Si Berondong Posesif

Si Berondong Posesif
eps 38


__ADS_3

Masing-masing duduk dengan gaya santainya. Pantainya juga masih lumayan banyak pengunjungnya. Apalagi ini weekend yang menjadikan wisata pantai ini nomor satu buat mereka. Tidak sepinya pengunjung sangat membantu mata pencaharian para penyewa barang-barang sport air.


Penampilan Darren dengan memakai topi kupluknya terlihat sangat santai. Dia masih menikmati sisa minumannya.


"Kalian sering ke sini?" tanya Darren pada Via.


"Ya gak terlalu sering. Tapi pas lagi liburan aja."


"Kapan papi kamu datang dari Singapore? Ferdy bilang, besok mereka mau mancing dengan kapal bersama."


"Baru malam ini tiba dan inap di rumah Julia. Besok dia baru ke sini setelah mereka sudah makan siang. Liat deh sunsetnya sudah mulai nih!" serunya senang sambil berdiri menatap matahari yang mulai terbenam perlahan.


Darren menatap ke sunsetnya juga yang perlahan terbenam dengan warnanya yang indah. Setiap orang yang ada disekitaran pantai sudah siap dengan kamera ponsel masing-masing untuk mengabadikan moment ini. Darren juga ikutan mengambil ponselnya untuk foto moment satu ini yakni sunset dan Via.



*Via


Dengan wajah yang tersipu malu dan pose yang belum begitu siap saat tertangkap kamera ponsel Darren, Via tampak salah tingkah. Sedangkan Darren langsung memperlihatkan hasil fotonya kepada Via.


"Bagus, kan?" tanya Darren yang mendekatkan dirinya pada Via untuk memperlihatkan hasil foto di ponselnya.


"Mm..." jawab Via sambil mengangguk pelan dan tersenyum puas.


Darren yang sekarang sudah intens dengan Via, dia memberanikan dirinya untuk menatap wajah Via. "Vi, a... aku..." ucapnya sedikit gugup.


"Mm...." jawab Via singkat sambil menatap ke sunset.


"Sebenarnya aku sudah lama suka sama kamu. Aku gak mau jadi adik angkatmu lagi. Kalo boleh, izinin aku menjadi orang yang spesial dihatimu dan selalu ada buat kamu," aku Darren sambil menepis rasa gugupnya.


Darren tidak mau menghilangkan moment yang langka ini. Dengan didukung oleh pemandangan sunset yang indah, hanya ada dia dan Via berdua, menjadikan suasana tampak romantis yang cocok untuk menembak (menyatakan perasaan sukanya) Via.


Via menatap Darren dan ia memainkan kaki kanannya yang tidak beralas itu ke pasir pantai. Mungkin Via masih berpikir tentang apa yang harus di jawabnya. Setelah kisaran tiga menitan, Via berani menatap Darren kembali seolah-olah sudah siap memberikan jawabannya.

__ADS_1


"Der, aku menghargai perasaanmu. Terima kasih untuk perasaan itu. Tapi aku ini bukan cewek yang seumuran kamu. Di fase umurku yang sekarang, menjalin hubungan dengan lawan jenis bukanlah hal yang main-main. Beda dengan seumuran kamu, yang bisa kapan aja bilang putus atau...." ucapnya belum habis.


"Sssttt!!!" Darren mengisyaratkan Via untuk tidak melanjutkan kata-katanya lagi. "Mmm... beri aku kesempatan untuk mengisi hatimu. Aku akan berusaha menjaga perasaanmu," pinta Darren yang kini sudah bertekuk lutut dengan salah satu kakinya di depan Via sambil memegang kedua tangan Via (ala-ala proposal lamaran gitu).


Melihat Darren yang seperti ini, Via langsung memperhatikan keadaan sekitar. Ia merasa malu, karena beberapa orang yang lewat telah melihat ke arah mereka dan ada beberapa juga yang sengaja mengambil foto mereka dalam posisi seperti ini.


"Pssttt!" seru Via sambil mengisyaratkan Darren agar segera berdiri, tapi emang dasar si Darren yang tetap ngotot akan seperti ini terus sebelum mendengar jawaban dari mulut Via. "Kamu bangun dulu! Malu nih diliatin orang."


