Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 18


__ADS_3

Karena sudah menghabiskan enam kaleng bir, kepalaku jadi pusing. Apa aku inap sini aja kali ya? Mau pulang dalam kondisi seperti ini juga gak bisa.


"Kenapa, bro?" tanya Ferdy yang sudah melihat gelagatku. "Mabuk lu?"


"Iya nih, bro! Gue boleh gak inap sini malam ini?"


"Ya, bolehlah. Lu tidur di kamar gue aja."


"Oke, thanks ya bro."


"Udah... lu istirahat aja dulu di kamar gue. Gue mau beresin ini dulu bentar," katanya sambil membereskan sisa-sisa piring kotor yang telah di pakai.


"Gapapa nih gue tinggal lu ama Via berdua?" tanyaku yang merasa gak enak hati karena gak bantuin mereka buat berberes.


"Udah sana! Istirahat aja. Pala lu juga pusing kan?" Ferdy mendorong punggungku dari belakang hingga menuju ke depan kamar tidurnya. "Tuh kamar mandi gue. Trus kalau lu mau pake baju gue, ambil aja di lemari. Cari yang muat ama badan lu. Gue tinggal dulu ya bro! Oh ya, handuk baru juga di lemari ya. Pake aja!" lanjutnya sambil menunjuk-nunjuk memberitahu.


"Oke, bro. Gue istirahat dulu."


Akhirnya aku membuka lemari pakaiannya sambil mengambil sebuah handuk dan baju santainya. Segera ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan kepalaku di bawah pancuran air hangat dari shower.


Beberapa saat kemudian...


Kepalaku tidak begitu pusing lagi. Ku hempaskan tubuhku di atas tempat tidur Ferdy yang nyaman. AC kamarnya juga terasa sejuk karena tidak terlalu dingin suhunya. Memejamkan mata sejenak mencoba untuk tidur, tapi gagal. Aku memutuskan untuk keluar melihat mereka berdua.


Ferdy yang tidak kelihatan batang hidungnya meninggalkan Via yang tengah sibuk mencuci semua perabotan kotor di wastafel. Aku menghampirinya agar ia tidak kaget.


Dia mengetahui bunyi jejak langkahku. "Kamu belum tidur? Bukankah kepalamu pusing?" tanyanya sambil membilas sebuah piring di atas pancuran air keran.


"Aku belum bisa tidur. Aneh! Padahal sebelumnya emang kepala ini sangat pusing."


Via masih tampak sibuk ingin menaruh sebuah piring yang sudah di lapnya ke lemari dapur, tapi posisinya lebih tinggi darinya. Dia berusaha jingjit tapi tetap saja tidak sampai. Usahanya hanya berhasil saat membuka pintu lemari dapurnya saja. Aku pun tertawa kecil tanpa sepengetahuannya karena tingkahnya yang lucu.


Karena dia tidak putus semangat dan masih terus jingjit agar piringnya sampai ke rak piring dalam lemari itu, aku memutuskan untuk membantunya. Aku berdiri di belakangnya dan mengambil piring yang tengah di pegangnya tadi lalu membantunya menaruh di atas tumpukan piring kering lainnya yang sudah tersusun rapi sebelumnya. Dengan posisi intim kami seperti ini, dia terlihat kaget dan tidak berani bergerak. Aku juga diam seperti patung dengan jantung yang berdebar kencang. Aku harap, degupan jantungku tidak terdengar olehnya.


"Te... terima kasih," ucapnya dengan nada canggung.


"Aa..." Aku tersadar dan langsung mundur dua langkah ke belakang. "I... iya.." jawabku canggung juga.

__ADS_1


Dia masih meneruskan sisa pencucian piring kotornya. "Bisa gak bantu aku lap piring-piring ini?" tanyanya sambil menunjuk ke tumpukan kecil piring-piring yang telah di cucinya tadi.


"Bisa! Bisa! Aku akan bantu kamu lap," jawabku cepat sambil meraih lap kering yang telah dipakai Via tadi.



*Darren


"Aku tidak melihat Ferdy."


"Dia sedang buang sampah di bawah. Sudah dari tadi tapi anak itu belum kembali juga."


"Besok weekend, kamu ada acara?"


"Mmmm.... gak ada. Kenapa?"


Via sudah berberes semua, tinggal kerjaanku saja yang sisa tiga piring lagi selesai ku lap.


"Aku mau ajak kamu jalan."


"Kamu suka kemana? Biar aku yang mengantarmu."


Wajahnya kebingungan. Setelah berpikir beberapa detik, dia hanya mengangkat kedua bahunya keatas seolah-olah dia sendiri tidak tau tempat tujuan yang di tuju.


"Ke mall, kita nonton di bioskop. Gimana?"


"Boleh juga. Ide bagus!" jawabnya sambil tersenyum.


Terdengar suara orang yang sedang membuka pintu dan tidak lain adalah Ferdy. Dengan gaya jalan yang lelah, ia menuju ke wastafel untuk cuci tangan.


"Lama amat, Fer?" tanya Via.


"Ketemu Pak Hadi tadi pas-pasan sama-sama mau buang sampah. Jadi kita ngobrol bentar."


"Ngobrol apaan?" interogasi Via.


"Dia cuma cerita kalau anak-anaknya jarang pulang nengokin dia. Dia rindu berat katanya."

__ADS_1


"Kok bisa sih anak-anaknya jarang pulang? Kita malah kebalikannya."


"Mereka sibuk dengan pekerjaan dan rumah tangga mereka masing-masing," jawab Ferdy ke sekian kalinya sambil mengeringkan tangannya di sebuah lap kering. "Bro, kok lu ada di sini?"


"Tadi blon bisa tidur trus kepala juga udah gak sakit lagi, jadi gue bantuin Via di dapur."


"Ooo..."


"Besok Darren ngajak kita nonton ke bioskop, kamu ikut ya!" kata Via


"Besok? Gak bisa," nolak Ferdy dengan cepat sambil perlahan menuju ke kamarnya. "Besok aku mau selesaikan tugas dari dosen. Kalian pergi berdua aja. Oh ya bro, kalo bisa sih naik motor gue aja. Soalnya tuh motor udah lama gak di pake. Gue istirahat dulu ya," ucapnya sambil masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan rapat.


Via memandangku dan aku juga bingung apa arti dari pandangannya itu.


"Apa ada yang salah?" tanyaku yang gak peka.


"Kamu setuju dengan saran dia agar kita naik motornya besok?"


"Kalo kamunya mau, aku sih gak masalah. Lagian baru pertama kali ini aku bonceng cewek naik motor," jawabku sedikit malu bercampur gugup.



*Darren


"Masa sih?" tanya Via dengan wajah gak percaya gitu.


"Hahaha.... beneran."


"Ya uda deh. Besok kita naik motor aja. Udah lama juga aku gak naik motor itu. Kita istirahat yuk sekarang. Aku udah terlalu lelah dan belum mandi juga. Nite ya, Der," katanya sambil berpamitan.


"Ya, Vi. Nite juga," jawabku yang juga menyusulnya istirahat ke kamar Ferdy.


*****


🌺Author Pov🌺


Darren yang sudah bangun dari jam tujuh pagi, ia bergegas melihat motor kesayangan Ferdy. Memastikan segalanya agar tidak ada masalah pas di bawa olehnya nanti. Sedangkan Ferdy dan Via tampak belum bangun dari tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2