Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 14


__ADS_3

*****


Via janjian ketemuan kembali dengan Aldo yang kedua kalinya. Dari tokonya, Via nyupir sendiri ke tempat yang sudah ditentukan oleh mereka untuk ketemuan, yakni di sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari toko Via.


Saat Via sudah turun dari mobilnya, dia sudah melihat Aldo yang sedang menunggunya di luar kafe sambil tersenyum manis.



*Aldo


"Hai!" sapa Aldo saat melihat kedatangan Via.


"Hai! Sudah lama nunggunya?"


Aldo langsung berdiri dari tempatnya. "Gak kok. Baru tiba juga beberapa menit yang lalu. Ayo, masuk!" ajaknya sambil jalan berdampingan dengan Via.


Mereka sama-sama masuk ke dalam kafe tersebut dan memesan kopi serta makanan ringan sambil membicarakan tentang kesibukkan masing-masing. Aldo juga senang menjadi pendengar yang baik bagi Via tentang keberhasilan akan kontes jewerly yang dimenangkannya kemaren.


"Wah... Congratulation ya!" Aldo memberikan ucapan selamat sambil menjulurkan tangan kanannya untuk mengajak bersalaman.


"Terima kasih," kata Via sembari merespon tangan Aldo tersebut.


"Via, apakah kamu bisa menemaniku menghadiri pesta pernikahan sepupuku hari Minggu nanti? Aku harap, kamu bisa punya waktu sebentar."


"Tentu!" jawab Via yakin kalau dia bebas dari jadwal apapun alias punya waktu luang.


Aldo hanya tersenyum puas setelah mendapat jawaban singkat Via. Tahap pendekatan Aldo mulai berkembang. Dia ingin memahami Via lebih jauh lagi. Terlebih lagi Via merupakan gadis yang di incarnya.


Di tengah-tengah keasyikkan mereka berbincang ria, Via mendapatkan chat dari Darren. Via sempat merasa heran karena Darren baru kali ini chat dengannya walaupun nomor ponsel Darren sudah di simpannya.


^^^πŸ§‘'Kamu dimana?'^^^


πŸ‘©'Aku lagi di kafe. Ada apa?'


^^^πŸ§‘'Siang gini kok uda keluyuran?'^^^


Via menatap aneh pada ponselnya dengan kata 'Keluyuran' yang di ketik oleh Darren.


πŸ‘©'Hah?'


^^^πŸ§‘'Dengan siapa? Cowok kemaren?'^^^


πŸ‘©'Ya.'


^^^πŸ§‘'Kalo gitu, lanjutkan dulu saja!'^^^


πŸ‘©'Oke!'

__ADS_1


Setelah percakapan singkat di chat tersebut berakhir, Via masih melanjutkan percakapannya dengan Aldo sambil menyeruput kopi kesukaannya. Tiba-tiba ada notifikasi chat berbunyi kembali di ponselnya. Via segera membukanya.


^^^πŸ§‘'Aku lapar!'^^^


^^^πŸ§‘'Bisakah mentraktirku beberapa sandwich dan kopi ? Aku belum makan siang😒'^^^


πŸ‘©'Siapa yang mengambilnya dari sini?'


^^^πŸ§‘'Apakah tidak keberatan jika seorang kakak yang baik mengantarkannya langsung ke sini?''^^^


Sambil menarik nafas dan menghembuskannya seketika, Via mengetik isi percakapan berikutnya.


πŸ‘©'Oke! Berikan alamatmu! Aku akan kesana.'


^^^πŸ§‘'Jalan Nusantara 2 nomor 9, di sana ada gedung kembar. Masuklah langsung ke dalam.'^^^


πŸ‘©'Sebentar lagi, aku akan ke sana!'


^^^πŸ§‘'Oke, kakak cantik dan baik hati☺️.''^^^


"Siapa?" tanya Aldo penasaran dengan chat yang mengganggunya berduaan dengan Via.


"Adikku," jawab Via segera sambil tersenyum.


"Oooo.. Apa adikmu ada masalah?"


"Wah... Enak ya dapat kakak yang baik dan pengertian kek kamu," puji Aldo.


"Hanya merasa kasihan saja kalo dia sudah memelas."


Aldo hanya tersenyum dan membiarkan Via memesan makanan serta kopi terlebih dulu untuk adiknya tersebut. Sambil menunggu pesanan Via tiba, mereka melanjutkan percakapan mereka. Sampai akhirnya pesanan Via datang setelah sepuluh menit kemudian.


