Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 40


__ADS_3

Setelah panggilan berakhir, aku melanjutkan aktivitas menontonku. Dengan hiburan ini saja sudah cukup membantu mengurangi rasa frustasiku.


Lima belas menit kemudian


Julia sudah masuk ke dalam dengan menggandeng tangan seorang anak perempuan yang paling kurindukan. Siapa lagi kalau bukan ponakkanku satu-satunya alias anak Julia.


"Sapa tantenya, sayang!" pinta Julia pada anaknya yang manis itu agar menyapaku.


Seorang gadis kecil manis yang mengenakan dress tutu berwarna pink dan rambutnya di kuncir satu seperti air mancur karena rambutnya masih pendek dan sedikit. Aku sudah menahan gemasku dari awal dia masuk.


Aku berjongkok agar melihatnya lebih dekat dan ingin mendengar suaranya dengan jelas, tapi dia agak pemalu dan masih bersembunyi di balik kaki Julia. Walaupun sedikit mengintip-intip ke arahku, tapi aku berusaha untuk bersikap friendly padanya.


"Kok malu sih ama tante sendiri? Ini tante Via yang suka video call ama kamu lo. Sekarang uda ketemu kan di sini," kata Julia yang ikutan jongkok agar sejajar dengan tinggi anaknya.


"Halo, cantik!" sapaku dengan ramah agar dia ingat cara menyapaku yang masih sama ketika kami viedo call.


"Ayo sayang, tantenya di sapa dulu! Nda bilang ke tante Via, alo tante. Ayo, sayang!" kata Julia sambil mengajarkan anaknya cara bertegur sapa.


Dengan gayanya yang imut dan malu-malu, ia memberanikan diri maju sedikit demi sedikit dengan langkah kecilnya ke arahku yang masih jongkok di tempat menunggu kedatangannya.


"Alo, tante!" sapanya dengan suara imutnya yang sekarang sudah berani berdekatan denganku.


Aku menyambutnya hangat. Memberikan pelukan kecil padanya. "Alo juga sayangku, Manda. Kenapa kamu bisa lucu gini sih? Tante kangennnnn banget sama Manda. Manda kangen gak sama tante?"


Dengan wajah imutnya dan bibir kecilnya ia bilang, "Nda kangen jua ama tante Iya." Tante Iya adalah sebuah panggilan khas darinya karena masih pakai bahasa balita.


"Kalo emang bener kangen ama tante Iya, peluk dong yang kencenggggg banget ama tante!" pintaku yang ingin tahu seberapa gemas dan kangennya dia saat memelukku.


Dia berani memelukku dengan sekuat tenaganya. Pipi chubbynya beradu dengan pipiku. Badannya yang padet (bukan gendut), memberikan kesan kalau dia kuat dan sehat.


"Via!" sapa papi yang baru masuk ke dalam villa.


"Oh.. Hai, pi!" jawabku. "Nda, tante Iya ketemuan dulu ya ama opa. Nanti kita main lagi ya, sayang," kataku sambil melepaskan pelukkan kami sementara.

__ADS_1


Julia membawa Manda ke ruang bermain dan disusul oleh pengasuhnya. Aku memeluk papiku, melepas rindu antara ayah dan anak yang sudah lama tidak bertemu karena jarak kedua negara yang lumayan jauh.


"Kenapa kamu makin kurus, Vi?" tanya papi setelah memperhatikanku.


"Masa sih? Perasaan sama aja deh, pi," jawabku biasa saja.


"Gimana usaha kamu? Papi denger dari mami, kalo kamu menang ikutan kompetisi jewerly bulan lalu."


Papi masuk berjalan ke dalam sambil kugandeng tangannya menuju kursi kayu yang beralas dengan busa tipis yang empuk untuk duduk yang berada di ruang tamu.


"Ya, pi," jawabku yang sudah duduk berdua dengan papi.


Tidak lama kemudian, Julia keluar dari ruang bermain dan meninggalkan Manda yang sudah di temani oleh pengasuhnya. Julia juga duduk sambil mengapit papi.


"Eh... papi dah datang," kata Ferdy yang baru tiba dalam keadaan basah kuyup.


