Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 80


__ADS_3

Dokter datang memeriksa keadaan Darren setelah dipanggil oleh maminya. Dokter juga sampai geleng-geleng kepala merasa heran kenapa selang infus bisa lepas berantakkan di lantai. Darren yang merasa tidak bersalah, hanya diam seribu bahasa.


"Gimana dok anak saya?" tanya mami Darren untuk kepastian kesembuhan Darren.


"Anak ibu mengalami perkembangan yang bagus dan jauh lebih baik," jawab dokter setelah memeriksa keadaan Darren.


"Jadi saya boleh pulang sekarang kan, dok?" timpal Darren.


"Bisa kok," jawab sang dokter pasti.


"Yes!" seru Darren kegirangan yang bikin maminya geleng-geleng kepala lihat kelakuan anak semata wayangnya ini.


"Kalo gitu terima kasih, dok," kata maminya.


"Sama-sama, bu. Kalo gitu saya permisi dulu ya bu," pamit sang dokter yang kemudian di susul oleh asistennya.


"Akhirnyaaaaa... Ayo kita pulang!" ajak Darren yang sudah siap siaga mau kabur begitu saja.


"Der, kamu yakin mau pulang dengan pakaian kek gitu?" tanya Via setelah memastikan pakaian piyama rumah sakit yang masih dikenakan Darren saat ini.


"Oh iya," jawab Darren setelah sadar dengan pakaian yang melekat di tubuhnya saat ini.


"Ini anak bener-bener deh kek bocah aja," pekik maminya.


"Aku ganti baju dulu," kata Darren sambil membawa baju ganti ke kamar mandi.


Sambil menunggu Darren berganti pakaian, maminya menelepon sopir pribadinya agar segera mempersiapkan mobil untuk kepulangan mereka.


Sesampainya di rumah orang tua Darren


Daddy sudah menunggu kepulangan Darren di rumah. Beliau tidak ikut jemput Darren karena kerjaan kantor yang tidak bisa ditinggal. Melihat Darren pulang dengan selamat, membuat daddynya sangat lega. Mereka saling berpelukkan dan berbincang-bincang sebentar di ruang tamu.


"Mengenai Aeri, dia sudah ditahan dipihak berwajib untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya," kata daddynya yang tiba-tiba bahas masalah Aeri.


"Lalu, om Tio?" tanya Darren yang ingin tahu perasaan om Tio saat ini setelah anak kesayangannya masuk penjara.


"Om Tio gak membela anaknya. Dia juga ingin anaknya berlajar bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Masalahnya, Aeri ini sudah keterlaluan dan hampir menghilangkan nyawa orang lain."


"Oh ya, bagaimana kabar Hendra?" tanya Darren ke Via yang duduk disampingnya.


"Hendra masih di rawat di rumah sakit, tapi dia sudah gakpapa. Itu juga aku tau dari Ferdy. Aku belum sempat menjenguknya karena aku nemenin kamu terus."


"Bagaimana kalau besok kita jenguk dia?" ajak Darren.

__ADS_1


"Kamu mau jenguk dia?" tanya Via keheranan dengan sikap Darren yang sudah berubah.


"Ya. Aku mau sekalian ucapin terima kasih karena dia sudah mau mempertaruhkan nyawanya buat kamu," jawab Darren dengan gentle.


"Oke! Besok kita sama-sama jenguk dia ya."


"Darren, setelah urusan kalian selesai, tolong segera masuk ke kantor! Daddy pusing liat kerjaan kantor," keluh daddynya.


"Iya, ded. Aku pasti akan segera membereskan itu semua. Makasih ya ded atas bantuannya."


"Sama-sama. Nak Via, om sudah telepon ke papi kamu. Jika gak ada halangan, om dan tante akan segera ketemuan dengan orangtua kamu untuk bahas kelanjutan hubungan kalian. Apa kalian sudah siap melangkah lebih serius lagi?"


"Kalo aku sih udah siap banget, ded," jawab Darren yakin.


"Nak Via, bagaimana?" tanya daddynya Darren ke Via.


"Aku juga udah siap, om," jawabnya sambil tersipu malu.


Darren menggenggam jemari tangan Via sambil tersenyum lega. Kesepakatan sudah dibicarakan, tinggal pertemuan antar keluarga untuk bahas hari baik mereka.


*****


Darren dan Via menjenguk Hendra yang masih dirawat di rumah sakit. Lukanya belum begitu pulih, tapi imun tubuhnya sudah lebih baik. Saat mereka menjenguk Hendra, ternyata Bella sudah ada di dalam kamar rawat Hendra dan sedang menyuapi Hendra makan.


"Halo!" sapa Via yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat Hendra.


"Hai, Vi! Kamu datang ama siapa?" tanya Hendra yang belum menyadari kehadiran Darren dibelakang Via.


"Sama aku, bang," jawab Darren yang tiba-tiba memunculkan diri.


