Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 39


__ADS_3

"Pagi semua!" sapa Ferdy yang baru bangun.


"Pagiiii!" jawab Darren dan Via berbarengan.


"Kompak bener jawabnya," kata Ferdy sambil duduk di tempatnya.


"Aku bikin nasi goreng nih. Aku ambilin ya!" kata Via pada Ferdy.


"Kakak ipar, tar kita main ke pantai ya abis makan," panggil Ferdy dengan status baru Darren.


"Uhukk.. uhukk..." Darren terbatuk akibat tersedak nasi goreng setelah mendengar panggilan barunya.


"Ferdy, apa-apaan sih? Sampe tersedak gitu orangnya," omel Via sambil menatap Ferdy kesal.


"Aduh.... Sorry! Sorry, bro!" ucapnya merasa bersalah.


"Makan dulu, Fer!" suruh Via yang sudah menyiapkan seporsi nasi goreng untuknya.


Posisi duduk Via kini diapit oleh kedua lelaki berondong tampan yang tak lain adalah pacarnya dan adiknya. Mereka bertiga sarapan bersama di atas satu meja.


"Kalian mau olahraga kan abis ini?" tanya Via pada mereka berdua.


"Ya," jawab Ferdy sambil menikmati suapan terakhir nasi gorengnya.


"Kalo gitu, kalian ke sana aja dulu! Aku yang beresin semua," kata Via yang bertanggung jawab atas semua piring-piring dan gelas-gelas kotor habis makan.


"Aku mau ganti baju dulu! Ayo bro, kita ganti baju dulu!" ajak Ferdy yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Lu duluan aja!" kata Darren yang masih duduk santai di atas kursinya padahal sarapannya sudah habis sedari tadi.


Ferdy hanya mengacungkan jempol kanannya ke Darren sambil menaiki anak tangga menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian sportnya. Di dapur, Via dibantu oleh Darren yang sibuk memindahkan seluruh alat-alat makan kotor ke wastafel.


"Kamu ngapain masih di sini?" tanya Via sembari mencuci piring pertama yang dipegangnya.


Darren berdiri tepat di sebelah kiri Via sambil berpangku tangan. "Emang gak boleh liatin sebentar pacarku yang manis ini?"


"Apaan sih? Jangan suka gombal ya!" jawab Via yang masih sibuk dengan cucian yang lain.

__ADS_1


"Kenapa kamu terima aku jadi pacar kamu?" tanya Darren penasaran.


Via menoleh ke Darren sambil mengernyitkan dahinya. "Kenapa kamu nanya kek gitu?"


"Ya.... Mau tau aja. Siapa tau kamunya juga udah naksir aku sejak awal-awal kita ketemu cuma kamu pendam aja selama ini," terka Darren dengan rasa percaya diri tinggi.


Via hanya tersenyum sambil sibuk kembali.


"Kok gak jawab?"


"Emang penting?" tanya Via dengan nada cuek.


"Iyalah!" jawab Darren dengan tidak sabaran. "Kamu sebenernya beneran suka ama aku karena aku terlihat kasian aja? Ato emang ada perasaan lain?" desak Darren lagi.


"Aku... hanya merasa ada kenyamanan saat bersama kamu, makanya aku pikir kenapa gak aku coba saja menjalani hubungan ini dengan kamu," jawab Via dengan wajah sedikit melamun.


Darren melihat tatapan dalam lamunan Via. Seperti ada rasa yang kurang pas dengan jawaban yang dia mau dengar dari mulut Via.


"Kok gantian kamu yang diam sekarang?" tanya Via yang menoleh ke Darren sambil tersenyum manis.


"Aku akan membuatmu hanya mengingatku saja dalam hati dan pikiranmu," bisik Darren di telinga Via dan ...


'Cup!' Darren mengecup lembut pipi kiri Via.


"Aku gak liat apa-apa ya," kata Ferdy yang tiba-tiba lewat di belakang mereka, karena pintu keluar ke pantai yang paling dekat adalah dari arah dapur.


Darren dan Via terkejut dengan kehadiran Ferdy yang tiba-tiba. Mereka saling mundur untuk menjaga jarak agar tidak terlalu dekat.


"Nnggg... a... aku.. ganti baju dulu!" kata Darren kikuk dan segera meninggalkan Via dengan kesibukkannya yang belum selesai.


