
"Terima kasih ya Hen atas doanya," ucap Via penuh syukur.
Hendra mencoba melepaskan semua perasaannya. Ia belajar menerima apa yang bukan miliknya maka harus ia relakan. Setidaknya ia dapat melihat senyum Via kembali.
Perbincangan mereka hanya beberapa menit saja berlalu. Tidak sampai seharian sesuai permintaan Hendra sebelumnya.
"Vi, terima kasih atas kunjungannya. Aku mau istirahat lagi," kata Hendra yang sudah terlihat tidak selera untuk berbincang lagi.
"Kamu butuh apa-apa, gak?" tawar Via.
"Gak. Aku hanya ingin istirahat aja," jawabnya sambil membenarkan selimut.
"Kalo gitu, selamat istirahat ya. Semoga lekas sembuh. Aku mau pamit pulang ya, Hen."
"Ya, Vi. Ati-ati di jalan!" pesannya.
Via keluar dari ruang kamar Hendra dan ia menemukan Bella sedang duduk sendirian di kursi tunggu yang telah disediakan diluar. Bella tampak memainkan kakinya dengan menggesek-gesekkan sepatunya di lantai.
"Hai!" sapa Via.
"Oh.. Hai!" balasnya sambil menengok ke Via. "Kalian udah ngobrolnya?"
"Udah. Tapi dia mau istirahat sekarang, jadi aku lebih baik pulang."
"Gue liat Darren di kantin sedang duduk sendiri. Lebih baik lu segera menyusul ke sana."
"Kalo gitu, aku duluan ya."
"Ya," jawab Bella singkat.
Via segera ke kantin menyusul Darren. Tampak Darren sedang sendirian dan sedang bermain dengan ponselnya.
*Darren
Via memutuskan untuk mengagetkannya dari belakang.
"Dor!!!"
__ADS_1
Darren terkejut sesaat dan ia langsung menaruh ponselnya di atas meja. "Kamu udah selesai?"
"Udah. Ayo kita pulang!" ajak Via sambil menarik tangan Darren.
"Ayo!" balas Darren sambil tersenyum.
*****
Seperti yang sudah direncanakan oleh masing-masing keluarga Darren dan Via, akhirnya hari yang di tunggu-tunggu datang juga. Keluarga Darren menemui kedua orangtua Via di Singapore karena orangtua Via menetap di sana.
Betapa kagetnya kedua orangtua mereka masing-masing saat bertatap muka langsung. Dari pertemuan ini, barulah mereka menguak kembali masa lampau dimana ada hubungan spesial antara daddynya Darren dengan maminya Via. Tapi bukannya cemburuan, mereka malah jadiin bahan candaan agar suasana tidak tegang.
Hari pernikahan Darren dan Via sudah ditetapkan. Berbagai persiapan mulai dilakukan. Mulai dari cari tempat resepsi, fitting pakaian pengantin, dekorasi yang cocok, dan undangan yang akan dicetak serta dibagi ke para tamu undangan.
******
🌺Darren Pov🌺
Akhirnya hari yang kutunggu-tunggu datang juga. Aku tidak sabar menanti dirinya di pelaminan. Dia pasti sangat cantik. Saat aku menunggunya di hall untuk pemberkatan pernikahan kami, aku melihatnya datang diantar oleh papinya. Via menggandeng lengan tangan papinya yang tampak gagah. Mereka jalan menghampiriku dengan perlahan.
Via hari ini jadi pusat perhatian. Banyak yang bangga dengan pernikahan kami. Aku sangat terharu. Mengingat masa-masa dimana aku mulai mengejarnya. Dia hanya menganggapku sebagai seorang adik angkat saat itu, lalu aku berusaha mendapatkan hatinya dan selalu merasa cemburu jika ada laki-laki yang mendekatinya. Disamping itu, aku harus berjuang meyakinkan hatinya dan hati kedua orangtuanya karena perbedaan usia kami yang jauh hingga akhirnya kami mendapatkan restu. Belum lagi aku hampir kehilangan dia waktu meladeni permainan gila si Aeri.
Sekarang, papinya menyerahkan tangan putri kesayangannya di telapak tanganku. Aku menyambutnya dan aku baru menyadari kini Via adalah tanggung jawabku. Aku melihat butiran air mata haru dari pipi papinya. Via yang menyadari itu, ia membantu mengusap pelan pipi papinya hingga senyum cerah terpancar dari raut wajah papinya.
"Ya, pi. Aku akan menjaganya dan menyayanginya seperti papi dan mami menyayanginya selama ini," kataku yang coba menenangkan hati papinya.
"Kalian harus hidup rukun sampai tua," harap papinya sambil merangkul kami berdua.
