
Tidak mungkin! Hendra menyukai aku juga? Aku pikir, Hendra hanya menganggapku sebagai teman biasa saja. Apakah hanya gara-gara aku, makanya hubungan mereka renggang sampai detik ini? Aku benar-benar gak percaya dengan apa yang kudengar.
"Jadi.... Cewek yang kamu maksud itu aku?"
"Ya!"
"Jadi... Selama ini kamu pendam perasaan suka kamu sama aku?"
"Ya!"
Aku menatap kedua matanya. Aku merasa menyesal karena tanpa sengaja melukai hatinya. Mungkin tanpa kusadari, aku pernah memberinya harapan palsu. Pantas saja dia pernah kesal denganku dan pergi tanpa berita.
"Kenapa, Vi? Jangan menyalahkan dirimu! Ini bukan salahmu," katanya yang sekarang malah mencoba untuk menenangkanku.
"Kamu seharusnya tidak seperti itu. Kamu berhak dapat cewek yang lebih baik dari aku. Aku benar-benar minta maaf kalo aku tanpa sengaja udah melukai perasaan kamu."
"Hei... Kamu ngomong apaan sih? Udah deh. Gak usah dibahas," katanya sambil berpangku tangan.
"Bukankah kamu sempet kesal denganku? Tiba-tiba pergi dan seolah-olah hilang ditelan bumi."
"Maaf! Aku hanya menuruti egoku saja. Lupakanlah! Itu bagian dari masa lalu. Saat ini... aku ingin perubahan yang berarti," harapnya dengan tersenyum manis padaku.
Senyum itu mengingatkanku saat dulu ia sering menemaniku dikala aku sendirian tanpa teman di sekolah, karena aku tipe anak pendiam dan tidak mudah bergaul.
🎶📲 Nada dering ponselku berbunyi di tengah-tengah pembicaraan kami.
Darren ingin video call denganku. Aku segera mengangkatnya. Dan tampak wajah manisnya sudah menyambutku.
"Hai, Vi!" jawabnya.
"Hai, Der! Lagi istirahat?" tebakku saat melihatnya sedang duduk santai.
"Ya, aku lagi mau makan siang. Mau makan?" tawarnya sambil memperlihatkan arah ponselnya ke sepiring nasi dengan semangkuk sup iga.
"Gak, makasih."
"Kamu lagi dimana? Tempatnya keren," katanya saat ia melihat di sekitar bagian belakangku.
"Aku sama mami lagi di Milan ngereview tempat," kataku sambil memperlihatkan sekeliling tempat padanya.
"Eit.. Kek ada yang aku kenal deh. Coba kamu arahin ke cowok yang gak gitu jauh dari kamu tadi!"
"Siapa?" tanyaku sambil mengarahkan ke beberapa orang yang berada di sekitarku. Tapi Hendra juga ikut ke shoot olehku.
__ADS_1
"Stop!" suruh Darren agar aku berhenti tepat di depan Hendra.
"Disini stopnya?" tanyaku yang sudah mengarahkan kamera ponsel video tepat di depan Hendra sekarang.
"Ya! Bentar ya, Vi!" suruhnya. "Hei, Mas Hendra! Ini aku Darren, temen Yuda!" sapanya pada Hendra yang tampak akrab.
Hendra memicingkan matanya melihat ke layar ponselku agar lebih jelas. "Hei, Darren! Wah... makin oke aja kamu!" jawab Hendra balik.
"Biasa aja, mas. Gimana kabarnya nih?"
"Kabar baik. Kamu juga kan sehat-sehat aja?"
"Sehat dong. Masih di Italia?"
"Masih. Ini kebetulan lagi kerja dan ketemu Via. Eit... kalian ternyata saling kenal?" tanyanya tentang hubungan kami pada Darren.
Darren yang tampak senyum malu-malu menganggukkan kepalanya pelan. "Dia pacarku, mas," akunya tanpa basi-basi.
Hendra menatapku kaget, tapi ia mencoba tersenyum di depan kami. "Oo... Kalian pacaran? Selamat ya!"
"Ya, mas. Terima kasih. Kapan-kapan ketemuan yuk!" ajaknya.
"Iya, siap!" jawab Hendra. "Kalian ngobrol dulu aja! Aku lagi ada urusan sebentar dengan klien," katanya sambil berpamitan dengan kami.
"Kalian baru saling kenal?" tanya Darren.
"Jadi Hendra itu temen kamu? Trus, kalian reunian dong?"
