
"Lu main duluan deh, bro!" suruh Darren pada Ferdy.
"Oke!"
Ferdy yang sudah siap dengan skate boardnya, dia mulai mengambil posisi berdiri di atas papan dan kaki satunya untuk mendorong secara pelan dan meluncur dengan perlahan. Dia bergaya sekeren mungkin. Putaran dari roda skate board itu membuat lajunya tampak kencang. Ferdy menyeimbangkan badannya di atas papan skate board yang sedang berlaju. Setelah ia puas dengan aksinya, kini Darren juga tidak mau kalah menunjukkan bakat bermain skate boardnya. Ia juga bergaya sekeren mungkin sambil melompat dengan membalikkan papan skate boardnya dan melaju kembali dengan kecepatan maksimalnya.
*Darren dan Ferdy
Melihat aksi keren Darren, Ferdy sangat kagum dan bertepuk tangan untuknya. Tidak disangka di tempat lain, ada beberapa cewek yang mengintip dari balik salah satu mobil parkiran basement. Mereka juga ikut jingkrak kegirangan melihat aksi dari Darren barusan. Darren yang menyadari itu langsung berhenti bermain dan membiarkan Ferdy yang bermain selanjutnya.
Darren melihat aksi Ferdy lagi sambil berdiri di dekat pohon dan menginjak papan skate boardnya. Lagi-lagi cewek-cewek tadi menghampiri Darren dengan sedikit berlari dari tempat parkiran. Melihat kesibukkan para cewek yang mulai datang mengrumuni Darren, Ferdy langsung ikutan nimbrung.
"Tadi keren lo main skate boardnya!" puji salah satu dari mereka.
Darren hanya tersenyum datar sambil mengambil skate board yang diinjaknya tadi.
"Halo, kak! Aku yang tadi siang nemuin kakak mau ajak foto bareng." Quenna maju di antara mereka.
"Wah... Kamu kenal ama dia?" tanya temannya yang lain pada Queena.
Queena hanya senyum malu-malu sambil menyelipkan rambutnya kebelakang telinganya.
"Cabut, yuk!" ajak Darren yang sudah mulai bete.
"Jangan dulu dong!" kata mereka kompak sambil menghadang Darren.
"Kalian mau ngapain?" tanya Ferdy yang maju selangkah dari Darren.
"Foto bareng dong! Please!!!" pinta salah satu dari mereka yang mewakili permintaan yang lainnya juga.
"Gimana nih, bro?" tanya Ferdy yang ingin mendengar pendapat Darren.
"Ya udah, oke! Tapi ingat ya gak pake acara pegang-pengang!" peringatan keras dari Darren.
"Yeayyy!!" seru mereka kegirangan.
Demi mendapatkan foto bersama dengan Darren dan Ferdy, mereka meminta tolong pada Darren dan Ferdy agar dapat membantu mereka mengambil foto bersama dengan berganti posisi diantara mereka berdua. Jadi saat Darren foto dengan mereka, Ferdy yang memegang ponsel menangkap hasil foto mereka. Berikutnya saat giliran Ferdy juga dilakukan hal yang sama oleh Darren.
"Terima kasih ya, kak!" ucap mereka kompak pada Darren dan Ferdy.
"Sama-sama," jawab Ferdy ramah mewakili Darren juga.
"Kenalan boleh, gak?" tanya yang lainnya.
"Oke!" jawab Ferdy setuju.
__ADS_1
Akhirnya setelah mendapat izin dari Ferdy, mereka berkenalan satu-persatu dan sekalian berkenalan juga dengan Darren.
"Maura."
"Queena."
"Luci."
"Karin."
"Nuri."
Begitulah nama yang mereka sebutkan satu-persatu.
"Kak, aku punya satu permintaan nih!" aju Queena pada Darren.
"Apaan?" tanya Darren.
"Foto berdua aja, boleh?"
"Satu kali aja ya."
"Iya, kak. Satu kali aja," katanya kegirangan dan langsung menyuruh salah satu temannya untuk mengambil hasil foto mereka berdua.
Nah posisi sih Queena ini agak memiringkan kepalanya di lengan tangan Darren seperti ingin bersandar, tapi ia tidak berani terlalu menempel pada Darren juga. Sesuai dengan janjinya, hanya satu foto saja yang di jepret.
"Kalian main lagi aja. Kami janji gak akan ganggu kok," kata salah satu dari mereka.
