
Betapa terkejutnya aku, saat dia tiba-tiba merangkul diriku dalam pelukannya.
"Berisik banget sih!" makinya.
Aku meronta-ronta minta dilepaskan, tapi bukannya dilepas malah pelukannya makin dipererat.
"Darren, ini aku, Via! Lepasin!" seruku dengan nada kencang.
"Aduh... Berisikkkk!!" balasnya juga dengan nada kencang. "Gue mau tidur."
"Darren!!!" teriakku sekali lagi. "Ayo, buka matamu! Aku mau pulang," lanjutku yang tidak bisa apa-apa karena kedua tanganku dihimpit tidak bisa bergerak.
Karena sudah lelah juga dan gak ada hasil, aku pun memilih diam sebentar di pelukannya dan tanpa ku sadari aku langsung tertidur begitu saja.
******
🌺Darren Pov🌺
Aku merasa ada cahaya kecil yang cukup menyilaukan masuk ke celah-celah ruangan dan mengenai wajahku. Aku membuka kedua mataku dan rasa pusing dikepala masih terasa sedikit berbekas.
'Hah!!!' batinku kaget saat melihat ada Via tidur seranjang denganku, tepat di sampingku sambil merangkul tubuhku.
Pagi-pagi sudah bikin aku spot jantung. Mengingat kembali kejadian semalam, tapi di benakku perlahan terlintas Via membantuku masuk ke apartemen. Udah itu, gak ada lintasan kejadian apapun lagi. Lalu, kenapa dia ada disini? Apa jangan-jangan dia beneran naksir ama aku?
Aku langsung memindahkan perlahan tangannya yang ada di atas dadaku agar aku dapat bangun tanpa mengganggu tidurnya. Setelah aku pindahkan tangannya, aku membuka selimut yang menutupi tubuhku.
Kenapa jadi telanjang dada gini? Dia gak niat buat perkosa aku kan?
"Kamu sudah bangun?" tanya Via yang tiba-tiba bangun dari tidurnya.
Dengan spontan aku menutupi dadaku dengan menyilangkan kedua tanganku, entah itu karena malu atau waspada takut diperkosa.
Via menatapku heran. "Ooo... maaf aku ketiduran di sini. Itu gara-gara kamu yang tiba-tiba rangkul aku sampai gak bisa gerak," jelasnya dengan wajah kesalnya sambil beranjak berdiri di samping ranjang membetulkan pakaiannya yang kurang rapi.
"Hah? Aku merangkulmu? Masa sih? Trus kenapa aku telanjang dada gini? Kamu...." ucapku terhenti karena aku tidak enak jika melanjutkan kalimatnya yang seolah-olah ingin menghakiminya.
__ADS_1
"Kamu jangan pikir yang aneh-aneh. Aku membantumu membuka kaos dan jaketmu yang kena muntahan kamu sendiri. Udah aku cuci dan tuh liat....," tunjuknya ke arah kamar mandi. "Lagi di jemur di kamar mandi," lanjutnya lagi.
"Oooo... terima kasih. Trus kenapa kamu di sini semalam? Kenapa gak langsung pulang aja?"
"Setelah membantu kamu, aku emang mau langsung pulang. Tapi pintu kamar kamu tertutup dengan sendirinya, padahal sewaktu kita masuk pintunya masih dalam keadaan terbuka. Jadi pas aku mau keluar, pintu ini gak bisa di buka sama sekali. Aku uda berusaha masukin kode akses yang sama dengan pintu apartemen kamu, tetap aja gak kebuka."
"Ahhh... iya pintu ini emang suka tertutup dengan sendirinya dan aku sengaja gak mengatur kode akses sama."
Aku melihatnya canggung. Rambutnya tampak berantakkan dari ikatan rambutnya yang awalnya mungkin berbentuk pony tail. Mungkin dia menyadari tatapanku yang mengarah ke rambutnya, dia langsung melepas ikatan rambutnya dan merapikan dengan jari-jari tanganya.
Jujur, penampilan dia seperti ini sangat membuatku tidak sanggup menahan diriku untuk segera memeluknya. Dia sangat manis sekali.
"Bisa gak pintunya di buka? Aku mau keluar."
"Ya..." jawabku sambil membuka pintu tersebut dengan sidik jariku.
"Terima kasih," ucapnya sambil mau beranjak keluar dari kamarku.
