
Sesampainya di basement, kami masing-masing mengendarai mobil kami ke tempat tujuan kami masing-masing. Aku senang melihat perhatian Via yang hanya melambaikan tangannya dari dalam mobil. Itu cukup menambah energiku hari ini.
Tiba di kantor
Aku segera masuk ke ruang rapat yang sudah di tunggu beberapa orang untuk meeting pagi ini. Pak Eko sudah membantuku mencatat poin-poin penting yang sempat mereka bahas sebelumnya.
"Selamat pagi semua! Maaf, saya telat!" kataku sambil mengambil posisi tempat dudukku. "Pak Eko, sudah bahas sampai mana?" tanyaku yang sudah melihat coretan-coretan di atas bindernya.
"Ini, den! Masalah pembagian kayu yang akan di sortir," jawabnya sambil menunjuk ke bagian akhir catatannya.
"Oooo.. Oke! Jadi bagaimana kelanjutannya?" tanyaku yang ingin mendengar pendapat mereka masing-masing.
Jadi begitulah sekilas kesibukkanku di kantor. Semua jadwal meeting yang harusnya minggu depan, telah di majukan lebih awal oleh Pak Eko sesuai permintaanku, karena aku mau berlibur bersama Ferdy dan Via ke Semarang untuk melepaskan sejenak rasa penat. Aku harus bisa dapat izin daddy nanti malam.
Pukul 16.00
Waktunya berangkat ke rumah ortu untuk jemput daddy. Sebelumnya aku sudah ganti jasku dengan jaket cardigan putih yang sudah di siapkan oleh Pak Jil, karena aku ada ruangan khusus yang sengaja disediakan untuk keluargaku beristirahat. Jadi di ruangan itu, kami kadang menginap kalau gak mau pulang karena kecapekan lembur di kantor.
🌺Author Pov🌺
Darren tiba di rumah ortunya. Sudah hampir tiga bulanan dia tidak pulang ke rumah ortunya, karena sibuk dengan urusan kantor serta kejar skripsinya. Sang mami sudah menunggu di pintu dengan wajah penuh kerinduan pada putra semata wayangnya itu. Darren menghampiri maminya dengan senyum manisnya dan langsung memeluk maminya untuk melepas rindu.
"Pangeranku, kenapa baru sekarang kamu datang? Liat nih mami sampe penuh keriput gini gara-gara tungguin kamu pulang ke rumah," kata maminya yang menunjukkan keriput di wajahnya sambil menepuk-nepuk pelan punggung Darren.
Darren melepaskan pelukkannya. Dia menggenggam kedua tangan maminya sambil menatap sendu wajah maminya yang ternyata memang sudah makin banyak kerutan di sekitaran mata serta pipinya. Mungkin karena maminya terlalu banyak pikir dan khawatir dengan Darren.
"Mami tetap wanita paling cantik di hati Darren," puji Darren yang membuat maminya terharu dan mereka berpelukkan kembali.
"Ayo, masuk! Kamu kapan akan kembali tidur di sini? Kamarmu setiap hari sudah di bersihkan. Mami kangen pengen denger keluh kesahmu. Apa kamu sekarang sudah punya pacar?" Mereka bicara sembari jalan hingga ke ruang tengah.
"Belum sih, mi. Tapi aku lagi deket sama cewek yang aku taksir," jawabnya sambil duduk bersandar pada sofa empuk di ruang tengah.
__ADS_1
Maminya dengan wajah penasaran juga ikutan nimbrung dengan sejuta pertanyaan. "Oh ya? Apakah mami kenal?"
"Gak lah. Gak mungkin mami kenal. Pokoknya dia tipe aku banget. Pasti mami dan daddy bakal suka juga ama dia," ucap Darren yakin sambil duduk bersila.
"Kapan-kapan ajak dia ke rumah ya! Mami mau kenalan," pinta maminya.
"Ya, kalo kita dah jadian, aku pasti bawa dia ketemuan ama mami dan daddy."
"Kalian lagi bahas apa?" tanya daddynya yang baru datang dengan pakaian formalnya.
Walaupun usia daddynya sudah 65 tahun, dia tetap terlihat gagah layaknya usia 40 tahunan.
