
"Bagaimana kalo kita segera mulai sekarang?" tanya Aldo yang terlihat buru-buru.
"Oke! Silahkan duduk!" kataku sambil mempersilahkan mereka duduk ditempatnya masing-masing.
"Jadi... Aku sudah putuskan kalo bisnis kita akan aku serahkan ke adik sepupuku," jelas Aldo.
"Maaf kalo saya agak cerewet, bukannya ini bisnis keluarga pak Aldo? Kenapa dioper ke adik sepupu? Apa gak sayang?"
"Dia hanya membantu saya saja sementara, tapi tetap saya kontrol. Saya mau coba terjun ke bisnis keluarga dia," kata Aldo sambil melihat ke arah Wanda.
"Ooo.. baiklah kalau begitu. Nanti surat kontraknya akan saya ganti dengan nama adik sepupu pak Aldo."
Lalu kami masih membahas tata cara pengiriman yang sedikit beda dari sebelumnya, karena sistem kerja pabrik mereka telah di ubah. Aku hanya bisa menghargai keputusannya.
Tidak lama dari pokok pembahasan kami, rapat pun telah selesai. Aldo dan calon istrinya segera pergi meninggalkan ruang rapat. Aku segera menyuruh pak Eko memperbaiki kontrak kerjanya karena nama yang bersangkutan berbeda. Sedangkan aku melanjutkan rapat bersama beberapa rekan kerja dari perusahaan lain.
Jam 11.00
^^^π©βπ¦°'Makasih ya sarapannya.'^^^
π¦'Iya, sama-sama. Mau cari dimana coba suami kek aku?'
^^^π©βπ¦°'Hehehe... Aku hari ini gak kemana-mana.'^^^
π¦'Bagus deh. Siapin stamina aja buat nanti pas aku pulang.'
^^^π©βπ¦°'Kamu mau dibawain makan siang gak?'^^^
π¦'Gak usah. Aku makan di kantor aja.'
^^^π©βπ¦°'Oke deh! Aku masak buat sore aja ya.'^^^
π¦'Lah... Siang, kamu makan apa?'
^^^π©βπ¦°'Nasi goreng. Tar aku mau beli bahan makanan di swalayan terdekat, soalnya stok sayur udah abis.'^^^
π¦'Kalo gitu, kamu atur aja. Tapi ati-ati tar bawa mobilnya.'
^^^π©βπ¦°'Iya. Aku udahan dulu ya. Selamat kerja, suamikuπ'^^^
Begitulah percakapan singkat dari chat aku dan Via. Ternyata setelah nikah itu enak. Segala sesuatu sudah ada yang bantu siapin di rumah. Pulang ke rumah juga udah gak sendirian. Tiap malam ada yang bisa dipeluk, jadi hilang mimpi buruk. Belum lagi kalau makan juga ada temennya. Tujuan hidupku lebih berarti. Gak cuma kerja, kerja, dan kerja. Terima kasih Tuhan atas anugerahMu.
*****
__ADS_1
Selang beberapa hari kemudian, aku mendapatkan undangan acara pertunangan Aldo dengan calon istrinya yang bernama Wanda.
"Via, Aldo mau tunangan malam ini. Dia ada undang kamu?"
"Ada. Dia menyuruhku datang bersama kamu. Tapi... aku gak bisa, karena aku masih sibuk dengan pesanan customer aku. Maaf ya, keknya kamu mesti pergi sendiri."
"Ya, udah. Kalo aku sih udah pasti pergi untuk menghargai dia karena dia salah satu rekan bisnisku."
"Aku titip salam aja buat dia dan tunangannya. Bilang ke mereka, semoga berbahagia dan lancar sampai tujuannya."
"Tar aku sampein. Tapi harus pake imbalan yang seimbang dong. Aku dah beberapa hari ini peluk guling terus dan aku pengen berduaan ama kamu," kataku sambil menggodanya.
Via masih sibuk di depan laptopnya dan sesekali memperhatikanku. "Ayolah, beri aku waktu! Aku agak capek beberapa hari ini. Belon lagi harus dikejar pesanan orang," keluhnya sambil memohon.
Aku memasang wajah kecewa. Lagi-lagi harus menahan nafsuku yang sudah membara dan harus mengalah dengannya.
"Maaf ya!" katanya lagi dengan wajah memelasnya.
"Iya.. iya... aku maafin. Tapi jangan lama-lama biarin aku kesepian gini," kataku dengan nada kesal.
"Oke, suamiku yang ganteng," jawabnya seraya memberi hormat padaku seperti waktu upacara bendera setiap hari Senin pagi. "Kamu mau pake baju apa malam ini? Aku akan siapin buat kamu."
"Aku ambil sendiri aja. Belum tau mau pake yang mana."
