Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 53


__ADS_3

Salah satu asisten rumah tangga datang membawa cemilan dan tiga cangkir teh hangat. Dia menyediakannya diatas meja.


"Nak Via, silahkan dicicip! Maaf ya tante pake baju daster gini, soalnya cuma di rumah aja."


"Ya, tante. Mami saya juga gitu, jadi udah terbiasa liatnya."


"Kamu sudah lama kenal anak tante?" Mulai interogasinya.


"Mmm... Sepertinya sih tiga atau empat bulan berjalan deh, tan. Saya juga gak gitu hafal pastinya."


"Umur kamu sekarang berapa, nak?"


Tebakanku benar. Hal yang kupikirkan dan ku khawatirkan terjadi juga.


"Umur..." kataku yang belum selesai.


"Ooooo... ada pacarnya Darren," tiba-tiba papinya Darren datang berbarengan dengan Darren sambil menuruni anak tangga yang disusul oleh Darren dibelakangnya.


Aku langsung berdiri dan memberi hormat. "Halo, om."


Papinya masih tampak gagah dan tampan. Wajahnya gak beda jauh dari Darren. Pantesan saja anaknya tampan gini, ternyata memang hasil dari bibit unggul yang berkualitas.


"Kenalkan, aku daddynya Darren!" kata papinya sambil mengulurkan tangannya mengajakku berkenalan.


"Eitsss... Gak pake salam-salaman dong, ded," sela Darren yang menghadangi diantara aku dan papinya yang hampir bersalaman.


"Dasar, nakal! Sama daddy sendiri cemburuan," kata papinya sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anaknya barusan. "Silahkan duduk!"


Aku kembali duduk di tempatku dan Darren tepat duduk disebelahku. Kenapa rasanya seperti aku sedang di kantor tahanan ya? Hehe..


"Kalo om boleh tau, siapa nama kamu?"


"Namanya Via. Cantik ya orangnya?" sela maminya dan entah sudah ke berapa kali dia memujiku dan membuatku tersipu malu.


"Ya, anaknya cantik dan manis," jawab papinya.

__ADS_1


Darren menggenggam tanganku sambil menepuk-nepuk pelan punggung tanganku.


"Liat anak kita, sudah dewasa sekarang!" kata maminya sambil memperhatikan Darren. "Kita sudah semakin menua. Bukankah sangat bagus kalo mereka gak usah lama-lama pacarannya?" usul maminya.


"Ya, mamimu benar. Untuk apa lama-lama pacaran kalo masing-masing sudah cocok," kata papinya setuju.


"Mmm... Baru aja kenalan, kok udah omongin masalah pernikahan?" timpal Darren yang mungkin gak enak denganku.


"Bukankah nak Via juga seumuran dengan Darren?" tanya papinya.


"Mm.. Aku lebih tua umurnya om dari dia. Umur kami terpaut dua belas tahun," jawabku jujur walaupun berat dan terasa sesak saat diucapkan.


Akhirnya aku dapat melihat reaksi mereka pertama kali mendengar jawabanku barusan mengenai umur kami yang jauh. Kedua orangtua Darren saling menatap satu sama lain dengan wajah shocknya. Oh Tuhan... Aku gugup sekali. Tapi Darren tetap menggenggam tanganku untuk merilekskanku.


"Jadi kamu.. sekarang berusia 34 tahun?" terka maminya masih dengan wajah shocknya.


Aku hanya mengangguk membenarkan saja sambil memcoba untuk tersenyum.


"Kok gak kliatan umur tiga puluh tahunan? Malah tante pikir, kamu seumuran dengan Darren. Awet muda ya!" puji maminya yang sedikit melegakanku. "Kalo menurut tante pribadi, tante gak mempermasalahkan kalian terpaut berapa tahun. Yang tante mau cuma kebahagiaan kalian saja dan benar-benar bisa bertanggung jawab dengan rumah tangga kalian kedepannya," harapnya yang membuat pikiranku terbuka dan rasa tegangku mulai berkurang. "Ya kan, ded?" tanyanya ke papinya Darren seraya ingin mendengar pendapat suaminya juga.


'Menikah??' Apa aku sudah siap? Kenapa rasanya aku agak stress dengar masalah pernikahan? 'Tenang, Via!'


