
*****
Jam 7 pagi, Via sudah bangun dan pergi ke arah dapur untuk minum segelas air putih. Tapi tidak disangka olehnya, kalau maminya Darren sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi, tan!" sapa Via yang baru saja tiba.
"Hai, Via. Selamat pagi, nak! Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?" tanyanya yang sibuk menyusun buah-buahan di sebuah wadah besar.
"Nyenyak kok, tan," jawab Via sambil minum secangkir air putih.
"Oh ya, maaf ya semalam asisten tante ajak kamu ke kamar yang salah. Dia bilang tidak sengaja. Tapi Darren gak macem-macem kan waktu kamu dikamarnya?"
"Gak kok, tan. Saya langsung pindah ke kamar tamu."
"Sekamar juga gakpapa," kata maminya dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar.
"Kenapa, tan?" tanya Via kembali karena tidak kedengeran sama sekali olehnya.
"Hahaha... gakpapa, nak Via. Boleh bantu tante bawa semua ini ke meja makan?"
"Baik, tan!"
Via dan maminya Darren prepare semua hidangan sarapan yang telah dimasak tadi di atas meja makan sambil menunggu Darren dan papinya turun.
Pukul 11.00
Maminya Darren sudah memanggil dua orang MUA (make up artis) untuk membantu dirinya dan Via berias. Mereka akan siap-siap ke pesta pernikahan saudara keluarga Darren sebentar lagi.
Saat Via sedang dirias, Darren tampak mondar-mandir disekitaran kamar yang ditempati Via. Ternyata hatinya cemas, karena MUA yang merias Via adalah seorang pria. Darren memasang wajah juteknya terus menerus sambil menatap setiap kegiatan pria itu. Via yang melihat Darren bertingkah laku seperti itu sangat risih.
"Hei, kamu!" panggil Darren pada pria MUA itu.
"Ya!" jawab si pria sambil berhenti sejenak.
"Bisa gak, gak usah terlalu lama pegang wajah dia?" protes Darren.
"Ta... Tapi kan ini pekerjaan saya. Saya seorang MUA pastinya ya seperti ini. Memegang wajah klien saya untuk dirias. Kalo tidak disentuh sama sekali, bukan dirias namanya."
"Kok kamu jadi nyolot sih?" tanya Darren yang gak terima dikomplain.
Via bangkit dari tempat duduknya dan melotot ke arah Darren. "Der, please deh! Bisa gak kamu tunggu diluar aja?"
Darren masih menatap tajam pria itu dengan amarahnya. "Gak bisa. Aku mau jagain kamu disini," jawab Darren kukuh.
"Ato gini aja. Aku minta tolong masnya styling rambutku aja. Untuk riasan ini, aku selesaikan sendiri," usul Via yang merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Tapi mba, saya udah dibayar mahal sama nyonya rumah ini buat bantuin mba. Saya gak enak kalo kerja setengah-setengah gini."
"Kamu tetap lakuin kerjaan kamu seperti usulku tadi aja, pokoknya riasan ini kan cuma dikit lagi. Hanya sisa lipstickan dan ngeblush-on aja, aku bisa kok."
"Mmm..." pria itu tampak ragu dan tengah berpikir.
"Teruskan saja yang kuminta. Jangan buang waktu lagi!" pinta Via.
"Oke, mba!" jawab si pria itu setuju.
Darren akhirnya duduk manis di sebelah tempat duduk Via sambil memperhatikan si pria tadi yang tengah sibuk melakukan hair styling pada rambut panjang Via.
Setengah jam kemudian
Mereka semua sudah siap dengan tata rias mereka masing-masing. Via masih memendam rasa kesalnya pada Darren yang marah-marah tadi gara-gara hal sepele. Melihat ketegangan antara Via dan Darren, maminya Darren merangkul lengan tangan Via dan mengajaknya menuju parkiran mobil yang akan mereka tumpangi. Saat ini, Darren menjadi supir yang membawa mereka semua ke pesta.
🌺Darren Pov🌺
Karena Via duduk di kursi penumpang belakang, aku terus mencuri pandang padanya lewat kaca spion tengah. Tapi disaat dia sudah menangkapku ketauan memandanginya, ia langsung melototiku. Aku hanya bisa tersenyum dengan tingkah lakunya.
