
Tiba di villa
Via yang masih sibuk dengan laptopnya tampak kelelahan. Ia membunyikan tulang-tulang jemari tangannya karena kelamaan mengetik pada tuts keyboard.
"Kalian baru pulang?" tanyanya ketika melihat kedatangan kami.
"Ya," jawab kami serempak.
Aku langsung mengambil air mineral dingin dari kulkas. Meminumnya langsung hingga sudah menghabiskan setengah botol.
"Aku mau mandi dulu, udah bau keringat," pamitku yang langsung menuju ke lantai atas dimana kamarku berada.
Setelah aktivitas mandiku selesai, aku turun kembali mencari keberadaan Via. Tapi di ruang tengah, aku tidak menemukannya. Aku mulai menyusuri setiap sudut villa tapi tetap tidak menemukannya. Akhirnya aku menemukan dia diluar, sedang duduk sendiri di kursi santai tepi kolam renang.
"Kamu ngapain malam-malam diluar?" tanyaku saat melihatnya sendirian.
"Lagi suntuk, jadi cari angin luar sebentar," jawabnya.
Aku mengambil kursi santai dan duduk di sebelahnya.
"Kamu sendiri ngapain keluar?"
"Aku mau nemenin kamu. Boleh, kan?"
Dia tersenyum smirk. "Liat deh di langit!" tunjuknya ke atas langit yang gelap. "Bintangnya banyak banget ya malam ini?"
"Ya, disini sangat keliatan jelas bintangnya pas malam hari," jawabku sambil menatap bintang-bintang di atas sana. "Tapi ada satu bintang yang paling terang diantara mereka."
"Mana? Kok aku gak liat?" tanyanya sambil mencari bintang yang kumaksud di atas langit.
"Bintang yang paling terang itu ya.... kamu Via," godaku sambil menatap kedua matanya yang cantik.
"Ngaco kamu," katanya sambil tersenyum. "Beberapa hari lagi liburan kita selesai. Kita akan sibuk ke pekerjaan masing-masing. Entah kapan akan kembali ke sini lagi," katanya sambil menghela nafas.
"Aku ingin kita bisa makan siang bersama. Setidaknya kita punya waktu setiap hari. Aku akan menyuruh Pak Jil untuk menjemputmu ke kantorku agar kita dapat makan bersama."
"Apa gak terlalu merepotkan orang lain? Aku rasa, gak usah setiap hari."
"Lalu bagaimana menurut kamu?"
"Menurut aku..." katanya sambil berpikir. "Jika aku punya waktu senggang, aku akan menemuimu di kantormu."
"Kalo aku punya waktu senggang, aku yang akan menemui kamu juga di tokomu. Boleh, kan?"
"Hahaha.... Tentu saja boleh," katanya sambil tertawa kecil. "Sebentar, ada telepon masuk!"
Via mengangkat panggilan masuk dari ponselnya.
π"Halo!" jawabnya sambil mendengarkan sebentar dari lawan bicaranya.
π"Oke! Besok kamu jemput aku?" tanyanya untuk memastikan sambil mengangguk pelan.
__ADS_1
π"Bye!!"
"Siapa?" tanyaku saat dia sudah menutup panggilan teleponnya.
"Julia. Dia mengajakku makan diluar besok siang."
"Hanya kalian berdua?"
"Ya, kami berdua."
"Lalu, aku?"
"Kamu? Kamu mau ikut?"
"Ya, kalo diajak."
"Ikut aja kalo mau."
'Yes!' seruku dalam hati.
Malam yang romantis ini hanya ada aku dan dia. Saat ini dia sedang melamun dan aku juga terbawa suasana malam ini. Suasana yang sepi dan hanya ditemani bunyi air laut yang berderu. Wajah Via sangat terlihat jelas di bawah sinar lampu. Aku terus-menerus menatapnya tanpa bosan.
"Kenapa liatin aku terus?" tanyanya sambil membalas tatapanku.
"Boleh gak kalo aku cium kamu?"
Dia malu-malu didepanku. "Kenapa kamu harus tanya? Kan kamu bisa langsung aja."
"Manis!" pujiku saat sudah merasakan bibirnya.
Dia hanya tersenyum meresponku. Lalu aku mencium bibirnya lagi dengan lembut dan hati-hati. Kalian tau kan rasanya berciuman di bawah sinar rembulan yang terang dan ditemani banyak bintang-bintang. It's perfect.
