
*****
Tiba saatnya hari yang dinanti-natikan oleh Via dan maminya tiba. Sejak subuh mereka sudah kumpul di gedung dan melakukan gladi resik. Via juga tengah sibuk mencocokkan jewerlynya dengan para model. Darren yang sedari tadi nemenin Via hanya ikutan membantu mencari segala keperluan yang Via butuhkan agar mempermudah pekerjaannya.
"Aduh, gawat nih, Vi!" seru maminya yang tiba-tiba datang dengan wajah betenya.
Via yang tengah sibuk memasang anting-anting ke salah satu model pun berhenti sejenak. "Kenapa, mi? Ada yang salah?" tanya Via sambil melirik ke maminya.
"Kita kekurangan seorang model cowok. Dia gak bisa masuk hari ini karena tiba-tiba sakit. Pusing deh mami! Padahal baju yang mau mami pakein ke dia tuh yang paling mahal dan paling bagus bahannya," keluh maminya.
Via meneruskan lagi aktivitasnya. "Suruh model yang lain aja kali, mi. Cuma pake doang, kan?" usul Via.
"Tapi kan ini untuk bagian akhirnya, sayang. Justru para modelnya harus kumpul jadi satu agar karya baju mami lengkap pas ditampilin di akhir."
"Harus cowok, mi?"
"Iya, harus cowok," jawab maminya sambil melirik ke Darren yang sedang sibuk melihat aksesoris Via satu-persatu. "Eit, keknya mami dah ketemu deh sama orang yang pas buat gantiin model mami."
"Oh ya? Siapa, mi?" tanya Via penasaran sambil melirik ke maminya.
Maminya hanya menunjuk ke arah Darren dengan tatapannya yang sontak membuat Via tersenyum mengangguk menyetujui.
"Der, bisa bantu tante, gak?"
"Bantu apa, tan?" tanya balik Darren sambil menaruh aksesoris Via ke tempatnya.
"Bisa tolong jadi model tante?"
"Jadi model?" tanya Darren memastikan.
Mami Via mengangguk membenarkan. "Boleh ya tolongin tante! Karena tante liat kamu bisa diandelin," kata mami Via dengan tatapan mata memohon.
"Boleh, tan. Tapi maaf kalo nanti agak kurang bagus," kata Darren sungkan sambil mengelus rambut belakangnya.
"Pasti bisa kok. Kita latihan catwalk dulu yuk, Der!" ajak mami Via ke pintasan catwalk.
"Oke, tan! Vi, aku kesana dulu," pamit Darren.
"Oke!" jawab Via singkat dan masih sibuk dengan kerjaannya.
Darren dibimbing cara jalan di catwalk. Dia cukup bagus dan bisa langsung beradaptasi. Acara akan diadakan sebentar lagi. Semua tengah bersiap-siap. Para tamu undangan juga sudah makin mengisi tempat mereka masing-masing. Hendra juga sudah hadir menjadi salah satu tamunya.
__ADS_1
*Hendra
Via sedang di rias bersama para model lainnya. Tidak lupa mami Via juga tengah sibuk memberitahu make up artis yang menangani Darren agar Darren bisa dirias wajahnya berpenampilan seperti ala cowok Italy.
"Via, mami gak ngerti cara pasang aksesoris kamu nih ke model satu ini," keluh maminya yang kebingungan memakaikan gelang tangan ke salah satu cowok yang menjadi model mami.
"Biar aku aja, mi," jawab Via ambil alih.
Masih di dalam ruang ganti, Via tengah berdiri didepan salah satu cowok asing tampan, membantunya memasang gelang karyanya sendiri. Cowok tersebut menatap Via sambil senyum-senyum. Akhirnya percakapan singkat terjadi (ceritanya mereka bicara dalam bahasa Inggris tapi di artiin aja ya).
"Sudah punya pacar?" tanya cowok tersebut.
"Sudah," jawab Via sambil serius mengaitkan gelang-gelangnya yang jumlahnya tidak hanya satu.
"Apa aku boleh minta nomor ponselmu?"
"Untuk apa?"
"Berteman saja."
Cowok itu menangkap pergelangan tangan Via yang hampir mau pergi meninggalkannya. "Tolong berikan nomor ponselmu!" pintanya.