"Yuk, bro! Biarin aja mereka nonton. Namanya juga cewek," bujuk Ferdy yang akhirnya membuat Darren mengangguk mengiyakan.
🌺Darren Pov🌺
Ferdy sedang pasang aksi gaya di atas skate boardnya dan membuat histeris para cewek yang melihatnya. Jarak aku berdiri dengan para cewek itu agak berjauhan. Aku juga menutupi wajahku dengan papan skate board yang kupegang.
Kali ini aku biarkan Ferdy beraksi lebih lama, karena aku sendiri gak gitu niat main lagi. Hanya sesekali menjalankan skate boardku di sekitaran saja karena jenuh.
"Halo kak Darren!" sapa seseorang yang ku kenal dari pemilik suaranya.
Ternyata benar, itu 'Aeri' yang sudah mengerjai Bella kemaren. "Kamu?" responku yang rada bete saat bertemu lagi dengannya.
"Aeri, kamu kenal sama dia?" tanya Queena yang ikutan nimbrung.
"Kenal," jawab Aeri sambil tersenyum manis dan hanya menatapku.
"Oh ya?" tanya Queena sambil berpikir sejenak.
"Kamu kok ada disini?" tanyaku.
__ADS_1
"Aku kebetulan inap di hotel sini bareng ama teman-temanku ini. Dunia sempit ya. Gak nyangka bisa ketemu kak Darren lagi disini," jawabnya.
"Bukannya kamu bilang, kamu sakit kepala dan gak mau ikutan jalan-jalan bareng kita orang?" tanya Queena.
"Setelah liat kamu posting foto di instagram kamu, aku langsung ke sini."
"Foto apaan?" tanyaku curiga. Jangan-jangan foto yang tadi aku foto dengannya.
"Nnggg... Itu kak... foto yang tadi kita foto berdua. Aku taro di instagram aku," aku Queena.
"Kak Darren bareng siapa ke sini? Inap dimana?" tanya Aeri antusias.
Ferdy datang menepuk pundakku. "Siapa?" tanyanya sembari melihat ke Aeri.
"Aku, Aeri kak!" jawab Aeri sopan sambil tersenyum manis didepan Ferdy.
"Cabut, yuk!" ajakku pada Ferdy.
"Ayok!" jawab Ferdy yang langsung mengiyakan.
Kami berdua langsung pergi begitu saja meninggalkan para cewek itu. Selama jalan kaki menuju ke villa, Ferdy tampak mengibas-ngibaskan kaosnya karena gerah.
"Si Aeri itu, lu kenal?"
"Baru kenal gak berapa lama waktu di pesta temen daddy gue. Kenapa?"
"Kok tatapannya agak aneh ya? Apalagi saat dia natap kamu terus tadi."
"Feeling gue gak enak kalo deket dia. Soalnya dia rada usil," kataku yang gak sengaja ingat kejadian pas malam pesta waktu itu.
"Usilnya gimana?"
"Sepertinya sih dia suka ama gue. Cuma guenya gak suka. Trus dia juga mau jebak gue dengan naruh obat perangsang ke dalam minuman gue, tapi yang apesnya malah yang kena temen gue. Karena temen gue main minum gitu aja minuman yang gue pegang dari dia itu."
"Oh ya? Padahal anaknya kliatan polos dan manis gitu tapi brutal ya," kata Ferdy tak percaya setelah menilai dari penampilan luar Aeri.
Jangankan Ferdy, aku sendiri juga tidak percaya kenapa dia senekat itu. Emang rada psikopat gitu dianya. Jadi apa yang dia perbuat hanya diam-diam dan semena-mena sambil ditutupi oleh tameng wajah polosnya itu. Itu sih menurut gue ya.
"Makanya... Gue sekarang ini feeling gue jadi gak enak."
"Kan ada gue, bro," kata Ferdy sambil merangkul bahuku dengan satu tangannya. "Pokoknya gak bakal terjadi sesuatu."
"Kalo terjadi sesuatu ama gue sih gak mungkin, karena gue dah tau kan dia kek apa usilnya. Yang gue takut tar malah kena si Via. Tau sendiri si Via kan ama siapa aja gak pernah curigaan."
"Ya juga sih."
"Keknya Via gak boleh ditinggal sendirian deh."
__ADS_1
"Setuju!" angguknya menyetujui.