*****
Di dalam mobil Julia, cuma aku sendiri laki-lakinya. Bahkan aku harus duduk di kursi penumpang belakang sendiri. Ferdy lebih memilih di rumah bersantai ria. Karena kekhawatiran aku, mau gak mau aku jadi cctv buat Via hari ini.
Tiba disebuah restoran Italy, kami sudah duduk di tempat yang sudah diresevarsi sebelumnya oleh Julia.
"Maaf merepotkanmu, bisa minta tolong ambil foto kami berdua?" pinta Julia sambil menyerahkan ponselnya padaku.
"Oke!" jawabku setuju sambil menuju kamera ponselnya ke arah mereka berdua.
*Via dan Julia
"Thanks ya!" ucap Julia.
"Sama-sama."
Mereka memesan makanan dan aku juga memesan makanan yang sama dengan Via, spageti carbonara.
__ADS_1
"Halo, kak Darren!" sapa seseorang dari arah belakangku.
"Aeri?"
"Siapa?" tanya Julia padaku.
"Aku temen kak Darren. Namaku Aeri," selanya yang tiba-tiba menjawab sambil tersenyum manis. "Gak nyangka bisa ketemu kak Darren disini. Boleh ikutan duduk disini?" tanyanya yang sudah mengambil kursi kosong yang ada di sebelahku.
"Gak!" jawabku sambil memiringkan kursi yang hampir di duduknya tadi ke meja. "Kami gak nerima tamu."
Via dan Julia saling menatap heran dengan sikapku barusan dan aku tidak peduli terhadap pandangan mereka.
"Kalo gitu, aku permisi ya kakak semua. Maaf sudah ganggu," pamitnya sambil meninggalkan tempat kami.
Setelah kepergiannya, aku membetulkan kembali posisi kursi tadi seperti semula. Julia menatap Via dengan isyarat seraya bertanya apa yang terjadi denganku, tapi Via yang mengerti isyarat dari Julia, ia hanya mengangkat bahunya saja seraya memberitahukan pada Julia kalau dia juga tidak tau apa-apa.
"Kamu ama dia ada masalah apa?" tanya Via penasaran.
"Pokoknya jangan terlalu dekat dengan dia!"
"Kliatannya anaknya manis kok," lanjut Via yang masih memuji Aeri.
"Pokoknya kamu harus ingat kata-kataku, kalo kedepannya kamu ada ketemu dengan dia lagi, please jangan percaya dengan apa yang dia bicarakan!" pintaku.
"Gak ada alasan yang kuat kenapa aku harus ikut jauhin dia," kata Via sambil melirik ke arah lain.
Julia yang mengetahui suasana agak kurang enak, dia keluar sebentar pura-pura ingin mengabari suaminya kalau dia sudah sampai di restoran. Setelah melihat Julia keluar, aku pindah posisi kesebelah kursi Via.
"Via, aku gak gitu kenal Aeri, tapi dia hampir nyelakain aku. Dia sempat mau kasih aku obat perangsang kedalam minuman yang dia kasih ke aku waktu di pesta teman daddy aku. Tapi aku gak sempat minum, dan aku baru tau kalo minuman itu ada obat perangsangnya dari ayahnya Bella yang telepon aku keesokkan harinya dan menuduh aku yang ingin mencelakai Bella. Makanya dari situ, aku bisa nilai kalo nih anak gak baik."
"Masa sih? Kok gak kliatan ya dari penampilannya?"
"Waktu aku cerita ke Ferdy, dia juga bilang gitu. Tapi emang ternyata kan dia seperti itu kenyataannya."
"Alasan dia berbuat kek gitu karena ingin memiliki kamu? Berarti dia suka dong ama kamu?"
"Ya, papinya sempat mau jodohin kami berdua waktu dipesta itu, tapi aku nolak."
"Kenapa ditolak?"
"Ya karena aku lagi pendekatan ama kamu. Aku lagi ngejar kamu, Vi."
Mendengar pengakuanku barusan, pipi Via jadi merah.
"Kenapa kamu pipinya merah gitu?" godaku.
"Kan aku pake blush on," jawabnya sambil menyikut tanganku.
"Aku duduk disini aja ya. Aku pengen disamping kamu."
Tidak lama kemudian, Julia datang sambil duduk di depan Via dan menatap kami sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1