"Ya... gak juga sih. Kan kebetulan ketemu aja, lagian aku juga gak tau kalo dia ada disini."
Aku melihatnya makan dengan lahap dan sepiring nasi hampir habis dengan sekejap.
"Kamu udah sarapan?"
"Belum."
"Jangan lupa sarapan! Oh ya, tadi kalian ngobrol apa aja?"
Aku langsung tersenyum padanya, karena aku sudah bisa menebak kalau ia pasti akan penasaran dengan apa yang barusan aku bicarakan dengan Hendra.
"Gak penting lah. Hanya bertegur sapa biasa sebagai teman," kataku yang terpaksa berbohong. Jika aku berkata jujur, aku takut ia akan bahas panjang lebar.
"Masa sih?" tanyanya tak percaya.
__ADS_1
"Ya! Cuma ngobrol biasa aja seputaran kerjaan sama kabar temen-temen di Jakarta."
"Oooo... sjdjjddhbdksk (bahasa gak jelas karena signal jelek)."
"Der, signal lagi gak bagus nih. Tar baru sambung lagi ya!"
Berhubung signalnya memang jelek, aku matikan saja video call darinya. Lalu kuberitahu Darren lewat chat kalau sementara tidak usah video call-an dulu karena signal lagi tidak lancar. Saat sudah memasukkan kembali ponselku ke dalam tasku, mami datang dengan Hendra menghampiriku.
"Vi, ini lo pemilik tempat ini!" kata mami seraya memperkenalkan Hendra.
Sontak aku dan Hendra hanya tersenyum saja dan mami kebingungan. "Aku dah kenal, mi."
"Oh ya? Kalian sudah saling kenal?" tanyanya dengan ekspresi kagetnya.
"Dia teman SMAku dulu, mi. Aku juga baru tau kalo dia CEO di sini."
"Ya, ampun nak Hendra.... ternyata kamu ama Via temenan toh. Coba kalo berjodoh, lebih bagus lagi," harap mami sambil senyum sendiri.
"Mami!!!" seruku tak terima.
"Hahaha... tante cuma bercanda, jangan dimasukkan ke hati!" pintanya dengan Hendra.
"Sebenernya saya udah lama suka sama anak tante ini. Tapi... waktu itu keduluan sama temen saya, Victor. Sampai saat ini pun saya masih mengharapkan Via bisa jadi pendamping hidup saya," aku Hendra yang membuatku dan mami shock mendengarnya.
"Benarkah, nak Hendra?" tanya mami memastikan omongan Hendra.
"Ya, tan!" jawab Hendra yakin.
Aku hanya menggaruk kepalaku yang aslinya gak gatal sama sekali.
"Via, mami rasa kamu harus pertimbangkan nak Hendra ini!" bisik mami ditelingaku tanpa kedengeran oleh Hendra. "Daripada pacaran ama berondong itu, bukannya cuma nunda waktu kamu aja. Mending sama yang udah pasti. Lagian kan kalian ini di bidang pekerjaan yang gak jauh beda," lanjut mami.
"Mami, please deh!" mohonku agar dia stop ngelantur.
"Tan, ada yang ingin aku bicarakan dengan Via," kata Hendra.
"Ooo... silahkan kalian ngobrol berdua saja! Tante akan pergi dulu meninggalkan kalian berdua," kata mami yang sudah mau pergi.
"Jangan, tan! Aku akan bicara di depan tante saja," kata Hendra sambil serius dengan sikapnya saat ini.
"Apa keberadaan tante disini nyaman buat kalian?" tanya mami yang udah merasa gak enakkan.
"Oh.. gakpapa, tan. Cuma sebentar aja kok," jawab Hendra.
__ADS_1
"Kalo gitu, silahkan!"
"Via, didepan mami kamu, aku mau bilang sesuatu. Aku harap, kamu dengar dulu sampe habis. Aku sebenernya dari dulu emang udah naksir sama kamu. Hanya saja saat itu betapa b*dohnya aku malah memilih untuk menyerah. Padahal saat itu, aku yang banyak berkorban untuk kamu, tapi kamu malah memilih Victor. Sekarang... aku akan berjuang mendapatkan hatimu lagi. Aku gak akan nyerah, walaupun aku tau kamu sudah pacaran dengan Darren. Tapi bagiku... lebih baik berusaha daripada menyerah lagi," ungkapnya panjang lebar yang menyentuh hatiku.