Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 28


__ADS_3

Karena posisi Darren masih duduk membelakangi para tamunya. Hingga akhirnya Darren memutar posisi duduknya dan menghadap ke para tamunya.


"Kamu?" terka Reynaldo dengan wajah shocknya.


Darren berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan untuk bergabung dengan para tamunya. Dengan senyum smirk andalannya membuat Reynaldo tersenyum juga. Yang entah itu senyum hangat atau senyum penuh pertanyaan seputar rasa penasarannya.


"Selamat datang, Pak Aldo!" sambut Darren dengan gaya bossynya sambil duduk berhadapan dengan Reynaldo alias Aldo.


Aldo pun tersenyum mendengar kata sambutan dari Darren. "Kamu Darren pemilik tunggal perusahaan ini?"


"Ya," jawab Darren dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.


"Willy, siapkan proposal kerja sama kita dan jelaskan pada Bapak Darren agar tidak ada salah paham!" suruh Aldo pada asistennya.


"Baik, Pak Aldo. Pak Darren, ini proposal kami," katanya sambil membuka lembaran pertama untuk di perlihatkan pada Darren.


Darren melihat Pak Eko dan memberi kode pada Pak Eko agar mendekat dan membantunya dalam menelusuri proposal mereka. Bagaimanapun juga Darren tidak bisa gegabah menerima kerjasama begitu saja karena menyangkut masalah dana yang tidak sedikit. Pak Eko adalah orang kepercayaan Darren dalam memberi ide saran kritik sebelum mengambil keputusan. Beliau duduk di sebelah Darren dan memegang proposal baru di tangannya yang diberikan oleh Willy.


"Proposal pengajuan kerjasama kali ini, saya memasukkan beberapa poin penting yang saling menguntungkan. Di bidang perkayuan dari perusahaan Pak Darren bisa mendapatkan keuntungan tiga puluh persennya apabila di sortir ke PT kami, karena kami bisa memanfaatkan kayu yang bagus maupun yang kurang bagus untuk di kreasikan di tangan pengrajin kami. Jadi tidak ada kayu yang terbuang sia-sia. Serat kayunya juga bisa kita jual ke bagian petshop untuk di jadikan alas kandang hewan. Kami akan bayar semua biaya di muka sesuai berapa banyaknya quantity kayu yang Pak Darren kirim setiap bulannya dan sudah termasuk keuntungan tiga puluh persen itu," jelas Willy dengan panjang lebar agar memudahkan Darren dan Pak Eko memahami tujuan mereka mengajak untuk bekerja sama.


"Cukup bagus pola pikir kalian!" puji Darren setelah mendengar penjelasan Willy. "Hanya perusahaan kalian yang berani membeli kayu dengan kualitas kurang bagus tapi bisa di manfaatkan dengan baik serta tidak terbuang. Berarti golongan pekerja atau pengrajin telah banyak di rangkul untuk di ajak kerja sama juga oleh kalian. Itu sangat bagus," kata Darren sambil tersenyum puas.


"Karena kami ingin memuaskan konsumen di pasaran dan kami juga punya standart untuk mengekspor hasil karya pengrajin kita ke mancanegara. Apakah ada kekurangan dalam penjelasan saya, Pak Darren?" lanjut Willy.


Darren melirik ke Pak Eko seraya meminta pendapat. Pak Eko hanya mengangguk menyetujui tanpa berkomentar lagi.


"Aku suka dengan pola pikir kalian. Aku terima kerja sama ini," jawab Darren setelah yakin dengan keputusannya.


"Terima kasih atas keputusan Pak Darren yang telah menerima proposal kerja sama kami. Jika berkenan, tolong Pak Darren tanda tangan di sebelah sini!" tunjuknya dengan jari jempol tangan kanannya ke arah secarik kertas yang bertuliskan 'Yang Menyetujui' sebagai hasil yang sah.

__ADS_1


Darren mengambil pena kesayangannya dari saku jasnya dan mulai menandatangani persetujuan kerja sama.


"Pak Darren, terima kasih atas kepercayaannya pada PT kami. Saya akan buatkan surat perjanjian asli yang akan saya serahkan beberapa hari lagi ke sini," kata Willy sambil merapikan proposalnya.


"Cukup via email saja, nanti akan saya simpan di data saya. Saya akan ngeprint dari hasil scan yang kamu kirim."


"Baik, Pak Darren. Saya akan kirim via email."


