
"Gue udah cek nih toko sport yang lumayan lengkap dekat sini," kata Ferdy sambil menunjukkan lokasi toko lewat ponselnya.
"Kalo gitu kita langsung ke sana aja!" ajak Darren.
Di dalam mobil, Via sibuk berkutat dengan ponselnya.
πΊVia PovπΊ
^^^π¨'Lagi dimana?'^^^
Notifikasi chat dari Aldo yang baru masuk.
π©βπ¦°'Lagi liburan ke Semarang nih.'
^^^π¨'Ama siapa?'^^^
π©βπ¦°'Ama keluarga.'
^^^π¨'Kalo gitu aku nyusul ya? Kamu dimananya?'^^^
Gawat nih kalo nyusul. Aku bakal gak enak sama dia.
π©βπ¦°'Maaf, aku lagi di luar bareng Ferdy.'
^^^π¨'Oooo... kebetulan aku di Semarang juga nih. Bisa ketemuan sebentar?'^^^
π©βπ¦°'Oh ya?'
^^^π¨'Aku ada di Pasar Seni Padangrani sekarang lagi berburu souvenir buat bawa ke Jakarta nanti.'^^^
"Nngg... Fer, sekarang kita mau kemana?"
"Ke pasar Padangrani. Nih dah sampe. Kenapa?"
"Ooo... Ya uda kalo gitu."
π©βπ¦°'Aku juga kebetulan di tempat yang sama. Kamu di mananya? Biar aku yang samperin aja, karena Ferdy lagi cari barang juga.'
^^^π¨'Aku di warung kopi sebelah jualan lukisan ya. Cuma satu-satunya kok. Gampang carinya.'^^^
π©βπ¦°'Oke, tar aku nyusul kesana.'
Sesampainya di pasar Padangrani, aku mengikuti Darren dan Ferdy ke toko yang menjual sparepart skate board. Agar mereka tidak curiga, aku pura-pura melihat souvenir-souvenir jajakan para pedagang sambil bertanya tempat yang Aldo maksud. Hingga aku dapat info tempat tersebut dari salah satu pedagang. Karena Ferdy dan Darren sedang sibuk mencari sparepart skate boardnya, aku memberitahu mereka berdua kalau aku ingin ke tempat lain sebentar.
Di tempat yang sudah di tentukan oleh Aldo, aku langsung menemuinya yang tengah duduk di sebuah kursi kafe dengan secangkir minumannya.
"Hai, Via!" sapanya setelah melihat kedatanganku.
*Aldo
Aku menghampirinya dan mengambil tempat duduk di sebelahnya. "Udah lama?"
"Gak terlalu lama juga. Mau minum apa?" tawarnya.
"Mmm..." aku bingung dan masih mencari di buku menu. "Jus strawberry aja," jawabku setelah menemukan nama minuman yang tertera di buku menu.
__ADS_1
"Pak! Pak!" panggil Aldo kepada salah satu pegawai kafe tersebut. "Jus strawberry satu ya," pesannya setelah pegawai tersebut datang menghampiri.
"Baik, pak! Ada lagi tambahannya?"
"Ada lagi, Via?"
"Gak. Itu sudah cukup," jawabku.
"Itu saja, pak."
"Baik, saya buatkan dulu. Tunggu sebentar ya!" pamit si bapak tadi sambil membawa catatannya.
"Jadi kamu ke sini bareng sama Ferdy?"
"Ya.... sama Ferdy dan Darren juga," jawabku jujur.
"Ooo... Ada Darren juga?" tampaknya dia kaget ketika aku menyebut nama Darren.
"Ya. Kebetulan dia ikut kami liburan ke Semarang."
"Jewerly yang mamiku pesan sudah selesai?"
"Belum. Tapi sedang tahap di poles. Kalo sudah selesai, akan aku info ke kamu. Kamu sendiri kok bisa ke Semarang?"
"Aku lagi ada kerjaan kantor. Terus sekalian survey para pengrajin yang udah kerjasama denganku di daerah sini."
"Oooo..." jawabku sambil manggut-manggut.
Tiba-tiba Ferdy menggenggam tangan kananku. "Via, aku ingin kita bisa lebih dari sekedar teman. Apa boleh kalo kita pacaran saja?"
Aku tidak percaya dia bisa bicara seperti itu, padahal kami baru saja kenal tidak lama. Aku mencoba menarik tanganku, tapi lagi-lagi dia menarik tanganku yang lain dan di genggamnya dengan erat.
"Aku.."