Aku tau, tadi aku melakukan kesalahan saat menemaninya berias. Mungkin ini yang namanya terlalu sayang sampai apa yang sudah kita miliki, tidak boleh dipegang oleh orang lain.
Setelah sampai di tempat tujuan, kami masuk bersamaan ke dalam sambil bertegur sapa dengan sanak saudara lainnya. Daddy jalan denganku, sedangkan mami selalu menggandeng lengan tangan Via. Jadi berasa... Via adalah anaknya sedangkan aku adalah orang lain.
"Der!" sapa Bobby sepupuku yang seumuran denganku.
Kami bersalaman layaknya anak-anak muda zaman sekarang. Kami jarang ketemu. Hanya ada pertemuan keluarga saja yang membuat kami bisa bertatap muka lagi satu sama lain.
"Gila lu, tambah keren aja, Der!" pujinya setelah melihat penampilanku.
"Hahaha... Biasa aja. Lu juga tambah atletis sekarang badannya. Ngegym lu? Dulu terakhir kita ketemu kan kalo gak salah pas setahunan lalu, lu masih gak berotot gitu."
"Hehehe... Iya dong. Kan biar keren dan sehat," jawabnya sambil ngerangkulku. "Sibuk banget lu tiap hari? Sesekali ikut gue nongkrong yuk ke stadium bola," ajaknya.
"Mmm... Gue liat dulu deh tar kapan bisanya. Lagian gue cuma bisa main basket."
"Sana ada kok lapangan basket, cuma agak dekat kampus. Jadi gak jauh dari stadium itu."
"Ooo... Bolehlah kapan-kapan aku mampir kesana."
"Itu yang disamping tante, siapa? Cantik banget? Anak angkat tante ya?" tanya dia saat melihat sosok Via yang masih bersama mami sibuk menyapa saudara lain.
"Itu..." kataku yang belum selesai.
"Udah punya pacar blom ya? Pengen kenalan ah," selanya sambil mau berlalu ke tempat Via.
__ADS_1
"Eeeeiiiiitttt......!!" seruku sambil menarik tangannya dan menahannya dan dia langsung menatapku heran. "Tar gue yang kenalin."
"Gue kan bisa kenalan sendiri. Pelit ama sih lu," protesnya sambil melangkahkan kaki mau ke sana lagi nyamperin Via.
"Eeiittt.. eitt...! Dia pacar gue, Bob," kataku dengan nada sedikit menekankan.
"Hah? Pacar lu?" tanyanya memastikan.
"Iya, dia pacar gue. Awas ya kalo lu macem-macem. Tar gue jadiin sate lu!"
"Hahahaha.... Tenang, Der! Tenang!" serunya sambil cengengesan.
"Tunggu mami selesai ngenalin dia dengan yang lain dulu, tar gue kenalin ke elu," kataku sambil menepuk pelan punggungnya.
"Sante, bro!" serunya.
Lalu kami berbincang kembali seputaran kegiatan sehari-hari, kuliah, dan tempat tongkrongannya. Mataku juga sesekali sibuk mengawasi sekitaran Via.
"Helo, Bob!" sapa seorang gadis cantik yang menepuk bahunya pelan.
"Hei, Aeri!" jawab Bobby yang mengenal baik gadis tersebut.
*Aeri
'Nih cewek di undang juga?' batinku.
"Eh.. ada kak Darren juga?" tanyanya saat melihatku.
"Kalian saling kenal juga?" tanya Bobby penasaran.
"Ke..." Aeri mau jawab tapi aku langsung menyelanya.
"Gak!" jawabku cepat.
Bobby menatap kami berdua dengan wajah bingungnya sambil memegang dagunya memainkan jenggot tipis yang tumbuh disana. "Gue kenalin dulu ya, Der!"
"Gak perlu!" sahutku ketus.
"Bob, gue boleh ngobrol bentar berdua ama kak Darren?" pinta Aeri.
"Boleh! Kalian silahkan ngobrol aja. Gue mau nyamperin yang lain," pamit Bobby.
Aku rada males sama nih cewek, takut Via salah paham juga. Aku tidak mau menatapnya sama sekali. Dia terus menatapku dan tiba-tiba menarik sedikit jasku.
__ADS_1
"Apaan?" tanyaku sambil menghempaskan tangannya yang memegang jasku tadi.
"Kak, kenapa sih kakak kek musuhin aku banget?"