Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 12


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Darren yang ikutan kaget juga.


"Kamu ini!" Via memukul lengan kanan Darren pelan. "Ngagetin aja sih," lanjutnya sambil terlihat kesal.


"Aku sudah di sini daritadi, bahkan aku memberitaumu kalo Ferdy keluar sebentar dengan motornya, tapi kamu malah gak dengerin," jelas Darren yang gak terima di tuding ngagetin Via tanpa alasan.


"Ooo... Maaf!" kata Via sambil memasang senyum manisnya dan mengusap-usap lembut lengan Darren yang habis dipukulnya barusan karena merasa bersalah.


"Emang kamu lagi sibuk chat ama siapa? Sampe orang ada di sini aja kamu gak tau," kata Darren dengan perasaan kesalnya.


"Anak kecil gak boleh tau. Ini urusan orang dewasa," kata Via sambil berlalu pergi ke kamarnya dan meninggalkan Darren di sofa tamunya sendiri.


🌺Darren pov🌺


'Anak kecil?' Aku gak terima di sebut dengan sebutan anak kecil. Emang siapa yang berani-beraninya chat sama kamu sampai gak nyadarin kehadiran aku? Pasti ada yang gak beres nih.


Beberapa menit berlalu, aku melihat Via sudah keluar dengan pakaian rapi dan membuatku lagi-lagi terpana olehnya. Dia benar-benar mempesona dengan dress hitamnya yang sederhana. Kira-kira dia mau kemana ya?



*Via


"Kau mau keluar?"


"Ya, aku ada janji dengan seseorang. Ferdy belum pulang?" Via beranjak mengambil pouchnya di lemari kaca tempat penyimpanan koleksi tas-tasnya dan sembari mencari heelsnya di rak sepatu.


"Dia..." belum sempat ku jawab, Ferdy sudah masuk ke dalam rumah dengan wajah bingung melihat Via yang sudah bersiap pergi.


"Mau kemana?" tanya Ferdy pada Via sambil mengambil air putih.


"Aku keluar dulu karena ada janji dengan seseorang," jawab Via yang sudah siap pergi.


"Oooo... jadi kamu akan pulang jam berapa?" tanya Ferdy yang mewakili isi pikiranku juga.


"Belum tau."


"Bagaimana kalau kami mengantarmu?" tawar Ferdy.


"Boleh juga. Kebetulan aku malas mengemudi."


'Yessss!!!' hatiku bersorak dengan girang, walaupun hanya sebatas mengantarnya saja. Setidaknya aku tau dia mau menemui siapa.


Kami pergi ke tempat tujuan dimana Via akan bertemu dengan 'seseorang' itu. Kenapa hatiku gelisah ya? Aku berharap kalau orang yang akan menemuinya bukanlah seorang pria. Bisa-bisa hilang kesempatan aku untuk mendapatkan hatinya.

__ADS_1


Tiba di depan restoran mewah, Via langsung turun dari mobil.


"Kalian pulangnya hati-hati ya!" pesannya saat hendak meninggalkan kami yang masih di dalam mobil.


"Ya!" jawab Ferdy.


"Bye-bye!" kata Via sambil melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan dan kemudian dia beralih pergi masuk ke dalam restoran mewah tersebut.


Setelah kepergiannya, hatiku terasa hampa. Pasalnya aku gak rela Via dandan secantik itu untuk orang lain.


"Lu suka kan ama Via?" tanya Ferdy to the point.


Aku sempat shock dengan pertanyaannya, tapi emang gak dipungkiri juga kalau aku menyukai Via dan sengaja mendekati Ferdy yang menjadikan alasanku agar dapat sering bermain ke apartemen mereka.


"Gue tau kalo lu suka ama Via. Makanya lu bela-belain datang beberapa hari ini ke tempat kami."


Aku hanya bisa tersenyum tipis, karena jawaban Ferdy ngena banget ke hatiku.


"Lu kalo suka ama Via, gue dukung bro. Bukan karena sogokkan dari lu juga, tapi emang gue rasa kalo kalian tuh cocok. Jadi bisa saling melengkapilah."


"Cocok gimana?" tanyaku penasaran dengan pendapat Ferdy tentangku


"Pokoknya, kalo lu mau gue bantu agar bisa dapetin hati Via, gue pasti bantu," ucapnya sambil memegang pundakku.


Aku hanya mengangguk menyetujuinya sambil tersenyum tipis.


"Hahaha.... Lu yakin mau dengar pendapat gue?"


