Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 62


__ADS_3

Menurut kamu, aku harus diam aja? Via... Via... Kamu jangan terlalu polos. Aku akan melakukan apa yang aku mau demi mempertahankan kamu disisiku.


*****


Akhirnya.... Aku bisa mencium aroma yang beda. Udara segar, menenangkan pikiran, jenuh jadi hilang. Tapi bukan itu yang mau kucari sekarang. Aku ada tugas penting disini. Dengan mobil kantor daddy, aku bisa sesuka hati pergi kemanapun yang aku mau. Tapi untuk hari ini, aku lebih baik memakai supir.


Aku menunggu seseorang yang ingin kutemui. Terlalu lama menunggu hingga aku bosan. Aku melihat ke arah jam tanganku yang kini sudah pukul 19.00 dan batang hidung orang yang kucari masih belum ketemu.


Tiba-tiba suara langkah kaki datang menuju dekat ke arahku berdiri saat ini. Tepatnya sekarang aku di balik pintu sambil menguping. Aku mendengar suara langkah kaki yang sedikit berisik berasal dari ketukkan sepatu heelsnya yang tinggi. Aku sedikit mengintipnya dari balik pintu yang kubuka sedikit.


Aku berjalan tepat dibelakangnya tanpa suara langkah kakiku. Mengendap-endap seperti seorang pencuri.


"Mmmm....mmmmm...." berontaknya saat aku menyekapnya dan menutup mulutnya dengan telapak tanganku.


Aku membawanya ke suatu tempat, tepatnya ke sebuah ruangan yang kosong dan tidak terpakai serta lampu yang redup. Dia masih berontak juga, hingga dia menginjak salah satu kakiku yang sontak membuatku melepaskan tanganku yang menutup mulutnya tadi. Aku menutup mulutku sendiri agar tidak berteriak karena menahan sakit.


"Dasar kamu br*ngsek!" makinya keras tanpa melihatku secara jelas.


"Pssssttt!!" suruhku sambil mengisyaratkannya untuk diam.


Dia sudah diam sih, tapi masih memukul di bagian dada dan lengan tanganku terus menerus.


"Via! Ini aku, Darren. Liat, aku!" pintaku sambil menyadarkannya.


"Darren!" serunya yang sudah mulai sadar dan menatapku tajam.


"Ya, ini aku!"


"Kamuuuu....!" Dia masih mencubit tanganku lagi.


"Aduh! Aw.. aw...! Udah dong nyiksanya!" lirihku yang kena apes hari ini. Udah diinjek kakinya, dipukul, terus dicubit pula. "Pppssssttt!! Tar didenger orang!" kataku yang menyuruhnya diam.


"Kamu ngapain sih pake acara gini segala?" tanyanya dengan nada marah.


"Ya... maaf! Abisnya aku mau kasih kejutan, tapi gak taunya malah gini. Kena tabok ama pacar sendiri. Blon lagi kakiku sampe sekarang masih sakit gara-gara kamu injak tadi," jawabku sambil memegang seluruh badanku yang sakit setelah dipukulnya tadi.


"Hah? Maaf, aku refleks aja tadi. Mana yang sakit? Coba kuliat!" katanya sambil memeriksa kakiku yang bekas diinjaknya sambil menunduk.


Aku mengangkatnya agar berdiri seperti semula. "Jangan disini periksanya!"


"Trus?"


"Di kamarku aja. Ayo!" ajakku untuk pergi ke kamarku.


"Kamar? Kamu inap di hotel ini juga?"


"Ya!" jawabku sambil mengangguk membenarkan.

__ADS_1


Dia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu ngapain sih kesini? Kan aku dah bilang...."


Aku langsung mengecup bibirnya agar ia berhenti bicara. Karena dia diam dan tidak marah lagi, aku mengecupnya lagi. Saat aku sudah selesai mengecupnya dan menarik kepalaku agar ke posisi semula, ia menarik jenjang leherku dengan kedua tangannya lalu ia berciuman denganku. Walaupun aku terkejut karena ia yang inisiatif terlebih dulu, aku tetap melakukannya dengan tenang karena aku terlalu merindukan dia.


Sepuluh menit kemudian


Aku menunggunya di kamar, sedangkan dia minta izin sama maminya sebentar dengan alasan ingin keluar mencari makanan karena lapar.


