Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 76


__ADS_3

Darren sudah tidak tahan lagi. Ia menggeprak meja dengan salah satu telapak tangannya. Sontak membuat mereka yang satu meja dengannya kaget dengan sikapnya, terkecuali Hendra yang hanya tersenyum datar dengan sikap Darren barusan.


"Lu kenapa, Der?" tanya Bella yang merasa aneh dengan sikap Darren barusan.


"Aku harus menemui orangtuaku dulu. Permisi," pamit Hendra.


"Kok pergi sih, kak?" tanya Bella yang merasa kecewa belum bisa mendapatkan Hendra.


"Lu ama Hendra kek musuh bebuyutan aja, bro?" tanya Ferdy dengan suara pelannya.


"Karena dia udah ganggu hubungan gue dengan Via."


"Hah? Ternyata wanita yang dia maksud tadi... Via?" terka Ferdy.


Darren mengangguk membenarkan. "Apa dulu dia pernah main ke rumah kalian?"


"Pernah sih, tapi jarang. Keknya cuma ngerjain tugas sekolah aja. Itu juga ada bang Victor, pacar Via dulu."


"Victor?"


"Via belum menceritakan tentang Victor?" tanya Ferdy dengan wajah bingungnya sambil menatap Via.


Darren juga ikutan menatap Via ingin kejelasan tentang Victor yang di sebut Ferdy sebagai pacarnya tadi.


"Victor... pacarku," jawab Via.


"Kalian sudah putus, kan?" tanya Darren memastikan.


"Bukan putus," jawab Via sambil tersenyum datar.


"Lalu?" tanya Darren yang gak sabaran. "Kamu selingkuh denganku di belakangnya?" terka Darren sembari menuding Via.


"Aku gak seperti itu, Der. Kok kamu bisa kepikiran aku bakal selingkuhin dia?" tanya Via yang mulai memanas.


"Kalian jangan ribut di sini, gak enak sama Yuda dan yang lain," timpal Ferdy yang membuat mereka terdiam.


Pusat perhatian mereka sekarang mengarah ke pasangan pengantin yang sedang memulai acaranya. Untuk sementara mereka melupakan sejenak pokok bahasan tentang Victor.


Via berdiri dari tempat duduknya dan membuat Darren memperhatikannya. Saat Via mau pergi, Darren menahan pergelangan tangannya.


"Mau kemana?" tanya Darren yang menahan Via.


"Ke toilet," jawab Via singkat dengan wajah kurang senangnya.

__ADS_1


Darren pun melepaskan pergelangan tangannya dan membiarkan Via pergi. Via berjalan menuju arah toilet dan sebenarnya sudah di perhatikan sedari tadi oleh Hendra. Tanpa sepengetahuan Via, Hendra menyusulnya dari belakang.


Setelah Via selesai dengan urusan toiletnya, Via mau kembali menghampiri mejanya tadi, tapi tanpa disangka Hendra sudah menantinya di sekitaran.


"Hendra!" sapa Via setelah melihat keberadaannya.


Hendra menghampiri Via dengan gaya jalannya yang santai, tapi dia sedikit menjaga jarak dengan Via. "Kamu cantik sekali hari ini," puji Hendra saat melihat penampilan Via hari ini.



*Via


"Terima kasih atas pujiannya," jawab Via tanpa basa-basi.


"Selama ini aku.... ingin menemuimu, tapi takut kamu menghindar. Via, apa kau punya waktu untuk ngobrol denganku di lain hari?"


"Aku sebenernya bukan ingin menghindar darimu, tapi aku ingin kamu bisa bener-bener melupakan aku sebagai wanita yang pernah kamu sukai dulu dan bener-bener bisa menerimaku sebagai teman. Aku harap, kamu bisa mencerna perkataanku."


"Kalian ngapain berduaan disini?" tanya Darren yang memergoki Via dan Hendra.



*Darren


Darren menghampiri Via dan merangkul pinggang Via. "Ayo sayang, kita keluar!" ajaknya.


Mereka berjalan melewati Hendra, tapi dengan sengaja Darren menatap Hendra tajam setelah berpas-pasan dengannya. Via sudah tidak mau ambil pusing lagi dengan dua cowok ini.


