Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 61


__ADS_3

Tunggu! Menyentuh hatiku bukan berarti aku juga harus nerima dia gitu aja dan putus dengan Darren. Hubunganku dengan Darren baru saja terjalin, walaupun aku sendiri hanya merasa nyaman tapi.. hatiku belum bisa sepenuh hati mencintainya. Mungkin karena sampai detik ini posisi Victor belum bisa tergantikan oleh siapapun.


Sekarang Hendra malah ngaku di depan mami kalau dia akan berjuang mendapatkan hatiku. Aku sebagai cewek pastinya terenyuh mendengarnya. Hanya saja aku harus menjaga perasaan Darren.


"Vi, jangan bengong! Nak Hendra sudah mengungkapkan keinginannya. Bagaimana denganmu?" tanya mami yang penasaran dengan jawabanku.


"Nnngg... itu Hen..." kataku yang belum selesai.


"Jangan dijawab apapun!" sela Hendra yang menghentikanku melanjutkan kalimat berikutnya. "Untuk saat ini, aku tau kalo kamu gak mungkin langsung berpaling ke aku. Tapi untuk saat ini, semoga kita bisa jadi teman seperti dulu lagi!" lirihnya.


"Via, pertimbangkan lagi!" bisik mami lagi.


Aku memilih diam saja untuk saat ini. Menjawab mami juga gak ada gunanya, karena udah kelihatan banget kalo mami ngebet pengen aku jadian ama Hendra. Aku tau kalo mami gak yakin dengan hubunganku sama Darren. Mami selalu mengira Darren masih ingin bermain-main saja denganku. Aku jadi galau sekarang.


🌺Darren Pov🌺


"Kenapa sih pake acara mati segala?" makiku pada ponselku sendiri karena video callku dengan Via terhenti.


"Ada apa, den?" tanya Pak Jil yang memperhatikanku.


"Ini pak, signal hpnya erorr! Baru video call malah mati," kataku sambil menunjukkan ponselku.


"Sabar, den! Nanti juga bisa video call-an lagi ama non Via. Kangen berat ya, den?" ledek Pak Jil.


"Iyalah, pak! Pokoknya dia tuh ngangenin banget."


"Kangen kan tinggal ketemuan."


"Gak bisa, pak. Dia lagi di Itali. Jauh," kataku sambil duduk terkulai di atas sofa.


"Den Darren gitu. Apa yang gak bisa aden lakukan?" pancing Pak Jil sambil tersenyum menggoda.


"Hahahahaaaa...." tawaku keras. "Bisa aja nih bapak."


"Iya, toh?"


Aku menjentikkan jariku membenarkan maksud Pak Jil sambil memikirkan ide agar bisa pergi ke Italia untuk bertemu dengan Via. Harus ada alasan kerjaan nih, kalau gak ya repot.


πŸŽΆπŸ“² panggilan masuk ponselku berbunyi.


Dari nomor yang gak ku kenal dan ini panggilan dari kode area luar negeri.


πŸ“ž"Halo!"


πŸ“ž"Halo! Ini dengan Darren?"

__ADS_1


πŸ“ž"Ya, saya sendiri. Darimana?"


πŸ“ž"Aku, mas Hendra."


πŸ“ž"Oooo.. Ya, mas Hendra. Ada apa, mas? Tumben telepon. Kangen ama aku? Hehehe..."


πŸ“ž"Ada yang ingin aku omongin ke kamu. Penting!"


Penting? Apa dia ada masalah dengan keluarganya?


πŸ“ž"Ya, mas. Omong aja!"


πŸ“ž"Mengenai Via..."


πŸ“ž"Via? Kenapa? Dia ada masalah? Ato dia sakit?"


πŸ“ž"Tenang! Dia gakpapa."


πŸ“ž"Lalu?"


πŸ“ž"Via adalah cewek yang ku taksir dari SMA, hanya saja aku di dahului oleh sahabatku sendiri yang sempat menjadi pacarnya. Jadi aku terpaksa menyerah mengejar dia saat itu. Kini... kami dipertemukan lagi disini. Jadi aku gak akan sia-siakan kesempatan ini untuk merebut hatinya kembali."


Ooooo.... Dia sangat berterus terang sekali. Awalnya aku menghargai dia sebagai kakak dari temanku, Yuda. Tapi sepertinya sekarang sudah tidak lagi. Dia musuhku mulai detik ini, karena dia berani ingin merebut orang yang penting dalam hidupku.


πŸ“ž"Mas Hendra, Via sekarang statusnya adalah pacarku dan mas sangat berterus terang sekali ingin merebutnya dariku. Apa mas yakin dia mau sama kamu? Kalo emang dia mau ama mas, sejak dulu dia gak akan pacaran dengan orang lain kecuali mas. Pasti dia hanya anggap mas cuma teman biasa aja."