"Widihhhh.... udah ganteng nih bos kita!" ledek Darren saat lihat penampilan daddynya.
"Tentu dong! Daddynya siapa dulu," kata daddynya yang tidak mau kalah narsis.
"Hahahahaha...." suara tawa canda mereka mewarnai ruang tengah keluarga.
"Mami gak ikut ah. Mami gak enak badan. Mau suruh mbok Sri pijitin bentar lagi. Kalian pergi berdua aja. Jangan ngebut-ngebut ya, Der!" pesan maminya.
"Iya, mi. Kalo bawa daddy, mana mungkin aku ngebut."
"Berangkat sekarang yuk, Der!" ajak daddynya setelah melihat jam tangannya yang sudah pukul 16.45.
"Malam ini kamu inap ya, sayang!" pinta maminya pada Darren.
"Iya. Malam ini aku akan inap sini. Pergi dulu ya, mi," katanya sambil mencium pipi kanan dan kiri maminya sebelum akhirnya dia pergi dengan daddynya.
*****
Tiba di rumah om Tio
__ADS_1
Darren sudah memarkirkan mobilnya di basement ruang bawah tanah rumah om Tio. Rumah bak sultan ini sudah dipenuhi dengan banyaknya mobil para tamu undangan yang datang ikut memeriahkan pestanya. Darren dan daddynya di bimbing oleh salah satu pegawai om Tio menuju lift yang langsung sampai di ruangan hallroom bak ballroom hotel di dalam rumahnya. Dengan hiasan hallroom bertema emas sesuai dengan wedding annyversary mereka yang ke-50, kesan elegan khas sultannya benar-benar terasa.
Tidak sedikit juga para tamu undangan yang datang. Mereka saling berbincang satu sama lain. Kalau dilihat dari pakaian dan style mereka, tentunya dari kalangan kelas atas semua. Darren dan daddynya jalan berdampingan masuk ke hallroomnya untuk mencari keberadaan om Tio.
"Hai, Anton!" sapa om Tio yang sudah melihat daddynya Darren dari jauh. Beliau menghampiri mereka dengan menggandeng istri tercintanya yang masih tampak cantik di usia senjanya. "Sudah lama kita gak ketemu. Kamu makin keren aja!" puji om Tio setelah melihat penampilan daddynya Darren.
"Hahaha... Kamu juga demikian. Kalian berdua juga tampak sehat dan harmonis," puji balik dari daddynya Darren.
"Mana princessmu? Kenapa dia tidak datang bersamamu?" tanya om Tio yang mengundang canda di antara mereka.
"Dia sedang kurang enak badan. Jadi saya bawa anak saya ke sini nemenin saya," jawab daddynya sambil mengarahkan tangan kanannya ke arah Darren seraya ingin memperkenalkan Darren pada mereka. "Darren, ini om Tio dan istrinya."
"Oooo... ini si bocah nakal yang suka nangisin putriku itu ya?" tanya om Tio seraya mengingat kejadian lampau saat anak-anak mereka masih kecil dengan kejahilan mereka.
"Hahaha... Iya! Ini dia si Darren yang dulu suka isengin putri bungsumu," jawab daddynya mengiyakan.
Darren maju selangkah lebih depan untuk menyalami tangan om Tio dan istrinya.
"Ganteng ya sekarang!" puji om Tio yang membuat Darren senyum-senyum sendiri. "Mirip siapa ya, yang?" tanyanya ke istrinya seraya meminta pendapat.
*Darren
"Mirip papinya ini mah. Cetakkannya banget. Pasti banyak yang naksir," jawab istrinya ikutan bercanda.
"Mirip papinya sih pasti banyak mantan yang patah hati. Ya gak, Der?" tanya om Tio sambil merangkul pundak Darren yang terlihat akrab. "Kamu masih ingat gak sama anak bungsu om yang cengeng itu?"
Darren hanya senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena pertemuan mereka dulu sangat singkat dan saat itu Darren baru berusia lima tahunan.
"Malu-malu gitu toh?" ledek istrinya ke Darren.
__ADS_1
"Mau gak om dan tante jodohin ama anak bungsu kami? Sekarang dia juga makin cantik lo. Siapa tau kalian berjodoh. Jadi kita bisa besanan," kata om Tio yang berterus terang.