Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 45


__ADS_3

"Penting ya jawabannya buat kamu?"


"Kok, kamu nanyanya gitu sih? Aku kan cuma tanya. Salah?" tanyannya dengan nada ngegas.


Kok aku jadi kesal ya setelah dengar pertanyaannya barusan. Apa akunya lagi sensi?


"Ya, gak salah juga sih," jawabku dengan nada merendah. "Tadi aku cuma ketemu ama Aldo bentar di kafe."


Dia menatapku dan menghentikan aktifitasnya mencari snack. "Kok kamu baru bilang sekarang? Kenapa gak dari tadi aja sebelum kamu ketemuan ama dia?"


"Apa bedanya sih bilang sekarang atau nanti? Yang penting kan aku dah kasih tau kamu. Gak ada hal yang aku tutupi."


Aku gak habis pikir, masalah kecil gini aja diributin. Akhirnya kami saling diam sejenak. Dia tampak kesal denganku. Dia agak menjauhiku dan berpura-pura melihat sebuah botol minuman yang dipegangnya.



*Darren


"Pak, aku mau bayar. Berapa semua?" tanyanya pada si pemilik toko.


Si pemilik toko tampak sibuk menekan angka pada kalkulatornya sambil mengecek satu persatu hasil belanjaan Darren tadi.


"Totalnya Rp 200.000, den," jawab si pemilik toko sambil memasukkan hasil belanjaan ke kantong plastik.


Darren mengeluarkan dua lembar uang kertas Rp 100.000 untuk bayar. Si pemilik toko menerima uang tersebut lalu menyerahkan kantong plastiknya ke Darren.


"Ayo, pulang!" ajaknya sambil menarik tanganku.


Aku berjalan mengikutinya. Walaupun dia mengandeng tanganku, tetap saja aku bisa merasakan amarahnya yang belum reda. Aku putuskan untuk melepaskan tangannya dan duduk sejenak di sebuah papan yang terletak di pinggiran jalan. Hatiku berasa capek karena hari ini aku sudah debat dengan dua orang pria sekaligus.



*Via


Darren juga menghentikan langkahnya dan kemudian berdiri disampingku.


"Aku minta maaf," katanya sambil menunjukkan ekspresi bersalahnya.

__ADS_1


"Kenapa minta maaf?" tanyaku yang ingin tahu alasannya.


"Karena aku terlalu mencampuri urusanmu," jawabnya. "Maksudnya, aku hanya ingin kamu terus terang dari awal saja agar aku gak salah paham. Jadi lain kali kalo mau bertemu dengan siapa pun, kamu bisa kasih tau aku dulu," lanjutnya.


"Kenapa harus gitu?"


"Ya, karena...." dia sendiri bingung bagaimana cara menjelaskannya padaku.


"Kenapa aku harus laporan sama kamu dulu jika ingin bertemu dengan siapa pun?"


Tentu saja aku marah sekarang. Kenapa dia seperti tidak mempercayaiku? Baru awal pacaran saja sudah berani mengekangku.


"Oke! Oke!" jawabnya sambil mengatur nafasnya dulu. Dia jongkok didepanku dan menggenggam kedua tanganku. Dia mulai menatap mataku. "Mungkin aku agak keterlaluan, hanya saja aku gak mau kehilangan kamu. Mungkin caraku salah, tapi itu semua demi melindungimu. Dengan kamu memberitau aku terlebih dulu, maka kemungkinan besar jika terjadi apa-apa denganmu, aku akan mudah mencarimu. Bukan semata-mata aku mengatur kehidupanmu. Maaf jika cara penyampaianku salah," jelasnya panjang lebar.


Aku melihat dari kedua matanya. Di sana ada pengakuan dari rasa bersalahnya. Apa yang disampaikan tadi memang berdasarkan hatinya. Mungkin akunya yang gak memahami tapi langsung mengambil kesimpulan sendiri, tapi dia berusaha menjelaskan agar tidak terjadi salah paham dalam hubungan kami. Kalau dipikir-pikir, penjelasannya tadi itu ada benarnya juga. Bagaimanapun juga pasangan kita pasti akan merasa khawatir jika tidak ada kabar atau terjadi sesuatu dengan kita.


Aku tersenyum dan mencoba menepis semua pikiran jelekku. Aku mengangguk padanya seraya memaafkannya. "Aku juga minta maaf, karena aku sempat salah menilaimu."


