
"Apa kita gak keterlaluan kalo kek gini?" tanya Via dengan wajah cemasnya.
"Yang keterlaluan siapa? Kamu yang pacar aku ato dia yang pacar aku sekarang?" tanyanya balik ke Via yang membuat Via diam terbungkam.
"Darren, lu jahat!" maki Bella sambil berlalu pergi dengan tangisannya.
"Yes!" seru Darren kegirangan setelah melihat Bella pergi.
Saking girangnya, dia memeluk Via dengan erat.
"Aduhhhh... Darren! Aku gak bisa nafas," teriak Via.
"Oh.. Maaf! Maaf!" seru Darren sambil melepaskan pelukkannya.
Via berusaha bangun dari pangkuan Darren. Ia merapikan baju dan rambutnya dengan cepat karena takut ada orang yang masuk ke ruangan Darren.
"Aku akan mentraktirmu minum kopi. Ayo kita ke kafetaria kantin!" ajak Darren sambil menggandeng mesra tangan Via.
Melihat bos mereka jalan dengan seorang gadis cantik, mambuat iri semua karyawati di kantor. Bahkan sampai di kafetaria saat para karyawan dan karyawati sedang santai pada jam makan siang, pandangan ke arah mereka berdua menjadi pusat perhatian, pasalnya kan selama ini yang mereka tahu kalau Darren tidak pernah seromantis itu pada cewek manapun.
"Pengumuman!" seru lantang Darren yang mencuri perhatian semua orang yang ada di kafetaria. "Ini adalah pacarku. Namanya Via. Jadi aku peringatkan pada kalian yang liat dia datang ke kantorku, tolong langsung dipersilahkan masuk! Dan.... Satu lagi! Buat karyawan laki-laki khususnya, jangan berani-berani mendekatinya kalo bukan ada urusan yang penting! Aku mengawasi kalian! Kalian, mengerti?"
*Via
"Baik, pak!" sahut semua serempak.
"Bagus! Lanjutkan jam santai kalian!" serunya dengan gaya wibawanya. "Aku mau mengajakmu duduk di sana!" tunjuknya pada tempat yang agak sepi di luar dan masih kisaran kafetaria.
Setelah memesan kopi kesukaan masing-masing, mereka duduk manis di tempat yang di ajak Darren tadi.
"Kamu ngapain sih umumin ke mereka segala tentang aku? Aku kan jadi malu."
"Ngapain malu? Kan kamu pacar aku sekarang. Lagian ya, aku paling gak bisa denger ada cowok yang deket-deket ama kamu kalo mereka blon tau kamu udah punya pacar. Mendingan aku umumin sekalian, biar mereka gak ada peluang buat deketin kamu lagi."
"Oooo... Jadi aku gak boleh bergaul dengan cowok manapun?"
Darren berpikir sejenak sambil memegang dagunya. "Tergantung," jawabnya singkat tapi banyak pertimbangan dari kata itu.
"Tergantung?"
"Ya, tergantung aku kenal dengan orangnya apa gak."
"Jangan terlalu cemburu! Aku hanya memilikimu saja di hatiku," kata Via sambil tersenyum.
"Baiklah, nona Via! Aku harap, itu bukan sekedar omongan saja!"
*****
Weekend tiba..
Darren main ke apartemen Via. Mereka masak bersama dan meluangkan waktu berdua. Sedangkan Ferdy sedang inap ke rumah temannya yang lain untuk fokus merangkum segala tugas kuliahnya.
__ADS_1
Menikmati waktu berdua seperti sekarang ini sangat dimanfaatkan oleh Darren sebaik mungkin. Selain makan-makan, mereka tetap mengerjakan kerjaan masing-masing. Darren sibuk menyusun skripsinya. Via sibuk melukis desain-desain jewerly barunya.
Karena kelelahan, Darren tertidur di sofa ruang tamu sambil memeluk sebuah boneka. Via yang jaraknya tidak jauh dari posisi Darren, hanya bisa tersenyum melihat Darren seperti itu.
*Darren
πΊVia PovπΊ
'Dasar bocah!' makiku dalam hati pada Darren saat melihatnya tidur layaknya seorang anak kecil.
Tiba-tiba ponselku berdering
Mami yang meneleponku. Aku segera mengangkatnya dan agak menjauh dikit agar Darren tidak terganggu.
π"Ya, halo mi!"
π"Sayang, kamu lagi ngapain? Apa kabarmu baik-baik saja?"
π"Aku lagi di rumah mi. Lagi gambar nih. Kabarku baik. Mami sendiri, sehat juga kan?"
π"Sehat, sayang. Ferdy dimana?"
π"Ferdy sedang nginap di rumah temennya tuh mi. Coba deh mami telepon dia langsung!"