"Kamu sudah sejak kapan ada di sana?" tanya Via penasaran dengan keberadaan Darren tadi.


"Baru saja," jawabnya singkat.


"Darren, dengarkan aku dulu!" kata Via sambil menghentikan langkah kakinya sebelum sampai ke meja mereka tadi. "Victor memang pacarku. Aku gak pernah mau membahasnya karena tidak ada yang mengungkitnya."


"Jadi kamu mau simpan berapa lama hubungan kalian dariku? Apa kalian masih berkomunikasi sampai sekarang?"


"Boleh kamu dengar penjelasanku dulu sampe selesai?"


Darren mengangguk mengiyakan.


"Victor itu masa laluku. Dia memang pacarku, tapi dia sudah meninggal empat belas tahun silam, karena kecelakaan motor sewaktu balap liar," jelas Via sambil menunduk ke bawah.


Darren yang mendengar perkataan Via barusan merasa kaget. Dia gak tahu kalau Victor ternyata sudah meninggal. Dia merasa bersalah karena telah menuding Via yang sudah selingkuh dibelakang Victor. Darren memeluknya dan Via membalas pelukkannya.

__ADS_1


"Maafkan aku! Aku gak tau kalo Victor sudah gak ada dan bodohnya aku berpikir kamu telah selingkuh denganku," ucap Darren sambil mengusap rambut Via.


"Jika dia masih ada, mungkin aku gak akan menjadi pacarmu." Karena Via dan Victor adalah pasangan yang sulit dipisahkan, apalagi mereka telah sepakat akan menikah saat mereka sudah punya tabungan yang cukup.


"Sudahlah, jangan di bahas lagi! Ayo kita ke meja sekarang!" ajak Darren sambil menggenggam jemari tangan kanan Via.


Melihat Darren dan Via datang berdua dengan saling bergandengan tangan, Ferdy jadi senyum-senyum sendiri. Sedangkan Bella masih betah ditempat duduknya sambil menikmati hidangannya tanpa menghiraukan orang sekitarnya.


"Bel, lu yakin mau kejar Hendra?" tanya Darren.


"Kenapa? Lu gak lagi cemburu, kan?"


"Ya, gak lah! Cuma gue mau kasih tau, lebih baik lu cari cowok lain aja."


"Kenapa jadi lu yang sewot gue mau naksir ama siapa?"


"Gue gak sewot. Cuma gue takut lu bakalan kecewa lagi. Jadi mending lu kejar dengan hal yang pasti aja. Dia itu agak keras kepala dan masih susah move on dengan cewek yang ditaksirnya."


"Sebenernya lu blon ikhlas kan kalo gue ngejar dia?"


"Hadeuhh.... Susah ya ngomong ama bocah kek lu gini."


"Gue gak peduli apa yang lu omong. Lu gak usah ikut campur urusan gue lagi. Bukannya lu benci banget ama gue. Jadi urus aja urusan masing-masing," kata Bella sambil meninggalkan meja mereka dengan gaya angkuhnya.


Darren hanya bisa menghela nafas. Dia gak nyangka menimbulkan salah paham dengan Bella.


"Emang aku salah ya ingetin dia sebagai teman?" tanya Darren yang ingin mendengar pendapat Via dan Ferdy.


"Ya.... gak salah sih, Der. Cuma dia kan lagi berusaha ngejar orang yang dia taksir juga dan dia gak bisa terima masukkan dari orang lain. Jadi lebih baik kita diem aja," jawab Via.


"Cewek kek gitu mah susah dikasih tau, bro," timpal Ferdy.


"Tapi kamu masih perhatian ke Bella ya," kritik Via sambil menikmati makanannya.


"Kamu jangan salah paham. Aku bukan masih perhatian, tapi aku kasihan kalo dia bakalan nangis kejer lagi kalo cintanya di tolak."


"Perhatian sebagai teman itu bagus kok."


"Aku tetap menghargai dia sebagi teman."


*****


Hari ini Darren pergi ke apartemen Via dengan motornya. Rencananya, ia akan membawa Via jalan-jalan karena ini sudah weekend. Tapi sejak awal dalam perjalanan Darren menuju apartemen Via, seperti ada yang membuntutinya. Sebuah mobil sedan kecil putih telah menguntitnya sepanjang jalan.

__ADS_1


__ADS_2