Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 63


__ADS_3

Aduh, gawat! Badanku tiba-tiba terasa mendidih dan parahnya lagi sekarang juniorku bangkit. Aku langsung cepat-cepat berdiri untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi. Aku buru-buru melepas jaket tipisku karena saking panasnya nih suhu badan.


Setelah jaketku ku lepas, Via malah mendorongku mundur hingga ke ujung tepi ranjang hingga kami berdua terjatuh, tapi gak parah jatuhnya. Dengan cepatnya, ia mengikat kedua pergelangan tanganku dengan ikat pinggangnya ke sebuah lemari pojok dekat ranjang.



*Darren


"Via, apa yang kamu lakukan?" tanyaku penasaran dengan apa yang terjadi padanya hingga aku diginiin.


"Kamu... Kamu mau buat yang macem-macem kan ke aku?" tanyanya balik sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.


"Buat macam-macam apa?" protesku tak terima.


"Ngapain kamu buka jaket kalo kamu gak niat buat ngelakuin 'itu'?" tuduhnya.


"Hah!" seruku bingung sembari mencoba mencerna apa yang dipikirkannya sekarang. "Ooo... Via, kamu salah paham. Aku hanya ingin buka jaket saja karena suhu ruangan sini panas, buktinya aku keringetan nih sekarang. Aku gak boong," jelasku.


Dia lalu menatapku dengan wajah bingungnya dan menghampiriku lebih dekat untuk mengecek apakah aku berkeringat atau gak. Dia benar-benar memeriksanya dengan teliti disetiap pori-pori kulitku yang bernafas. Ditambah lagi, tangannya benar-benar mengusap dahiku yang berkeringat sebagai bukti aku tidak berbohong padanya.


"Ternyata bener, kamu keringetan," katanya yang sudah mengecek kebenarannya setelah melihat telapak tangannya yang sedikit basah.


"Lepasin dong!" pintaku.


"Tapi janji ya gak macem-macem sebelum kita nikah!"


Aduh, permintaan dia dalam banget. Tapi ya sudahlah. Aku juga gak mungkin ngelakuin 'itu' kalau dia belum kasih.


"Ya, aku janji. Buruan Vi, lepasin!"


"Bentar!" serunya sambil mencoba melepaskan ikatan tali pinggangnya.


Setelah tali pinggangnya terlepas, aku hanya bisa tersenyum saja mengingat tingkahnya tadi yang dikiranya aku mau ngelakuin 'itu' padanya.

__ADS_1


"Kenapa senyum-senyum sekarang?" tanyanya dengan nada kesal.


Aku menatapnya sambil meraba-raba kedua pergelangan tanganku bergantian karena lumayan sakit kena rantai tali pinggangnya. "Justru karena aku takut terjadi sesuatu, makanya aku langsung bangun."


Mendengar perkataanku barusan, dia jadi malu sendiri. "Maaf, aku terlalu berlebihan," katanya menyesal dan duduk bersila di depanku.


Aku memeluknya dari samping dan dia menyenderkan kepalanya di atas pundakku. "It's okay, Via," kataku sambil mengelus-elus lengan tangannya lalu mengecup kepalanya. "Sekarang udah malam, kamu kembali ke kamarmu! Aku juga mau istirahat."


Dia langsung bangkit dari duduknya dan siap-siap untuk pergi. "Oke! Malam, Der. Moga mimpi indah."


"Kamu juga," kataku sambil mengelus kepalanya pelan.


Lalu aku membukakannya pintu untuknya serta melihat kepergian punggungnya hingga ia masuk ke kamarnya yang hanya beda dua kamar dariku.


*****


🌺Author Pov🌺


Saat sarapan di restoran


Darren sudah menunggu sedari tadi kedatangan Via serta maminya Via. Sambil menunggu, ia tidak lupa mengabari daddynya untuk rencananya ke kantor cabang sejam lagi, karena ingin bertemu dengan Via terlebih dulu. Daddynya juga hanya bisa menyemangatinya dan berharap semuanya dapat berjalan dengan lancar.


Akhirnya Via dan maminya telah tiba. Via yang mengandeng lengan tangan maminya, mengajaknya duduk satu meja dengan Darren. Darren langsung berdiri dari kursinya menyambut kedatangan mereka.