π"Via, bisa tolongin mami?"
π"Bulan depan, mami ingin mengadakan pagelaran fashion show mami di Eropa. Mami sangat ingin join sama kamu sebagai model dan sekalian pakai desain jewerly kamu ke para model mami juga. Dengan gitu kan bisnis kita akan berkembang."
π"Oooo... Ide bagus juga tuh mi. Aku harus liat jadwalku dulu ya mi. Tar aku kabarin mami secepatnya.
π"Secepatnya ya sayang, karena mami mau daftarin nama kamu."
π"Baik, mi. Via akan segera kabarin mami."
π"Kata papi, kamu udah punya pacar ya sekarang?"
π"Iya, mi. Aku udah punya pacar."
π"Tapi kata papi, pacar kamu berondong. Beneran itu?"
π"Mmmm... Iya, mi."
π"Ya udah kalo emang gitu. Mami hanya bisa berharap yang terbaik buat kamu aja. Setelah kepergian Victor, kamu kan gak pernah mau buka hati buat orang lain. Apa mungkin pacar kamu yang sekarang ini wajahnya seperti Victor makanya kamu naksir sama dia?"
π"Hahaha... Gak kok mi. Hanya saja sikap dan sifatnya... mirip."
π"Kamu yakin, dia bisa beneran serius sama kamu? Bagaimana dengan nak Aldo? Apa dia sudah tau masalah ini?"
π"Masalah hubungan kami... liat saja kedepannya. Mengenai Aldo, aku udah kasih tau dia."
π"Aduh... mami jadi malu ama orangtuanya yang udah jodohin kalian tapi malah gak jadi."
__ADS_1
π"Mi, jangan gitu dong! Kan emang akunya belon berjodoh dengan dia aja."
π"Ya juga sih. Jodoh kan gak bisa dipaksa."
π"Tuh mami tau."
π"Oke deh sayang. Mami mau keluar dulu ngerumpi ama temen-temen mami. Biar mami bisa sekalian rayu mereka buat beli produk kita. Bye Via sayang!"
π"Bye juga mi!"
Mami.. Mami... Aku harus segera atur jadwal sama Andien besok.
Setengah jam kemudian
Aku masih serius menggambar hasil karya jewerlyku di kertas gambar sambil mewarnainya dengan pensil warna.
"Via, kamu masih sibuk aja?" tanya Darren yang sudah ada di belakangku dan mengecup kepalaku.
"Yaaa.... Aku akan lebih sibuk lagi belakangan nanti. Saat kamu tidur, mami aku telepon. Dia mau ajak aku join melakukan pagelaran fashion show di Eropa."
"Ajak join gimana maksudnya?"
"Pada saat pagelaran itu, aku bisa menjual karyaku juga karena dipromosiin lewat tiap modelnya. Dan... mami minta aku jadi salah satu modelnya juga."
Darren menopangkan dagunya di pundak kiriku dengan sedikit membungkuk. "Jadi... kita pacaran jarak jauh dong?" tanyanya dengan nada manja.
"Mmm... Hanya sementara," jawabku sambil mengangguk kecil.
"Aku ikut ya?"
"Ikut? Buat apa?"
"Nemenin kamu," jawabnya enteng.
"Hahaha... Gak perlu. Aku kesana kan buat kerjaan. Bukan liburan. Kamu juga kan harus kerja."
"Jadi galau dong gak ada kamu," katanya dengan nada kecewa tapi wajahnya menggemaskan.
Aku berbalik arah kursiku yang bisa di putar 360Β° itu. Dia masih berdiri termangu. Sungguh seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk dengan wajah memelas.
"Aku kan hanya sebentar saja ke sana. Aku harus serius dengan kerjaanku dan aku juga minta kamu bertanggung jawab dengan kerjaan kamu di sini. Kalo kamu terus disamping aku, nantinya semua kerjaan jadi gak fokus."
Aku memeluk pinggangnya. Menyenderkan kepalaku di perutnya yang rata dan keras (sixpack). Dia membelai kepalaku lembut.
"Kalo gitu, hari ini aku akan mengajakmu bertemu dengan kedua orangtuaku. Cepat ganti baju sana!"
"Kok mendadak? Besok aja deh. Besok kan Minggu."
"Sekarang aja! Soalnya mami aku lagi sakit, jadi aku baru dapat chat dari dia. Dia suruh aku buruan ke sana."
"Mami kamu sakit? Ya udah deh. Bentar ya, aku ganti baju dulu!"
Aku langsung menuju ke kamarku. Membongkar isi lemari pakaianku. Tau sendiri kalau jadi cewek pasti inginnya tampil maksimal di depan calon mertua.
__ADS_1