Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 89


__ADS_3

Setelah tahu kehamilan Via, aku jadi gak sabaran ingin memberitahu orangtuaku. Tapi... rasanya tunggu hasil pemeriksaan dokter dulu agar lebih pastinya.


"Asyik! Aku mau punya anak," ucapku bangga sambil bersiul-siul.


Beberapa menit kemudian


"Vi, kamu mandi gih! Aku udah selesai nih," kataku sambil mencarinya di area dapur.


Ternyata dia lagi mencuci alat makannya dan sudah di tata rapi ke tempatnya. Dia juga masih mengelap sisa air yang berserakkan disekitaran wastafel.


"Kan aku dah bilang, kamu gak usah capek-capek," kataku yang datang menghampirinya.


"Aku gak capek kok. Lagian hamil gak hamil juga tetap harus gerak agar gak lemes. Sini, aku betulin dulu dasinya!" serunya sambil membenarkan posisi dasiku yang masih kurang rapi menurutnya.


Aku mengusap perutnya yang masih rata dan senyum-senyum membayangkan perutnya yang makin membesar nantinya.


"Ini daddy, nak!" seruku sambil memperkenalkan diriku pada perut Via yang sudah berisi calon anak kami.


Via yang mendengarku bicara sendiri, dia hanya senyum-senyum saja dan masih sibuk menatap dasiku.


"Udah selesai. Aku mandi dulu ya."


"Ati-ati ya di kamar mandi!" pesanku agar tidak terjadi apa-apa dengannya.


Aku menunggunya di depan kamar mandi sambil berdiam diri didekat pintu. Sesekali aku menguping dari depan pintu kamar mandi, ingin tahu apa saja yang Via lakukan di dalam.


'Krek!' suara pintu terbuka dan aku hampir saja terjatuh, tapi dadaku sudah di tahan oleh Via.


"Maaf!" ucapku langsung membenarkan posisi berdiriku.


"Kamu ngapain di depan pintu?"


"Aku.. Aku..." aku bingung mau jawab apa.


Aku melihatnya memakai handuk yang terlilit dari dadanya hingga ke pertengahan pangkal pahanya. Aku menelan salivaku dan masih terpaku pada penampilannya saat ini yang bagiku dia terlihat seksi.


"Der!" panggilnya sambil melambai-lambai di depanku untuk menyadarkanku saat aku termenung.


"Ya," jawabku yang sudah mulai sadar.


'Gawat... Liat dia kek gini, aku jadi gak tahan. Boleh gak ya?'


"Kamu kenapa?" tanyanya penasaran dan makin mendekatiku.


"Jangan mendekat! Cepat pake baju kamu, kita akan segera berangkat! Aku... aku mau ke dalam dulu," kataku yang segera masuk ke dalam kamar mandi untuk memuaskan birahiku sendiri.


Beberapa menit kemudian

__ADS_1


"Kamu lama amat?" tanya Via penasaran.


"Gara-gara kamu," tuduhku.


"Hah? Aku? Aku, kenapa?" tanyanya lagi dengan memasang wajah polosnya hingga membuatku tersenyum sendiri.


"Kamu tadi pake handuk dan... kelihatan sangat seksi. Jadi... kamu tau sendiri kan sifat suamimu ini yang gak tahan liat istrinya menggoda sedikit aja?"


"Hahaha... Aku yang menggoda? Ato kamu yang mesum dari dulu?" ledeknya.


"Kamu jangan bilang aku mesum dong! Kan aku selama ini juga mesumnya ama kamu doang. Tega banget. Ayo ah, kita berangkat sekarang aja ke rumah sakitnya!" ajakku sambil merangkul pundaknya.


🌺Author Pov🌺


Mereka ke rumah sakit bersama bertemu dengan salah satu dokter SPOG (gelar dokter spesialis kandungan). Setelah melakukan beberapa pengecekkan, memang Via dinyatakan hamil dan usia kandungannya sekarang sudah berjalan empat minggu (menurut hitungan ilmu kedokteran). Sudah terlihat sebuah kantung rahim yang berisi janin sebesar biji kacang hijau saat di usg 3D.


"Aku akan memberikan beberapa suplemen dan vitamin untuk penguat kandungan. Tolong dihabiskan dan kontrol lagi di bulan depan, ya bu!" pesan dokter tersebut sambil sibuk menuliskan resep di kertas khusus.


"Terima kasih, dok," ucap Via.


"Dok, saya mau tanya," kata Darren dengan wajah seriusnya.


"Ya, ada apa, pak?" tanya dokter sambil berhenti sebentar dari menulisnya.


"Apa aku boleh melakukan 'itu', ya... dokter pasti ngerti kan apa maksud saya," kata Darren yang membuat dokternya senyum gak karuan dan Darren jadi salah tingkah.


"Oooo..."


"Ada lagi pak yang mau di tanya?"