'Tok..tok..tok...,' suara ketukkan dari pintu kamarku.


Aku mengintip terlebih dahulu dari lubang kaca pintu, setelah kupastiin itu Via, aku baru mempersilahkannya masuk.


"Kamu sewa kamar sebesar ini hanya untuk tinggal sendiri?" tanyanya sambil melihat kamar VVIPku yang keren dan berkelas.


"Kamu mau nemenin aku juga gakpapa," kataku sambil memeluknya dari belakang.


"Jangan harap!" serunya sambil menyikut perutku.


"Awww...!" lirihku sambil memegang perut yang abis disikutnya tadi.


"Sakit?" tanyanya memastikan sambil memegang ke perutku yang disikutnya tadi.


Aku hanya mengangguk sambil memasang wajah memelas agar dapat belas kasihan darinya, tapi dia malah mencubit perutku lagi.


"Awwwww..... Via, sakit! Bentar-bentar nyikut, bentar-bentar nyubit," kataku kesal sambil mengelus-elus perutku yang sakit.


Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Walaupun lelah seharian dengan jarak yang kutempuh dari Indonesia ke Italia untuk bertemu dengannya, belum lagi menunggunya yang entah itu berapa jam berlalu tanpa belum istirahat sedikitpun. Asal sudah melihatnya, aku sudah senang dan puas.



*Darren


"Via, maaf!" kataku sambil memandangnya dengan rasa lelahku.


Dia menghembuskan nafasnya. "Kamu udah makan malam?"


"Udah!"


"Kamu tiba jam berapa?"


"Jam 11.00 tadi. Aku menunggumu dari tadi dan baru ketemu malam ini. Aku belum istirahat," keluhku yang ingin mencari perhatiannya.


"Ini yang kamu bilang lembur?"


"Hehehehe...."


"Kamu ke Italy hanya untuk nemuin aku?"

__ADS_1


"Gak juga sih. Aku ada kerjaan disini, tapi cuma beberapa hari saja."


Flashback On


Aku menelepon daddy dari kantor agar aku diizinkan pergi ke Italia selama tiga hari, tapi ternyata daddy malah menyuruhku melihat-lihat sejenak anak kantor cabangnya yang ada di Italia juga, tepatnya di Milan yang tidak jauh lokasinya dari tempat pagelaran fashion show maminya Via.


Karena sangat kebetulan, aku memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Tanpa pikir waktu panjang, aku minta tolong Pak Eko membantuku membelikan tiket saat itu juga yang jam terbangnya jam 18.00. Aku tidak bawa banyak baju ke sana, hanya beberapa stel saja.


Flashback off


"Beneran ada kerjaan ato cuma akal-akalan kamu aja?"


"Iya... beneran. Yang ini bukan akal-akalan lagi."


"Awas ya kalo boong! Tar aku jewer telingamu sampe putus," ancamnya dengan memperlihatkan gaya melotot menakutkan.


"Serem banget! Tar kalo telingaku putus, kamu masih mau gak sama aku?"


"Gak!" jawabnya yang berlagak cuek.


"Bilang lagi!" tantangku.


"Aku bilang, nnngg...... gaaakkk."


Aku mendorong tubuhnya hingga tersungkur kesofa. Aku menindihnya dengan sekuat tenaga dan mencengkeram kedua pergelangan tangannya.


"Darren, lepasin ah!" pintanya.


"Kamu serius mau ninggalin aku?" tanyaku yang semakin mendekatkan wajahku ke wajahnya hingga aku merasakan hembusan nafas kami yang bertemu.


Via tampak malu-malu menjawab pertanyaanku. Dia tidak berani menatapku dan hanya buang muka ke arah lain.


"Viaaaaa....!!!" lirihku pelan dengan suara serak.


"Mm.." jawabnya pelan.


"Aku merindukanmu," bisikku ditelinganya sambil menggigit sedikit daun telinganya.


"Darren!" responnya malu-malu sambil menatapku.


"Mm.." jawabku sambil menaikkan sebelah alisku.


"Jangan menggodaku lagi!" pintanya yang menghindari kontak mata denganku.


"Kenapa?" tanyaku yang ingin melihat reaksinya. Wajahnya sangat merah saat ini. "Apa itu daerah sensitif kamu?"


Dia hanya diam dan senyum malu-malu.

__ADS_1


__ADS_2