"Maaf, aku masih ada urusan. Tolong lepaskan tanganmu!"
"Hei! Sante aja. Aku akan melepaskanmu setelah kau memberitau nomor ponselmu." Dia menggoda Via dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Lepaskan pacar saya!" perintah Darren yang baru tiba dan memasang raut wajah tidak senangnya sambil memegang kerah baju cowok itu dengan kasar.
"Ooo... Sorry!" kata pria itu sambil melepaskan tangannya dari Via dan mengangkat kedua tangannya seraya menyerah.
"Darren, udah!" seru Via sambil menarik tangan Darren agar melepaskan kerah baju cowok itu.
Darren yang mendengarkan kata Via, ia langsung melepaskannya. "Awas kamu kalo macem-macem lagi sama dia!" ancam Darren pada cowok itu.
Cowok itu pergi meninggalkan Via dan Darren begitu saja. Darren masih memperhatikan punggung cowok itu dengan tatapan amarahnya.
"Ayo, aku bantu kamu memakai aksesoris!" ajak Via sambil menggandeng tangan Darren.
"Kalo saja tadi dia masih gak mau lepasin tangan kamu, sudah kuhajar dia sampe babak belur."
__ADS_1
"Jangan sembarang menghajar orang! Itu gak baik," pesan Via sambil sibuk mencari gelang dan kalung untuk dipakai Darren. "Sini, aku pasangkan kalungmu!"
Via sudah mengambil salah satu kalung untuk dikenakan Darren. Karena tinggi Darren beda dua puluhan sentimeter dari Via, jadinya Via harus jingjit saat ingin mengaitkan kalungnya di belakang leher Darren. Ia bersusah payah jingjit, tapi tetap tidak berhasil. Darren yang melihat tingkah laku Via, ia pun akhirnya mencondongkan badannya sedikit lebih rendah agar memudahkan Via memakaikannya. Entah apa yang ada dipikiran Via, wajah Via tampak merah merona. Darren yang awalnya masih bete, akhirnya ia bisa tersenyum setelah melihat Via.
"Apa saat ini kamu memikirkan saat kita sedang berciuman?" tanya Darren menggoda dan mengangkat salah satu alisnya.
"Jangan usil!" seru Via sambil sibuk memakaikan yang lainnya.
"Aku masih kesal dengan cowok tadi. Awas saja kalo aku ketemu lagi dengannya!" kata Darren tidak senang.
"Kamu mau apa?"
"Ingin memberikan dia hadiah yang gak akan pernah dilupakannya," jawab Darren yang mengeluarkan aura dinginnya.
"Udahlah! Aku gak mau kalian berkelahi. Lagian tadi juga gak terjadi apa-apa."
"Tapi dia mencoba menggodamu," protes Darren tak terima.
"Ya.. Tapi kan dia gak berhasil. Lagian aku juga mengabaikannya."
Darren berpikir sejenak mencerna apa yang Via katakan, tapi dia tidak seratus persen terima begitu saja. Baginya, jika tidak ada yang cari gara-gara duluan dengannya, maka dia tidak akan sembarang bertindak.
Via sudah melakukan tugasnya. Ia melipat kedua tangannya bertumpu didada dan melihat Darren dari atas hingga ke bawah.
"Apa kamu Darren pacarku?" tanya Via kagum tak percaya dengan penampilan Darren terkini.
Darren tersenyum setelah digoda oleh Via. "Apa aku seburuk itu makanya kamu gak mengenaliku?"
Sekarang Via berputar mengelilingi Darren. "Bukan buruk, tapi...." Via melingkarkan kedua tangannya di leher Darren dan mereka bertatapan mesra. "Tapi aku gak rela wajah tampanmu ini diperlihatkan kesemua orang," lanjutnya.
"Ternyata Viaku sudah bisa belajar menggoda ato sedang cemburu?"
"Untuk hari ini, aku bukan ingin menggodamu tapi aku cemburu."
Darren merangkul pinggang ramping Via dengan kedua tangannya. "Kalo gitu, apakah malam ini kita bisa berdua aja di kamarku?" bisik Darren nakal.
"Kamu mau ngapain?"
"Mau melakukan hal yang tertunda," bisik Darren di telinga Via.
Via jadi sangat merona. Pipinya ngeblush seperti warna buah tomat.
__ADS_1