Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 25


__ADS_3

*****


Pintu rumah apartemen telah terbuka. Ferdy sedang asyik nonton televisi. Darren mengembalikan kunci motornya ke Ferdy sambil duduk di atas sofa dan menyenderkan kepalanya.


"Ini, buat kamu!" kataku sambil menyerahkan sebuah kantong belanjaan yang berisi beberapa makanan ringan untuknya.


"Banyak juga. Thanks ya, Via cantik," katanya sambil tersenyum menunjukkan gigi rapinya.


"Iya, sama-sama. Aku mau mandi dulu ya," ucapku sambil menaruh kembali sepatuku ke rak sepatu semula.


Rasanya kakiku lemas dan urat syarafnya pada tegang semua. Ternyata Darren kuat jalan juga dan mau nemenin aku belanja sekalian. Ku pikir dia gak bakal mau nemenin cewek belanja, karena jarang ada cowok seperti itu.


🌺Author Pov🌺


Darren duduk selonjoran (posisi duduk yang malas) di atas sofa sambil merentangkan kedua kaki jenjangnya.


"Gimana ngedatenya?" tanya Ferdy sambil menepuk pelan paha Darren.


"Mmm... Lumayan," jawab Darren dengan tingkahnya yang pecicilan.


"Lumayan, gimana? Uda nembak?" tebak Ferdy penasaran.


"Belon sampe tahap itu kali, bro," katanya sambil memalingkan muka ke arah lain seolah-olah terkaan Ferdy melampaui dari kejadian sebenarnya.


"Terus? Sudah tahap apa?" tanyanya dengan wajah kebingungan belum paham.


"Cuma gak sengaja kekecup bibirnya aja," jawabnya sambil tersenyum smirk.


"Terus tangan lu gak macem-macem, kan?" interogasi Ferdy takut Via di apa-apain.


"Ya gak lah. Gue bukan cowok yang sembarangan melecehkan cewek. Pokoknya gue jamin Via aman."


"Bagus! Gue salut ama lu," pujinya sambil mengacungkan jempol kanannya ke Darren.


Mereka membicarakan topik shock kiss yang terjadi di gedung bioskop tadi. Ferdy hanya mendengar sambil tertawa terkikih-kikih membayangkan mereka berdua saat itu. Lalu mereka juga sempat janjian untuk menghadiri pesta pernikahan saudara Aldo esok malam. Sepertinya mereka telah menyepakati untuk berangkat bareng dengan mobil yang di kendarai Darren.


*****

__ADS_1


Tiba saatnya hari yang di nantikan tiba. Aldo yang sudah tiba sedari tadi di depan apartemen Via sabar menunggu Via di dalam mobilnya. Tidak lama kemudian Via yang sudah rapi dengan penampilan jazz modernnya datang menghampiri mobil Aldo.


"Hai! Maaf sudah menunggu lama," kata Via yang merasa tidak enak hati.


Aldo bergegas keluar dari tempat duduk supirnya, kemudian berlari kecil untuk membukakan pintu buat Via.


"Gakpapa kok. Gak lama juga. Masuk!" katanya yang sudah membuka pintu mobil penumpang bagian depan untuk mempersilahkan Via masuk ke dalam mobilnya.


Via menatapnya sambil tersenyum ramah dan langsung duduk manis di kursi penumpang sebelah Aldo. Kepala dan setengah badan Aldo masuk ke dalam untuk memasang sabuk pengaman Via. Jarak yang begitu dekat membuat jantung Aldo berdegup kencang. Setelah memastikan kalau sabuk pengamannya terkunci, Aldo mundur untuk keluar perlahan. Tapi di saat wajah Aldo bertatapan langsung dengan wajah Via, mereka sama-sama tertegun beberapa detik. Via merasa Aldo sangat dekat saat ini. Tapi Aldo seketika sadar dengan posisinya. Ia segera kembali ke tempatnya semula.


Sambil menatap ke depan melihat ramainya kendaraan yang berlalu lalang, lagu yang berirama hiphop terdengar merdu di speaker mobil Aldo, membuat perjalanan mereka terasa nyaman. Sesekali jemari tangan Via bermain-main di pinggir pegangan pintu samping tempat duduknya sambil mengikuti beet alunan musiknya.


