Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 85


__ADS_3

Sih cowok yang gak peduli sama sekali, ia hanya terus melangkah ke depan. Sedangkan Wanda menyusulnya dari belakang dengan wajah cemberutnya. Ia tidak menyadari keberadaanku, karena aku bersembunyi dibalik pilar yang bisa menyembunyikan badanku.


'Kasian sih Aldo harus dapat calon istri seperti itu. Gak bisa dibiarin.'


Acara pertunangan Aldo dan Wanda sangat meriah. Sudah hampir sama dengan pesta pernikahan. Mereka akhirnya saling bertukar cincin dan terlihat wajah palsu dari Wanda saat menerima cincin pertunangan yang melingkar dijarinya.


Aku hanya menikmati minumanku, sambil sesekali melihat chat dari Via yang katanya akan menyusul ke sini karena ia sudah selesai dan merasa gak enak dengan Aldo kalau gak datang menghadiri acara ini.


"Hai!" sapa Wanda yang sudah ada di depanku sambil memegang segelas minuman di tangannya.


Aku melirik Aldo dan begitu pula sebaliknya, tapi Aldo masih asyik ngobrol dengan tamu lain. "Ya," jawabku cuek.


"Kamu, sendirian? Istrimu, mana?" tanyanya penasaran sambil pura-pura mencari keberadaan Via.


"Dia gak ikut bersamaku," jawabku sambil menghabiskan minumanku.


Aldo masih memperhatikan kami dari jauh seolah waspada dengan kami berdua. Wanda terus saja ingin menempel denganku, walaupun aku sudah mundur beberapa langkah untuk menghindarinya.


"Kamu, mabuk?" tanyaku yang melihatnya agak hilang kesadaran.


"Aku mau mengajakmu bersulang, tapi minumanmu sudah abis. Bagaimana kalo kamu minum lagi dan bersulang denganku di hari bahagia ini?" usulnya yang tiba-tiba menjentikkan jarinya dan datanglah seorang pramusaji dengan segelas wine di atas nampannya. "Ini, buat kamu!" katanya sambil mengambilkan wine tersebut dan menyodorkannya ke arahku.


Aku menerimanya dan mencium aroma wine yang terlihat sangat tajam bau alkoholnya. "Terima kasih."


"Ayo, bersulang!" ajaknya sambil mengangkat gelasnya dihadapanku.


Aku hanya bisa mengikuti kemauannya saja untuk menghargainya. Aku pun mengangkat gelasku dan dengan cara seperti ini kami bersulang. Aku meminum sedikit winenya yang rasanya sedikit aneh. Sisanya tidak kuhabiskan.


"Kok gak dihabisin?" protesnya setelah melihat sisa wine di tanganku.


"Aku gak kuat minum," alasanku.


"Tenang! Itu aman kok. Gak akan buat kamu mabuk walaupun kamu minum sebotol," katanya lagi. "Ayolah, habiskan! Aldo sangat menghargaimu, aku juga ingin belajar menghargaimu."


"Baiklah!" kataku sambil minum sisa winenya dan aku memperlihatkan gelas kosong padanya agar ia percaya.


"Good!" katanya sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Dia melambai-lambai ke Aldo, aku langsung berbalik arah tanpa sepengetahuannya membuang wine yang ada di mulutku itu ke dalam sebuah pot bunga di sampingku. Kepalaku saja sudah mulai terasa berat saat awal meminumnya sedikit tadi.


"Aku mau ke toilet sebentar!" pamitku padanya sambil berpura-pura sempoyongan seperti orang yang tengah mabuk.


"Kamu, mabuk?" tanyanya yang memasang wajah cemas padaku.


Aku mencoba bermain peran dengannya. Ingin mengetes semunafik apakah dia. Aldo masih memperhatikan kami. Tapi setelah melihat gelagatku yang aneh, dia langsung datang menghampiriku.


"Kamu kenapa, Der?" tanya Aldo dengan wajah cemasnya.


"Aku pusing. Apa ada kamar buat istirahat sebentar?"


"Aku udah booking kamar, kamu bisa istirahat di sana. Tapi, apa kamu bisa pergi sendiri? Soalnya aku gak bisa anterin kamu, karena masih banyak tamu disini," kata Aldo yang merasa gak enak hati padaku.


"Aku bisa sendiri kok. Kamu sibuk dulu aja."


"Ini kartu kamarnya!" kata Aldo sambil memberikan sebuah kartu kamar yang disewanya.


"Beneran gakpapa, bro?" tanyaku yang merasa gak enak karena sudah pakai fasilitas kamarnya.


Aku berjalan sendiri mencari kamar hotelnya. Melewati beberapa lorong jalan sambil memperhatikan beberapa nomor pintu kamar agar tidak salah lihat nomor kamar.