"Tunggu!" seruku sambil mencoba menahan lengan tangannya.
"Ada apa?"
Dia melepaskan tanganku. "Tidak usah. Aku harus segera pulang sekarang," katanya sambil berjalan menuju ke arah anak tangga.
"Aku mohon, tunggu aku sebentar!" pintaku memelas karena aku tidak begitu rela dia pergi begitu saja. "Setidaknya kita sarapan dulu, baru kamu boleh pergi tanpa perut kosong. Bagaimana?"
'Krukk...krukkk... krukkk...' tiba-tiba perutnya berbunyi dan pipinya langsung merah menahan malu di depanku.
"Aku akan cepat. Kamu tunggu di ruang tunggu bawah dulu ya!"
Dia hanya mengangguk saja sambil menuju ke lantai bawah. Aku bergegas mandi dan segera berpakaian agar dia tidak kelamaan menungguku. Kemudian aku beranjak dari kamarku menuju ke ruang bawah. Aku melihat dia sedang mengintip keluar dari jendela kaca.
"Ekhmm..." dehemku yang membuatnya langsung melihat kedatanganku. "Aku akan membuatkan sandwich untuk sarapan kita pagi ini."
"Oke!" jawabnya singkat sambil duduk di sofa hitamku.
__ADS_1
"Kamu suka telur mata sapi dan ham?"
"Ya, apa saja suka. Apa kamu punya stock sikat gigi baru?"
Aku membuka sebuah lemari yang berisikan stock barang-barang yang kubutuhkan. Satu sikat gigi baru yang masih bersegel dan odol baru, ku berikan padanya.
"Ini, sikat gigi dan odolnya!"
Dia menerima pemberianku. "Terima kasih. Aku pinjam kamar mandi dulu," katanya sopan sambil beranjak pergi.
"Oke."
Aku langsung bergegas menyiapkan sarapan untuk kami dan tidak lupa juga kubuatkan dia jus jeruk untuk menyegarkan tenggorokkan kami. Tidak lama kemudian, sandwich dan jus buatanku sudah jadi dan sudah kutata rapi di atas meja makan. Di saat itu pun, dia sudah keluar dari kamar mandi dan wajahnya terlihat segar dari sebelumnya.
"Sarapannya sudah siap. Ayo, kita makan!" ajakku.
Dia berjalan menghampiri meja makan sambil tersenyum melihat sarapan yang sudah kuhidangkan di meja.
"Mmmm... aromanya sangat wangi. Kamu pandai masak," pujinya yang membuatku bahagia.
"Jangan terlalu memuji! Ini hanya hal kecil saja. Siapapun bisa melakukannya. Semoga cocok di lidahmu."
"Aku makan ya," ucapnya sambil mengambil sandwich tersebut dengan tangannya. Dia memakannya dengan perlahan sambil menyeruput jus jeruknya. "Wah... enak lo sandwichnya dan jusnya seger banget," katanya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Aku hanya tersenyum saja melihat tingkah lakunya. Saat makan pun dia terlihat sangat manis dan lucu. Dalam sekejap, sarapannya telah habis terlebih dulu.
"Aku sudah selesai. Terima kasih atas sarapannya. Aku mau pamit pulang dulu, soalnya Ferdy pasti bakalan cariin aku kalo dia tau aku semalam gak pulang."
"Emangnya kamu gak kabarin dia?"
"Gak," jawabnya sambil geleng-geleng kepala. "Hpku ada di dalam mobilku. Aku pulang ya, Darren. Lain kali jangan mabuk-mabukkan lagi!" pesannya sambil bersiap untuk memakai sepatunya untuk segera pergi.
"Aku anter ke basement ya."
"Gak usah! Aku tau kok basementnya dimana," jawabnya cepat.
__ADS_1
"Pokoknya aku akan mengantarmu," kataku sambil menyusulnya memakai sendalku juga.
Kami langsung menuju ke lift. Menunggu pintu lift terbuka yang hanya semenitan saja. Aku membantunya menekan tombol lantai dasar dimana parkiran basement berada. Baru turun dua lantai, sudah ada pengunjung lift berikutnya yang masuk. Dua orang laki-laki yang sibuk berbincang masalah kerjaannya. Salah satunya mencuri pandang ke arah Via, tapi Via tidak menyadarinya karena sedari tadi Via hanya menatap ke arah bawah saja sambil termenung.