"Apanya yang baikkan?" tanyaku heran dan masih kesal.
"Kamu kesel kan ama aku?"
'Kok dia tau?'
"Gak," jawabku singkat.
"Boong! Udah bisa ditebak dari raut wajah kamu."
Aku hanya bisa mengangguk pelan dan memelas. Tahu kan rasanya di acuhin beberapa hari sama istri sendiri?
WARNING 18+
Akhirnya Via mencium bibirku dengan lembut. Dari ciumannya yang pelan, lama kelamaan jadi ciuman yang hot seperti memancing birahiku. Dia merangkul jenjang leherku dengan kuat saat kami berciuman. Aku yang sudah mulai terpancing, aku gak peduli dengan rasa capeknya dia. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam sela bajunya dan membuka pengait br*nya. Aku memainkan dua bukit kembarnya hingga ia gak bisa menolakku lagi.
'Aku harus menundukkanmu, Vi. Aku gak akan memberimu ampun.'
Akhirnya ia menyerah juga untuk kugagahi. Disamping itu, hari ini dia tampak inisiatif dengan posisi di atas lebih lama. Sungguh membuat diriku makin gak tahan dibuatnya.
__ADS_1
"Viaaaaa....!" seruku dengan suara parauku sambil menahan gejolakku yang gak karuan.
"Mmmm...." lirihnya sambil terus bergoyang di atas juniorku yang tegang.
Aku memimpinnya untuk lebih mempercepat goyangnya, karena dia sudah terlihat capek. Dengan nafas kami yang gak beraturan, akhirnya kami mencapai puncak kepuasan kami. Kami berpelukkan setelahnya walaupun hanya kisaran lima belas menit.
Di pesta pertunangan Aldo
Aku sudah sampai di gedung hotel tempat digelarnya acara pertunangan Aldo dan Wanda. Tampak Aldo yang sangat tampan hari ini terlihat cerah dan bersinar dari wajahnya.
"Selamat ya, bro!" kataku sambil menyalaminya.
Aku tidak melihat Wanda. Dari awal kedatanganku, aku hanya melihat Aldo yang sibuk menyalami para tamu undangan sendirian.
"Thanks ya! Via gak ikut?"
"Dia sibuk. Jadi dia di rumah. Oh ya, dia titip salam buat kalian. Katanya, semoga kalian bahagia dan dilancarkan sampe tujuannya."
"Kalo gitu, ucapin makasih buat doanya. Doa terbaik buat kalian juga agar tetap langgeng," balasnya sambil menepuk pelan pundakku. "Kamu nikmatin dulu ya hidangannya, aku mau nyambut tamu yang lain!" suruhnya yang terlihat sibuk sekali.
"Oke, bro!"
Aku pergi ke toilet sebentar. Belum juga sampai di toilet, aku melihat Wanda sedang asyik berbincang dengan pria lain. Aku tidak tahu siapa pria itu, karena dia membelakangiku. Aku memberhentikan langkahku dan segera merekam percakapan mereka dengan ponselku, karena sikap mereka berdua tampak mencurigakan.
"Kenapa kamu bisa tunangan sama dia?" protes sih cowok.
"Kamu sabar dulu lah! Aku kan butuh waktu untuk menguras seluruh hartanya. Ini baru langkah awal," kata Wanda sambil mengelus pipi sih cowok dengan manja.
"Kamu bukannya janji akan menikah denganku?" tanya sih cowok sambil menepiskan tangan Wanda.
"Aku terpaksa, karena usaha papaku lagi jatoh. Aku juga gak mau. Tapi... dia itu bisa bantu bangunin usaha papaku lagi. Setelah semuanya normal dan aku bisa menguasai hartanya, maka aku akan meninggalkan dia dan kemudian kita akan menikah," jelas Wanda yang ternyata punya niat gak baik dengan Aldo.
"Kamu yakin gak jatuh cinta sama dia?" tanya sih cowok yang terlihat cemburu.
Wanda mengecup bibir sih cowok. "Gak, sayang. Cuma kamu yang bisa membuatku tergila-gila," jawabnya dengan tatapan menggoda.
"Aku ingin bersenang-senang denganmu sebentar," kata sih cowok yang sudah menarik pinggul Wanda seperti petanda ingin mengajaknya bercinta.
"Jangan hari ini, sayang! Aku udah terlalu lama denganmu, nanti dia akan cari aku karena aku hanya izin ke toilet sebentar."
Dengan kesalnya sih cowok melepaskan rangkulannya dan membenarkan posisi dasinya yang sebenarnya masih rapi. Tanpa berkata-kata lagi, sih cowok meninggalkan Wanda sendiri.
"Farel, jangan marah dong!" pintanya sambil menghentak-hentakkan kakinya seperti sedang kesal sendiri.
__ADS_1