Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 50


__ADS_3

Mereka makan bersama sambil ngobrol tentang Bella yang tadi datang ke kantor. Darren menjelaskan kepada Via dan tidak ada yang ditutupi satupun, karena Darren merasa jujur itu perlu dalam suatu hubungan walaupun sekecil apapun itu.


Gelak tawa saat makan siang bersama membuat suasana ruang kantor Darren tampak ramai padahal hanya berdua saja.


"Aku ke toilet dulu," pamit Darren keluar sebentar.


"Oke!"


Via menunggunya di dalam sambil berjalan-jalan sekitaran meja kerja Darren. Sambil berpangku tangan, dia melihat meja Darren yang sibuk dengan beberapa map dengan posisi tidak beraturan. Via yang tidak bisa melihat kondisi itu, ia berinisiatif membantu Darren merapikan map-map tersebut hingga tersusun rapi. Peralatan tulis yang berantakkan juga ditaruhnya kembali ke wadah alat tulis yang ada di meja Darren. Via mencoba kursi bossy Darren yang empuk. Dia membayangkan saat Darren duduk di kursi itu dan akhirnya ia senyam senyum sendiri.


Via mendekatkan kursinya yang beroda itu dan menaruh kedua tangannya ke atas meja kerja Darren. Lalu ia penasaran dengan isi tiap laci meja dan membukanya satu persatu dari laci paling atas hingga laci nomor tiga yang paling bawah. Didalam laci nomor satu dan dua hanya berisi beberapa kertas tekken kontrak kerja dan beberapa file yang menjurus ke bidang marketing. Didalam laci ke tiga, berisi beberapa buku agenda yang sepertinya sudah turun temurun. Tapi di bagian tengah-tengah agenda tersebut keselip selembar foto gadis cantik belia.



*Bella


Via mengambil selembar foto tersebut dan memperhatikannya. Lalu saat ingin menaruhnya kembali, tiba-tiba Darren sudah masuk ke dalam ruangan.


"Sedang apa?" tanyanya setelah melihat Via sibuk menaruh sesuatu ke dalam laci ketiganya.


"Nngg... tadi aku abis liat-liat aja," jawab Via dengan raut wajah datar.


Darren mendekatinya. Lalu berdiri di samping kursi yang Via duduki sambil mencondongkan badannya agar melihat wajah Via dengan jelas. Darren juga merasa ada sesuatu yang membuat Via tiba-tiba berubah dengan raut wajahnya. Kemudian Darren membuka laci ketiga tersebut dan menemukan selembar foto disana. Bahkan ia sendiri sudah lupa tentang keberadaan foto tersebut.


"Kamu liat foto ini?" tanya Darren memastikan.


Via mengangguk pelan mengiyakan. Bukti ditangan Darren membuatnya tak bisa mengelak.


"Itu, siapa?"


"Ini Bella, temanku. Sudah lama aku tidak ingat kalo fotonya masih ada disini, karena aku tidak pernah melihatnya lagi."

__ADS_1


"Berarti.... Kalian pernah ada hubungan spesial?"


Darren memutar 90° kursi Via hingga posisi Via saat ini berhadapan dengannya. Kedua tangannya mencengkeram pengangan kursi tersebut dengan badan yang makin dicondongkan ke Via.


"Tidak ada yang spesial dalam hubungan kami," kata Darren serius. "Aku pernah menyukainya, tapi cintaku bertepuk sebelah tangan. Dia menyukai orang lain."


"Hah? Lalu, kenapa sekarang dia malah mencarimu dan menggodamu lagi?"


"Aku tidak tau dan aku tidak mau tau. Aku hanya fokus dengan cewek manis didepanku saat ini dan untuk selamanya," jawab Darren yang perlahan ingin mengecup bibir Via tapi Via dengan cepat ia menutup bibirnya dengan telapak tangannya. "Kenapa ditutup? Emang siapa yang mau cium kamu?" goda Darren sambil tersenyum.


Via yang merasa malu, ia langsung menurunkan telapak tangannya dan...


'Cup!' Darren berhasil mengecup kembali bibir Via dengan gerakan cepat.


"Katanya tadi gak nyium," dumel Via yang langsung bangkit dari kursi Darren.


