Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 54


__ADS_3

Begitu banyaknya hasil foto karya desain jewerly Via, membuat maminya Darren bingung untuk memilihnya. Maminya Darren lebih dominan dengan pearl (mutiara asli).


"Tante banyak koleksi kalung pearl dan warnanya cantik-cantik. Tante pengen modifin gitu agar lebih menarik dan terlihat modern. Kira-kira nak Via bisa gak bantu tante?"


"Bisa kok, tan. Nanti tante serahin ke saya aja. Saya akan buat desainnya dulu, baru tante pilih suka desain yang mana. Jadi tar saya modif sesuai permintaan tante."


"Aduhhhh... Beruntung banget ketemu ama kamu yang smart gini. Jadi tante bisa hemat dong, gak usah beli-beli lagi dengan model yang gitu-gitu aja di pasaran."


Perbincangan masalah jewerly membuat maminya Darren exited banget. Jadilah topik pembicaraan yang menyenangkan diantara kedua perempuan ini dan meninggalkan Darren dengan kesendiriannya yang sibuk main game.



*Darren


Beberapa menit kemudian


Salah satu asisten rumah tangga laki-laki datang dengan membawa lima kantong shopping bag yang ditentengnya.


"Nyonya (panggilan kepada maminya Darren), ini pesenan nyonya sudah saya ambil. Mau taruh dimana, nyonya?"


"Sini!" suruh maminya sambil mengambil kantong-kantong tersebut. "Terima kasih ya, Boy."


"Sama-sama, nyonya. Saya permisi dulu," kata si asisten tersebut sambil pamit.


"Via, ini semua buat kamu pake. Ambil!" seru maminya sambil menyodorkan semua shopping bag itu pada Via.


"Ini apa, tante?" tanya Via yang bingung setelah menerimanya.


"Itu piyama dan ada dalaman juga. Lalu tante beliin kamu dress buat besok nemenin tante ke kondangan nikahan anak sepupu tante besok."


"Oooo... Kita berdua aja, tan?"


"Sama Darren dan om juga kok," jawab maminya sambil senyum-senyum.


"Kebetulan hari ini ada kamu, jadi besok tante pengen kenalin kamu ke sanak saudara tante disana."


"Baik, tan!" jawab Via sambil tersenyum datar.


Bagi Via, bukan masalah tidak senang dikenalkan dengan keluarga besar Darren. Hanya saja ini serba dadakkan dan dia sendiri merasa tidak enak hati sampai maminya Darren menyiapkan sebuah dress untuk dikenakannya besok.


"Kamu istirahat dulu ya! Mandi yang bersih dan pake piyama yang tante beli. Tante juga mau istirahat."

__ADS_1


"Makasih ya, tan."


"Sama-sama, nak. Selamat malam ya!"


Via dianter oleh salah satu asisten rumah tangganya ke sebuah kamar luas. Via segera masuk ke dalam dan meletakkan semua shopping bagnya di atas meja. Lalu ia segera mencari keberadaan kamar mandi. Ia melepaskan semua pakaiannya dan hanya membawa sebuah handuk untuk dikenakannya nanti. Via mengisi air baknya dengan air hangat serta dicampur dengan essential bath yang sudah tersedia.


Dia meregangkan semua otot-otot syarafnya yang seharian sempat tegang di dalam air hangat bath-upnya. Menghirup aroma essential bath sambil membilas seluruh badannya dengan sebuah handuk kecil.


Selesai mandi, ia mengenakan handuk yang hanya menutupi dari bagian dada hingga setengah pahanya dan kondisi rambut yang masih setengah basah, ia keluar sambil mencari piyama yang telah disiapkannya diatas ranjang.


'Krekk!' suara pintu kamar terbuka.


Darren masuk ke dalam kamar yang tengah dipakai oleh Via.


"Aaaaaa....." teriak Via karena kaget setelah melihat Darren yang tiba-tiba sudah berada didalam kamar.


Darren yang ikutan terkejut hanya bengong menatap Via yang masih mengenakan handuk dengan rambut setengah basah. Air liurnya hampir menetes, tapi ia langsung tersadar.


"Maaf! Aku tidak tau kalo kamu ada disini. Aku keluar dulu," katanya sambil keluar dan menutup pintunya kembali.


