Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 31


__ADS_3

Terserah dia mau teriak apa. Aku menyetel lagu kesukaanku dari ponselku. Aku menikmatinya sambil memainkan jemari tanganku ke stang stir mobilku.


Beberapa kilometer telah kulalui, aku merasa kasihan dengan Bella. Meninggalkan cewek seorang diri di jalanan bukanlah hal yang baik. Bila terjadi sesuatu padanya, aku pasti akan menyesal. Kuputuskan untuk memutar balik mobilku ke tempat dimana aku menurunkan dia. Seharusnya aku tidak boleh bersikap terlalu cuek tadi, bagaimanapun juga aku masih ada rasa sayang walaupun tidak sebesar dulu. Aku hanya emosi sesaat saja karena dia sangat tidak menghargaiku. Maunya di perhatikan terus tapi tidak mau mengerti keadaanku.


Setelah aku sampai di tempat tadi, aku melihatnya sedang duduk di atas kopernya di pinggir trotoar. Aku menghentikan mobilku di depannya, membuka kaca mobil, dan membunyikan klakson mobilku sekali. Tapi dia malah pura-pura tidak lihat. Akhirnya aku turun menghampirinya. Dia malah terpesona seolah-olah aku merasa seperti seorang pahlawan yang datang menolongnya.



*Bella Tsania


"Ayo, gue anter lu pulang sekarang!" ajakku tapi tidak di hiraukannya. Aku membungkuk menyetarakan posisinya yang sedang duduk. "Ayolah! Ini sudah malam. Gue minta maaf soal tadi. Gue salah." Lebih baik mengaku salah agar dia segera ikut balik denganku dan masalah gak makin panjang.


Dia melihat keseriusanku. Kemudian ia berdiri dan menarik kopernya ke arah parkiran mobilku. Lalu, ia langsung masuk begitu saja ke mobil penumpang depan dan meninggalkan kopernya di jalan begitu saja.


"Der, bantu angkat tuh koper!" perintahnya dari dalam mobilku.


'Songong banget nih anak,' batinku.


Segera kuangkat kopernya dan ku taroh di bagasi mobil. Kemudian aku kembali mengemudi mengantarnya sampai ke rumah orang tuanya. Sepanjang jalan perjalanan dia hanya diam dan hanya alunan musik yang ku setel saja yang bernyanyi diantara kesunyian kami.


Lima belas menit kemudian....


Kami telah sampai di depan rumah orang tua Bella. Masih di lokasi yang sama dengan rumah yang sama juga, belum ada perubahan. Aku membantunya menurunkan kopernya dari bagasi. Dia menarik kopernya hingga ke depan pagar besi rumahnya, menekan bel pintu sambil berpose di depan kamera cctv yang terpasang di pojokkan dinding.


Aku menunggunya sambil berdiri menyender di mobilku hingga ia masuk ke dalam rumahnya, barulah aku pulang. Setelah melihat ada yang datang membukakan pintu pagar untuknya, aku langsung masuk ke dalam mobilku dan segera berlalu pergi tanpa sepatah katapun.


*****


Pagi-pagi ponselku sudah berbunyi nyaring. Entah siapa yang mengganggu tidurku sepagi ini. Aku terbangun dari tidurku dan mengambil ponsel yang biasa kuletakkan di atas meja pojok dengan mata setengah mengintip.


πŸ“ž"Halo!"


πŸ“ž"Der, ini daddy. Maaf daddy ganggu waktu kamu sebentar."


πŸ“ž"Mm."


πŸ“ž"Nanti malam tolong temenin daddy ke pesta undangan wedding anniversary temen daddy yang namanya om Tio itu. Yang dulu suka main ke rumah bawa anak perempuannya. Kamu ingat, kan?"


πŸ“ž"Mm."


πŸ“ž"Pokoknya nanti jemput daddy dari rumah ya. Kita berangkat bareng ke sana bareng mami juga. Jangan lupa ya, Der!"

__ADS_1


πŸ“ž"Mm."


πŸ“ž"Daddy sudahi dulu ya sampe sini. Jangan telat ngantor hari ini!"


πŸ“ž"Mm."


Percakapan singkat kami selesai sudah. Aku menatap ke arah jarum jam dinding yang sudah pukul 06.45. Aku memejamkan kedua mataku kembali sambil menutupi seluruh badanku dengan selimut. Tidur sejam lagi harusnya tidak masalah.


