Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 79


__ADS_3

🌺Author Pov🌺


Di sebuah perkarangan taman yang luas, tampak keluarga Via dan Aldo berkumpul jadi satu. Mereka sedang menunggu kedatangan Aldo yang ingin melamar Via. Via juga sudah menunggu di dalam rumah yang masih satu tempat dengan taman itu. Via tampak senang dan sedang bercanda gurau dengan anggota keluarganya.


"Sekarang sudah mau jadi istri orang. Benar-benar sudah dewasa Viaku saat ini," kata maminya yang senang sampai terharu melihat Via yang akan dilamar oleh Aldo.


"Via, Aldo sudah datang. Kamu siap-siap ya!" ujar Bella memberitahu Via dengan tergesa-gesa.



*Aldo


Dengan wajah tampan dan gaya jalan yang gagah, Aldo yang masih mengenakan kemeja putih polos datang menghampiri kediaman Via sambil membawa sebuah buket bunga.


"Halo Al, sudah datang?" sambut papi Via dengan wajah sumringrahnya.


"Ya, om. Maaf agak telat karena sedikit macet di jalan," jawabnya sambil tersenyum ramah.


"Cepat masuk! Via sudah menunggu di dalam," kata papinya Via mempersilahkan Aldo segera masuk


"Baik, om. Kalo gitu, aku masuk dulu ya om," izinnya sopan.


Aldo hari ini jadi pusat perhatian karena ketampanannya. Aldo telah diberi petunjuk dimana Via menunggunya. Dengan pakaian berwarna pink muda dan dandanan yang natural, Via terlihat sangat anggun. Dia duduk di sebuah sofa sambil menunggu sang pangeran menjemputnya.


"Hai, princess!" sapa Aldo sambil memberikan buket bunga pada Via.


Via menerima buket bunga itu sambil tersenyum manis dan merasa terkejut atas bermacam-macam bunga yang cantik dalam satu buket itu. "Makasih ya, Do."


"Bro, ganti baju! Acaranya udah mau di mulai," kata Ferdy yang mengingatkan Aldo agar segera siap-siap dengan baju gantinya.


"Ya, Fer. Aku akan segera ganti," jawab Aldo. "Kamu tunggu aku ya!" bisik Aldo di telinga Via hingga membuat wajah Via merona.


"Tapi gak pake lama ya," balas Via sambil tersenyum mengejeknya.


"Lama dikit juga gakpapa, kan? Kan mau jadi ganteng dulu," kata Aldo.


"Aku tunggu kamu di luar ya. Temen-temen udah mulai pada datang."


"Oke, sayang! Nanti aku nyusul," pamit Aldo ke kamar riasnya.

__ADS_1


Via berkumpul bersama kerabat teman yang lainnya di taman terbuka. Dia sudah jadi bahan candaan para kerabatnya karena sudah mau lepas dari status lajangnya. Tidak lama kemudian, Aldo datang dengan jas berwarna biru pastelnya. Dia juga menyatu dengan Via di tempat yang sudah di sediakan. Mereka tampak bahagia.



*Via dan Aldo


Wait!


Darren mana?


******


Darren bangun dari pingsannya yang ternyata sudah tiga hari berlalu. Selang infus masih tertancap di urat nadi tangannya. Kedua matanya terbuka lebar dan melihat sekitar ruangan. Ia berusaha mencari orang yang dikenalnya. Tapi... hanya ada maminya yang sedang nungguin dia di sofa empuk yang ada di dalam ruangan kamar rumah sakit tempat Darren dirawat.


Darren yang merasa tiba-tiba sudah sangat pulih, ia langsung duduk dan mencoba mencabut selang infusnya yang masih tertancap tadi tanpa basa-basi. Mendengar suara yang agak sedikit berisik mengganggu ketenangan tidur maminya. Maminya bangun dan kaget melihat Darren yang begitu nekat melakukan hal itu.


"Der, kamu kenapa, nak?" tanya maminya cemas sambil menuju ke Darren dan mencoba menghentikan aksinya, tapi telat karena Darren sudah lebih dulu melakukannya.


"Kenapa aku di sini, mi?" tanyanya dengan wajah penuh emosi.


"Kamu pingsan, makanya dirawat disini. Kamu baru sadar sekarang. Kenapa kamu marah-marah gini?"


"Via, mi. Aku mau Via," jawabnya yang udah kek orang gila yang gak mikirin lagi sakit apa gaknya tuh tangan akibat jarum infus yang sengaja di tarik paksa.


"Iya, mi. Via mau nikah sama orang lain. Dia ninggalin aku, mi," jawab Darren sambil memegang kepalanya karena terasa seperti sedang stress berat.