"Sini, aku bantu!" kata Wanda sambil tiba-tiba menopangku.


Aku menghindarinya. Tapi dia semakin maju sambil menarik salah satu lengan tanganku dengan paksa untuk ditaruhnya di atas pundaknya.


"Aku bisa sendiri," kataku.


"Aku bantu biar cepet, karena aku tau letak kamarnya," katanya sambil berjalan denganku sambil masih menopangku.


"Aldo?" tanyaku sambil melihatnya dengan tatapan sayuku.


"Dia yang menyuruhku untuk mengantarmu sebentar. Jangan khawatir! Kita sebagai teman harus saling bantu," katanya yang mencoba meyakinkanku.


Kami berjalan entah keberapa kali langkah yang akhirnya ketemu juga kamar yang dituju. Aku menempelkan kartu kamar itu ke gagang pintu smart locknya hingga terdengar suara kunci pintu kamar yang sudah terbuka.


"Aku sudah sampai. Terima kasih atas bantuannya," kataku sambil melepaskan tanganku dari pundaknya.

__ADS_1


"Biar kubantu sampai di dalam."


Dia mendorongku untuk segera masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhku ke atas ranjang.


"Kau istirahat saja! Aku akan membantumu membuka dasimu agar kamu lebih nyaman," katanya yang bersikap seenaknya.


Posisi Wanda saat ini sudah duduk di atas tubuhku seperti seorang cewek binal. Dengan agresifnya dia membantuku secara paksa melepaskan jasku dan dasiku.


"Apa yang kau lakukan, Wanda?" tanya Aldo yang sudah menangkap basah posisi kami yang seperti ini.


Wanda yang kaget, dia akhirnya bangun dari tubuhku dan segera berdiri di samping ranjang. "A... aku... hanya membantunya," katanya gugup sambil melihatku mencari pembelaan.


"Kau kira, aku bodoh?" tanya Aldo yang sudah murka padanya.


"Apa maksudmu? Ini sama sekali gak seperti yang kau bayangkan, Do," katanya yang mencoba membela dirinya dengan nada kesal dan merasa gak bersalah.


"Kamu mau membodohiku sampai kapan? Untung saja aku hari ini sudah tau rencana akal busukmu itu. Aku ingin pertunangan ini batal." Aldo langsung melepaskan cincin tunangan yang baru saja dikenakannya tadi dan melemparkan cincinnya secara sembarang.


"Aldo, kamu salah paham. Aku gak mau kamu memutuskan pertunangan kita. Aku mohon, Aldo!" pintanya memelas sambil meneteskan air mata buayanya.


"Kamu jangan bermimpi. Mulai detik ini, kamu bukan siapa-siapa. Segala fasilitas yang aku kasih kemaren, akan aku ambil kembali. Dasar sampah!" maki Aldo.


"Aldo, aku minta maaf! Aku mohon, jangan seperti ini. Percayalah, aku hanya mencintaimu. Aku hanya ingin menolong dia saja," mohonnya lagi sambil menarik jas Aldo meminta dikasihani.


"Seorang perempuan yang baik tidak akan berbuat seperti ini dengan teman cowoknya. Kamu ini hanya ingin memanfaatkanku saja. Kamu bertunangan dan menikah denganku hanya ingin menguras hartaku saja. Setelah itu, kamu akan meninggalkan aku. Ya, kan?" tanyanya dengan nada tinggi.


"Kata siapa? Aku tidak mungkin seperti itu. Kamu dengar dari siapa?"


"Darren, mana voice recordnya?" tanya Aldo yang sekarang meminta bantuanku.


"Ini!" jawabku sambil menyetel ulang voice record yang berisi percakapan Wanda dengan pria lain di toilet tadi.


Wanda yang kaget dan shock, ia melihatku dengan tatapan tak percaya. Dia juga mendengar isi voice recordnya sambil menangis dan akhirnya jatuh terkulai lemas ke lantai kamar hotel.


Flashback On...


Setelah mendengar akal busuk Wanda yang ingin menguras harta Aldo, aku tidak bisa tinggal diam. Aku mengambil waktu berdua untuk memberitahu Aldo tentang kenyataan pahit ini. Saat Wanda belum ada di tempat, aku sudah memberitahu isi percakapan voice record antara Wanda dengan pria lain. Dari sanalah Aldo shock mendengar yang direncanakan Wanda dibelakangnya. Akhirnya, Aldo memutuskan untuk mengerjainya balik dan menjebaknya. Dia menyuruhku untuk bekerja sama dengannya dan memainkan peran dengan baik. Dia sudah bisa menebak kalau Wanda seorang wanita matre. Jadi dia menyuruhku untuk bersandiwara dan mengikuti permintaan Wanda agar Wanda masuk dalam perangkapnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2