"Pagi tan, saya Darren!" sapa Darren terlebih dulu dan mengulurkan tangannya untuk salam perkenalan dengan maminya Via.


Maminya Via menyambut baik salam perkenalan Darren dan ia pun balik menerima salam dari Darren. "Pagi juga," jawabnya sambil memperhatikan Darren.


"Ma, ini pacar Via! Darren, namanya," kata Via memperkenalkan lagi pada maminya.


"Ya, tadi dia sudah bilang kalo namanya Darren," kata maminya yang membuat suasana sedikit canggung.


"Kita pesan sarapan dulu ya," usul Darren yang di setujui oleh Via serta maminya.

__ADS_1


Mereka memesan menu sarapan mereka masing-masing. Makanan ringan dengan ditemani segelas kopi favorit mereka.


"Darren, kalo tante liat-liat dari tadi, tante jadi ingat salah satu temen tante dulu jaman kuliah yang mukanya mirip banget sama kamu. Namanya Anton Jonathan," kata maminya Via yang memulai awal perbincangan untuk mencairkan sedikit suasana.


"Oh... tante kenal pria itu?" tanya Darren penasaran.


"Tentu! Dia temen kuliah tante dulu dan kami sempet pacaran namun hanya bertahan enam bulan, lalu kami putus," jawab maminya Via sambil mengorek sedikit kisah lampaunya.


"Emangnya kamu kenal dengan nama yang tante sebut tadi?" tanya mami Via yang penasaran juga.


Darren tersenyum. "Dia papi saya, tan," jawab Darren yang membuat wajah mami Via seketika terlihat shock.


Mami Via menutup bibirnya yang berbentuk O bulat dengan telapak tangannya. "Jadi... Anton itu, papi kamu?" tanyanya memastikan.


"Ya, tan!" jawab Darren sambil mengangguk sekali.


Mami Via menatap Darren dari atas kebawah secara perlahan, lalu kemudian ia menatap Via. "Pantesan dia mirip banget dengan mantan pacar mami, Vi. Dulu papinya ya seganteng ini. Persis!" ucap mami Via dengan nada kagum setelah menilai penampilan Darren.


"Mantan pacar?" tanya Via heran tak percaya apa yang maminya sebut barusan.


"Jadi, papi saya adalah mantan pacar tante?" tanya Darren yang ikutan penasaran dengan cerita dari mami Via.


"Iya. Tante gak nyangka sekarang malah ketemu kembarannya di versi muda," jawab mami Via dengan pandangan penuh kerinduan.


"Tapi dia pacarku lo, mi. Bukan om Anton," timpal Via.


"Dasar jahil!" maki mami Via ke Via. "Mami juga bisa liat kali ini bukan om Anton," protesnya.


Sontak kalimat itu membuat Darren dan Via tersenyum karena Via berhasil menggoda maminya. Sepenggal kisah percintaan mami Via dengan daddynya Darren diceritakan kembali oleh mami Via. Dari awal berteman, hingga pacaran dan akhirnya putus. Sarapan juga jadi lebih menyenangkan sambil berbincang santai.


"Tan, rencanaku pagi ini ingin minta izin untuk pacaran dengan anak tante ini. Aku udah terlanjur jatuh hati padanya. Aku akan berusaha sebaik mungkin menjaganya dan menyayanginya," ungkap Darren kepada mami Via.


"Tapi jujur ya, Der. Tante omong apa adanya di sini. Kebetulan kalian berdua juga ada disini. Tante sebenernya agak keberatan dengan hubungan kalian, karena umur kalian terlampau beda jauh. Darren sendiri kan masih punya masa depan yang panjang dengan umur yang masih muda. Pastinya kamu lebih fokus ke karir untuk masa depan kamu. Sedangkan anak tante ini sudah bukan muda lagi. Jika dia menunggu terlalu lama untuk menikah, tante gak akan biarkan itu terjadi. Jadi, tante ingin kalian masing-masing pikir kembali tentang hubungan kalian ini kalo belum bisa ke jenjang yang lebih serius," jelas mami Via yang sudah mewakili isi hatinya yang selama ini kepikiran tentang Via.

__ADS_1


__ADS_2