Darren menepuk-nepuk pelan punggung tanganku lagi. "Itu tergantung Vianya, apa dia mau menikah denganku ato tidak," timpal Darren yang ingin segera mendengar pendapatku.


"Nnggg... Itu... Nngg..." Aku gugup sekali. Rasa gugupku beda dari yang sebelumnya.


"Berikan dia waktu!" kata papinya.


"Nak Via, Darren itu anaknya penurut kok. Tante rasa, dia akan nurut denganmu nantinya."


Aku menatap Darren yang menundukkan kepalanya ke bawah karena malu. Aku hanya tersenyum saja. Kedua orangtuanya Darren masih bercerita tentang seputaran Darren dari bayi hingga sekarang. Ternyata keluarganya sangat menerimaku dengan baik dan hangatnya rasa kekeluargaan di sini sama hangatnya dengan keluargaku.


Aku diajak maminya ke dapur untuk masak makanan kesukaan Darren. Sebagai ibu yang baik, dia sangat mengetahui semua hal-hal yang disukai maupun yang tidak disukai oleh anaknya. Aku juga berharap bisa sepertinya nanti, bisa mengetahui tumbuh kembang anak-anakku dengan baik.


Mamiku juga sayang dengan anak-anaknya, hanya saja dari aku masih kecil, dia memang sudah jarang di rumah. Jarang mengatur waktu untuk keluarganya dan kami hanya dipantau sesekali lewat telepon dan kumpul sesekali saat dia free dari kerjaannya. Kesibukkan mami sangat diprioritaskan, makanya dia bisa berkibar menjadi seorang desaigner sampai sekarang.

__ADS_1


🌺Author Pov🌺


Via bermain dirumah orangtua Darren hingga malam. Akhirnya mereka menjamu Via untuk makan malam bersama. Beberapa menu yang dihidangkan malam ini sebagian menu kesukaan Darren.


Duduk dalam satu meja dan makan malam bersama dengan calon mertua sungguh diluar nalar Via. Segala proses mulai dari keraguan, kepanikkan, kekhawatiran, sudah terlewati dan diganti dengan suasana hangat kekeluargaan. Suara alat makan yang sibuk dan obrolan manis diantara mereka, menghiasi acara makan malam keluarga ini.


"Darren, ini sudah malam. Apa kalian tidak menginap saja?" tanya papinya.


Via mengisyaratkan Darren dengan tatapannya kalau dia tidak bisa inap.


"Kalian inap saja malam ini. Besok baru pulang," kata maminya.


"Dia gak bawa baju, mi. Gimana bisa nginap?"


"Urusan baju kan gampang. Serahkan sama mami!" ujar maminya enteng.


"Ta.. tapi tante, saya..."


"Gak pake tapi-tapian. Pokoknya kalian gak boleh pulang!" tegas maminya.


Darren yang mendengar keputusan sang mami hanya bisa mengangkat kedua pundaknya seraya sudah berserah diri, karena tidak bisa dibantah.


"Kalo bisa, kapan kiranya om dan tante bisa ketemuan dengan orangtua nak Via?" tanya papinya.


"Nnnggg... Orangtua saya tinggal di Singapore, mereka jarang sekali ke Indonesia. Palingan mau gak mau harus tunggu mereka ada waktu di Indonesia, baru bisa saya pertemukan dengan om dan tante," jawab Via.


"Hahaha... Maksud om, biar kita saja yang menemui orangtuamu di Singapore. Mungkin nak Via bisa memberitau pada mereka terlebih dulu."


"Ooo.. Baik, om. Coba nanti saya sampaikan sama orangtua saya."


"Via, apa kamu juga bekerja? Wanita karir? Ato main bisnis apa?" tanya maminya penasaran."


"Saya main desain jewerly, tan. Saya sekarang punya toko yang saya jadikan gallery sendiri. Hanya bisnis kecil-kecilan," jawab Via merendah.


"Bisnis kecil-kecilan? Itu mana mungkin. Kamu punya foto desain-desain jewerly kamu? Apa boleh tante liat-liat? Soalnya tante sendiri suka kalo liat yang unik-unik."

__ADS_1


"Ooo.. Ada kok, tan. Bentar ya, saya liat dulu di album ponsel saya," katanya sambil sibuk mencari beberapa foto hasil karyanya ke maminya Darren.


__ADS_2