"Kamu kenapa bisa berpikir begini?"


"Via, mi. Dia kemana? Aku butuh dia. Aku gak mau dia jadi milik orang lain," katanya lagi dengan nada memaksa sambil memegang kedua lengan tangan maminya.


'Plak!' suara tamparan yang mendarat ke pipi Darren dari maminya.


Darren terdiam dan shock akibat tamparan dari maminya. Dia menatap maminya dengan tatapan sedihnya.


"Darren, bisa gak kamu jangan seperti anak kecil? Kamu seperti ini membuat mami khawatir. Saya yang lahirin kamu. Apa yang kamu lakukan seperti orang gak waras gini? Mami gak habis pikir kamu bisa nekat seperti ini," marah maminya. "Walaupun kamu cari Via, tapi gak usah sampe segininya juga. Dia itu capek nungguin kamu dari kamu awal di rawat di sini. Mami gantian sama dia buat jagain kamu hari ini, karena dia mau mandi di apartemennya. Bentar lagi dia kesini," jelas maminya lagi.


"Apa, mi? Via selama ini jagain aku?" tanya Darren memastikan dan merasa sedikit lega dengan penjelasan maminya tadi.


"Iya! Dia wanita yang baik. Kamu sangat beruntung punya pacar seperti dia."

__ADS_1


"Jadi... Dia bukan sedang tunangan dengan laki-laki lain?"


Maminya langsung memukul ringan punggung belakang Darren. 'Buk!'


"Otakmu di cerna dulu dengan baik! Jangan tiba-tiba bangun langsung jadi bodoh gini! Sepertinya mami harus kasih tau dokter agar kepalamu di CT-Scan sekalian. Takut ada yang gak beres di otakmu," kata maminya yang sudah mau keluar dari kamar rawat inap Darren.


"Mi, jangan mi!" pinta Darren sambil menghentikan langkah maminya. "Darren minta maaf, mi!"


"Permisi!" kata Via yang baru saja masuk ke kamar rawat Darren.


"Via!" seru Darren sambil memeluk Via karena sudah gak terbendung lagi rasa kangennya.


"Mami keluar dulu ya! Kalian bicara baik-baik dulu," kata maminya yang meninggalkan mereka berdua di dalam.


"Terima kasih, tan," jawab Via. "Kamu sudah sadar?" tanya Via setelah memastikan kondisi Darren yang memeluknya terlalu erat.


"Via, aku pikir kamu gak disini."


"Der, aku sesak nafas nih!"


"Oh.. Maaf!" kata Darren sambil melepaskan pelukkannya. "Kamu baru datang? Kamu tadi kemana?"


"Aku baru dari rumah ambil baju ganti nih," jawabnya sambil memperlihatkan tas tentengan yang berisi baju-bajunya. "Kok kamu bisa di bawah? Bukannya kamu masih diinfus tadi sebelum aku pergi?" tanya Via kaget setelah melihat selang infus yang berantakkan di lantai.


"Aku pikir, aku gak bisa liat kamu lagi. Aku tadi liat kamu sedang bertunangan dengan Aldo dan kalian tampak happy," jelas Darren dengan wajah sedihnya.


"Der, otakmu gak masalah, kan?" tanya Via sambil menatap Darren heran.


"Kenapa kamu sama mami sama-sama bilang otakku bermasalah sih? Jelas-jelas aku liat kamu bersanding dengan Aldo, makanya aku kek gini," bela Darren.


"Sini! Sini!" ajak Via sambil mendorong tubuh Darren agar berbaring lagi di tempat tidurnya. "Kamu tunggu aku di sini! Aku akan panggil dokter dulu buat periksa kamu dan pastiin kamu bener-bener sudah sehat ato belum."


Darren yang mendengarkan perintah Via, ia hanya berbaring kembali ke tempat tidurnya. "Aku mau pulang hari ini."


"Aku coba tanya dulu dengan dokter, apakah kamu boleh diizinkan pulang hari ini ato gak."


"Via, tunggu!" tahan Darren sambil memegang pergelangan tangan Via.


"Kenapa lagi?"

__ADS_1


"Aku beneran takut kamu jadi milik orang lain," kata Darren pelan sambil menunduk layaknya anak kecil.


Via membelai wajah Darren yang tampan. Dia mengecup bibir Darren yang kering karena kurangnya asupan air. "Aku kan sudah janji hanya akan menikah denganmu. Jadi... jangan pikir yang aneh-aneh lagi ya! Lekas sembuh! Kalo kamu gak lekas sembuh, maka pernikahan kita akan tertunda," kata Via yang menjadi obat semangat buat Darren dan seketika wajah Darren berseri-seri kembali.


__ADS_2