"Aldo, aku harus mengantar ini untuk adikku," kata Via yang agak sungkan sambil menenteng sebuah paper bag yang berisi sandwich dan kopi di dalamnya.


"Oke. Kamu hati-hati ya!" pesan Aldo sambil mengantar Via keluar dari kafe menuju parkiran mobilnya.


"Mm... Kamu juga," kata Via sambil melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan mereka.


*****


Sesampainya di depan gedung kembar, Via bergegas masuk ke dalam. Dia menemui tempat resepsionis di sana. Dua orang gadis dengan pakaian formalnya menyambut Via dengan senyum manis mereka.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu dari mereka.


"Aku ingin ketemu dengan Darren," jawabku tanpa basa-basi.


Kedua resepsionis tersebut saling bertatap muka dengan wajah tercengang.

__ADS_1


"Apakah mba sudah buat janji sebelumnya dengan Pak Darren?" tanya si resepsionis tadi kembali.


"Mmm..." gumam Via sambil mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya.


Belum sempat mengecek ponselnya karena ingin memberitahu tentang kedatangannya pada Darren, Pak Jil yang merupakan asisten pribadi Darren sudah datang menghampiri Via.


"Siang!" sapa Pak Jil sambil tersenyum ramah pada Via.


"Siang, pak!" jawab Via sopan.


"Anda yang bernama non Via?" tanyanya memastikan.


"Ya. Aku, Via," jawabnya segera sambil menunjuk pada dirinya sendiri.


"Den Darren sudah menunggu non di ruangannya. Mari saya antar!" katanya sambil mempersilahkan Via mengikutinya dari belakang.


"Baik! Sebentar!" Via memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya sambil sibuk menenteng paperbagnya.


Sedangkan kedua resepsionis tadi saling bergosip tentang Via yang tiba-tiba bisa langsung menemui Darren tanpa membuat janji terlebih dulu. Wajar saja, karena mereka tidak pernah melihat Darren dengan mudahnya langsung menerima tamu untuk menuju ke ruangannya.


Dengan lift pribadi khusus Darren dan keluarganya, Pak Jil membawa Via hingga ke lantai paling tinggi yakni lantai 12. Saat pintu lift terbuka, Via di kejutkan dengan sebuah ruangan kantor yang cukup luas dan di depan ruangan tersebut Via di sambut oleh seorang perempuan dengan pakaian formal tapi sedikit ketat di tubuhnya serta dandanan yang berlebihan.


"Siang, Pak Jil!" sapa perempuan seksi itu sambil melihat ke arah Via agak sinis.


"Siang, dek Santi," jawab Pak Jil ramah.


"Ada tamu ya, pak?" tanyanya penasaran setelah melihat Via di samping Pak Jil.


"Ya, dek Santi. Ini tamu penting den Darren. Ayo non, kita masuk!" kata Pak Jil yang sudah membukakan pintu ruangan khusus Darren.


Via hanya memberi senyum manisnya sesaat pada si perempuan yang bernama Santi itu, lalu kemudian dia masuk ke ruangan Darren.


"Den, non Via udah datang nih!" lapor Pak Jil.


Darren yang tadinya sibuk dengan map laporannya, segera berdiri menghampiri Via.


"Kamu udah datang?" tanya Darren tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Ya, aku emang udah datang kan? Nih, pesenan kamu," kata Via sambil memberikan paperbag makanan tersebut ke Darren.


Darren mengambil paperbag itu dan kemudian membuka untuk melihat isinya. Sambil tersenyum, Darren langsung duduk di sofa empuk di kantornya sambil menikmati sandwich dan kopi yang di beli Via tadi.


"Sini, duduk!" ajaknya pada Via yang masih berdiri melihat Darren makan dengan lahap.


Via pun duduk di sebelah Darren sambil tersenyum melihat tingkah lucu saat Darren mengunyah makanannya dengan suapan besar hingga membuat kedua pipinya menjadi besar juga karena menampung terlalu banyak makanan di dalamnya.


"Makannya pelan-pelan aja! Gak ada yang rebut kok," kata Via sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Darren segera menyudahi makanannya dalam sekejap. Mungkin dia sudah sedari tadi menahan rasa laparnya. Padahal Pak Jil sudah menyuruh office boy untuk membawakan makan siang Darren seperti biasanya, tapi di tolak mentah-mentah oleh Darren.


__ADS_2