
Weekend tiba
Persiapan ke Semarang sudah aku prepare dengan baik. Tidak sabar rasanya mau liburan bareng dengan Via.
^^^๐ฆ"Kami tunggu di cafetaria Bang Kopi besok jam 10.00 pagi."^^^
Aku pergi dengan taksi online yang sudah kupesan setelah membaca pesan singkat dari Ferdy semalam. Ferdy bilang padaku kalau Via tidak tau dengan keikutsertaanku ke Semarang bareng mereka. Ini pasti bisa jadi kejutan buat Via.
Tiba di Cafetaria Bang Kopi
Setelah membayar taksi, aku sudah menemukan Ferdy yang sedang jalan berduaan dengan Via dan baru saja masuk ke dalam cafetaria itu.
*Ferdy dan Via
Aku masih menguntit mereka diam-diam. Posisiku saat ini tidak jauh dari keberadaan mereka dan tubuhku berada di balik vas dengan dahan yang entah apa nama tumbuhannya tapi lumayan tinggi sehingga bisa menutup sedikit tubuhku. Mereka berdua duduk sambil menikmati minumannya masing-masing. Ferdy menyadari kedatanganku. Ia melambaikan tangannya menyuruhku untuk segera menghampiri mereka. Via juga ikutan menoleh ke arahku.
Aku berjalan melangkah ke tempat mereka duduk dan aku mengambil kursi dudukku juga. "Hai!" sapaku ke mereka.
"Kamu kok ada di sini?" tanya Via merasa dengan wajah shocknya.
Aku dan Ferdy saling bertatapan sebentar, kemudian aku menoleh ke Via. "Aku juga ingin ikut kalian ke Semarang," jawabku dengan wajah polos.
"Tapi... Bukannya kamu mesti kerja?"
"Aku sudah izin ke daddy kok selama seminggu."
"Fer, kok kamu gak ngomong kalo dia bakal ikutan?"
Aku menatap Ferdy lagi yang sudah kelihatan canggung dan seperti merasa bersalah karena telah menyembunyikannya dari Via.
"Nnggg... Itu... karena baru semalam dia bilang mau ikutan, pas kamu dah tidur juga," jawab Ferdy beralasan, padahal emang ini sudah rencanaku yang diketahui olehnya sejak dini.
"Oooo... Pantes aja dia datang tiba-tiba," kata Via yang percaya dengan perkataan Ferdy tadi.
"Jadi.... Aku boleh ikutan, gak?" tanyaku ke Via dengan wajah pura-pura sedih.
__ADS_1
Dia menatap Ferdy lalu menatapku. "Ya udah. Tapi kali ini kita inap di vila adikku, karena gak mungkin lah aku bawa kamu ke rumahnya."
"Kenapa emangnya?"
"Ya... Gakpapa. Cuma gak mau malah jadi gosip aja."
"Gosip? Emang mereka bakal gosip apaan?"
"Via takut tar ortu mikir dia bawa pacar. Bener kan, Vi?" timpal Ferdy menerka yang ada di pikiran Via.
"Ya, gitu deh. Soalnya tau sendiri kan ortu kita tuh ngebet pengen ngawinin aku," kata Via sambil menunduk.
"Dianggap pacar juga gakpapa kali. Di kawinin ama kamu juga gakpapa," kataku sambil tersenyum.
*Darren
Ferdy yang mendengarnya juga ikut tersenyum diam-diam tapi Via malah terlihat shock dengan ucapanku.
'Plakkk!!!' Via memukul lenganku dengan sekuat tenaga.
"Jangan bercanda ya! Gak lucu," ucapnya kesal.
"Kita berangkat sekarang?" tanyaku yang menghindari Via agar tidak makin ngamuk.
"Ya, sekarang aja! Tar kita gantian nyupir ya," kata Ferdy.
"Oke, bro!"
Gakpapalah gantian nyetir, yang penting bisa bersenang-senang sambil ngabisin waktu liburan bersama Viaku. Kami berjalan ke tempat parkiran. Via yang membawa jalan, aku dan Ferdy menyusul di belakangnya. Ferdy tertawa ketika membahas alasannya yang terpaksa berbohong tadi. Aku bisa memakluminya agar Via tidak curiga.