"Darren!" sapa Hendra saat melihat batang hidung Darren.


"Gimana kabarnya, bang?" tanya Darren sambil menaruh keranjang buah untuk Hendra.


"Jauh lebih baik, tinggal masa pemulihan sih. Tapi beberapa hari lagi sudah bisa pulang," jawab Hendra.


"Kalian ngobrol dulu. Aku mau keluar sebentar," timpal Bella yang merasa harus meluangkan waktu untuk mereka bertiga.


"Thanks ya, Bel," kata Hendra yang dibalas senyum manis Bella.


"Kalian... tumben bisa deket?" tanya Via setelah melihat hubungan Bella dan Hendra tidak seperti waktu pesta Yuda beberapa hari lalu.


"Kami coba berteman."

__ADS_1


"Ada yang perhatiin kamu sekarang, itu bagus."


"Kalian berdua, silahkan duduk!"


"Ya, sante aja, bang. Gak disuruh duduk, kami pasti akan duduk," timpal Darren yang ada hasrat untuk bercanda.


"Hen, aku sama Darren ke sini ingin mengucapkan terima kasih. Tanpa kamu, aku gak tau deh udah kek gimana," kata Via yang agak sedih mengenang kejadian yang menyakitkan waktu itu.


"Ya, bang. Kami sangat berhutang budi sama kamu. Kamu bener-bener gak mikirin nyawa kamu waktu itu demi Via. Aku sebagai pacarnya, juga mau mengucapkan terima kasih buat bang Hendra dan mau minta maaf atas kelancanganku selama ini karena terlalu cemburu dengan kedekatan kalian," timpal Darren dengan raut wajah menyesal pernah memusuhi Hendra.


"Hahaha... Jadi kalian mau balas budi, gak?"


Darren dan Via saling menatap heran maksud pertanyaan Hendra barusan.


"Kamu maunya gimana, Hen? Nanti kami pasti akan usahakan yang terbaik buat kamu," kata Via.


"Aku mau Via di sini seharian nemenin aku," jawab Hendra yang menatap Via sambil tersenyum manis.


"Kalo itu mau bang Hendra, ya silahkan saja! Aku akan meninggalkan Via sendiri disini," kata Darren yang sedang menahan rasa cemburunya.


"Kamu beneran gakpapa, Der?" tanya Via yang gak yakin dengan ucapan Darren.


"Gakpapa kok. Lagian dia juga udah melakukan yang terbaik buat kamu. Masa aku gak bisa izinin permintaan dia tadi," kata Darren yang mencoba berlapang dada walaupun berat.


"Sorry ya, Der! Aku minta waktunya dengan Via berdua."


"Oke, bang! Kalo gitu, aku keluar dulu. Kalian silahkan ngobrol berdua. Aku tunggu diluar," kata Darren seraya pamit meninggalkan Via dan Hendra dalam satu kamar.


Hendra melihat kepergian punggung Darren sambil tersenyum. Dia juga melihat wajah Via yang mulai gak enakkan setelah Darren meninggalkannya berduaan dengan Hendra.


"Via, sini duduk di sampingku!" pinta Hendra sambil menepuk pinggiran ranjangnya yang ia sisakan sedikit untuk Via.


Via menghampiri Hendra tapi dia gak mau duduk di samping Hendra. Ia hanya berdiri ditepi ranjang Hendra.


"Kamu takut aku macem-macem sama kamu?" tanya Hendra setelah melihat keraguan Via.


"Maaf, Hen! Tapi aku sama Darren sudah mau menikah. Aku harus jaga perasaan dia."


"Hahaha... Gak usah seserius itu, Vi. Aku cuma mau kamu duduk dekat sini aja. Lagian kondisiku seperti ini, gak mungkin bisa ngapa-ngapain kamu."


"Trus, kamu ngapain suruh aku deket-deket?"


"Aku cuma pengen ngerjain kamu aja kok. Tapi aku seneng liat Darren udah bisa berpikiran terbuka tentangku. Seenggaknya hubungan kami mungkin akan bisa membaik kedepannya. Aku hanya ingin menguji dia aja apakah masih main dengan egonya apa gak. Aku senang kalian datang menjengukku. Aku juga mau tekankan ke kamu kalo aku berhenti mengejarmu. Aku sudah tau pengorbanan kamu demi Darren dan apa yang kulakukan kemaren tolong jangan simpan di hati. Itu hanya naluriku saja yang ingin melindungimu agar kamu gak terluka, walaupun sebenernya hatiku masih sakit sampai saat ini karena penolakkanmu," katanya panjang lebar.

__ADS_1


"Aku minta maaf ya Hen, karena di hatiku cuma ada Darren, bukan pria manapun."


"Gakpapa, Via. Itu hak kamu. Aku hanya bisa doakan semoga hubungan kalian langgeng sampai maut memisahkan."


__ADS_2