
Flashback off..
🌺Author Pov🌺
"Sekarang, kamu mau ngomong apalagi?" tanya Aldo.
"Kalian menjebakku," kata Wanda tak terima.
"Kalo tidak diperlakukan seperti ini, aku mana tau sifat busukmu ini. Belum nikah aja udah gak bener. Gimana setelah nikah nanti? Security!" panggil Aldo yang sudah siapkan security sedari awal kedatangannya.
"Ya, pak!" jawab security yang sudah siap siaga.
"Tolong bawa perempuan ini pergi dari sini!" pinta Aldo sambil menunjuk Wanda.
"Baik, pak!" Security itu langsung mengambil alih untuk membawa Wanda pergi dari sana.
"Aku gak terima dengan perlakuan kamu," kata Wanda dengan nada kesal dan penuh amarah.
"Kamu mau membalasku? Hahaha... Kamu liat saja nanti apa yang akan kulakukan dengan bisnis keluargamu," ancam Aldo juga.
Security itu dengan cepat membawa Wanda bagaikan menangkap seorang maling walaupun ia sempat berontak dan jadi pusat perhatian penghuni hotel.
"Apa yang terjadi?" tiba-tiba Via sudah datang dengan langkah tergesa-gesa menghampiri Aldo.
"Gak ada apa-apa, hanya pembatalan acara pertunangan saja. Pesta telah berakhir," jawab Aldo dengan wajah kecewanya.
"Hah? Kenapa?" tanya Via penasaran.
"Lebih baik, kamu urus suamimu! Dia ada masalah," kata Aldo sambil menarik pergelangan tangan Via agar masuk ke dalam kamar.
"Hah!" seru Via yang tampak bingung.
"Aku akan urus-urusanku dulu. Malam ini, kalian inap saja di kamar ini, anggap aja hadiah pernikahan dariku," kata Aldo sambil mengedipkan sebelah matanya pada Via dan segera menutup pintu kamar.
Via yang tidak tahu kejadian sebenarnya hanya bingung dan melihat sekitar ruangan kamar hotel. Ia menemukan Darren yang sedang duduk dipojokkan dekat lampu remang-remang.
*Darren
"Aduh, jantungku mau copot!" kata Via kaget sambil mengusap-usap dadanya. "Aku pikir, hantu," lanjutnya lagi.
Darren langsung menghampiri Via dengan wajah datarnya sambil membuka kancing bajunya satu-persatu.
"Kamu mau apa?" tanya Via setelah melihat Darren membuka kemejanya dan sudah bertelanjang dada.
"Mau... kamu," jawab Darren singkat sambil membuka celana panjangnya.
"Eiiitttt!!! Tunggu! Tunggu!" pinta Via sambil menahan celana Darren yang sudah turun sepaha.
"Kenapa sih? Jangan mengacaukan suasana!" ucap Darren kesal.
__ADS_1
"Aku udah dandan rapi gini, perut juga udah lapar, malah disodorin kek gini. Cepat pakai lagi celana dan kemejanya! Temani aku makan dulu!" Via membantu Darren menaikkan lagi celana panjangnya dan mengaitkan kancingnya seperti semula.
Darren tidak menghiraukannya dan langsung menggendong tubuh Via ala bridal style ke atas ranjang.
"Darren, kamu kenapa sih?" tanya Via bingung karena sikap Darren yang beda dari biasanya.
"Aku kena obat perangsang, Vi. Aku udah gak tahan," jawabnya sambil membuka celana panjang berikut **********.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Via dengan wajah shocknya.
'Siapa lagi yang menjebak suamiku,' batin Via penasaran.
"Aku akan jawab nanti. Aku gak bisa tahan lagi. Bantu aku, Vi!" jawabnya buru-buru sambil membuka panty Via.
Mereka bercumbu bersama dan Darren melakukannya berkali-kali hingga Via terkulai lemas. Disamping tenaganya yang sedikit karena belum makan, Darren terlihat nafsunya masih memuncak karena efek samping dari obat perangsang yang sempat di telannya padahal cuma sedikit.
Dua jam kemudian...
Mereka berdua masih berbalut dalam satu selimut tanpa sehelai benangpun. Via menyenderkan kepalanya ke salah satu lengan tangan Darren yang menjadi sanggahan kepala Via.
"Kamu belum kasih tau aku siapa yang kasih kamu obat perangsang."
"Tunangan Aldo yang tadi dibawa pergi ama security," jawabnya sambil menatap Via.
"Apa? Tunangan Aldo yang melakukan ini?" tanya Via sambil duduk serius ingin mengetahui cerita sebenarnya.
"Iya! Dia ingin tidur denganku, tapi..."
"Bukan! Bukan gitu ceritanya," jawab Darren sambil membenarkan posisi duduknya.
"Lalu?"