"Hahaha...." tawa Darren yang berhasil menjahili Via.


Melihat tingkah laku Darren seperti itu, terniat Via ingin membalasnya. Via bertukar posisi dengan Darren. Dia menundukkan kedua pundak Darren agar duduk di kursi bossynya. Lalu Via melakukan hal yang sama dengan Darren tadi. Mencengkeram kedua pegangan kursi, menatap dengan tatapan menggoda ke Darren sambil tersenyum binal hingga Darren merasa terpancing dan Via mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Darren.


Darren hanya menurutinya saja. Menutup kedua matanya dan menunggu apa yang ingin dilakukan oleh Via. Via yang melihat Darren yang begitu penurut, dia pun tersenyum diam-diam. Lalu Via perlahan berdiri di belakang Darren tanpa jejak suara. Karena tidak adanya pergerakkan apapun, Darren membuka kedua matanya dan melihat sekitaran ruangannya mencari keberadaan Via.


"Via!" panggil Darren.


Yang dipanggil malah senyum-senyum sendiri sambil menutup mulutnya agar tidak ketahuan oleh Darren. Tapi Darren langsung mengetahui keberadaan Via saat menoleh kearah belakangnya.


"Kamu, disini?"


"Hahaha... Iya," jawab Via sambil memeluk mesra Darren dari belakang punggung Darren.


Tanpa mereka sadari, Bella sudah berdiri di pintu sedari tadi. Sambil memasang wajah kurang sukanya ke Darren dan Via yang sedang bermesraan.

__ADS_1


"Elu?" tanya Darren saat menyadari kehadiran Bella.


Via mau melepaskan rangkulannya tapi ditahan oleh Darren. Darren malah mau mempertahankan posisi seperti ini dengan Via didepan Bella.


"Dia, siapa?" tanya Bella yang menunjuk ke arah Via.



*Darren dan Via


"Dia pacar gue," jawab Darren yang mengubah mimik wajah seriusnya ke Bella.


"Dia... cewek yang di foto itu kan?" bisik Via pelan di telinga Darren dan Darren hanya mengangguk mengiyakan.


"Kenapa kalian bisa bermesraan di sini?" protes Bella.


"Dia kan pacar gue. Kapanpun kami mau bermesraan, itu bukan urusan lu juga."


"Ahaaa... Tas gue ketinggalan. Gue lupa tadi, makanya gue balik lagi."


"Tas lu di sana!" kata Darren sambil menatap ke arah tas Bella yang ada di sofa.


Dengan langkah yang tergesa-gesa, Bella mengambil tasnya dan memakainya. "Ternyata dia yang udah buat lu ngelupain gue?"


"Emangnya kita ada hubungan apa selain teman?"


"Alasan utama gue balik ke Indonesia adalah elu. Kan gue dah bilang, kalo gue gak akan nyerah buat dapetin hati lu yang pernah gue sia-siain dulu."


"Lupain aja niat lu itu! Kerja yang bener agar ortu lu bangga. Gue kalo uda dapat satu, lu tau kan pengorbanan gue ke orang yang gue pertahankan?" secara tidak sengaja Darren mengingatkan kembali perjuangannya dulu demi mendapatkan hati Bella tapi tidak pernah dibalas sedikitpun.


"Dulu gue emang b*go, gak nyadar kalo yang selama ini perhatian dan sayang ama gue itu ternyata sahabat gue sendiri, yaitu elu. Pas gue kuliah di Jerman, gue baru sadar dan merasa kehilangan sosok elu. Gak taunya... jadi begini. Yang tadinya gue harepin agar kita bisa kek dulu lagi, malah jadi kek musuh gini," ucapnya menyesal.

__ADS_1


"Der, dia lagi sedih lo. Keknya... aku kasih kalian waktu berdua aja dulu buat bahas masalah kalian. Aku tunggu kamu diluar aja. Oke?" bisik Via yang merasa tidak nyaman diantara mereka.


"Kenapa harus pergi? Kamu tetap disini!" Darren menarik tangan Via agar maju ke depan sambil menduduki Via di pangkuannya. Membelai lembut rambut Via dan mengambil beberapa helai rambutnya yang kemudian mencium wangi sampoo dari rambutnya.


__ADS_2