"Aku duluan ya, bro! Tar kita ketemuan di sana," kata Ferdy dengan lantang sambil berlalu pergi.


Darren dengan setengah berlari menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Hanya tujuh menitan, ia kembali dengan setengah berlari menuruni anak tangga dan melewati dapur lagi untuk menuju pintu keluar. Tapi sebelum dia menuju pintu, dia dengan jahilnya mengecup pipi sebelah kanan Via.


'Cup!' kecupan buru-buru yang di daratkan ke pipi Via yang membuat Via shock.


"Biar seimbang," kata Darren dengan senyum manisnya. "Aku pergi dulu! Bye!" serunya sambil keluar pintu menuju pantai.

__ADS_1


Darren mencari keberadaan para penyewa alat-alat sport air. Setelah berjalan beberapa langkah, akhirnya ia menemukan salah satu penyewanya. Darren berbincang-bincang dengan si penyewa dan dapatlah sebuah jetski yang bisa di pakainya. Tampak di agak tengah-tengah pantai, Ferdy asyik surfing dengan papan selancarnya. Darren menyusulnya dengan jetski yang dikendarainya sendiri.



*Ferdy (atas) dan Darren (bawah)


Mereka bersenang-senang dengan alat sport masing-masing. Ferdy yang senang menerjang ombak dengan papan selancarnya terlihat keren. Darren pun tidak mau kalah keren saat melaju dengan speed kecepatan sedang jetskinya. Mereka berdua menghabiskan waktu bersama sebagai pemuda yang gila sport.


🌺Via Pov🌺


Pertanyaan Darren tentang kenapa aku menyetujui menjadi pacarnya sangat membuatku bingung. Memang benar kalau aku merasakan kenyamanan saat bersamanya yang sama kurasakan saat bersama Victor dulu. Walaupun aku sendiri tidak bisa pungkiri kalau aku sedikit tertarik dengan Darren karena ada rasa nyaman yang diberikan. Untuk masalah suka yang sepenuh hatiku untuknya, aku rasa itu butuh waktu. Semoga dengan kehadiran Darren, aku bisa buka hatiku kembali setelah kehilangan Victor.


Tapi apakah orang tua Darren tidak mempermasalahkan dengan perbedaan umur kami yang sangat jauh? Rasanya malu sekali jika berterus terang tentang umurku kepada kedua orangtuanya. Aku juga bimbang, apakah kami pacaran hanya untuk sementara atau...


"Tidak! Tidak mungkin!" kataku yang sudah berpikir jauh tentang ke arah pernikahan.


Mana mungkin aku sudah berani memikirkan ke arah sana? Apalagi dia hanya lebih tua dua tahun dari Ferdy. Dengan umurnya yang masih muda, dia pasti masih mau berkarir. Masa depannya juga masih panjang. Aku terlalu cepat jika memikirkan ke arah pernikahan. Tapi jika hanya sebatas main-main saja, aku sendiri tidak yakin hubungan kami akan bertahan lama. Harusnya aku mencari laki-laki yang ingin serius denganku, yang umurnya sepadan denganku, bukan yang seumuran adikku sendiri.


Aku menghempaskan tubuhku di atas kursi malas yang tepat berada di depan layar televisi 40 inch. Mencari kesibukkan sendiri dengan menemukan chanel yang ku suka, yang tidak lain adalah acara gosip para selebriti.


'Kring... kring...' bunyi telepon yang ada di villa ini.


Kebetulan letaknya hanya di atas meja pojok sebelah tempat dudukku. Aku segera menjawab panggilan itu.


πŸ“ž"Halo!"


πŸ“ž"Via, kami sudah otw ya. Sepuluh menit lagi sampe."


πŸ“ž"Oke, Ya! Kamu bareng ama papi? Bukannya kalian ke sini pas abis makan siang?"


πŸ“ž"Papi udah gak sabaran. Jadi tar makan di villa aja. Kamu ada masak, gak? Kalo gak, aku mau pesen makan buat papi."


πŸ“ž"Gak usah beli deh. Aku masih ada seporsi nasi goreng yang tadi buat sarapan. Jadi tar papi bisa makan."


πŸ“ž"Bagus deh. Udah dulu ya, Vi. Gue bentar lagi nyampe. Bye!"


πŸ“ž"Bye!!"

__ADS_1


__ADS_2