh Darren.
Akhirnya, Via menyelesaikan tugasnya dan dia memunculkan wajahnya sekilas di ponsel Ferdy.
"Darren!" sapa Via sambil melambaikan tangannya.
"Ya!" jawab Darren singkat di sana dengan senyum terpaksa. "Nngggg... gue cuma mau mastiin aja kalo Via udah nyampe rumah," ucapnya tiba-tiba dan membuat Ferdy heran.
"Dia emang udah di rumah. Hahaha...." balas Ferdy sambil meluluhkan suasana canggung.
Via sudah beranjak dari tadi meninggalkan Ferdy dan Darren yang sedang video call.
"Hari ini sibuk apa, bro?" tanya Ferdy yang mencoba mulai percakapan.
"Lagi tidak ada kegiatan apapun. Hehe.... Membosankan hidup sendiri," jawab Darren dengan tampang memelas dan sedikit menunduk ke bawah namun mencoba untuk tersenyum.
"Kebetulan gue ada projek nih dari dosen. Keknya gue butuh bantuan lu deh bro. Setau gue, lu kan uda ada pengalaman, sedangkan gue baru belajar. Hehehe... Boleh gak nih lu bantuin gue?"
__ADS_1
"Tentu saja! Kalo itu masih di batas kemampuan gue," kata Darren dengan senyum manisnya.
"Kalo gitu, gue kerumah lu aja. Gimana?"
Darren tampak berpikir sebentar. "Keknya, gue aja de yang ke rumah lu. Boleh? Lagian di rumah gue gak ada apa-apa, takut lu gak betah aja."
"Ooo... oke de bro. Gimana baiknya aja. Gue share lokasi ke lu ya alamat gue."
"Oke, siap!"
"Sip!!"
Percakapan mereka langsung terhenti saat itu juga setelah adanya kesepakatan untuk bertemu kembali di rumah Ferdy.
"Ada-ada aja," ucap Ferdy sambil tersenyum sendiri.
"Kenapa, Fer? Ayo, lanjut makannya!"
"Darren... Keknya kesepian de tuh anak," tebak Ferdy sambil mengambil posisi duduknya kembali sambil menikmati sisa makannya yang belum habis.
"Oooo..."
Via masih melanjutkan membasuh piring-piring yang habis dipakainya di bawah pancuran air wastafel.
"Gue suruh dia kesini dengan alasan bantuin gue kerjain projek dari dosen. Padahal gak ada."
"Trus, kalo tar dia beneran kesini, gimana dong?"
"Biarin aja dia ke sini. Lagian dia keknya tertarik ama kamu."
"Ih.... Apaan sih? Ngaco kamu."
"Ngaco gimana? Diliat dari reaksinya aja uda ketebak kali. Dia tuh lagi coba mau deket gue agar bisa deketin kamu. Masa gak ngerasa sih?"
"Idih.... Kamu ini jangan sembarangan ngomong. Dia itu ku anggap kek adek. Gak mungkin ah dia suka ama aku. Lagian kek gak ada cewek lain aja."
"Aduh Via... Zaman sekarang masih mandang umur? Kuno amat sih pikiran kamu."
"Udah ah. Jangan bahas lagi. Tar dikira narsis lo."
"Tapi boleh kan dia datang?"
"Kan kamu yang izinin. Aku bisa bilang apa?"
"Kalo gitu, buatin dessert yang enak gih! Biar tamunya betah."
"Kamu ini sembarangan perintah-perintah kakak sendiri. Dasar adek gak tau diri!"
"Via cantik, dessertmu tuh selalu enak. Jadilah tuan rumah yang baik untuk menyambut tamu. Kita harus hemat lo. Jangan boros! Tar papi ama mami marah."
"Apaan sih? Makin ngaco aja kamu! Buruan makannya!"
__ADS_1