Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 59


__ADS_3

"Vi, kok senyum-senyum sendiri?" tanya mami yang baru keluar dari kamar mandi.


"Abis baca chat, mi. Soalnya aku baru buka hp, eeee... chat yang masuk banyak banget. Pusing bacanya," jawabku sambil sibuk memeriksa chat masuk dari yang lain.


"Vi, kita berangkat jam 06.30 ya. Kita mau ke Milan."


"Baik, mi."


Mami sibuk ngeringin rambutnya yang panjang sebahu. Walaupun sudah berumur 58 tahun, uban di kepalanya tergolong sedikit dan dia juga tidak mau mewarnai rambutnya agar hitam merata, biar alami saja katanya.


Chat dengan beberapa klienku sudah ku balas. Chat dengan karyawanku juga sudah kelar. Beres sudah. Saatnya mandi dan siap-siap ke Milan. Milan sebuah pusat kota yang terkenal dengan pusat perbelanjaan, pusat perekonomian, dan arsitek bangunannya paling keren sehingga banyak menarik para wisatawan berkunjung kesana.


Mami dan aku rencananya melakukan pagelaran fashion show di salah satu gedung mewah di Milan. Jadi tidak sabar ingin melihat gedung yang kami sewa nanti.


Milan, kami datang....


Salah satu bangunan modern tapi elegan, menjadi tempat pilihan kami untuk melakukan pagelaran yang akan berlangsung empat hari lagi. Kami sedang review tempatnya serta bekerja sama dengan beberapa organizer yang dapat membantu kami mendekorasi tempat tersebut sesuai dengan tema fashion show kami.


"Gimana tempatnya? Bagus?" tanya mami yang ingin mendengar pendapatku.


"Keren, mi," jawabku setelah melihat sekeliling tempatnya yang menarik. "Mahal gak, mi?" Sudah pasti harganya fantastis.


"Masalah harga sewa pasti akan balik modal dengan hasil pendapatan kita nantinya. Jadi mami yakin, sini adalah sumber rezeki kita," ucap mami pasti.


"Ya, mi. Kita harus berusaha semaksimal mungkin agar penjualan kita laris manis."


"Tentu, sayang," kata mami dengan senyuman puasnya. "Mami mau cari pemilik gedung ini dulu. Mami sudah janjian dengannya untuk ketemuan di sini. Mami ke sana dulu ya. Kamu liat-liat dulu saja lokasi sini!" pamit mami sambil pergi ke ruangan lain untuk review selanjutnya.


Dalam gedung bertingkat dengan cahaya lampu sorot yang tajam serta jalanan catwalk yang ada di depan mataku, kini hanya bisa menjadi halusinasiku sementara saat membayangkan para model berjalan dengan gaya mereka sambil mengenakan pakaian desain karya mami serta mengenakan jewerly dari karyaku. Aku membayangkan posisiku sedang duduk melihat mereka memperagakan hasil karya kami dengan anggunnya dan...


"Via!" panggil seseorang yang membuyarkan lamunanku.


"Ya!" jawabku sambil mencari sumber suara tersebut.


Didepanku saat ini berdiri seorang pria tampan yang tidak asing. Hanya saja aku agak lupa dengan namanya.


"Masih ingat aku?" tanyanya memastikan.


"Nnggg... Siapa ya? Sorry, aku lupa!" jawabku sopan.


"Hahaha.... Aku Hendra Wijaya, Vi," katanya sambil tersenyum saat melihatku sedikit kebingungan mengingat namanya.

__ADS_1


"Oooo... Hendra?"



*Hendra Wijaya


Tidak salah lagi ini Hendra teman sekolahku semasa SMA. Kenapa dia ada disini ya? Kebetulan sekali bertemu dengannya. Sudah lama banget gak pernah dengar kabar darinya.


"Sedang apa disini?" tanyanya penasaran.


Aku melihat sekitaran mencari keberadaan mamiku. "Aku nemenin mamiku ngadain pagelaran fashion show disini."


"Oh ya? Siapa nama mami kamu?"


"Namanya Laurensiah Magdalena. Kenapa?"


"Berarti yang sewa gedung ini... mami kamu?"


"Iya! Kok... kamu tau?" sekarang giliran aku yang penasaran.


"Hahaha... Aku pemilik tempat ini," jawabnya yakin.


"Ooo... Hebat dong bisa punya tempat sebagus ini!" pujiku takjub.


"Baik. Kamu sendiri sudah lama di Italia?"


"Ya, semenjak kuliah, hingga lulus dan kerja di sini."


"Wah... kamu gak pernah pulang ke Indonesia untuk ketemu dengan keluarga kamu?"