"Bukankah kedua orangtua kita sudah sepakat menjodohkan kita? Bahkan mamiku sangat senang mendengar perjodohan kita. Dia selalu berharap aku bisa membawamu masuk menjadi anggota keluarga kami."
"Nnnggg.... Itu... Aldo, aku gak bisa," kataku sambil melepaskan tanganku dari genggamannya.
"Kenapa?"
Bapak yang tadi datang membawa minuman pesenanku. "Permisi, bu! Ini jusnya!" serahnya dan langsung pergi lagi.
"Aku sudah punya pacar."
"Kamu sudah punya pacar? Siapa?" tanyanya kaget dan penasaran.
"Darren," jawabku singkat.
Aku bisa melihatnya tampak kecewa dan salah satu tangannya yang dikepal sedang menghentak ke atas meja namun tidak menimbulkan suara kencang. Sepertinya dia tampak kesal setelah dia mengetahui orang yang namanya kusebut.
"Dia? Kenapa harus dia? Bukankah kamu bilang menganggapnya sebagai ade kamu?"
"Mmm.. Itu awalnya iya, tapi aku menyukainya begitu saja."
"Kamu kan tau dia masih muda. Dia pasti cuma mempermainkan kamu kedepannya."
"Mengenai itu, aku juga tidak bisa menggambarkannya. Tapi aku hanya bisa coba jalani saja dulu."
__ADS_1
Setelah beberapa detik perdebatan kami, kami terdiam sesaat. Masing-masing dari kami saling mencoba untuk tenang dulu.
"Oke! Baik! Tapi kita masih bisa jadi teman, kan?" harapnya.
"Tentu! Kita masih bisa jadi teman. Bukankah hubungan kita selama ini juga baik-baik saja?"
"Ya, kau benar! Hanya saja aku sudah didahului oleh pacar barumu itu," jawabnya sambil tersenyum datar dalam kekecewaannya.
"Maaf!"
"Kenapa harus minta maaf? Kamu kan gak buat salah? Lagian kita mau pacaran sama siapa juga itu kan hak kita. Ya, kan?" tanyanya yang ingin mendengar persetujuanku.
"Ya! Semoga kamu juga bisa menemukan orang yang tepat," harapku.
Dia hanya tersenyum saja. Kali ini aku tidak bisa baca apa makna dari senyumnya. Entah itu senyum ikhlas atau ada perasaan lainnya.
"Jadi mereka juga ada di sekitaran sini?" Aldo bertanya tentang keberadaan Ferdy dan Darren.
"Ya, mereka lagi hunting alat buat skate board."
"Kalo Darren tau kamu disini bersamaku, apa dia gak akan cemburu?"
Apa benar dia seperti itu? Masa hanya bertemu dengan Aldo bisa membuatnya cemburu?
"Dia gak mungkin seperti itu," terkaku.
"Apa kamu sudah mengenalnya lebih baik? Aku rasa, dia bukan tipe pemurah. Kamu harus benar-benar memahaminya. Apalagi seusianya masih sangat labil."
Aku minum sedikit jusku sambil mencerna omongan Aldo. "Terima kasih atas niat baikmu yang sudah memperingatiku. Tapi mengenai hubungan kami, biarlah kami yang hadapi. Maaf, aku harus segera kembali. Aku takut mereka akan sibuk mencariku, karena tadi aku hanya pamit untuk hunting souvenir," kataku yang sudah beranjak dari kursiku.
"Oke, Vi!"
"Makasih ya minumannya."
"Ya. Take care!"
"Oke. Bye..bye..!" seruku sambil melambaikan tangan padanya seraya berpamitan.
Aku keluar dari kafe tersebut dan melewati sebuah toko kelontong yang menjual aneka makanan dan minuman. Yang membuatku terkejut, di sana ada Darren yang sedang melihat-lihat isi toko tersebut sambil memakai headphone wirelessnya. Dia sedang memilih beberapa snack.
"Darren!" panggilku sambil mencolek lengan tangannya.
Dia menoleh ke arahku sambil melepaskan headset yang dipakainya tadi dan digantung di area lehernya.
*Darren
"Hai, Vi!" balasnya sambil tersenyum.
"Kamu lagi cari apa?"
"Belanja dikit buat stock di villa. Kadang mulut suka gak tahan kalo gak ngemil."
"Uda belanja sparepartnya?"
"Uda kok. Uda taro di mobil juga. Tadi kamu kemana?"
__ADS_1
"Ooo... Aku tadi ketemu temen."
"Cowok apa cewek?" tanyanya sambil sibuk melihat snack yang lainnya.