Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 19


__ADS_3

"Gila, nih ban depan kurang angin dikit," kata Darren setelah coba menekan-nekan memastikan angin dalam ban motor bagian depan terasa kempes.


Ia langsung keluar sebentar dengan mengendarai motor itu menuju showroom motor terdekat yang melayani jasa servis khusus motor gede. Dengan gayanya yang cool, Darren mengundang perhatian beberapa tamu yang sedang menunggu di ruang tunggu showroom tersebut.



*Darren


Diantara para tamu itu juga ada yang mengintip dari balik kaca ruang tunggu karena penasaran dengan ketampanan Darren yang ketika itu baru turun dari motor dan berbicara dengan seorang pegawai showroom. Pegawai tersebut mengerti apa yang di keluhkan oleh Darren. Di samping sudah mengisi angin nitrogen pada ban motor, mereka juga membantu Darren memastikan kalau suara motornya tidak masalah dan rem tangan rem kaki yang masih berfungsi dengan baik juga.


Setelah kiranya semua telah beres, Darren langsung membayar ke area kasir yang bersebelahan dengan ruang tunggu. Darren baru menyadari banyak tatapan liar yang melihatnya. Kebanyakkan dari mereka tidak lain adalah perempuan muda. Bahkan terlihat pasangan kekasih yang sedang cekcok di dalam ruangan tersebut. Darren tidak peduli dengan itu semua. Sikapnya yang dingin tidak menunjukkan rasa ketertarikkan sama sekali dan tidak membalas senyum para gadis juga yang berusaha merebut perhatian Darren sejak dari tadi. Dia hanya mempercepat proses pendebitan kartu debitnya dan kemudian pergi dari sana secepat mungkin.


Sesampainya di apartemen Via, Darren masih harus menunggu Via di ruang tengahnya sambil bermain ponsel. Ferdy yang sudah bangun dan baru keluar dari kamar tidurnya menuju ke area dapur.


"Bro, pagi amat uda bangun," kata Ferdy sambil mengambil secangkir air putih dari keran dispensernya.


"Eh bro, iya gue uda bangun dari tadi. Oh ya, motorlu tar gue pinjem ya bawa Via keluar," izinnya sungkan.


"Pake aja, bro. Kek siapa aja deh," kata Ferdy santai sambil menikmati air putihnya. "Tapi tuh motor blon gue cek lo. Gue cek sekarang dulu," lanjutnya yang segera menaruh cangkirnya di wastafel lalu berjalan ke arah pintu untuk memastikan motornya tidak bermasalah.


Darren langsung bangun dari tempat duduknya. "Eee.... gak usa, bro. Gue uda liat tadi. Cuma ban depan aja yang kempes dikit dan gue uda bawa ke bengkel showroom yang deket sini buat cek mesin juga, tapi kata mereka aman," jelas Darren yang membuat hati Ferdy tenang.


"Ooo... Thanks ya bro, uda bantuin cek. Abis berapa tadi?"


"Gak seberapa la. Lu uda pinjemin gue pake motor lu aja uda bersyukur banget."


Ferdy langsung membuka kulkas dan melihat ada bahan makanan apa yang bisa di masak untuk sarapan pagi ini.

__ADS_1


"Keknya kita sarapan pasta fettucini carbonara pake smoke beef pagi ini. Lu suka ga?"


"Suka," jawab Darren singkat. "Perlu bantuan gue?" tawarnya.


"Kalo gak keberatan sih, gue butuh bantuan lu dikit nih buat parutin keju," kata Ferdy sedikit sungkan sambil memberinya sabalok keju beserta parutannya.


Di ambilnya keju tersebut dan Darren mulai memarutnya di atas mangkok kosong. Dia melakukannya dengan baik. Ferdy juga terlihat sibuk dengan rebusan fettucininya yang sedang di masak. Mereka berdua adalah pria idaman setiap wanita, tidak hanya tampan tapi pintar memasak.