"Kau suka musik juga?" tanya Aldo yang tidak tahan kalau tidak bicara setelah melihat Via menikmati musik ini.


"Suka. Aku sering putar lagu seperti ini di kamarku kalau lagi penat."


"Oh ya, apakah adikmu jadi datang?"


"Jadi. Dia akan datang," ucap Via yakin.


"Ya, pasti," ucap Via sambil tersenyum manis.


"Kemaren kamu pulang jam berapa?"


"Aku pulang jam lima sore gitu. Kenapa?" tanya Via heran.


"Aku menunggu pesan darimu yang tidak kunjung datang."


Via menepuk dahinya. "Ah... Maaf! Aku lupa mengabarimu, karena kemaren aku langsung tidur setibanya di rumah."


Kemaren Via memang langsung tidur setelah mandi. Ia sempat di bangunkan Ferdy untuk makan malam, tapi Via tak kunjung bangun.


"Hahaha... Gakpapa kok. Bukan masalah besar."


"Ya, aku benar-benar minta maaf," ucap Via lagi dengan perasaan menyesal.


"Gakpapa Via, karena kebetulan kemaren aku juga tidak ada kerjaan. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk selesaikan kerjaan kantor."

__ADS_1


Setelah perbincangan mereka, tanpa terasa mobil Aldo sudah terparkir di sebuah gedung bertingkat enam. Gedung dengan fasilitas terbaik ini punya keluarga Aldo yang suka di gunakan untuk acara keluarga termasuk wedding. Gedung ini bisa indoor dan outdoor karena mempunyai desain yang unik.


"Wah... tempatnya mewah ya," kata Via setelah melihat kemegahan gedung itu dari tampak luar.


"Ayo, masuk! Aku ingin memperkenalkan kamu pada keluargaku," ajaknya yang tidak segan berdampingan dengan Via memasuki ruangan.


Aldo memberi kode pada Via agar menggandeng tangannya saja ketika berjalan nanti. Via pun menyetujui menggandeng tangan Aldo.



*Aldo dan Via


Tidak heran juga mereka jadi sasaran banyaknya pasang mata di acara itu. Aldo disambut ramah dengan beberapa ibu-ibu yang sudah berdandan cantik. Walaupun ada beberapa helai uban yang tumbuh, tetap tidak menyurutkan kecantikan mereka.


"Aldo, akhirnya membawa pasangan juga hari ini. Mami bangga padamu nak. Ini nak Via, kan?" tanya seorang wanita yang seumuran dengan mami Via.


"Iya, mi. Ini, Via," jawab Aldo sambil melirik Via. "Via, ini mami aku," kata Aldo memperkenalkan maminya.


"Halo tante, aku Via," kata Via sambil bersalaman dan memeluk hangat maminya Aldo.


"Via, terima kasih sudah datang hari ini bersama anak tante. Kamu cantik sekali, nak," puji maminya sambil melihat Via dengan teliti.


"Ini ya calon mantu kamu?" tanya wanita yang seumuran lagi dengan maminya Aldo.


"Iya, dia calon mantuku. Bagaimana? Cantik, bukan?" Sebegitu lancarnya pembicaraan maminya Aldo yang keluar begitu saja dari mulutnya hingga membuat Via kaget dan bingung.


"Aldo punya pacar kok gak dikenalin ke tante-tantemu ini?" tanya tante yang lain yang ikutan nimbrung.


"Mereka baru aja jadian. Buktinya, sekarang Aldo udah berani kenalin ke kita," bela maminya Aldo yang sempat membuat Aldo panik dan salah tingkah.


"Mi, Aldo mau bicara dengan Via bentar. Pinjam dulu ya, mi!" Aldo menarik tangan Via dan mengajaknya pindah ke tempat lain yang agak jauh dari perkumpulan mami dan para tantenya.


Mereka berjalan sedikit tergesa-gesa dan Aldo memastikan keadaan sekitar yang aman dari orang-orang yang akan menguping pembicaraan mereka.


"Maafin mami ama tanteku ya! Aku jadi gak enak nih karena mereka mengira kita udah jadian," kata Aldo setengah berbisik.


Via hanya tersenyum dan ia melirik ke arah perkumpulan para tante itu. "Aku juga bingung sih bagaimana jelasinnya ke mereka."

__ADS_1


__ADS_2