πŸ“ž"Aku yakin dulu dia pasti ada perasaan padaku, hanya akunya saja yang terlalu lengah dan lambat untuk utarakan cinta padanya. Sekarang, aku gak mau buang-buang waktu lagi agar aku bisa dapetin dia."


Sial nih orang! Nantang aku banget. Tanpa sadar salah satu tanganku sudah ku kepal karena kesal.


πŸ“ž"Kita liat saja nanti. Via pilih aku atau kamu.... Hendra Wijaya."


Aku langsung mengakhiri pembicaraan kami. Aku menghantam meja dengan kedua tanganku walaupun terasa sakit, tapi tidak sebanding dengan hatiku. Aku harus telepon Via. Aku gak bisa membiarkan ini semua terjadi.


πŸ“ž"Halo, Vi!"


πŸ“ž"Ya, Der! Maaf, tadi aku matiin video call kamu, karena video kamu brenti-brenti gitu."


πŸ“ž"Itu gak penting. Aku mau tanya, kamu jujur ama aku."


πŸ“ž"Kenapa?"


πŸ“ž"Hendra barusan telepon aku, dia bilang dia naksir sama kamu dan niat pengen ngerebut kamu dari aku apapun caranya."


Via terdiam tanpa suara. Aku hanya mendengar suara berisik orang-orang yang sedang sibuk ngobrol dengan bahasa Inggris.

__ADS_1


πŸ“ž"Via! Kamu dengar aku?"


πŸ“ž"Aku dengar. Hendra sempat mengutarakan itu juga didepan mami dan aku tadi."


πŸ“ž"Lalu tanggapan mami kamu gimana?"


πŸ“ž"Mami.... Itu tidak penting, Der. Bukankah yang penting adalah kita bisa jalani hubungan kita dengan baik apa gak?"


πŸ“ž"Ya emang sih. Cuma aku gak tenang, Vi."


πŸ“ž"Der, kita jalanin dulu aja hubungan kita ini dengan baik. Percaya ama aku, kalo aku gak akan berpaling darimu ke cowok manapun termasuk Hendra."


πŸ“ž"Temanku seorang artis dan kebetulan dia sedang di Itali. Dia mau cari baju baru. Aku rekomendasi karya mami kamu. Bisa minta alamat dimana kalian selenggarakan fashion shownya? Ato jika perlu, share lokasi aja. Biar aku gampang kasih tau dia. Oh ya satu lagi, kamu tinggal di hotel apa?"


πŸ“ž"Kenapa nanya aku tinggal di hotel apa segala?"


πŸ“ž"Yaaaa... Aku cuma pengen tau aja."


πŸ“ž"Aku tinggal di hotel Rays. Untuk alamat pagelaran, aku akan share lokasi aja."


πŸ“ž"Di hotel itu ada berapa lantai? Kamu tinggal di lantai berapa? Nomor berapa?"


Dia terdiam. Aku harus bikin dia agar gak curiga denganku.


πŸ“ž"Kenapa nanya-nanya segala? Kamu jangan macem-macem ya pake nyusul ke sini segala!"


πŸ“ž"Gak kok. Mana mungkin aku kesana. Aku cuma pengen tau aja, kamu tinggal dilantai berapa. Siapa tau kamu takut ketinggian ato nanti ada gempa kan biar bisa cepet turun ke bawah."


πŸ“ž"Aku di lantai tiga dan kamarku dekat lift dan dekat anak tangga, jadi kalo kenapa-kenapa ya aku kan bisa lari turun kebawah dengan cepat."


πŸ“ž"Nah... gitu dong! Jadi kan aku gak khawatir lagi mikirin pacar aku saat lagi ada bahaya."


πŸ“ž"Jadi kamu doain aku agar kena bencana gitu?"


πŸ“ž"Bukan! Bukan gitu! Aku hanya bercanda aja. Cuma pengen pastiin aja. Bencana kan emang gak ada yang duga, tapi ya gak mungkinlah aku doain pacarku dan mertuaku kena bencana. Masa aku sejahat itu."


πŸ“ž"Der, udah dulu ya! Mami aku mau ajak aku ke tempat lain. Kami mau sarapan dulu. Tar kalo aku dah pulang ke hotel, aku kabarin kamu."


πŸ“ž"Eeee... Tunggu, Vi! Aku keknya bakal lembur malam ini. Tunggu aku uda selesai lembur, aku yang akan telepon kamu. Oke?"


πŸ“ž"Oke deh!"


πŸ“ž"Bye, Via!"


πŸ“ž"Bye, Der!"

__ADS_1


__ADS_2