
Darren pergi ke kantor cabang sesuai janjinya dengan daddynya. Disana, ia memeriksa beberapa sistem kerjanya apakah sesuai dengan visi misi perusahaan atau tidak. Lalu dia juga memeriksa segala laporan-laporan penting untuk menghindari adanya kecurangan para karyawannya.
Via dan maminya pergi ke gedung kemarin lagi. Mereka survey hasil dekorasi dan stok-stok pakaian untuk para model serta tidak ketinggalan aksesoris karya Via yang di tempatkan dalam satu tempat khusus. Ini cukup memakan waktu, karena semua harus dilakukan seteliti mungkin. Kesibukkan para organizer yang membantu kerjaan mereka hasilnya sangat memuaskan. Karena dibalik ini semua tidak terlepas dari bantuan pengawasan Hendra dengan kemauannya sendiri. Hendra sedari pagi sudah standby di gedung dan sibuk menata ulang pencahayaan lampu sorot agar hasil model saat berjalan di catwalk terlihat bagus serta memeriksa sound agar berjalan lancar pada esok hari.
Mami Via masih sibuk melihat gladi bersih dari para model-modelnya. Ia tampak sibuk mengatur pakaian-pakaian yang dikenakan para modelnya berjalan di catwalk. Serta tidak lupa mengarahkan beberapa kameramen agar mendapatkan hasil pemotretan yang bagus.
"Tan, semua udah oke. Menurut tante gimana? Apa ada yang kurang?" tanyanya saat bertemu dengan mami Via.
Mami Via tampak tersenyum puas dengan semuanya. "Makasih lo Hen atas bantuannya. Tanpa kamu, tante kelimpungan jadinya."
"Gak usah sungkan, tante."
"Oh ya Hen, besok kamu hadir aja sebagai tamu ya. Nih undangan buat kamu!" kata mami Via seraya mengeluarkan sebuah kartu undangan yang berbentuk seperti kartu ATM untuk Hendra.
"Saya gak usah dapat undangan juga bakalan hadir kok, tan," katanya seraya menerima kartu tersebut karena gak enak hati dengan mami Via.
"Kamu sungguh pekerja keras dan hasil kerja kerasmu terbayar sudah," puji mami Via.
"Haha... Ya tan, aku merasa ini belum apa-apa," katanya merendah.
"Ya Hen, jangan berpuas diri dulu. Kita harus capai apa yang didepan mata," dukung mami Via.
"Bener! Bener!" serunya setuju sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Termasuk mendapatkan hati Via," timpal mami Via sambil tersenyum. "Tante gak akan ikut campur urusan kalian, karena ini masalah hati. Tante harap apapun nantinya yang terjadi, semoga kalian masih baik-baik saja tanpa adanya perselisihan," kata mami Via sambil menepuk pelan pundak Hendra seraya memberikan ketenangan.
Via yang sudah melihat hasil laporan pengecekkan barang yang sudah lengkap, ia menemui maminya yang masih ditemani Hendra.
"Mi, aku udah cek semua. Semua lengkap. Modelnya juga udah ku konfirmasi ulang dan mereka besok akan hadir sesuai waktunya. Semoga besok pagelaran fashion shownya berjalan lancar ya mi," harap Via.
"Ya, Vi. Mami sangat antusias banget kali ini," kata maminya senang.
Karena gladi bersihnya berjalan dengan lancar, mami Via membubarkan semua model-modelnya agar mereka dapat segera pulang dan mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk acara esok.
"Abis ini, kalian mau kemana?" tanya Hendra.
"Rencananya tante sama Via mau balik ke hotel karena ini sudah mau sore juga," jawab mami Via setelah melihat ke arah jarum jam tangannya. "Lagian tante udah berumur, jadi mudah capek. Tante pengen istirahat awal agar besok subuh sudah bisa standby disini. Besok tante masuk gedung jam 05.00 ya Hen."
__ADS_1
"Baik, tan. Nanti aku akan kasih tau security agar besok tante bisa langsung masuk aja. Kalo gitu, aku anterin tante dan Via pulang ya," tawar Hendra dengan sopan.
"Nngg... Itu... Maaf Hen, kami nanti pulang bareng Darren. Dia lagi menuju kesini," jawab Via yang gak enak hati.
"Darren kesini?" tanya Hendra yang tidak salah dengar.
"Iya, dia kesini."
"Dia sengaja kesini buat kamu?" tanya Hendra memastikan.
"Ya," jawab Via menegaskan.
