Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 34


__ADS_3

"Aeri, kesini!" panggil om Tio pada putri bungsunya agar mendekat padanya.


Para tamu yang ada di sekitar berbisik-bisik memuji kecantikkan alami Aeri. Aeri yang tampak tersipu malu menundukkan kepalanya ke bawah.


"Anton, bagaimana kalau kita mulai hari ini menjodohkan anak kita?"


Pertanyaan om Tio membuat daddynya Darren shock sesaat sedangkan Bella makin cemberut. Darren dan daddynya saling bertatapan, karena daddynya bingung mau menjawab apa ke om Tio. Darren memberikan isyarat ke daddynya dari wajahnya. Tersirat kalau Darren tidak suka dengan perjodohan ini.


"Masalah itu, saya minta maaf tidak bisa ikut campur. Bagaimanapun juga saya sangat menghargai niat baik kamu, tapi saya juga sebagai daddynya harus menghargai pendapat anak saya juga. Jadi sepenuhnya Darren yang menentukan apakah dia siap untuk dijodohkan atau gak," jawab daddynya Darren dengan bijak sambil menoleh ke Darren.


Darren melepaskan tangannya dari Bella. Kemudian ia melangkah berdiri di samping daddynya sambil tersenyum mendengar jawaban daddynya barusan. Dipihak lain, Aeri merangkul tangan papinya karena gugup ingin mendengar jawaban dari mulut Darren.


"Maaf om Tio, aku sudah punya calon pacar. Saat ini aku sedang tahap pendekatan dengannya," kata Darren tegas.


"Baru calon pacar, kan? Kalau begitu kamu juga bisa dong berteman lagi dengan Aeri seperti dulu?"


"Itu..." Darren berpikir sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. Dia merasa kalimat om Tio berkesan mengekangnya.


"Kalian coba berteman saja. Jika memang tidak bisa jadi pacar, itu tidak masalah. Kami tidak akan memaksamu. Benar kan, mi?" kata om Tio yang ingin mendengar pendapat istrinya.


"Maaf, om dan tante. Aku gak begitu bisa dekat dengan cewek kalo aku gak ada perasaan buat dia," tegas Darren yang membuat om Tio kehilangan muka di depan banyak orang.


'What?? Darren menolak di jodohkan dengan putri sultan? Padahal di sana pasti banyak yang ingin putranya disandingkan dengan Aeri si putri sultan. Hanya Darren yang to the point menolak perjodohan bahkan berteman saja tidak mau.' Ya... kira-kira begitulah bahan perbincangan para tamu yang melihat peristiwa tersebut.


"Baiklah! Jangan di anggap serius! Om dan tante hanya berharap saja, tapi kalo nak Darren sudah ada calonnya ya kita bisa apa. Semoga kedepannya Aeri punya pasangan hidup seperti kamu," ucap om Tio sambil merangkul Darren dengan senyum khasnya.


Bella tersenyum smirk di samping papanya seperti menikmati kemenangannya. Ia terlihat bangga akan sikap Darren yang menolak Aeri dengan tegas. Di lain pihak, Aeri tampak di gandeng mesra oleh maminya yang mencoba menenangkannya. Tapi Aeri tidak menampilkan wajah sedihnya, ia berusaha tersenyum di depan kedua orangtuanya dan para tamu.


Bella mengikuti kemanapun Darren pergi. Dia mengekori Darren layaknya anak kecil yang minta ditemenin bermain.


"Lu ngapain ngekorin gue?" tanya Darren kesal sambil mengambil lima tusuk sate ayam yang telah di hidangkan prasmanan.

__ADS_1


"Abisnya lu kenapa jadi cuek gini sih ama gue? Emang beneran lu uda ada cewek yang lu taksir? Kenalin dong ke gue!" pintanya dengan gaya centil sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Hehehe...." tawa Darren cengengesan. "Ogah," jawabnya tegas lalu tidak menghiraukannya.


"Kok gitu sih? Uda berani main rahasia-rahasiaan ya ama gue? Tar gue cari tau sendiri," kata Bella sambil meninggalkan Darren yang tengah makan sate ayam.


"Kamu di sini?" tanya daddynya yang baru menemukannya yang sedang duduk menikmati sate ayamnya.


"Iya, ded. Makan sate dulu, daddy mau?"


"Gak. Tadi daddy uda makan salad sayur. Kamu kenapa menolak disuruh temenan dengan Aeri?" tanya daddynya penasaran.