Darren dan Aldo saling berpandangan sekarang. Aldo mungkin ingin membahas masalah lain selain masalah kerja sama tadi.


"Apa ada yang ingin di sampaikan oleh Pak Aldo?" tanya Darren menguji.


"Apa berkenan kalo kita berbincang berdua sambil minum kopi?" ajak Aldo sambil tersenyum.


"Tentu!" jawab Darren menyanggupi.


"Kalau gitu, kami permisi dulu. Pak Darren, sekali lagi terima kasih," ucap Willy dengan gaya sopannya membungkuk tiga puluh derajat sebagai rasa hormatnya yang diikuti oleh teman satunya juga.


"Sama-sama," kata Darren sambil membalas membungkuk juga untuk menghargai mereka yang telah berusaha.


Kepergian dua asisten Aldo menuju ke lobby juga di temani oleh Pak Eko, karena sebagaimana tuan rumah harus memberikan pelayanan terbaik buat tamunya. Darren dan Aldo menuju ke kafetaria yang ada di kantor. Selama mereka jalan berdua saja sudah terlihat seperti kakak adik dengan ketampanan masing-masing sesuai stylenya. Tidak heran para karyawati berbisik-bisik gaduh saat melihat Darren dan Aldo melewati depan mereka.


Dengan pesanan kopi masing-masing dan duduk di kursi bar cafe, mereka duduk santai sambil saling berdecak kagum.


"Aku gak nyangka ketemu lagi dengan kamu di sini," kata Aldo yang memulai awal pembicaraan mereka sambil meniup-niup pelan asap mengepul dari kopi hitam panas dalam cangkir kecil yang dipegangnya.


"Aku juga tidak menyangka kalau kamu mau mengajakku bekerja sama," balas Darren sambil menatapnya serius.


Setelah menyeruput kopi hitamnya, Aldo tersenyum kecil menoleh pelan ke tatapan mata Darren. "Kamu bukan adik kandung Via, kan?"

__ADS_1


"Bukan!" jawab Darren dengan senyum smirknya.


"Tapi kemaren waktu di pesta, kamu...." ucapnya sambil memikirkan lagi perbincangan mereka waktu awal kenalan kemaren di pesta.


"Aku? Kenapa?" tanya Darren bingung.


"Bukannya kamu ngaku sebagai adiknya Via? Buktinya pas aku tanya, kamu senyum aja gak ada penjelasan apapun," tuding Aldo.


Darren tersenyum lebar melihat kekonyolan Aldo. "Kapan aku ngaku sebagai adiknya? Aku hanya tersenyum saat itu, bukan berarti aku ngaku kalo aku itu emang adiknya. Jadi aku gak perlu menjelaskan apapun, karena kita juga tidak ada hubungan apa-apa, kan?"


Aldo tampak kecewa mendengar apa yang baru saja Darren katakan. Seolah-olah dirinya merasa sedikit dipermainkan oleh Darren yang belum tahu motif Darren sebenarnya kenapa bersikap seperti kemaren.


"Ya juga sih," kata Aldo sambil mengangguk pelan. "Tapi sekarang kita adalah kerabat kerja, benar kan Pak Darren?" Aldo mencoba untuk santai kembali dan menghapus pikirin negatifnya tentang Darren.


"Panggil aku Darren saja kalo sedang di luar jam kantor, karena umur kamu lebih tua dariku!" pinta Darren sambil memutar-mutar gelas kopinya yang sudah mulai hangat.


"Oh ya? Harusnya kamu memanggilku kakak, tapi aku suka gayamu yang dewasa ini. Menganggapku sebagai teman tanpa ada jarak hubungan," kata Aldo sambil menepuk pelan pundak Darren.


"Tapi kita hanya sebagai kerabat kerja dan aku suka menjadi diriku," jawab Darren sambil melirik ke arah tangan Aldo yang masih bersandar di pundaknya.


Aldo memahami tatapan Darren yang kurang suka dengan gayanya. Dia melepaskan sandaran tangannya dari pundak Darren. Tidak lama kemudian, ponsel Aldo bunyi dengan nada dering yang di setel pada ponselnya.


"Sebentar ya!" pintanya ke Darren untuk menjawab panggilan telepon.


"Silahkan!"


Aldo menjawab panggilan tersebut di samping Darren yang sedang menikmati kopinya.


📞"Ya, Via. Ada apa?"

__ADS_1


__ADS_2