"Aku belum mau pulang. Tapi kadang kedua orangtuaku suka ke sini mengunjungiku."


"Kenapa belum mau pulang? Kamu beneran gak kangen dengan kota kelahiran kamu?"


Dia hanya tersenyum padaku. "Tidak ada alasan untukku pulang."


Aku bingung dengan ucapannya barusan, tidak ada alasan untuknya pulang. Lalu apa arti keluarga baginya? Apa dia gak punya teman lain di Indonesia?


"Bukankah orangtuamu bisa dijadikan alasan untuk kamu pulang?" tanyaku dengan nada pelan takutnya ada kata yang menyinggung perasaannya.


Dia hanya menggeleng pelan. "Aku menyukai seseorang, tapi dia menyukai orang lain. Sampai sekarang... aku masih menunggunya. Itulah alasanku kenapa gak mau pulang. Aku takut sakit hati."

__ADS_1


"Oooo... Ternyata begitu. Tapi untuk apa kamu menunggu hal yang gak pasti? Bukankah banyak cewek yang menyukaimu juga? Tampangmu yang ganteng gini masa gak ada yang suka? Gak mungkin."


"Haha.. Lama tidak berjumpa, kamu ada kemajuan dalam menilai orang."


"Masa sih?"


"Ya! Kamu banyak berubah. Setidaknya kamu gak cuma berduaan dengan Victor terus."


Dia masih ingat Victor rupanya.


"Aku... biasa aja. Mungkin karena pergaulan juga saat aku kerja, makanya lebih terbiasa berinteraksi dengan yang lain."


"Oh ya, gimana kabar Victor? Kalian masih pacaran?"


Aku shock mendengar pertanyaannya. Apa benar dia tidak tahu apa-apa tentang Victor yang sudah tiada? Apa selama ini tidak ada satu orangpun yang memberitahunya? Padahal kan mereka sahabatan. Victor dan Hendra bersahabat sebelum mengenalku. Semenjak aku berpacaran dengan Victor, hubungan mereka agak renggang dan sampai saat ini aku belum tahu alasannya kenapa persahabatan mereka serasa putus begitu saja.


"Vi! Via!" panggilnya sambil melambai-lambai kecil di depan wajahku membuyarkan lamunanku.


"Victor... Sudah tiada," jawabku yang membuat dia tercengang.


"Apa?" tanyanya tak percaya. "Serius? Kapan?"


Aku coba menguatkan imanku untuk menjawab pertanyaan singkatnya karena mengusik memoryku kembali tentang Victor.


"15 tahun yang lalu saat kami kuliah bersama. Dia kecelakaan saat balapan dan kepalanya terbentur ke aspal hingga gak sadarkan diri dan...." Aku gak bisa meneruskannya karena air mataku sudah hampir jatuh di pipiku.


Dia mengusap-usap lengan kananku. "Maaf! Aku tidak tau kalo dia sudah tiada. Aku menyesal telah bertanya padamu."


Aku mempertahankan air mataku yang tidak jadi tumpah. Aku menatap ke atas langit-langit gedung bertingkat sambil mengibas-ngibaskan jemari tanganku agar air mataku diserap kembali ke asalnya. Untungnya berhasil, sehingga hal memalukan tidak terjadi.


"Gakpapa. Aku sudah kuat tanpanya. Tapi..." kataku berhenti sesaat karena bimbang diantara boleh tanya sesuatu atau tidak padanya.


"Tapi, apa?"


"Kalo aku boleh tau, kenapa persahabatan kalian renggang?" Akhirnya aku mencoba memberanikan diri bertanya karena aku selalu penasaran ingin tahu jawabannya.


"Ekhmm..." dehemnya yang padahal dia gak batuk. "Aku ada konflik dengannya. Aku akui, aku terlalu egois saat itu, tapi... ya itulah aku. Hingga sampai detik ini mungkin aku masih dengan keegoisanku sehingga sekarang aku agak menyesal setelah mengetahui Victor telah tiada tanpa sepengetahuanku," katanya sambil menundukkan kepalanya. Nampak sekali kalau dia agak berat menceritakannya padaku dan ada penyesalan disana. "Aku menyukai cewek yang sama dengannya," lanjutnya.


Cewek yang sama? Apa Victor punya gebetan lain selain aku?


"Maksudnya?" tanyaku memastikan.

__ADS_1


"Aku menyukaimu juga," jawabnya sambil berani menatapku. "Aku juga menyukaimu. Bahkan sebelum kalian berpacaran. Bukankah aku yang selalu menemani kamu sebelum kamu mengenal Victor?"


__ADS_2