Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 42


__ADS_3

Dua jam kemudian


Mereka tengah bersiap-siap pergi memancing dengan kapal pribadi papinya. Darren dan Via juga sudah siap sedari tadi di kapal. Mereka foto-foto sejenak untuk mengabadikan liburan mereka sambil menunggu kedatangan Ferdy dan papinya.



*Darren dan Via


"Kenapa sih mukamu cemberut difoto?" tanya Via tidak puas setelah melihat hasil foto Darren.


Darren mendekatkan wajahnya samping wajah Via. "Kalo aku senyum, tar cewek-cewek lain liat nanti pada klepek-klepek lagi," narsisnya hingga membuat Via respect menyikut perut Darren dengan siku tangannya. "Awww...." kata Darren kesakitan sambil memegang perutnya dan berguling-guling diatas deck kapal.


"Kamu kenapa?" tanya Via kelabakkan khawatir melihat Darren yang kesakitan.


"Aawww... perutku sakit banget, Vi. Aku... aku... rasanya gak bisa bertahan," keluh Darren yang masih memegang perutnya dengan mimik wajah kesakitan yang luar biasa.


"Ini beneran atau cuma prank?" tanya Via dengan wajah paniknya yang gak mau kena jebakan batman alias prank.


"Bene...." kata Darren terhenti karena tiba-tiba tak sadarkan diri.


"Der! Darren!" panggil Via sambil mengguncang-guncang tubuh Darren seraya membangunkan Darren.


Darren tidak merespon. Via makin khawatir lagi, karena tidak ada siapapun di sekitarnya. Hanya mereka berdua di atas kapal. Dia juga tidak bisa meninggalkan Darren begitu saja, karena takut ada apa-apa. Akhirnya Via mencoba menempelkan telinganya ke dada Darren untuk mendengar suara degupan jantung Darren, memastikan apakah ia masih hidup atau tidak.


Kedua tangan Darren langsung merangkul pinggang Via sehingga mereka berdua saling berpelukkan. Via pun terkejut dengan perlakuan Darren.


"Kamu?" Via kesal sambil meronta-ronta minta dilepaskan.


"Biarin begini dulu sementara! Kamu jangan banyak bergerak nanti aku gak tahan," bisik Darren menggoda dengan suara parau.


"Gak tahan apa?" tanya Via sambil menatap tajam Darren. "Jangan macam-macam ya!" ancamnya.


"Ya... Gak tahan kalo gak meluk kamu. Emangnya apa yang ada di pikiran kamu? Hahahaha...." ledek Darren.


Via yang mendengar itu langsung tersipu malu dan diam sejenak dalam pelukkan Darren. Kepalanya masih bersandar di bidang datar Darren dan sangat terdengar jelas degupan jantung Darren yang kencang dan cepat.


Sekiranya tujuh menitan mereka diam dalam posisi seperti itu, Via langsung mengambil kesempatan untuk mencubit pinggang Darren yang tengah lengah.


"Aww..." jerit Darren yang akhirnya melepaskan pelukkannya dan Via terbebas.


Via langsung berdiri dan membenarkan rambutnya yang sedikit berantakkan. "Kamu jangan seperti ini lagi ya! Kalo gak... nanti aku akan marah beneran sama kamu," katanya yang coba memperingati Darren.

__ADS_1


"Aku kan cuma mau liat respon kamu aja yang perhatian ama aku apa gak kalo aku tiba-tiba pingsan."


"Cepat bangun! Papi dan Ferdy sudah menuju kesini," suruh Via pada Darren yang masih baring dengan santainya.



*Darren dan papi mereka


"Tarik aku!" pinta Darren sambil menjulurkan tangan kanannya minta di tarik oleh Via untuk segera bangun.


Via dengan cepat menarik Darren dengan satu tangannya dengan sekuat tenaganya. Tapi bukannya Darren yang bangun, malah Via yang terjatuh lagi dalam pelukkan Darren dan secara tidak sengaja kedua bibir mereka saling bersentuhan. Kesempatan itu digunakan Darren untuk mengecup bibir Via dengan lembut. Via langsung mencoba bangkit dari pelukkan Darren dan gugup melihat kedatangan papi dan Ferdy yang sebentar lagi sampai ke kapal. Darren juga sudah berdiri dan sudah duduk di jok kapal.


Ferdy dan papinya sudah hampir sampai. Darren menarik tangan Via yang tengah berdiri agar duduk di sampingnya. Setiap kali dekat Darren, Via selalu merasa terkejut dengan hal-hal yang tiba-tiba terjadi. Seperti kecupan barusan yang membuat Via tersipu malu saat di tatap Darren dengan tatapan menggoda sambil tersenyum.