Darren masih memegang tangan Via dan melihat keadaan sekitar yang sudah menjadi tontonan beberapa orang. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk tidak beranjak dari tempatnya.


"Darren, kamu bangun dulu!" pinta Via lagi.


"Kamu kasih tau jawaban kamu dulu, nanti aku langsung bangun. Please Via, kasih aku kesempatan buat jadi orang spesial di hati kamu!" mohonnya lagi.


"Oke! Oke! Kamu bangun sekarang!" jawab Via buru-buru, karena sudah menahan malu dari tadi.


"Oke apa dulu nih?" tanya Darren yang masih mempertahankan posisi berlututnya di hadapan Via.


Via menatap ke orang-orang yang menontonnya lalu menatap Darren kembali. "Oke, aku kasih kamu kesempatan," jawab Via. "Cepetan, bangun!" pintanya yang menyuruh Darren segera bangkit.


"Ekhmmm...." dehem Ferdy yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Mereka langsung melepaskan pelukkan mereka karena merasa canggung di depan Ferdy. Sedangkan Ferdy pura-pura tidak melihat apa yang sudah terjadi. Ia memberikan satu kaleng minuman yang dibawanya untuk Via.


"Makasih," kata Via setelah menerima pemberian Ferdy. "Kamu udah dari tadi di sini?" tanya Via dengan wajah yang masih merona setelah ditembak Darren tadi.


"Ya.... Lumayan sih. Sambilan liat film romantis siaran langsung," jawabnya sambil melirikkan matanya ke segala arah.


"Ihhhh...." pukul Via pelan ke lengan tangan kiri Ferdy.


Ferdy menerima pukulan yang tidak sakit itu sambil tersenyum-senyum melihat tingkah laku Via yang malu-malu.


"Masa iya orang lagi moment romantis, trus aku datang langsung say hello? Gak etis lah," ucap Ferdy sambil berjalan pelan ke samping Darren.

__ADS_1


"Tapi...." Via bingung mau bilang apa lagi. Seperti kehabisan kata, dia memilih untuk langsung pergi dari sana.


"Hahaha...." tawa Ferdy yang tidak tahan lihat Via yang buru-buru pergi.


Darren juga ikut tersenyum melihat Via yang salah tingkah.


"Jadi sekarang... kalian udah jadian?" tanya Ferdy serius.


"Ya, seperti yang lu liat. Gue mau serius sama Via," jawab Darren yang aura gentlenya keluar.


"Kalo gitu, gue percaya ama lu yang bisa ngejaga Via disaat gue gak bersama dia. Tapi...." kata Ferdy yang terhenti sambil memandang ke langit yang sudah gelap.


"Tapi apa?" tanya Darren penasaran.


"Tapi kalo lu nyakitin dia, apa resiko yang harus lu terima?" tantang Ferdy menguji keseriusan Darren.


Darren berpikir sejenak sambil menatap mata Ferdy agar Ferdy percaya padanya. "Lu boleh lakuin apa aja yang lu mau ke gue kalo emang sampe hal itu terjadi."


Ferdy langsung tersenyum dan menepuk pelan bahu sebelah kanan Darren. "Oke, bro. Gue percaya kok ama elu. Gue harap yang terbaik buat kalian berdua," doa Ferdy.


"Thanks ya bro doanya."


*****


Kesibukkan di pagi hari untuk mempersiapkan sarapan, sudah di lakukan oleh Via sendiri sebelum Darren dan Ferdy bangun. Dia menyiapkan tiga gelas susu dan di hidangkan di atas meja makan yang bersebelahan dengan piring kosong untuk masing-masing.


"Pagi!" sapa Darren yang sudah bangun dengan muka bantalnya.


"Pagi, Der! Sarapan sudah siap," balas Via sambil duduk manis minum seteguk susunya dan mengambil nasi goreng untuknya sendiri.


Darren duduk di samping kanan Via sambil menatapnya dan memangku wajahnya dengan tangan kirinya.


"Kamu mau makan?" tanya Via yang sibuk menyantap sarapannya.

__ADS_1


"Kalo makan kamu, boleh?" goda Darren sambil tersenyum padanya.


Via menatap Darren sambil tersenyum juga. "Aku bukan makanan. Aku ambilin ya! Sebentar!" ujar Via sambil menyedokkan beberapa sendok nasi goreng ke atas piring kosong untuk Darren.


__ADS_2