Dia bangkit lalu memelukku sambil mengusap pelan kepalaku. "It's okay, Via. Ini bukan kesalahanmu. Kita harus saling memahami lagi kedepannya," katanya yang masih memelukku.


Aku membalas pelukkannya yang bisa memberikan energi positif dalam tubuh dan pikiranku.


"Ferdy!" sapaku.


"Aku cariin kalian berdua kemana-mana. Gak taunya lagi asyik peluk-pelukkan disini. Masih siang tau," dumelnya. "Ayo, buruan pulang!" ajaknya sambil menarik tanganku.


Darren yang melihat itu langsung menghentikan Ferdy. Ia menahan tangan Ferdy dan mereka berdua saling bertatapan tajam. "Sekarang aku yang bertanggung jawab menjaga Via. Kan aku pacarnya," akunya yang membuat Ferdy melongo.


"Oh iya ya," jawab Ferdy sambil melepaskan tangannya. "Maaf bro, aku khilaf. Hehehe... Karena udah kebiasaan," lanjutnya sambil cengengesan.


"Ayo, jalan!" seru Darren yang kini menggandeng tangan kiriku sekarang.


Mereka ini lucu juga. Benar-benar membuatku berasa dilindungi banget sama dua orang ksatria. Aku bersyukur dengan adanya mereka berdua dalam kehidupanku.


Sesampainya di villa


Aku menuju dapur untuk mengambil secangkir air putih untuk minum. Darren sibuk menaruh hasil belanjaan di atas meja makan.

__ADS_1


"Kalo boleh tau, apa yang kalian bicarakan di kafe tadi?" tanya Darren sembari mengeluarkan satu persatu makanan dan minuman dari kantung belanjanya.


"Dia... nembak aku jadi pacarnya."


"Apa?" tanyanya terkejut dengan pengakuanku. Dia serius menatapku, "Trus, kamu bilang apa ke dia?"


"Aku bilang aja kalo aku dah pacaran sama kamu," jawabku yang membuatnya tersenyum bangga namun hanya kisaran tiga detik saja.


"Trus? Dia, gimana reaksinya?"


"Dia kaget... kecewa..."


"Kenapa dia harus kecewa?"


"Karena kan kami dijodohkan oleh orang tua kami, tapi aku lebih milih kamu."


"Oooo..." katanya sambil mengangkat kedua alisnya. "Yang penting dia sudah tau siapa pemilik hatimu sekarang," tegasnya yang masih menyibukkan dirinya melanjutkan merapikan snack-snacknya untuk diisi kedalam lemari kitchen set.


Mendengar ucapannya barusan membuatku tersipu malu lagi. Aku ingin memeluknya dari belakang. Aku menghampirinya perlahan dengan langkah kaki sunyiku dan kurentangkan tanganku melebar yang hendak memeluknya.


"Ngapain kamu, Vi?" tanya Ferdy yang tiba-tiba ke dapur dan membuka kulkas untuk mengambil air mineral dingin.


"Aku lagi mau tepuk nyamuk, tapi uda keburu terbang," alasanku yang langsung pura-pura menepuk sembarang tempat.


Darren menoleh ke arahku sambil tersenyum smirk.


"Nyamuk? Perasaan gak ada nyamuk deh," kata Ferdy yang melihat-lihat sekeliling tempat mencari keberadaan nyamuknya.


"Kan uda terbang," kataku sedikit kesal karena seperti sedang ketangkap basah olehnya.


"Ayo bro, kita rakit sekarang skate boardnya!" ajaknya yang sudah gak sabaran. "Ngomong-ngomong, lu tau gak cara rakitnya? Soalnya gue blon pernah. Gue mah tau make aja. Hehehe..."


"Gue bisa kok rakitnya. Soalnya gue suka bantu temen-temen juga buat rakitin skate board mereka."


"Emang kalian mau main dimana?" tanyaku.


"Mana aja juga boleh selagi itu jalanannya gak berlubang dan bukan di atas pasir," jawab Ferdy.

__ADS_1


🌺Author Pov🌺


Dari dapur, mereka beralih ke ruang tengah villa. Via yang menikmati snack sambil nonton acara channel televisi kesukaannya, sedangkan Darren dan Ferdy sedang sibuk dengan pretelan sparepart skate board yang baru dihuntingnya tadi.


__ADS_2