Hendra hanya tersenyum datar setelah mendengar jawaban Via. Ternyata ia telah menganggap remeh Darren kemarin pas ditelepon. Hendra pikir, Darren tidak akan bertindak sejauh itu karena ia menganggap Darren masih kecil yang hanya tahu bermain saja.
"Kalo gitu, aku nemenin kalian keluar sambil ingin menyapa Darren karena sudah lama gak ketemu dengannya," kata Hendra basa-basi.
"Kalo gitu, kita jalan sekarang!" seru Via yang sudah melangkahkan kakinya.
"Vi, mami ke toilet bentar. Nanti mami susul ya," kata maminya.
"Oke, mi!"
*Hendra dan Via
Dengan posisi mereka yang saling berpelukkan, membuat orang disekitarnya berpikir mereka adalah sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
"Ekhmm..." dehem Darren yang ternyata sudah datang dan menunggu didekat mobilnya.
*Darren
Via yang terkejut melihat Darren, ia langsung melepaskan dirinya dalam pelukkan Hendra. Ia pun merasa canggung setelah diperhatikan oleh Darren. Tapi Hendra diam-diam tersenyum puas dengan apa yang baru dilakukannya dengan Via. Seolah-olah sudah berhasil memperlihatkan niatnya untuk mendapatkan Via didepan Darren.
Darren menghampiri mereka yang tidak jauh dari posisinya saat ini dan langsung menarik pergelangan tangan Via agar berdiri disampingnya.
__ADS_1
"Hai, Der! Lama gak berjumpa," sapa Hendra basa-basi.
Darren langsung menggenggam erat telapak tangan Via dan tersenyum smirk ke Hendra. "Kabar baik. Tampaknya seorang Hendra Wijaya makin sukses di sini."
"Hahaha... Terima kasih atas pujiannya. Tapi itu semua berkat kerja kerasku sendiri, tanpa bantuan orangtuaku," katanya yang sedikit menyindir Darren.
"Bagus! Tapi gak ada salahnya juga kalo anak dapat dukungan dari orangtuanya, asal dapat bekerja keras mempertahankan apa yang sudah diberikan orangtuanya. Bukan untuk dipake ke hal yang gak guna."
Via merasa suasana diantara Darren dan Hendra ada yang tidak beres. Tidak seperti waktu mereka di video call dua hari lalu.
"Der, udahan yuk! Kita ke mobil aja sambil nungguin mami!" ajak Via sambil mengguncang pelan tangannya yang digenggam Darren.
"Kenapa buru-buru? Bukannya mami kamu juga belum keluar?" tanya Darren pada Via. "Lagian aku belum melihat jelas Hendra yang sekarang yang sudah jauh beda dengan yang dulu. Tampaknya Hendra saat ini jauh lebih mengesankan dari perkiraanku," kata Darren sambil menatap tajam Hendra dan tersenyum datar padanya.
"Darren sudah datang?" tanya mami Via yang tiba-tiba.
Suasana yang tegang jadi sedikit buyar. Masing-masing berpura-pura tampak biasa saja.
"Ya, mi. Dia baru datang," jawab Via.
"Hen, ini... Darren!" kata mami sambil memperkenalkan Darren pada Hendra lalu sorot mata maminya menuju ke tangan Via dan Darren yang saling bergandengan seolah-olah memperlihatkan status mereka dengan jelas. "Darren ini adalah pacar Via," lanjut maminya yang sedikit gak enak hati pada Hendra.
"Aku sudah lama mengenalnya, tan," kata Hendra.
"Oh ya? Kebetulan banget dong."
"Dia temennya adikku," lanjut Hendra.
"Baguslah kalo kalian saling mengenal. Hen, tante mau pulang dulu ya. Sampai ketemu besok. Jaga dirimu, jangan sampe sakit!" pesan mami Via yang sedikit membuat Darren iri.
"Baik, tan! Ati-ati di jalan," balas Hendra sambil tersenyum manis.
Darren melepaskan genggaman tangannya dengan Via dan ia berjalan terlebih dulu membukakan pintu mobil untuk mami Via.
"Kamu duduk didepan aja nemenin dia!" suruh mami Via pada Via saat sudah berdiri tepat didepan mobil Darren.
"Ya, mi," jawab Via patuh.
__ADS_1
Lalu Darren membukakan pintu mobil bagian depan untuk Via. Setelah itu, sebelum ia masuk ke dalam mobilnya, ia tersenyum smirk penuh arti pada Hendra.