"Aku cuma gak mau ngasih harapan apapun ke cewek. Tau sendiri kan ded, si om Tio ama tante pengen jodohin anaknya ama aku. Jadi lebih baik gak usah ada hubungan apapun lah daripada ribet. Lagian aku juga lagi mumet ama skripsi aku."


"Bukannya kamu lagi naksir cewek lain? Alesan aja bikin skripsi. Darren... Darren..."


"Aku emang lagi naksir ama cewek, ded. Tapi aku juga butuh waktu buat dapetin dia, karena dia tuh beda. Cuma dia yang bikin aku penasaran."


Darren senyum smirk dan dia membayangkan kalau saja Via mudah ditaklukan, mungkin dia tidak akan berstatus jomblo lagi.


"Tunggu aku dapetin hatinya, tar ku kenalin ke daddy dan mami. Pokoknya dia cewek terbaik lah dan gak akan ngecewain daddy maupun mami," ucap Darren yakin dengan pilihannya.


"Oke. Daddy tunggu kabar baiknya ya. Jika dia menolak, mungkin kamu harus mempertimbangkan Aeri kedepannya. Dia juga anak yang manis."


"Kek gak ada cewek lain aja, ded. Gak mesti dia juga kali," protesnya.


"Hahaha.... It's all your choice, Der. Daddy mau gabung ke sana lagi. Setelah acara ini, kita baru pulang," kata daddynya sambil pergi bergabung dengan teman-temannya lagi.


Karena sudah jenuh dengan suasana pesta yang berlangsung, Darren memutuskan untuk bermain game yang ada di ponselnya. Dia duduk dengan kaki kanan yang berpangku pada kaki kirinya sambil menatap serius pada layar ponselnya.


"Kak, aku minta nomor hp kamu, boleh?" tanya Aeri yang sudah duduk manis disamping kanan Darren.

__ADS_1


"Buat apa?" tanya Darren dengan cuek dan masih menatap layar ponselnya dengan serius.


"Mmm... Buat tambahin daftar temen aja."


"Gak usah. Aku sibuk kerja. Gak ada waktu buat balas chat kamu."


Aeri terdiam. Dia memberikan Darren waktu bermain dengan poselnya terlebih dulu. Sampai akhirnya Darren kalah di game tersebut, dia menyimpan kembali ponselnya ke kantung celananya. Setengah jam, Aeri masih duduk dengan posisi manisnya di samping Darren tanpa mengganggu Darren sama sekali. Darren telah melihat jarum jamnya yang sudah pukul 19.45, ia mencari keberadaan daddynya dari tempat duduknya tapi si daddy masih sibuk ngobrol dengan teman-temannya.


"Haus, kak?" tanya Aeri sambil tersenyum manis. "Ini, aku bawain minum," serahnya segelas koktail apel pada Darren.


"Trus kalo aku ambil, kamu minum apa?"


"Aku bawa dua kok, cuma punyaku udah abis duluan," jawabnya dengan wajah polosnya.


Karena merasa tidak enak hati, Darren menerimanya. "Makasih ya minumannya," ucap Darren.


"Cobain deh, kak!"


Darren melihat gelas koktailnya yang berisi beberapa potongan buah apel di dalamnya. Dia mencium aroma dari koktail itu, memang terlihat sangat manis.


"Buat gue aja!" rebut Bella yang tiba-tiba datang dan duduk disamping kiri Darren dan kini minuman koktailnya sudah berpindah tangan.


"Ta... tapi..." kata Aeri dengan nada kecewanya karena Bella langsung menghabiskannya begitu saja.


"Ahhhhh.... Lumayan," respon Bella setelah meneguk semua koktail tanpa sisa.


Darren hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menatap ulah Bella yang ceroboh. Kemudian daddynya datang untuk mengajak Darren pulang. Aeri berdiri dari tempat duduknya dan menatap kesal pada Bella. Sedangkan Bella masih duduk di tempatnya sambil bersandar. Tiba-tiba wajahnya memerah dan ia merasa kepanasan.


"Kenapa gerah gini ya?" tanya Bella yang merasa aneh sendiri pada tubuhnya. "Darren!" panggilnya yang tidak menyadari kalau Darren sudah pergi sedari tadi. "Der, lu dimana sih?" tanya Bella yang mulai berdiri tapi sempoyongan seperti orang mabuk.


Melihat anaknya bergelagat aneh, kedua orangtuanya Bella datang menghampiri Bella dan segera membawanya pulang.

__ADS_1


__ADS_2