Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 87


__ADS_3

"Kenapa? Udah bisa cemburu sekarang? Kalo istriku cemburu, aku makin sayang jadinya," kata Darren sambil memeluk Via dari belakang.


*****


Enam bulan kemudian


Semasa enam bulan terlewati, Ferdy dan Darren sudah wisuda walaupun Ferdy lebih awal tiga bulan dibanding dengan Darren. Disamping itu, Ferdy sudah jadi seorang dokter umum dan dia masuk ke salah satu rumah sakit di daerah Bandung. Sementara dia kerja disana.


Kehidupan rumah tangga Via juga mengalir seperti biasa. Masing-masing masih sibuk bekerja tapi tetap romantis. Hanya saja Via sudah tidak terlalu fokus terus-menerus di toko karena sudah ada asistennya yang bantu urus.


Hari ini Via sengaja mampir ke kantor Darren membawa bekal makan siang. Saat Via masuk ke kantor Darren, sudah banyak yang menyapanya karena statusnya yang sudah diakui sebagai istri Darren. Bahkan Via bebas berlalu lalang sesuka hati di sekitaran kantor.


'Tok..tok...tok..' suara ketukkan pintu ruangan Darren.


"Masuk!" jawab Darren dari dalam ruangan.


Via membuka pintunya perlahan dan memasukkan sedikit kepalanya seraya mengintip Darren yang sibuk di depan laptopnya. Darren merasa aneh, karena setelah mendengar suara pintu yang sudah terbuka tapi tidak ada orang yang masuk.


"Siapa disana?" tanya Darren penasaran karena belum melihat siapa yang mengerjainya di depan pintu, karena Via bersembunyi.


"Aku," jawab Via sambil masuk dan tersenyum manis menenteng bekalnya.


"Ooo... aku pikir siapa," kata Darren yang langsung berdiri menyambut kedatangan istrinya.


"Aku bawa makan siang buat kamu. Hari ini aku gak ke toko, jadi aku mampir ke sini aja," kata Via sambil menaruh bekalnya di atas meja.


"Kamu udah makan?" tanya Darren sambil mengambil tempat duduk di sofa empuk dan membuka satu persatu bekal yang di bawa Via tadi.


"Aku udah makan di rumah," jawab Via yang sudah duduk dan memperhatikan Darren yang sibuk menyicip setiap masakkannya.


"Mmmm... enak. Kebetulan aku sudah laper. Aku makan dulu ya."


"Ya."


Darren makan dengan lahap setiap masakkan Via. Via menyenderkan kepalanya di senderan sofa dan seperti bermalas-malasan.


"Kok kamu keliatan gak semangat? Capek ya?" tanya Darren.


"Ya nih. Tadi pas bangun tidur, badanku serasa remuk. Kepala juga berat. Tapi ya aku biarin aja. Keknya aku lagi masuk angin. Tar malam aku mau minta di kerok ya ama kamu."


"Ya, tar aku kerokkin. Apa kamu mau datang bulan makanya kamu kek gitu?" terka Darren.


"Ini tanggal berapa ya?" tanya Via yang lupa dengan tanggalan hari ini.


Darren melihat kalender meja yang ada di atas meja kerjanya. "Tanggal 16 Juli," jawabnya cepat.


"16 Juli? Biasa aku datang kisaran awal bulan dan gak pernah lewat dari tanggal 5," kata Via heran kenapa bisa setelat itu. "Mungkin aku terlalu capek, makanya telat," terkanya.


"Jadi... kamu belum datang bulan sampe sekarang?"


"Belum," jawab Via dengan wajah polosnya.


Darren langsung menaruh alat makannya dan segera pindah kesebelah tempat duduk Via. Dia langsung memeriksa kening Via, takut Via mengalami gejala demam.


"Aku gakpapa, Der," jawab Via risih. "Makanannya kok gak dihabisin?" tanya Via setelah melihat masih ada sisa makanan di tempat bekalnya.


"Aku khawatir, takut kamu sakit. Makanya aku periksa dulu," jawab Darren dengan wajah paniknya.


"Kan aku dah bilang, aku masuk angin. Tar udah dikerok juga sembuh kok."

__ADS_1


"Jangan suka dikerok! Gak baik," pesan Darren sambil menikmati sisa makanannya.


'Tok.. tok.. tok..' suara ketukkan pintu lagi.


"Masuk!" jawab Darren lantang.


Tampak pak Jil datang membawa dua gelas kopi ke dalam ruangan. "Permisi, den, non! Nih bapak bawain kopi," katanya sambil menaruh kedua gelas kopi tadi di hadapan Via dan Darren.


"Pak, dia lagi kurang sehat. Kopinya gak usah dulu. Sisain satu aja buat aku."


"Oooo... Non Via lagi gak sehat, kenapa?" tanya pak Jil penasaran.


"Masuk angin katanya, pak," jawab Darren dengan gaya cueknya.


"Ooo... mau dibawain air jahe anget gak? Nanti saya bikinin," tawar pak Jil.


"Boleh, pak," jawab Via cepat.


"Sebentar ya, saya buatin dulu." Pak Jil pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Darren sambil membawa pergi satu gelas kopi.


"Der, aku kok pengen makan rujak ya? Baru kepikiran pengen makan rujak, tapi cuma mau mangga ama kedondong aja isinya. Keknya seger banget."