"Tunangannya ini dari awal punya niat mau jatuhin Aldo alias bikin Aldo bangkrut untuk mencukupi kebutuhan bisnis keluarganya sendiri yang lagi down. Trus... dia juga ada pacar dan masih berhubungan. Aku tau masalah ini, karena sempat merekam percakapan mereka dan aku langsung memberitaukan ke Aldo masalah besar ini. Aku pikir, lebih baik Aldo sakit dari sekarang daripada nanti. Lalu Aldo mengusulkan untuk mengajakku bersandiwara agar bisa jebak Wanda, tapi diluar dugaanku ternyata Wanda sudah memberikan obat perangsang ke dalam minumanku saat dia mengajakku bersulang."
"Kenapa kamu main minum aja?"
"Karena aku menghargai dia dan harus serius memerankan peranku," jawab Darren cepat.
"Lalu... Kalo emang tadi kamu jadi beneran tidur sama dia, gimana?"
"Gak akan mungkin. Karena dari awal permainan ini dimulai, Aldo mengawasi kami layaknya CCTV dan dia sudah siaga kalo terjadi sesuatu sama aku," jawab Darren yakin.
Via jadi lega mendengarnya, tapi sempat kesal juga karena Darren tampak pasrah saja nerima minuman seenaknya dari orang asing yang gak pernah tahu apakah dia akan diracuni atau gak.
"Kenapa diam sekarang?" tanya Darren yang tidak melihat rasa penasaran Via lagi.
"Aku tanya sama kamu."
"Mm."
"Kalo seandainya itu cewek lain yang memberikan kamu minuman kek gini lagi, apa kamu juga akan nerima gitu aja?" tanya Via ingin kepastian dari hati Darren sebenarnya.
__ADS_1
Darren tersenyum manis setelah mendengar pertanyaan Via dengan wajah menggemaskannya. "Tidak akan," tegasnya.
"Tapi... buktinya tadi kamu terima gitu aja."
"Kan aku udah bilang, aku sedang memainkan peranku dengan sempurna. Kalo gak minum, bagaimana bisa ikutin permainan ini? Lagian aku udah kasih tau Aldo kalo kamu bakalan nyusul kesini," kata Darren sambil membelai ujung rambut Via. "Karena sudah tau kamu mau datang, aku baru berani minum agar bisa seperti sekarang ini," godaku lagi sambil mencium keningnya.
Dia menyikut perut Darren dengan tangannya.
"Awww... Sakit, Vi," keluhnya sambil mengusap-usap perutnya.
Via hanya menjulurkan lidahnya seraya mengejek Darren karena salah tingkah sendiri, lalu ia segera turun dari ranjang dan segera mengambil pakaiannya kembali untuk dikenakannya lagi.
"Aku mau makan. Perutku lapar," katanya sambil sibuk memakai pakaiannya.
"Kalo gitu, kita makan di restoran hotel ini ya," ajak Darren sambil ikutan memakai pakaiannya.
"Ya. Jadi... malam ini kita gak pulang?"
"Terserah kamu."
"Kok terserah sih?"
"Ya... terserah. Kalo aku sih, oke-oke aja."
"Inap aja lah. Menghargai hadiah pemberian Aldo."
"Bukan karena gratisan? Hahahahaha.... Cewek kan sukanya yang serba gratis," ledek Darren sambil ketawa.
Via melempar sebuah bantal ke tubuh Darren, karena tidak terima di ledek, tapi Aldo sigap menangkap bantal tersebut.
"Gak semua cewek suka gratisan. Dasar!" belanya.
"Iya deh. Iya," kata Darren sambil mengangkat kedua tangannya seraya memberi tanda kalau dia menyerah agar tidak diserang oleh Via lagi.
Via membenarkan rambutnya yang sempat berantakkan dan membersihkan lipstiknya yang sudah gak karuan berantakkan akibat ciuman yang mereka lakukan.
"Ini lapnya gimana coba?" keluhnya sambil mengelap sisa lipstick yang masih menempel di samping bibirnya dan agak susah hilang dengan sehelai tissue kering.
"Sini!" Darren menatap Via dan mengecup bibir Via.
Darren membantu Via mengelapnya pelan dengan tissue yang sudah di beri sedikit air. Via menatap wajah tampan Darren sambil menahan senyum.
"Kenapa liatin aku? Aku tau, aku ini sangat tampan dan cewek mana yang gak terpikat oleh ketampananku ini," kata Darren narsis.
"Idih... narsis banget sih kamu."
"Tapi buktinya... banyak yang mau denganku. Jujur aja deh kalo kamu juga mengakui ketampananku."
"Suami satu ini bener-bener deh," kata Via sambil geleng-geleng kepalanya karena gak tahan dengan narsisnya Darren.
"Kalo kamu gak akuin, aku gaet cewek lain aja lah," ancamnya sambil sibuk membersihkan sisa lipstick sedikit lagi di pinggir bibir Via.
__ADS_1
"Awas aja kalo berani," kata Via sambil merebut tissuenya dari tangan Darren sambil kesal sendiri.