
"Maaf tante, bukannya aku mau sok tau. Tapi disini aku mau tegasin sesuatu. Aku harap, tante bisa memberikan aku kesempatan juga dengan pandangan yang berbeda jauh dari masalah umur itu. Aku sadar, umur kami beda jauh, tapi aku juga udah memikirkan kedepannya tentang hubungan kami. Aku udah bilang ke orangtuaku kalo aku akan nikahin Via di usiaku yang sekarang ini. Mereka support hubungan kami dan makanya aku baru berani meminta izin sama tante agar hubungan kami di setujui dan kami bisa cepat menikah."
"Tapi Der, untuk masalah pernikahan bukan hal sepele lo. Bukan cuma ngomong mau nikah, langsung nikah gitu aja. Kalian harus lebih mateng mengenal arti dari pernikahan itu. Menikah bukan karena sekarang suka, nanti giliran bosan bisa langsung cerai gitu aja. Nikah itu gak gampang buat dijalaninya. Apalagi kamu masih umur dua puluhan kan?"
"Mungkin itu pendapat tante mengenai aku saat ini. Tapi tan, aku bersumpah kalo aku bukan tipe orang yang bosenan terhadap apa yang aku miliki dan aku akan pertahankan. Apalagi Via adalah cewek yang benar-benar aku pilih untuk nemenin aku jadi pasangan hidupku."
Mami Via menatap putrinya. Darren ikutan menatap Via. Via yang ditatap merasa aneh sendiri.
"Kenapa jadi liatin aku?" tanya Via heran.
"Kok kamu diem aja? Apa gak ada hal yang mau kamu omongin ke mami?"
"Nnnggg...."
Darren menunggu penjelasan Via, tapi Via seperti bingung bagaimana mengungkapkan perasaannya. Lalu Darren melihat ke anak jarum jam tangannya kalau sepuluh menit lagi dia akan berangkat ke kantor cabang daddynya.
"Via, kamu serius dengan Darren?" tanya maminya yang ingin mendengar sendiri dari mulut anaknya.
"Aku.... Aku...." Via masih belum tahu cara menyampaikan apa yang ingin dibicarakannya.
Darren tampak agak kecewa dengan Via. Bagaimana tidak? Dia sudah memperjuangkan waktunya jauh-jauh ke Italy untuk bertemu dengan Via dan pada kesempatan kali ini, ia pun berani meminta izin pada maminya Via langsung agar direstui, tapi Via sampai detik ini hanya diam saja.
"Maaf tante, Via, aku harus pergi sebentar karena ada urusan," pamit Darren yang siap beranjak dari kursinya.
"Urusan apa, Der?" tanya mami Via penasaran.
"Urusan pekerjaan dari atasan, tan," jawab Darren dengan senyum datarnya.
"Ati-ati ya, Der!" pesan mami Via.
"Terima kasih, tante. Ditinggal dulu ya, tan," katanya yang langsung pergi setelah berpamitan.
__ADS_1
Via langsung bangkit dari tempat duduknya dan menyusul Darren dari belakang.
"Der!" panggil Via tapi tidak digubris oleh Darren.
Darren makin mempercepat langkah kakinya keluar dari restoran ini. Kalau dibaca dari gerak tubuhnya, Darren sepertinya sedang kesal. Via berlari kecil untuk menghadang Darren agar Darren dapat menatapnya dan mengajaknya bicara.
"Darren!" panggil Via dengan nada tinggi yang sontak membuat kaki langkah Darren berhenti.
Via sudah berhadapan langsung dengan Darren. Ia memegang kedua tangan Darren dan mencoba memberi penjelasan pada Darren.
"Kenapa lagi?" tanya Darren dengan wajah betenya.
"Kamu marah sama aku?" tanya Via memastikan perasaannya.
"Marah? Buat apa?" Tapi wajah Darren emang tidak bisa bohong walaupun ia bertanya seperti itu. "Kamu mau ngomong apa lagi? Waktuku gak banyak."
"Beri aku lima menit!" pinta Via memelas.