Via segera mengunci pintu kamarnya dengan slot pengunci. Ia segera mengenakan piyamanya. Setelah berpakaian, ia menyolokkan kabel hairdryer yang ada di atas meja rias.


'Tok..tok..tok..' suara ketukkan pintu kamar.


"Kamu ngapain kesini?"


Darren menghiraukan pertanyaannya dan masuk begitu saja ke dalam kamar. Ia pun menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang empuk.


"Der, aku tanya tadi, kamu ngapain kesini?" tanyanya ulang.


"Ini kan kamar aku," jawab Darren sambil berpose santai dan kepalanya berpangku pada tangan kirinya.


"Ini kamar kamu?" tanya Via dengan wajah tidak yakin.


Via yang awalnya tidak percaya, ia langsung memperhatikan sekeliling ruangan dan baru sadar ada foto Darren di kamar ini. Karena pas awal masuk, ia hanya konsentrasi dengan dirinya yang ingin segera mandi.


"Ya! Kamu salah masuk kamar?" tanya Darren.


"Tadi asisten mami kamu yang anter aku kesini. Jadi aku ikut aja. Aku beneran gak tau kalo ini kamar kamu," jawab Via polos.


"Ya, udah. Kalo gitu, kita tidur barengan aja!" ajaknya sambil senyum jahil.

__ADS_1


"Hahaha...." suara tawa menyebalkan Via. "Kita belon nikah. Aku tidur di kamar lain aja."


Via yang sudah melangkah menuju pintu, langsung ditahan oleh Darren. Darren menarik pergelangan tangan kanannya dan mengajaknya kembali.


"Kamu jangan macem-macem ya!" ancam Via.


"Aku?" tanya Darren dengan wajah tak percaya kalo Via berpikir dirinya akan melakukan hal yang bukan-bukan pada Via.


"Ya! Kamu itu kan suka tiba-tiba nyosor. Walaupun ini kamar kamu, tapi kamu jangan..." kata Via yang belum selesai.


Darren menduduki Via pada sebuah kursi kecil didepan meja rias. "Jangan bawel dan diam!" selanya dan Via malah menurut padanya.


Darren menyalakan tombol power hairdryernya. Lalu mencocokkan suhu panas untuk membantu Via mengeringkan rambutnya. Dengan jemari-jemari tangan Darren, rambut Via yang tadinya setengah basah jadi mudah ditata dan hampir kering. Via mencuri pandang di kaca riasnya. Ia memandang ke wajah Darren yang tampan sambil senyum-senyum sendiri.


"Kenapa?" tanya Darren yang sadar sedang dijadikan pusat perhatian.


"Gakpapa."


"Rambutmu sudah kering," kata Darren yang sudah mematikan tombol powernya.


"Kalo gitu, tolong anterin aku ke kamar tamu sekarang!" pinta Via sambil menatap Darren pada layar kaca rias didepannya.


"Kenapa gak tidur disini aja? Aku janji kok gak akan macem-macem."


"Aku takut nanti orangtuamu akan berpikir kalo aku cewek gampangan. Maaf, aku bukan cewek kek gitu."


"Ya deh. Aku hanya mengujimu saja. Ayo, aku akan anterin kamu ke kamar tamu!"


Mereka keluar dari kamar itu dan jalan menuju kamar tamu yang letaknya bersebelahan. Darren membukakan pintu untuk Via. Via pun masuk tanpa ragu-ragu dan sudah duduk di tepi ranjang.


"Nite, Vi. Mimpiin aku ya!" seru Darren yang masih berdiri di depan pintu.


"Nite too. Bye!!" sahut Via sambil melambaikan tangannya.


Darren bukannya pergi, ia malah ikutan masuk kedalam dan menutup pintunya.


"Hei... Kamu bukannya..."


Darren membungkam mulut Via dengan ciumannya. Ia dengan rakusnya m*lum*t bibir Via. Dengan tekanan dari kekuatan Darren, tubuh Via jatuh ke ranjang. Tangan kanan Darren memegang tengkuk leher Via agar ia dapat merasakan ciuman Via tanpa perlawanan, karena Via sempat mengelak.


Lima menit kemudian, mereka berhenti. Mengatur nafas masing-masing dan Darren tersenyum smirk karena wajah Via merona.

__ADS_1


"Nite, Vi!" Darren mengecup kening Via dan segera kembali ke kamarnya meninggalkan Via yang masih terlentang di atas ranjangnya.


__ADS_2