"Kalian sudah di sini dari tadi?" tanya Ferdy yang sudah tiba di kapal.


"Ya.... Tidak begitu lama juga sih," jawab Via.


Darren berdiri dan membantu si papi membawa tas tentengnya yang berisi berbagai jenis umpan imitasi untuk menarik perhatian ikan nanti dan beberapa benang kail andalannya.


"Kalian sudah siap, kan? Ferdy yang ambil kendali kemudi ya," kata si papi.


Darren memperhatikan cara Ferdy menyalakan mesin dan mulai mengendarai kapal lautnya.


"Gila, keren banget lu bisa kemudiin kapal!" puji Darren saat liat Ferdy tengah serius menyetirkan kemudi kapal dengan lihai.


"Biasa aja. Lu juga bisa kok kalo mau coba, bro."


"Gampang gak cara kemudiinnya?" tanya Darren yang sibuk melihat cara-cara Ferdy menyetir sambil menekan beberapa tombol aktif yang mempunyai fungsi kerja berbeda pada kapalnya.


"Kita cuma mesti tau fungsi tombol area sini aja sambil kemudiin setirnya agar seimbang dan sambil liat GPS juga untuk mengetahui lokasi laut yang mana yang kita tuju," jelas Ferdy sedikit memberikan contoh gerakan kemudi pada Darren.


"Oooo... Seru juga ya."


"Seru lah! Ngomong-ngomong, lu suka mancing juga?"


"Sebenernya sih gak gitu suka. Tapi pengen aja coba mancing sama kalian daripada bengong di villa."


"Coba ngambil perhatian calon mertua ya?" ledek Ferdy sambil menatap ke depan arah laut.


Darren hanya tersenyum karena Ferdy tepat menerkanya. Jadi dia tidak bisa mengelak. Sedangkan Via sedang menemani papinya di deck kapal depan sambil menikmati angin laut yang berhembus.

__ADS_1


Saat petang menjelang tiba


Kapal mereka telah diparkir ke posisi semula. Kali ini Darren yang membantu Ferdy mengikat tali jangkar. Mereka tiba dengan membawa beberapa kantong hasil tangkapan laut, seperti ikan, cumi-cumi, dan lobster.


"Lumayan buat makan malam kita," kata si papi senang.


"Tapi papi bukannya gak boleh makan terlalu banyak? Ati-ati lo pi sama kolesterol papi," ingat Via pada papinya.


"Ya, sesekali gakpapa kali. Ya gak, Fer?" tanya si papi yang minta pendapat si calon dokter.


"Boleh aja, tapi jangan berlebihan pi!" jawab Ferdy.


Mereka sama-sama tiba di villa dan masih ada Julia yang sedang menunggu kepulangan mereka. Via dan Julia sibuk di dapur menyiapkan bahan makanan untuk makan malam, sedangkan para laki-laki sedang asyik duduk di kursi santai teras depan yang menghadap ke pantai sambil menikmati minuman kaleng.


Setelah beberapa menit kemudian


Makan malam telah di hidangkan di atas meja makan. Masakkan apa adanya namun dapat mengganjal perut yang sudah kelaparan. Mereka makan malam bersama dalam satu meja.


"Enak nih menu malam ini!" puji Ferdy yang sudah gak sabar ingin mencobanya.


"Ayo, makan semua!" suruh papinya mempersilahkan.


Bunyi alat makan yang sibuk mewarnai dapur kala itu. Manda yang tadinya bermain dengan pengasuhnya, tiba-tiba datang mendekat dan minta di pangku oleh Julia.


"Nda ama mbak dulu ya. Mami makan sebentar," kata Julia pelan pada Manda.


"Gak!" jawab Manda sambil geleng-geleng. "Aku mau dicini ama mami," ngototnya.


"Nda mau makan?"


"Gak! Nda mau duduk cini aja."


"Tapi....."


"Sini, ama om aja!" sela Darren sambil tersenyum memanggil Manda.


"Tapi kan kamu juga lagi makan," kata Julia yang tidak mau ngebebani Darren.


"Gakpapa. Aku sudah kenyang. Gak bisa makan banyak. Sini, sama om yuk!"


Manda langsung turun dari pangkuan Julia dan beralih ke pangkuan Darren. Ia menatap Darren senang karena sikap Darren yang friendly.

__ADS_1


__ADS_2