Kali ini Ferdy yang menyupir pertama kali dengan mobilnya, ketika dia sudah lelah baru gantian aku yang menggantikannya menyetir. Via duduk di kursi penumpang belakang. Aku menemani Ferdi di kursi penumpang depan. Jarak tempuh yang kami lalui nanti dari Jakarta ke kota Semarang kurang lebih 6 jaman melalui tol Trans Jawa.
Dua jam kemudian, kami berhenti di rest area. Rest area yang sangat ramai pengunjungnya. Apalagi mereka menjajakan oleh-oleh aneka jajanan, batik, dan masih banyak yang lainnya lagi. Kami berhenti sejenak untuk buang air kecil. Tidak lupa juga kami membeli aneka makanan ringan untuk mengganjal perut kami selama perjalanan. Kini gantian aku yang nyupir kali ini melanjutkan perjalanan kami. Tidak terasa kami sudah di daerah Tegal. Berarti kami tidak lama lagi akan sampai di kota Semarang.
Welcome to Semarang
__ADS_1
"Kita udah sampe dimana?" tanya Via sambil menatap ke luar kaca jendela mobil.
"Di Bunderan Tugu Muda Semarang," jawab Ferdy sesuai dengan nama yang tercantum di gps ponselnya.
"Sepertinya kita udah gak jauh deh sama villa si Julia, ya kan?" tanya Via memastikan ke Ferdy.
"Ya, sebentar lagi kita sampe," jawab Ferdy setelah melihat sekitar yang menurutnya tidak asing. "Bro, kita gantian nyetir ya! Soalnya gue udah hafal sih kalo udah nyampe sini. Lagian lu bawa mobil juga udah cukup lama," kata Ferdy padaku.
"Oke, bro."
Aku menghentikan mobil di jalur khusus pemberhentian mobil di pinggir jalan untuk bertukar posisi dengan Ferdy. Rasanya pegal juga nyetir selama hampir 4 jaman.
"Der, mau makan apa gak?" tawar Via padaku sambil sibuk mencari makanan ringan yang bisa dimakan.
"Ada sisa makanan apa?" tanyaku sambil menghadap ke belakang yang melihatnya sibuk mengobrak-abrik di dalam tas shoppingnya.
"Nih! Mau?" tanyanya yang sudah mengeluarkan satu bungkus biskuit coklat dari tas shoppingnya lalu menyodorkannya padaku.
"Boleh," jawabku sambil menerima biskuit tersebut.
Lumayanlah buat mengganjal lapar sejenak.
Tiba di Vila adiknya Via
Ferdy memarkirkan mobil di basement bawah tanah dari villa tersebut. Setelah itu, kami turun dan berjalan mencari pintu masuknya. Villa adiknya Via letaknya strategis sehingga tidak sulit menemukannya. Letaknya di pinggir pantai Marina yang sangat terkenal objek wisatanya. Sekali melihatnya saja sudah membuatku betah jika berlama-lama disini.
๐"Halo, kami sudah sampe nih." (Via memberitaukan pada adiknya lewat ponselnya).
Setelah itu, tampak seorang wanita yang sudah membuka pintu dan menyambut kedatangan kami. Dia tampak familiar dengan Via dan Ferdy. Mereka bertiga saling berpelukkan bergantian satu sama lain. Aku hanya bagaikan nyamuk saja saat ini.
"Der, kenalin! Ini adikku yang nomor 2. Namanya Julia," kata Via seraya mengenalkannya padaku.
Aku menghampiri Julia sambil mengulurkan tanganku untuk mengajaknya berkenalan. "Darren," sebutku sambil bersalaman.
"Julia," sebutnya juga membalas salamku. "Ini siapa, Vi?" tanya Julia penasaran dengan keberadaanku.
"Dia teman kuliahku," jawab Ferdy cepat. "Aku yang mengajaknya liburan ke sini bareng ama kita," jelasnya lagi dan membuat Julia hanya mengangguk percaya.
__ADS_1
"Ayo, kita masuk!" ajak Julia yang membawa jalan duluan masuk ke dalam villanya.
Setelah masuk ke dalam villanya, kami menaruh sendal sepatu kami di lemari sepatu dan menggantinya dengan sendal hotel (sendal tipis yang biasa disediakan di hotel pada umumnya). Lalu Julia mengajak kami berkeliling sebentar sambil memperlihatkan kamar tidur untuk kami masing-masing. Villa dengan nuansa modern tiga lantai ini mempunyai satu kolam renang pribadi juga di dalamnya.