"Hei, Fer!" sapa si papi setelah melihat Ferdy.


"Om!" sapa Darren sambil sedikit manggut seraya memberikan hormat pada orang yang lebih dewasa.


"Ini, siapa?" tanya papi melihat ke arah Darren.


"Ini Darren pi namanya. Pacar Via," jawab Ferdy mengenalkan pada papi dan membuat mataku terbelakak.


"Hah? Bukannya kemaren, katanya temen kamu?" tanya Julia memastikan bahwa ia tidak salah dengar dari mulut Ferdy.


"Ya... Pacar baru Via yang baru jadian," jawab Ferdy terus terang.


Julia dan papi menatapku seraya minta penjelasan. "Nnggg... I..itu.. aku ambilin mereka handuk dulu ya! Karena mereka sudah basah dan lantai jadi licin," kataku yang berusaha mencari alasan agar segera pergi karena terlalu gugup.


Julia dan papi masih kaget kalo aku sudah punya pacar. Aku segera mengambil dua handuk kering dari lemari untuk mereka berdua.


"Permisi, om! Saya ganti baju dulu!" pamit Darren sopan setelah menerima handuk kering dariku.

__ADS_1


"Pi, nanti aku turun lagi. Aku ganti baju dulu," pamit Ferdy juga.


Mereka berdua sama-sama naik anak tangga menuju kamar mereka masing-masing. Sedangkan aku mengelap sisa air yang berjatuhan di lantai yang berasal dari tetesan air badan mereka tadi dengan kain keset kaki.


"Via, sini! Papi mau tanya," seru papi sambil menyuruhku duduk.


Aku menurut saja dan duduk di tempat awal yang aku duduk tadi. "Ya, pi. Ada apa?"


"Kamu yakin, itu pacar kamu? Apa kamu beneran udah serius bisa buka hati kamu ke dia? Setau papi, bukannya kamu lagi deket ama anaknya temen mami kamu? Siapa namanya? Papi lupa?" kata papi sambil mencoba mengingat.


"Aldo, pi," jawabku.


"Ya, nak Aldo," katanya meyakinkan jawabanku. "Kenapa kamu gak jadian aja ama nak Aldo?"


"Ya... Aku.... Aku belum bisa main jadian gitu aja kalau sama Aldo, karena kami belum ada perasaan yang sama-sama saling suka atau sayang gitu, pi," jelasku yang membuatku kebingungan sendiri mencoba menjelaskan ke papi.


"Lalu... Darren tadi... Kalian sudah kenal berapa lama? Kok sekarang bisa jadi pacar kamu?"


"Nnggg... Aku lebih awal mengenal Darren ketimbang Aldo, pi. Mungkin belum begitu lama, tapi dia bisa membuatku nyaman seperti waktu Victor jadi pacarku."


"Tapi papi liat, dia sepertinya lebih muda dari kamu. Berapa beda usia kalian?" Pertanyaan inilah yang membuat jantungku berdetak kencang ingin tahu respon dari papiku.


"12 tahun, pi."


"Apa??? 12 tahun?" tanya si papi dengan keadaan wajah yang shock, begitu juga dengan Julia.


"12 tahun, Vi?" timpal Julia memastikan lagi.


Aku hanya mengangguk mengiyakan.


"Bukankah itu seumuran Ferdy? Kamu yakin, dia bisa bahagiain kamu? Kalo papi liat sih, dia masih mau main-main. Belum bisa serius dengan kamu. Kamu harus mempertimbangkannya lagi, Via. Jangan sampai kamu menyesal jika benar-benar menghabiskan waktu yang gak guna dengannya," kata papi menasehatiku sebagai orangtua yang memperhatikan masa depan anaknya.


Apa yang papi katakan juga sempat jadi bahan pertimbanganku. Benar apa kata papi. Jika aku menghabiskan waktu hanya untuk bermain saja, maka aku sudah semakin menua tiap tahunnya dan tidak ada kesempatan untuk menikah. Disaat menua juga, belum tentu dia masih mau denganku.

__ADS_1


__ADS_2