Sejam berlalu


Aku bangun dari tidurku dan bersiap diri untuk ngantor. Sembari menyikat gigi, aku ingat pesan daddy agar bisa mengantarnya ke pesta wedding om Tio. Tumben banget si daddy mau minta di anterin. Biasanya juga dia kemana-mana bareng ama supirnya.


Setelah mandi, bercukur sebentar, aku tinggal memakai jasku dan cabut ngantor. Untung hari ini aku gak ada jadwal kuliah online.


'Ting... tong...' bunyi bel kamar apartemenku.


"Siapa yang datang sepagi ini?"



*Darren


"SURPRICE!!!!" teriak Ferdy dan Via dengan lantang.


Mereka datang membawa cake ultah dengan lilin ultah batangan yang menyala dan sudah di tancapkan di atas cakenya itu.


"Ayo, masuk!" ajakku sambil mempersilahkan mereka masuk dan kembali menutup pintu.


Mereka bernyanyi lagu ultah buatku versi English. Via menaruh cake itu di atas meja ruang dapur.


"Make a wish, bro!" ucap Ferdy sambil menepuk pelan pundakku.


Aku tersenyum karena kebaikkan mereka yang sudah memberiku kejutan di hari ulang tahunku. Aku langsung berdoa dan meniup lilinnya.


"Yeayyyy!" seru Via kegirangan. "Sekarang potong kuenya, Der!" katanya sambil menyerahkan pisau plastik khusus buat potong cake padaku.


Aku menuruti ucapannya. Aku memotong satu slice tipis dari cake ultah itu dan aku mengambilnya dengan tanganku lalu mengarahkannya ke Via. Via menatapku, tanganku semakin maju ingin menyuapinya, dia pun membuka mulutnya dengan lebar ingin memakan cake yang kupegang tapi aku menarik lagi tanganku kebelakang sehingga dia tidak jadi makan. Karena tidak terima dipermainkan olehku, ia memukul lengan tangan kiriku. Tapi kemudian aku menyodorkannya kembali cake itu padanya.


"Ini beneran apa cuma boongan?" tanyanya sambil berkacak pinggang.


"Kali ini beneran." Aku menyuapinya dan ia langsung menggigit sedikit ujung cakenya.

__ADS_1


"Aaaaaaa......." Ferdy dengan mulut menganga minta disuapi juga.


Aku mengarahkan cake itu ke Ferdy, lalu ku tarik kembali dan kumasukkan langsung semuanya kedalam mulutku hingga mulutku chubby karena kepenuhan.


"Hhmmm..." desah Ferdy yang terlihat kesal. Akhirnya dia memotong sendiri satu slice kecil untuknya.


Dengan bantuan segelas air, aku dapat mencerna cake yang ada di dalam mulutku. "Kalian tau darimana aku ultah hari ini?"


"Via yang tau," jawab Ferdy sambil mengunyah cakenya.


"Aku tau dari kalender mejamu saat aku nganter kamu pulang pas kamu lagi mabuk itu. Aku gak sengaja liat hari peringatan yang uda kamu tandai di kalender mejamu," timpal Via.


"Oooo..."


Ternyata Via diam-diam memperhatikannya dengan teliti. Aku saja lupa dengan hari ultahku sendiri.


"Vi, dia mau ngantor. Kita cabut yuk!" ajak Ferdy yang sudah tau situasiku.


"Ayuk!" balas Via yang sudah siap.


"Aku ucapin terima kasih buat kalian yang udah sengaja datang buat kasih kejutan. Mmm..." kataku terhenti.


"Kenapa, Der?" tanya Via penasaran.


"Aku punya satu permintaan. Anggap saja ini kado ultahku. Aku mau..."


Baru mau memberitahu apa permintaanku malah ada nada dering panggilan yang masuk dalam ponselku.


πŸ“ž"Halo!"


πŸ“ž"Den, ini tamu yang mau meeting sudah tunggu di ruang rapat. Aden udah di jalan?"


πŸ“ž"Pak Eko, tolong handle dulu sebentar! Saya on the way."


πŸ“ž"Baik, den."


Aku langsung mengakhiri percakapan kami. "Maaf, aku harus segera ke kantor. Aku lupa kalo hari ini aku ada meeting."


"Gapapa, bro. Kami juga mau cabut sekarang," kata Ferdy.


Kami bertiga keluar berbarengan hingga ke area basement.

__ADS_1


__ADS_2