Aku menoleh ke arahnya sambil mengernyitkan dahiku untuk mencerna pertanyaannya barusan.


"Ya... Emang lu kenal ama orang yang akan dia temui saat ini?"


"Gak juga sih. Cuma.... setau gue, dia kalo dandan cantik gitu udah pasti ketemu ama cowok."


'What?' dugaanku bener juga.


"Beneran? Kalo gue intip bentar, boleh gak ya?"


"Lu penasaran banget sih, bro? Hahaha... Ya udah sana! Gue tungguin lu di sini. Kebetulan gue mau mau beli coffe latte bentar."


"Oke, Fer! Gue masuk dulu!"


"Eit, jangan lama-lama ya, bro! Dan awas... jangan sampe ketauan!" pesannya lagi mengingatkan.

__ADS_1


Aku hanya membalasnya dengan mengacungkan jempol tangan kananku saja. Kemudian bergegas menyusul Via yang sudah berada di dalam restoran tersebut.


Tidak begitu banyak pengunjung hari ini, tapi aku belum menemukan Via. Aku berkeliling-liling mencari keberadaannya yang ternyata dia ada di lantai 2 khusus tamu VIP. Karena ruangan tersebut VIP, aku tetap memaksakan diri untuk naik dan membayar sebuah tempat kosong untukku. Aku di antar oleh seorang pelayan untuk menempati tempat yang sudah ku pesan tadi. Untungnya letak tempat duduknya lumayan tidak terlalu jauh dari Via, tapi juga tidak terlalu dekat.


Via tidak akan mudah mengenaliku, karena aku memakai jaket yang hampir menutupi seluruh wajahku.



*Darren


"Mau pesan apa, tuan?" tanya seorang pelayan perempuan yang ada di sampingku sambil membawa buku menunya.


"Aku pesan minuman ini saja satu," jawabku sambil menunjuk salah satu foto minuman yang ada di buku menunya.


"Baik, tuan. Apa ada lagi tambahannya?"


"Tidak. Itu saja."


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Minuman anda akan segera di antar."


Semua pengunjung di Vip sini berpakaian sangat rapi, terkecuali aku yang hanya memakai pakaian casual. Tapi siapa peduli?


Aku tidak melihat dengan jelas sosok pria yang duduk berhadapan dengan Via, karena ada tanaman hias yang menutupi. Hanya bisa melihat Via tampak gembira bisa ngobrol dengan pria tersebut.


'Ah... Sial!!' Rasanya kesal sekali dan darah ini menjadi mendidih seketika saat melihat Via tertawa saat bersama pria lain. Apa aku cemburu? Sepertinya iya, karena aku sangat menyukainya dan sangat takut kalau dia akan direbut oleh pria lain.


🌺Via Pov🌺


"Jadi kamu yang waktu itu kita bertemu di basement?" tanyaku sembari mengingat sosoknya yang sangat mirip dengan pria yang waktu itu tidak sengaja bertabrakan denganku.


"Kau benar!" jawabnya. "Dan kau membuatku kaget karena memanggilku dengan sebutan Bapak. Hahahaha....." lanjutnya mengingatkan kejadian waktu itu dan aku hanya bisa ikut tertawa.


"Maaf! Bukan karena kamu seperti bapak-bapak, tapi karena kamu seperti seseorang yang berjabat tinggi, makanya aku memanggilmu itu."


"Tidak apa-apa."


Pelayan sudah membawa makanan yang kami pesan dengan meja dorongannya. Beberapa menu istimewa dan mahal di sajikan di atas meja kami.


"Silahkan dinikmati!" seru pelayan tersebut dengan ramah.


"Terima kasih," jawab pria yang ada di hadapanku, Aldo.


Aldo seorang pria yang tampan. Sesuai dengan ceritanya yang sempat kita bicarakan, dia ternyata seorang CEO di suatu perusahaan di Jakarta dan membuka cabang di beberapa daerah juga yang masih di wilayah Indonesia bergerak dalam bidang furniture. Dia juga ada bekerja sama dengan perusahaan asing dari berbagai negara.

__ADS_1


"Kita makan dulu!" serunya sambil mempersilahkanku.


Kami mulai acara makan kami dan entah kenapa aku merasa ada yang memperhatikanku sejak dari tadi. Apa hanya perasaanku saja? Sambil menikmati makananku, aku memperhatikan sekitar ruangan. Aku pun menemukan sosok yang mirip dengan Darren, walaupun wajahnya tidak kelihatan. Itu anak tidak mungkin mengikutiku sampai sini kan?


__ADS_2