"Kalo kamu mau, aku minta tolong orang beliin."


"Mau lah sebungkus, tapi cabe rawitnya lima ya," pintanya lagi dengan mata berbinar.


"Apa gak kepedesan tuh cabe ampe lima? Tar perut kamu sakit lo."


"Gak. Kalo gak pedes ya gak enak."


"Ya udah, tar aku suruh pake cabe lima. Biar dower tuh bibir," kata Darren kesal.


"Abisnya kamu gak kira-kita sebungkus pake cabe ampe lima. Perasaan, kamu gak doyan pedes."


"Yaaa... aku kan lagi pengen aja."


"Cabenya tiga aja, gak pake tawar lagi. Aku takut kamu sakit perut."


"Ya deh..." Akhirnya Via nyerah juga.


Darren menyuruh salah satu office boy untuk beli rujak buah sesuai permintaan Via.


🌺Via Pov🌺


Kok tumben ya aku mau makan rujak buah? Padahal aku gak gitu suka, karena buahnya rata-rata pada asem. Tapi kenapa kali ini malah kepengen banget. Aneh.


Karena gak ada kesibukkan apapun, aku memilih untuk menemani Darren seharian di kantor. Dia juga tetap beraktivitas seperti biasanya seperti pergi rapat atau mengerjakan segala dokumen-dokumennya sampai selesai. Aku tidak ingin mengganggunya.


Saat Darren rapat, aku hanya duduk menikmati rujak buah yang ada didepanku saat ini. Rasanya bener-bener menyegarkan. Besok aku mau lagi ah.


πŸŽΆπŸ“² Ponselku tiba-tiba berbunyi. Julia meneleponku. Tumben sekali.


πŸ“ž"Halo!"


πŸ“ž"Vi, gimana kabarmu?"


πŸ“ž"Baik, Jul. Kalian gimana kabarnya juga?"


πŸ“ž"Kami juga semua baik di sini. Aku berencana ingin liburan ke Singapore dalam beberapa hari lagi. Ingin merayakan hari ultah papi. Kamu mau ikut?"

__ADS_1


πŸ“ž"Oh iya ya. Aku hampir lupa kalo papi ultah minggu depan. Aku sih mau ikut, tapi aku mau tanya suamiku dulu."


πŸ“ž"Kalo gitu, kita berkabar aja ya. Siapa tau bisa pergi bareng."


πŸ“ž"Ya. Aku pengen ketemu sama ponakkan imutku. Aku kangen banget sama dia."


πŸ“ž"Aku mau tanya, kalian gak nunda mau punya momongan kan?"


πŸ“ž"Sama sekali gak."


πŸ“ž"Baguslah. Biar Manda ada temennya nanti."


πŸ“ž"Hahaha.... Doakan saja semoga cepet ada."


πŸ“ž"Kamu lagi makan?"


Mungkin Julia mendengar aku sedang mengunyah mangga di mulut.


πŸ“ž"Ya, aku lagi makan rujak buah."


πŸ“ž"Hah? Setau aku, kamu gak suka rujakkan dari dulu. Kok sekarang malah mau rujakkan?"


πŸ“ž"Gak tau juga nih. Pengen aja, tapi... kok enak ya. Malah seger banget. Padahal isinya cuma mangga ama kedondong."


πŸ“ž"Kamu telat haid, gak? Udah berapa lama?"


πŸ“ž"Aku... telat sepuluh harian gitu lah. Kenapa?"


πŸ“ž"Kamu uda cek pake testpack? Soalnya gejala kamu kek orang lagi hamil muda."


πŸ“ž"Masa sih? Aku cuma ngerasa masuk angin aja, trus pengen makan yang asem-asem aja."


πŸ“ž"Besok pagi abis bangun tidur, kamu mesti tes urin kamu pake testpack. Jangan tes hari ini, tar gak akurat."


πŸ“ž"Jadi malam ini aku gak boleh kerokkan dong?"


πŸ“ž"Yah jangan lah! Dengerin aja yang aku suruh tadi. Tar kabarin aku ya. Kalo feeling aku sih, kamu sudah pasti 100% hamil."


πŸ“ž"Aminnnnn.... Semoga iya."


πŸ“ž"Oke deh, Vi. Sampe sini dulu ya teleponnya. Besok jangan lupa kabarin aku!"


πŸ“ž"Oke, Jul. Makasih ya udah ingetin."


Darren yang baru saja tiba di ruangannya, dia merasa aneh melihatku senyum-senyum sendiri.


"Abis dapat telepon dari siapa? Kok senyum-senyum sendiri?" tanyanya penasaran sambil duduk disampingku.


"Dari Julia. Dia ingetin aku kalo minggu depan mau rayain ultah papi di Singapore. Aku pengen ikut ke sana. Boleh, gak?"


"Mmm... Kamu, sendiri?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Kalo bisa ya bareng ama Julia. Kamu belum tentu bisa ikut, kan?"


"Aku belum bisa janji bisa nemenin kamu. Tapi... aku usahakan agar bisa ikutan kalian rayain ultah papi juga," jawabnya yang tidak ingin mengecewakanku.


"Ooo... baik banget sih kamu. Abis pulang dari sini, aku mau mampir ke swalayan bentar ya. Ada barang yang mau aku beli."


"Oke, tar aku anterin ya," katanya sambil memegang daguku dan ingin menciumku.

__ADS_1


__ADS_2