"Kamu marah gara-gara aku gak beri pendapat aku ke mamiku kan? Karena kamu sendiri ingin tau jawabanku kan?" terkanya.
Darren menatapnya seraya terbaca dari sorotan kedua matanya yang memang membenarkan terkaan Via barusan, tapi ia masih diam dan ingin mendengar penjelasan dari mulut Via langsung.
"Aku bukan gak mau kasih penjelasan, tapi aku emang belum yakin dengan perasaan aku, Der."
"Gak yakin bagaimana? Apa yang kita lakukan selama ini gak berarti buat kamu?"
"Bukan gitu, Der. Kamu dengerin dulu!"
"Kamu buat aku bingung, Vi. Sebenernya kamu anggap aku itu apa? Cuma temen disaat kamu butuh doang buat nemenin kamu? Ato kamu ragu kalo aku gak sanggup nafkahin kamu saat udah nikah nanti? Ato kamu takut aku bakal bosan dengan kamu?"
"Ya.... Aku takut kamu bosan denganku saat kita sudah menikah nanti. Apa aku berhak memikirkan itu?"
__ADS_1
"Via... Via... Kamu menikah dengan siapapun, bukannya kamu berhak mikir apakah pria itu akan bosen sama kamu apa gak? Gak cuma sama aku kan? Apa kamu pikir, aku selama ini cuma main-main sama kamu? Untuk apa aku buang-buang waktu ngenalin kamu ke orangtuaku dan aku ke sini buat nemuin kamu dan mami kamu? Kenapa kamu gak liat dari segi sudut pandang itu?" protes Darren yang kecewa dengan penilaian Via tentang dirinya sehingga ia memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Darren, liat aku!" pinta Via dengan nada sedikit manja.
"Via, maaf kalo untuk bahas masalah seperti ini akan buang waktu aja. Aku punya kerjaan yang harus kulakukan."
"Der, please! Sebentar lagi!" pintanya lagi. "Aku selalu pikir kalo usiaku udah bukan muda lagi. Aku bener-bener takut kamu akan ninggalin aku suatu saat nanti. Aku beneran takut dengan pernikahan, Der. Aku takut kamu berpaling dariku yang semakin menua. Aku takut kamu gak akan peduli lagi denganku. Pokoknya rasa takutku itu selalu menghantui aku," jelas Via dengan menampakkan raut wajah kekhawatiran.
Darren langsung memeluknya tanpa peduli dengan lingkungan sekitar, toh ini kan di luar negeri. Maka sikap seperti ini bukan hal yang jarang terjadi.
"Dengerin aku, Vi! Aku bersumpah atas hubungan kita, aku akan menjagamu seumur hidupku. Aku akan menjadi pelindungmu dan aku gak akan ninggalin kamu apapun yang terjadi," ucap Darren yang mencoba meyakinkan Via yang masih dalam pelukkannya. "Kekhawatiran kamu ini jangan terlalu berlebihan. Harusnya kamu utarakan saja tadi agar aku sama mami kamu memberimu saran ato jalan keluar. Jangan hanya yakin dengan tanggapan kamu sendiri!"
Via lalu menatap Darren. "Kenapa sekarang aku malah merasa kamu lebih tua pemikirannya dibanding denganku?"
Darren menjitak pelan dahi Via. "Itu karena kamu selalu menganggapku masih kecil dan gak mau mendengar pendapatku."
Via langsung tersenyum setelah Darren dapat menebak isi hatinya. Mereka tetap berpelukkan mesra setelah ribut kecil.
"Kamu mau ikut aku ke kantor?"
"Gak. Aku mau sarapan sama mami dan masih mau ke tempat kemaren buat liat hasil dekorasi dan persiapan baju-bajunya."
"Kalo gitu, nanti aku jemput kalian pas kalian selesai nanti."
"Mm.." jawab Via sambil mengangguk mengiyakan.
"Aku harus pergi sekarang," pamit Darren yang tidak lupa mencium kening Via sebelum pergi.
"Ati-ati ya, Der!" pesannya.
"Iya!" jawab Darren sambil mengusap pelan kepala Via.
__ADS_1