"Gak ada. Itu aja, dok. Terima kasih," jawab Darren.


"Kok kamu malah tanya kek gitu sih?" tanya Via seraya berbisik.


"Emang, kenapa? Lebih baik aku tanya, daripada penasaran," jawab Darren berbisik juga.


"Ya, bapak benar dalam hal ini. Gak ada yang perlu disembunyikan karena ini demi kenyamanan bapak dan ibu," timpal dokternya yang gak sengaja dengar percakapan mereka sambil senyum-senyum sendiri. "Ini resepnya dan semoga ibu serta calon bayinya sehat selalu!" kata sang dokter sambil memberikan sehelai kertas resep untuk Via.


Setelah dari pemeriksaan dokter, Via langsung diantar pulang ke rumah. Sedangkan Darren pergi ke kantor seperti biasanya.


*****


Lima hari berlalu...


Darren dan Via pergi ke Singapore ke tempat orang tua Via untuk merayakan hari ulang tahun papinya Via. Darren sengaja minta cuti sama daddynya agar bisa menemani Via ke sana. Sebelumnya orangtua Darren sudah tahu terlebih dulu kabar kehamilan Via dan mereka sangat gembira serta berpesan pada Darren agar terus menjaga Via dengan baik.


Sesampainya di Singapore

__ADS_1


Mereka telah sampai dikediaman orangtua Via. Mereka disambut dengan baik di sana. Julia sudah datang terlebih dulu dengan suami dan anaknya. Mereka saling berpelukkan melepas kerinduan. Jelang setengah jam kemudian, Ferdy baru datang menyusul mereka.


Saat acara makan malam, suasana rumah kediaman orangtua Via menjadi ramai. Ferdy juga sedang bercerita tentang pengalaman kerjanya di salah satu rumah sakit Bandung sebagai status dokternya yang sudah resmi saat ini.


"Fer, aku mau kamu periksa aku!" pinta Via yang sempat menarik perhatian anggota keluarganya.


"Kamu, sakit?" tanya Ferdy dengan wajah cemasnya.


"Gak. Aku cuma pengen tau aja, kamu dokter beneran ato abal-abal," ledek Via.


"Kamu belum tau kehebatan aku. Kalo gak sakit, kenapa mesti suruh aku periksa?" tanyanya heran.


"Aku pengen tau aja, kamu bisa membedakan orang yang sakit ato gak."


Darren dan Julia hanya senyum-senyum karena mereka telah mengetahui tentang kehamilan Via, sedangkan yang lainnya belum tahu termasuk orangtua Via sendiri. Ferdy menghampiri tempat duduk Via dan berlutut dengan salah satu kakinya di depan Via (layaknya seperti seorang pangeran yang ingin melamar putrinya).


"Kamu ini meragukan adek sendiri. Sini, aku periksa denyut nadi kamu!" kata Ferdy sambil menyentuh area pergelangan tangan Via sambil memeriksa denyut nadinya.


Via mengulurkan tangannya dan membiarkan Ferdy memeriksanya. Wajah Ferdy tampak serius saat memeriksa kondisi tubuh Via. Ia sempat merasa aneh sendiri dan menatap Via serta Darren bergantian, kemudian ia senyum-senyum sendiri.


"Kok malah senyum-senyum sendiri?" tanya papi Via penasaran setelah melihat reaksi Ferdy.


"Iya, kenapa malah senyum-senyum? Kakakmu, kenapa?" tanya maminya cemas tapi ikutan senyum juga.


"Jadi... kamu ngetes aku ya?" tanya Ferdy pada Via.


Via hanya mengangguk pelan sambil tersenyum manis.


"Ada apa sih?" tanya maminya penasaran.


"Dia sedang hamil, mi, pi," jawab Ferdy dengan wajah cerianya.


Ferdy mengacungkan jempolnya ke Darren seraya memberikan selamat atas kehamilan Via. Darren hanya membalas dengan sebuah anggukkan kepala sambil tersenyum manis juga.


"Apa, hamil?" tanya papinya memastikan.


"Beneran, kan?" tanya maminya lagi.


"Iya, pi, mi. Aku hamil," jawab Via yakin.


Maminya langsung berdiri dan memeluk Via. Ia mencium kening Via seraya senang mendengar kabar bahagia tersebut. Papinya juga memeluk Darren dan menepuk punggung Darren pelan dan mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum bangga.


"Akhirnya kita mau punya calon cucu lagi," ucap maminya senang dan terharu.


Via dan Julia juga ikutan terharu atas kabar bahagia ini. Mereka berpelukkan bertiga (Via, Julia, dan maminya) saling menyemangati dan berbagi kasih sayang.


"Nda juga ikut dipeluk dong!" seru si Manda kecil yang ikutan menyempil ditengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Sini, sayang!" ajak Via sambil memeluknya juga.


__ADS_2