Kesibukkan di dapur, membuat Via keluar dari kamarnya dengan wajah bantal. Tampilannya yang acak-acakkan dengan piyama pendeknya, mengundang perhatian Darren yang baru pertama kali melihatnya saat ia menginap di apartemen Via. Berbeda dengan saat pertama kali melihat Via yang waktu itu tidak sengaja inap di apartemen Darren saat mengantarnya pulang pas mabuk. Jadi Darren hanya bisa tersenyum melihat penampilan Via yang kacau pagi ini.


"Kamu kenapa tersenyum gitu?" tanya Via yang memperhatikan Darren sedang senyum-senyum tidak jelas sendiri.


Dari senyum-senyum berubah ke tawa khasnya Daren. "Hahahaha....." tawanya kencang tak terkendali.


Ferdy juga hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Darren yang sedang menertawakan kakaknya. Via langsung berdiri di depan cermin yang ada di ruang tamu yang diletakkan di pojokkan dekat sofa. Ia baru menyadari apa yang di tertawakan oleh Darren. Ia pun langsung lari terburu-buru kembali ke kamarnya, sedangkan Darren masih tertawa sambil memegang perutnya yang sakit akibat tawanya yang tidak bisa berhenti.


Sepuluh menit kemudian, Via sudah keluar dari kamarnya dengan gaya rambutnya yang di cepol ala Korea tapi masih mengenakan piyama yang sama. Fettucini carbonara Ferdy juga sudah jadi dan siap di santap. Masing-masing dari mereka sudah duduk di tempatnya dan menghidup aroma sedap dari masakkan Ferdy tadi.


"Mari, makan! Mmmm.... kayaknya enak nih!" puji Via sambil mencium aromanya dengan mengipas-ngipaskan dengan telapak tangannya.


Darren mulai melahapnya dengan satu suapan dan di saat dia mengunyahnya, kedua alisnya naik dan matanya berbinar berbicara. "Seriusan, ini enak banget. Rasanya gak beda jauh ama yang di restoran. Hebat lu, bro!"


"Hahaha... bisa aja lu, bro. Ini mah masih kalah jauhlah ama yang di restoran. Lagian gue juga baru belajar dari youtube," kata Ferdy sungkan.


"Ferdy itu ya emang pandai masak, Der. Hampir tiap hari dia yang masak, karena aku kan suka pulang malem. Untung banget ada dia yang nemenin aku," kata Via bangga akan adiknya yang satu ini.


"Tapi gak selamanya aku bakalan nemenin kamu ya," timpal Ferdy melirik ke Via. "Buruan cari pasangan hidup! Emang gak bosen apa hidup bareng adek mulu?"

__ADS_1


"Iiihhhhss...." Via mulai menjewer telinga Ferdy.


"Aw..aw...aw.. sakit ah... Lepasin! Malu tau ama Darren," ringis Ferdy kesakitan saat telinga kanannya ditarik kuat oleh Via.


"Makanya... Jangan resek!" makinya sambil menyudahi jewerannya.


Ferdy mengusap-usap telinganya yang merah dan panas akibat jeweran Via tadi. Darren hanya tersenyum diam-diam melihat tingkah kedua kakak beradik itu.


"Apaan sih kamu pake jewer-jewer segala? Kita tuh bukan anak kecil lagi," kata Ferdy kesal.


"Kamu tetap adek kecil buat aku," ucap Via sambil tersenyum licik.


"Ck..." keluh Ferdy.


"Vi, kita berangkat jam berapa?" tanya Darren ingin kepastian.


"Abis makan ini, aku siap-siap. Udah itu kita langsung berangkat. Oke?"


"Oke!"


"Ingat ya, jangan lupa bawain aku oleh-oleh!" pesan Ferdy.


"Emang kamu mau apa?" tanya Via penasaran, karena tidak biasanya Ferdy minta oleh-oleh.


"Apa aja la yang penting enak," jawabnya dengan nada cuek. "Bro, ati-ati uang lu abis tar karena kakak gue yang satu ini tukang jajan," bisik Ferdy pelan di telinga Darren.


Darren hanya senyum-senyum mendengarnya.

__ADS_1


"Apaan sih bisik-bisik? Awas ya kalo omongin aku!" ancam Via pada mereka berdua.


Darren dengan polosnya hanya merespon dengan membuka lebar sepuluh jarinya di depan dadanya, seolah-olah dia tidak ikut campur.


__ADS_2