"Makasih ya, pi," kata Via penuh syukur atas harapan doa dari papinya.
Via tampak mengusap air matanya juga. Suasana haru membuat para tamu juga ikutan merasakan apa yang kami rasakan. Sampai akhirnya pemberkatan kami dilakukan.
"Bersediakah anda Darren Xander menerima Silviana Okta sebagai istri anda dan mau berbagi dalam suka maupun duka?" tanya si pendeta.
"Saya bersedia menerima Silviana Okta menjadi istri saya dan mau berbagi dalam suka maupun duka," jawabku yakin sambil menatap Via.
"Bersediakah anda Silviana Okta menerima Darren Xander sebagai suami anda dan mau berbagi dalam suka maupun duka?"
"Saya bersedia menerima Darren Xander sebagai suami saya dan mau berbagi dalam suka maupun duka," jawab Via sambil menatap Darren dari balik cadar brukat pengantinnya.
__ADS_1
"Mulai hari ini, kalian resmi jadi pasangan suami istri," kata terakhir si pendeta yang sudah memberkati pernikahan kami.
Aku mulai membuka cadarnya dan melihat kecantikkan Via yang membuatku terpesona. Dihadapan semua para tamu undangan, kami tidak canggung untuk berciuman sebagai tanda resminya hubungan kami sebagai suami istri.
Para tamu undangan yang menjadi saksi sakralnya pernikahan kami, mereka ikut senang dan bertepuk tangan memeriahkannya.
*Via dan Darren
Acara pernikahan bahagia kami berjalan dengan lancar. Cuaca juga sangat mendukung dan cerah. Tidak lupa kami berdansa kecil sambil menemani para tamu. Kadang kami bergantian berdansa dengan para tamu untuk menyenangkan hati mereka.
WARNING 18++
Malam yang dinanti-nanti telah tiba
Karena sudah sah, aku jadi gak sabar menantikan malam pertama kami. Kebetulan kami sudah pindah kerumah pribadi kami. Rumah dari daddy sebagai hadiah pernikahan kami.
Saat berada di dalam kamar, aku langsung memeluknya dari belakang. Dia masih anggun dengan gaun pengantin yang dikenakannya.
"I love you, Via," bisikku.
"Love you too, Darren," balasnya sambil memegang lengan tanganku yang melingkar di perutnya.
Aku membalikkan tubuhnya dan posisi kami sekarang saling berhadapan. Aku membelai wajahnya yang sangat membuatku terpukau. Aku mencium bibirnya perlahan dan ia juga membalas ciumanku. Lalu kami mulai bergelut dalam kemesraan.
"Kita mandi bareng, yuk!" ajakku.
Via hanya menggangguk saja menyetujui ideku. Akhirnya kami berdua masuk ke kamar mandi dan di sana aku membantunya membuka resleting gaun pengantinnya. Dadaku langsung sesak, jantungku berdetak gak karuan ketika melihat punggungnya. Aku menciumi punggungnya dan sesekali ia merasa geli. Lalu kami berciuman kembali. Via sudah menanggalkan gaunnya dan hanya tersisa dalaman saja. Aku mulai bergegas membuka kemejaku dan celana panjangku. Kami mulai berciuman kembali dengan hotnya. Tanganku mulai membuka bra yang di kenakan Via dan menemukan dua bukit kembar disana yang menantangku. Lalu, aku meremasnya hingga Via terpancing. Kemudian aku membuka ********** dan segera membuka celana dalamku juga karena si juniorku sudah mengeras sedari tadi. Di bawah pancuran air shower hangat, kami berdua berciuman dan bergelut.
Belum puas sampai sana, aku menggendongnya ke atas ranjang kami yang empuk. Kami meneruskan aksi hingga aku berhasil mendapatkan keperawanannya.
"Awww... pelan-pelan, Der! Sakit! Aaaahhhhhh..." katanya sambil mendesah.
"Aku udah coba dan ini udah pelan, sayang," kataku yang sedang fokus maju mundurkan tubuhku yang sedang menindihnya.
"Aaahhhh...." desahnya lagi yang mulai menikmatinya.
"Aaaahhhh... Via. Sebut namaku, Vi! Aku ingin dengar kamu memanggil namaku saat ini."
__ADS_1
"Darren! Aaaaaahhhhhh...."
Via tampak tidak bisa mengontrol lagi, begitu juga dengan diriku. Gerakanku juga makin cepat karena efek mau keluar. Aku menambah kecepatanku dan Via makin mendesah hingga kami berdua mencapai puncak orgasme masing-masing. Setelah itu, kami berselimutan berdua dalam satu selimut tanpa mengenakan busana. Via yang sudah capek, mulai tertidur pulas. Aku juga memeluknya dari belakang agar tidur kami semakin nyenyak.